Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bukan Liga Sembarangan

Samsudin Adlawi • Rabu, 22 Oktober 2025 | 12:30 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

SIAP-siap. Liga Puisi (LP) segera diputar kembali. Setelah absen pada 2024. Kick off LP 2025 dilakukan pekan depan. Tepatnya, 27 Oktober 2025. Bila sebelum-sebelumnya kick off  LP digelar di dalam ruangan (Seblang Room), maka pembukaan LP tahun ini akan digelar di luar ruangan. Out door. Yakni, di halaman samping kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Perpindahan lokasi itu membawa konsekuensi. Terutama mata acaranya. Sebelum dibuka langsung oleh Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, panitia menyiapkan acara khusus: Ceramah Sastra. Mendatangkan penyair nasional. Pilihan utama jatuh pada penyair Acep Zamzam Noer. Beberapa nama penyair nasional menjadi pertimbangan, bila Kang Acep—panggilan karib Acep Zamzam Noer berhalangan.

Kang Acep, hingga catatan ini ditulis, masih dalam proses konfirmasi. Kemungkinan besar bisa. Sebab, pada 25-26 Oktober, ia berada di Jember. Menjadi salah satu narasumber dan peserta Temu Karya Serumpun (TKS) di Kota Tembakau Jember. TKS diikuti sekitar 150 penyair Indonesia dan dari negeri jiran.

Kompetisi Berjenjang

Sekadar menyegarkan ingatan. LP merupakan event sastra terbesar di Bumi Blambangan. Terbesar dalam jumlah peserta. Terbesar dalam cakupan pesertanya. Frasa “Liga Puisi” sengaja dipilih panitia. Itu sesuai dengan visi event-nya.

Seperti dalam liga sepak bola umumnya, LP merupakan kompetisi berjenjang. Mulai dari Liga 1 hingga Liga 4. Liga 4 melombakan siswa SD dan MI. Sementara Liga 3 diikuti oleh siswa SMP/MTs. Sedangkan peserta liga 2 adalah siswa SMA/SM/MA. Adapun Liga 1 alias liga utamanya menandingkan para guru dan peserta umum.

Persaingan peserta dari Liga 4 sampai Liga 1 sama-sama ketat. Mereka disilakan memilih salah satu puisi dari buku antologi puisi yang ditetapkan panitia. Yakni, buku antologi  “Pahlawan Tanda Tanya” untuk peserta Liga 1. Puisi-puisi dalam antologi “Pahlawan Tanda Tanya” merupakan karya para guru di Banyuwangi. Kualitas puisinya nyaris sama. Tersebab, para guru penulisnya telah mengikuti workshop menulis puisi.

Bisa jadi, para penulis puisi dalam antologi “Pahlawan Tanda Tanya” juga ikut Liga Puisi kelompok Liga 1. Bila begitu yang terjadi, maka mereka sangat diuntungkan. Karena bisa membaca karya sendiri. Yang otomatis tidak akan kesulitan mengintreprestasi puisinya. Faktanya, membaca puisi karya sendiri sangat berbeda dengan membaca puisi karya orang lain.

Tapi, bagi peserta guru yang suka tantangan, boleh memilih salah satu karya koleganya di dalam “Pahlawan Tanda Tanya”. Sementara peserta yang tidak ikut workshop dan otomatis tidak ada karyanya di dalam ‘’Pahlawan Tanda Tanya’’, mereka bisa memilih salah satu puisi di dalamnya. Pilih karya teman sesama guru boleh. Sesuka hatinya. Sesuai selera. Tentu saja.

Pun siswa. Siswa yang ikut workshop menulis puisi. Lalu menulis puisi. Karyanya lolos kurasi. Dan, masuk dalam antologi puisi “Bel Masa Depan dan Penggaris Mimpi”, dalam Liga Puisi ia bisa membaca karyanya. Tapi tidak ada larangan baginya untuk membaca puisi karya siswa lain. Bagi peserta LP yang tidak ikut workshop (dan otomatis tidak ada karyanya dalam antologi puisi ‘’Bel Masa Depan dan Penggaris Mimpi’’, mereka bisa bebas memilih puisi di dalam antologi tersebut.

