
RADAR BANYUWANGI - Makin inklusif. Berdaya saing. Dan, sustainable. Begitulah ekosistem ekonomi di kawasan Sekarjikang. Wilayah kerja Bank Indonesia di eks Keresidenan Besuki (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo) dan Lumajang.
Inklusivitas itu ditandai dengan ETPD. Wilayah Sekarkijang sudah masuk kategori digital dalam Elektronifikasi Traksaksi Pemerintah Daerah. Elektronifikasinya tidak sebatas pada perubahan proses. Dari manual menjadi digital. Tidak. Sekali lagi, tidak seperti itu. Tapi lebih dari itu.
Sebab, transformasi tersebut mampu meningkatkan efektivitas pemerintahan. Kualitas pelayanan publik juga ikut terkerek. Mengalami peningkatan. Serta, ini yang lebih penting, memberikan kemudahan yang langsung dirasakan oleh masyarakat. Bukan hanya mereka yang tinggal di urban. Melainkan juga rakyat di tingkat desa.
Kesungguhan BI Jember melakukan sinergisitas dengan stakeholders patut diapresiasi. BI Jember terus merangkul pemerintah daerah di Sekarkijang. Kalangan perbankan. Pelaku usaha. Akademisi. Juga masyarakat. Upaya kuat itu, tampaknya, merupakan strategi BI Jember. Tujuannya, di antaranya, dalam upaya memperluas penggunaan pembayaran digital. Sekaligus untuk membuka akses pembiayaan UMKM.
Dari jauh telihat, dorongan kuat dilakukan BI Jember agar ekosistem digital makin berdaya. Edukasi pembayaran digital digencarkan. QRIS didorong masuk lebih jauh ke dalam berbagai ekosistem. Mulai perdagangan, rumah ibadah, pendidikan, hingga pariwisata.
Hasilnya sangat terasa. Data BI menyajikan perkembangan transaksi digital di kawasan Sekarkijang melambung. Ternyata, sampai Juli 2026, transaksi QRIS di area Sekarkijang mencapai angka cukup fantastis. Sebanyak 9,9 juta transaksi. Total nilainya sebesar Rp 843 miliar!
Transaksi jumbo itu berkelindan dengan tumbuhnya merchant. Yang kini sudah mencapai 641.233 unit. Tumbuh 31,9 persen secara tahunan. Pertumbuhan merchant yang luar biasa makin mempermudah masyarakat dalam bertransaksi. Mereka tidak perlu mempertebal dompetnya saat keluar rumah. Cukup membawa HP. Belanja di toko, di stan UMKM, dan makan di restoran, cukup buka aplikasi QRIS di telepon genggamnya. Klik. Lunas.
Memang belum di semua tempat makan sudah terpasang akses QRIS. Terutama di warung-warung dan toko kelontong. Namun, melihat edukasi yang masif dari BI –terutama kalangan perbankan– sangat mungkin semua transaksi belanja sudah bisa dilakukan dengan QRIS.
Itu selaras dengan misi besar BI Jember. Yang lebih mempertimbangkan asas kebermanfaatan bagi masyarakat daripada jumlah transaksi digitalnya. “Ukuran keberhasilan digitalisasi (pembayaran) bukan (dilihat) dari seberapa banyak traksaksi yang tercatat, tetapi (lebih ke) seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,’’ kata Kepala Perwakilan BI Jember Iqbal Reza Nugraha, dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (8/9/26).
Penguatan ekonomi digital harus terus didorong. BI sebagai lokomotif dan perbankan sebagai masinis. Kolaborasi apik mereka akan sangat menentukan kampanye besar penguatan ekonomi digital. Tingkat keberhasilannya diukur dari seberapa puas masyarakat yang berada di dalam gerbong keretanya. Karena mereka merasakan makin nyaman bertransaksi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





