Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Para Penyala Lailatul-Qadar

Samsudin Adlawi • Rabu, 18 Maret 2026 | 07:30 WIB

Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

MEREKA lebih cocok disebut sebagai para penyala Lailatul-Qadar. Semangatnya luar biasa. Mereka selalu muncul di sepuluh akhir Ramadan. Khususnya pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 26, 27, 29). Memenuhi Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Banyuwangi.

Para penyala Lailatul-Qadar itu sangat spesial. Masih muda usianya. Muda-mudi tersebut sama sekali tak minder. Mereka membaur bersama jemaah yang lebih tua usianya. Datangnya pun pada jam yang sama. Sejak pukul 23.00 WIB. Sesuai jadwal i’tikaf yang ditetapkan takmir MAB.

Ghirah beramadan mereka patut diapresiasi. Para penyala Lailatul-Qadar itu datang ke masjid tidak untuk membuang waktu. Tidak untuk gaya-gayaan. Atau menunggu jam makan sahur belaka. Itu ditunjukkan dengan keseriusannya mengikuti semua rangkaian kegiatan i’tikaf. Mereka sudah khusuk menyimak tausiyah. Tausiyah di MAB disampaikan oleh sejumlah kiai top. Yang khusus diundang panitia mengisi majelis malam ganjil. Biasanya ceramah dimulai antara pukul 23.30 WIB sampai 00.30 WIB. Tergantung sikon.

Tentu, sekali lagi, itu sangat membanggakan. Pemandangan religiusitas yang indah. Bayangkan, jemaah muda itu sudah hadir sejak tausiyah—yang menjadi pembuka rangkaian i’tikaf. Padahal, secara logika, seharusnya mereka bisa datang di atas pukul 00.30 WIB – 01.00 WIB. Pada kisaran jam itu agendanya adalah pembacaan daftar musaddiq (pensedekah) berikut permohonannya.

Pada saat itulah fenomena langka terjadi. Yang tidak terjadi di mana pun. Baru di MAB saya menemukannya. Teman saya yang baru tahun ini bisa i’tikaf di sepuluh hari terakhir juga merasakan hal yang sama. Ia sampai terheran-heran menyaksikan pemandangan langka itu.

‘’Baru kali ini saya menjumpai i’tikaf yang ramai sekali jemaahnya. Lebih-lebih banyak anak mudanya. Di tempat lain belum pernah saya jumpai. Termasuk di masjid Al-Akbar Surabaya,’’ kata teman yang selama ini berdinas di ibu kota Jawa Timur itu. Setelah pensiun akhir tahun lalu, teman yang juga tetangga rumah itu bisa beribadah Ramadan secara penuh di Banyuwangi. Termasuk i’tikaf di MAB. 

Fenomena unik terjadi selepas tausiyah. Tepatnya, saat pembaca pengumuman memegang kendali mikrofon. Ia membaca nama para musaddiq (pensedekah) berikut permohonannya. Satu per satu. Umumnya, sependengaran telinga saya, permohonan yang ditulis berisi seputar kelancaran rejeki, usaha menjadi maju, diberi kesehatan, memohonkan ampun untuk orang tua (baik yang sudah almarhum maupun masih hidup), minta kesembuhan dari sakit dan penyakit, dan banyak lagi yang lainnya.

Ada juga yang mohon didoakan agar diberi kelancaran dalam mengerjakan ujian. Lolos seleksi masuk perguruan tinggi. Juga masuk sekolah kedinasan. Permohonan itu ada yang ditulis langsung oleh yang bersangkutan. Namun, ada juga orang tua yang menulis permohonannya. 

Satu lagi permohonan yang spesial. Sangat ditunggu-tunggu para jemaah muda. Remaja dan muda-mudi. Yakni, permohonan mendapatkan jodoh! Setiap kali permohonan dibacakan oleh petugas pembaca, selalu dijawab “aamiin” oleh para jemaah. Tapi dengan nada dan intonasi yang datar-datar saja.

Tidak demikian dengan permohonan agar digampangkan mendapat jodoh. Suasana MAB mendadak bergetar. Khusus permohonan yang satu ini jawaban “aamiin”-nya serasa mengguncang seisi masjid. Disambut gempita. Paling meriah. Paling kompak “amiin”-nya. Apalagi, petugas yang membacakannya menggunakan nada dan intonasi khusus: “Sedekah lewat transfer bank sebesar Rp…. dari Fulanah di Singotrunan, Banyuwangi, semoga segera dimudahkan menemukan calon suami yang saleh,” ucap pembaca permohonan H Abdullah Fauzi dengan intonasi panjang dan tinggi di ujungnya, lalu dijawab secara koor dengan suara kencang oleh jemaah muda-mudi: “aamiin”.

Tidak ada yang memerintah mereka. Tidak ada komando. Kenapa jemaah muda itu begitu kompak. Saya yang geli mendengarnya hanya bergumam dalam hati: “Jangan-jangan sedekah dan redaksi permohonan yang dibaca oleh petugas berasal dari para jemaah muda yang hadir di masjid ini. Sebab, mereka sangat bersemangat menjawabnya”.

Yang bikin salut, semangat mereka tidak mengendur di kala masuk ke rangkaian i’tikaf dilanjutkan salat tasbih. Tak ada yang berisik. Semua larut dalam khusuk, tenggelam dalam gelap karena lampu penerangan MAB sengaja dimatikan oleh panitia. Semangatnya makin membara ketika masuk mahalul-qiyam. Jemaah muda yang awalnya dapat shaf di teras dan luar masjid, langsung masuk. Merangsek dalam riungan di ruang utama masjid. Sambil berdiri mereka mengikuti pembacaan Maulid. Lantunan syair penghormatan dan mahabbah (cinta) kepada Nabi Muhammad SAW itu dibimbing oleh Habib Taufik Husein. Makin syahdu dengan iringan handrah Remas MAB. 

Wa ba’du. Pembacaan permohonan memperoleh jodoh di sela-sela pelaksanaan i’tikaf di MAB sudah berlangsung lama. Perlu dilestarikan. Karena, Alhamdulillah, dari tahun ke tahun, tradisi tersebut mampu menyedot animo para remaja. Di era serbuan digital seperti sekarang, masih banyak anak muda mau ke masjid adalah “sesuatu banget”. Patut disyukuri.

Tak peduli kehadiran mereka dikandung maksud tambahan. Anggap saja itu bonusnya. Pemikir Islam Indonesia Jalaluddin Rahmat (1966) menyatakan, sikap religiusitas merupakan integrasi secara kompleks antara pengetahuan agama, perasaan, serta tindakan keagamaan dalam diri manusia. Perilaku agamanya didorong oleh rangsangan hukuman (siksaan) dan hadiah (pahala). Nah, yang memotivasi para remaja Banyuwangi ikut i’tikaf di MAB salah satunya ya pahala dan hadiah itu. Yakni jodoh alias calon pasangan hidupnya.

Ma muskilah. No problem. Tak masalah. Mereka telah menjadi bagian penyala lailatul-qadar. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #lailatul qadar #samsudin adlawi