Pola Baru

Liga Puisi 2025 menjadi tonggak sejarah. Menghadirkan paket komplet event sastra. Biasanya, lomba baca puisi digelar sebagai lomba baca puisi doang. Tidak ada proses kreatif yang menyertainya. Kami di Jawa Pos Radar Banyuwangi mencoba menghadirkan event sastra yang berbeda. Dalam kemasan khusus, dari hulu sampai hilir.

Paket komplet event sastra ini sebenarnya menerjemahkan mimpi Bupati Ipuk Fiestiandani. Dalam beberapa kesempatan event literasi, terutama kegiatan sastra, dia selalu mengingatkan. “Jangan hanya membaca, anak-anak kita juga harus diberi ruang untuk membuat karya,” pintanya.

Maka, sejak LP 2025, kami mengemas pelaksanaan kegiatan event sastra LP dalam rentang waktu yang puanjang. Di mulai Mei 2025. Memberi workshop menulis puisi kepada para guru bahasa Indonesia dan bukan bahasa Indonesia. Mereka berkesempatan belajar langsung kepada penyair sufi Sofyan RH Zaid. Sofyan buka-bukaan. Mentransformasikan teori-teori menulis puisi kepada semua peserta.

Setelah mengikuti workshop, para peserta diwajibkan membuat karya –tentu saja menerapkan ilmu yang sudah diserapnya dalam workshop. Yang lolos kurasi, masuk antologi puisi bersama guru Banyuwangi  “Pahlawan Tanda Tanya”. Bukunya sangat keren.

Siswa juga begitu. Para siswa dari semua sekolah di Kota Gandrung kami undang. Ikut workshop menulis puisi. Materi diberikan oleh Pak Mashudi. Peserta workshop menulis puisi guru. Sehingga ada transfer ilmu. Dari guru peserta workshop kepada siswa. Memang begitu seharusnya. Bila Banyuwangi ingin melahirkan penyair-penyair muda berbakat. Ada proses alih “ilmu” langsung dari guru ke siswa.

Setelah ikut workshop, siswa harus menulis karya. Dikirim ke panitia. Karya yang lolos kurasi, masuk dalam antologi bersama pelajar Banyuwangi berjudul “Bel Masa Depan dan Penggaris Mimpi”.

Wa ba’du. Beruntunglah bagi guru dan siswa yang karya mereka masuk dalam antologi “Pahlawan Tanda Tanya” serta “Bel Masa Depan dan Penggaris Mimpi”. Dua buku itu diterbitkan oleh Jawa Pos Radar Banyuwangi. Bekerja sama dengan penerbit Taresia. Lebih hebat lagi, di dua buku itu ada endorsements dari dua penyair hebat Banyuwangi, Iqbal Baraas (ketua Komite Bahasa dan Sastra DKB) dan Fatah Yasin Noor. Pasti bangga penulisnya. Karya mereka mendapat penahbisan dari dua suhu penyair kota The Sunrise of Java.

Iqbal dan Fatah tak bisa dilepaskan dari perkembangan sastra Banyuwangi. Mereka merupakan juri tetap Liga Puisi Jawa Pos Radar Banyuwangi. Dari Liga Puisi pertama hingga sekarang. Cinta matinya pada puisi tak perlu diragukan.

Untuk peserta LP 2025 selamat berlomba. Pemenang sejati tidak selalu penggamit piala. Tapi, pemenang sejati adalah ia yang berhasil mengalahkan diri sendiri di atas panggung. (Pekolom Banyuwangi)

 

   

Editor : Ali Sodiqin
#liga puisi #man nahnu #samsudin adlawi