Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tetangga Bikin Gelisah

Samsudin Adlawi • Rabu, 10 September 2025 | 11:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

RESAH dan gelisah. Begitu suasana hati Hasan Basri. Keresan Kang Hasan—panggilan karib Hasan Basri, tampak dari kata dan kalimatnya. Saat ngobrol santai dengan saya. Kegelisahan hatinya membuat obrolan santai menjadi serius.  

Saya memaklumi. Sebagai ketua Dewan Kesenian Blambangan DKB), hati Kang Hasan memang harus seperti itu. ‘’Kita harus segera berbenah. Daerah tetangga sekitar Banyuwangi sudah mulai bangkit. Membenahi event dalam festivalnya,’’ ungkapnya.

Selain ketua DKB, Kang Hasan juga kurator. Yang bertugas mengurasi event-event dalam Banyuwangi Festival (B-Fest). Jadi, wajar bila hatinya ‘’panas’’ melihat perkembangan kemasan festival kabupaten sebelah. Yang menurutnya, sudah mengalami perubahan signifikan.

Kabupaten Lumajang, Kang Hasan memisalkan, tanpa sungkan pemangku gunung Semeru itu menjiplak model promosi Banyuwangi. Lumajang mulai meminjam mulut wisatawan asing untuk testimoni destinasi wisata di Lumajang.

Harus diakui, Lumajang sejatinya punya potensi besar untuk maju. Terutama bidang pariwisatanya. Upaya menjual destinasinya dilakukan lewat beberapa julukan. Lumajang menahbiskan diri sebagai Kota Pisang. Beberapa varitas pisang dipunyai Lumajang. Pisang Agung salah satunya.

Julukan berbau asing juga diuarkan. Lumajang sebagai Oostenrijk van Java. Kerajaan Timur Jawa. Julukan itu berkaitan dengan prasasti Mula Malurung. Ditemukan pada 1975 Masehi. Di wilayah Kediri. Prasasti itu menyebut ‘’Nagara Lamajang’’. Pertanda adanya peradaban: ada wilayah, penduduk, dan raja/pemimpin.

Lumajang juga dijuluki Austria van Java. Diperoleh dari pemerintah Belanda. Saat menjajah Indonesia. Katanya, topograsi Lumajang sama dengan Austria. Terutama keindahan panorama alamnya. Mulai gunung Semeru, danau Ranu Kumbolo, air terjun Tumpak Semu, dst., dlsb.

Tapi, sebenarnya, Lumajang punya tagline yang sangat menjual. Yakni,   ‘’Bali’s Cousin’’. Dengan ‘mengaku’ sebagai Sepupu Bali (‘’Bali’s Cousin’’), itu sesuatu banget. Setidaknya bisa menumpang tenar lewat Bali yang sudah mengglobal. Menjadikan Pulau Dewata sebagai pintu masuk. Dalam strategi city branding, itu sangat cerdik.

Lumajang juga sudah ajeg menggelar festival. Pada 2024 ada 24 festival. Salah satu festival budaya paling spektakuler 2025 di sana adalah Segoro Topeng Kaliwungu 2025. Eventnya Gandrung Sewu. Digelar di pinggir pantai: pantai Watu Pecak, Pasirian, Lumajang. Tema yang diangkat juga ke-inggris-inggrisan: ‘’Mystical of Kaliwungu’’. Digelar pada 28-29 Juni 2025.

Bila di Banyuwangi menampilkan penari gandrung, di Lumajang menyuguhkan seni tari topeng Kaliwungu. Sama dengan Gandrung Sewu, tari topeng Kaliwungu juga digelar secara kolosal.

Jember juga ancang-ancang bangkit. Bupati Jember Muhammad Fawaid (Gus Fawaid) optimis bisa mengembalikan kejayaan Jember sebagai destinasi wisata favorit. Bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Lewat kopi dan cerutunya yang sudah mendunia. Juga ‘’hidupkan’’ kembali bandara Notohadinegoro.

Gus Fawait ingin memutar roda waktu ke masa 15 tahun silam. ‘’Dulu orang dari Jakarta, dari manapun, ketika ingin berwisata di ujung timur pulau Jawa, Jember menjadi pilihan. Namun, hari ini agak bergeser sedikit, gak perlu saya sebut kabupaten mana,’’ katanya malu-malu menyebut Banyuwangi, saat memberi sambutan pada acara JKCI (Jember Kota Cerutu Indonesia) Festival 2025.

Ide event yang digelar awal Juli itu menarik. Bisa menjadi pengungkit kebangkitan Jember. Tapi, masih harus dilihat konsistensinya. Memajukan daerah lewat festival membutuhkan keistiqamahan. Event itu bagus sebagai pelengkap JFC (Jember Fashion Carnaval). Namun, event yang sudah masuk KEN (Kharisma Event Nasional itu) sudah tak menendang dulu. Sama dengan BEC (Banyuwangi Ethno Carnival).

Justru kebangkitan yang lebih terukur ditunjukkan Situbondo. Tetangga barat laut kota The Sunrise of Java itu punya road map lebih logis. Mengangkat potensi sejarah dalam bingkai kekinian. Nilai-nilai kesejarahan diangkat menjadi pondasi dalam membangun. Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo bertekad mengoptimalkan potensi budaya daerah yang dipimpinnya. Potensi yangg terbungkus rahim potensi sejarah Kota Santri. Mas Rio—sapaan karib bupati yang belum setahun memimpin itu, punya keyakinan kuat. Strateginya itu bisa diandalkan mendongkrak ekonomi. Naga-naganya bisa menyejahterakan rakyat. Dan, menaikkan kelas Situbondo.

Wa ba’du. Hal berbeda dirasakan Kang Hasan. Instingnya langsung menyala. Kebangkitan Situbondo, Jember, dan Lumajang patut diwaspadai, katanya. Caranya? Banyuwangi harus berbenah. Pintu pembenahannya ada panitia besar B-Fest. Saatnya memelototi event-event B-Fest. Setelahnya, meningkatkan kualitas eventnya.

Kurasi terhadap event harus diperketat. ‘’Event yang diajukan untuk B-Fest 2026 harus mengandung unsur kebaruan. Itu juga berlaku untuk event yang sudah menjadi langganan masuk B-Fest. Apalagi, event baru,’’ tandas Kang Hasan.

Memang, apa pun eventnya, unsur kebaruan menjadi syarat utama. Tanpa ada sesuatu yang membedakan dengan sebelumnya, akan membuat penonton bosan. Itu sebabnya, Gandrung Sewu selalu mengangkat tema baru. Tema itu diimplementasikan dalam formasi gerak yang dipersembahkan setiap tahun. Itu pula yang dilakukan kreator BEC. Menyuguhkan tema yang berganti-ganti setiap tahun. Sayang, beberapa tahun belakangan, tim kreasi BEC terjebak dalam duplikasi kostum. Jadilah, tema baru berbalut kostum lama. Hanya berganti aksesoris dan warna. Sedang pola utamanya sama!

Yang lebih aman adalah melakukan perubahan total. Bila tak mau ribet buat saja event baru. Baru yang benar-benar baru. Bukan baru yang meronce materi-materi lama. Festival Perkusi Banyuwangi adalah event baru. Saya dan Kang Hasan sedang memperjuangkan bisa digelar Oktober mendatang. Seperti apa kemasannya. Tunggu tanggal mainnya. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #samsudin adlawi #tetangga