
RADARBANYUWANGI.ID - Sukses besar diraih Rio Akbar dan Amellya Nur Sifa. Mereka berhasil mengawinkan gelar Banyuwangi BMX Supercross 2026. Berlomba di sirkuit BMX Banyuwangi, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, 27 – 28 Juni 2026, Rio menjuarai kategori men elit. Mengalahkan juara Asia. Rider asal Timbas Thailand Komet Sukprasert. Sedangkan Amellya berhasil mempertahankan gelar yang diraih tahun sebelumnya.
Tidak tanggung-tanggung. Lawan yang mereka kalahkan beberapa pebalap luar negeri. Seperti Thailand, Singapura, dan Filipina. Prestasi yang membanggakan Indonesia. Warga Bumi Blambangan juga ikut bangga. Tapi kebanggannya tidak sempurna. Karena ada yang kurang. Kekurangannya tersebab, sang ‘pengantin juara’ bukan orang Banyuwangi.
Rio kelahiran Bandung, Jawa Barat. Semenrara Amellya berasal dari Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Andai saja Dadang Haries Poernomo tidak mundur sebagai pelatih kepala tim BMX Indonesia, kebanggaan masyarakat Kota Gandrung masih bisa tembus 90%-an. Sebab, Dadang asli Lare Oseng. Dia mundur per Mei 2026. Untuk fokus pada keluarga.
Akan lain ceritanya bila yang juara pebalap asli Banyuwangi. Pasti warga kota The Sunrise of Java sangat bangga. Melengkapi kebanggaan terhadap sirkuit yang dimiliki daerahnya. Sekadar diketahui, sirkuit BMX Muncar tercatat sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Sirkuit BMX Muncar berstandar internasional. Sirkuit standar Olimpiade di Asia hanya ada tiga. Selain di Muncar (Indonesia), juga di Jepang dan Cina. Sirkuit BMX Muncar punya karakteristik unik. Tingkat kesulitannya sangat tinggi. Memiliki panjang lintasan track 465 meter. Obstach 4 high jump. Dilengkapi dua start gate. Tingginya 5 dan 8 meter. Kelebihan lainnya: dilengkapi 7 line berbeda sehingga bisa digunakan untuk perlombaan berbagai kelas.
Track BMX Muncar yang panjang sangat disukai para pebalap. Terutama pebalap asing. ‘’Tracknya menarik, panjang, sangat menantang. Di Singapura tidak seperti ini,’’ kata pebalap Negeri Singa Singapura Azel. Lanjutnya, panjang sirkuit BMX Muncar dua kali lipat dari yang ada di negaranya. ‘’Capek. Tapi sangat menyenangkan. Ini melatih kami bermain di sirkuit standar internasional,’’ timpal Hamzah, teman Azel.
Bukan hanya pebalap. Pelatih mereka juga juga idem ditto. Herve Krebs, misalnya. Pelatih Thailand Cycling Association itu mengaku terus terang: tidak banyak negara memiliki sirkuit BMX sesuai standar UCI. ‘’Maka kejuaraan di Banyuwangi menjadi kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan atlet sebelum menghadapi agenda besar, seperti kejuaraan nasional Thailand dan SEA Games,’’ ujarnya.
Masyarakat Banyuwangi harus bangga punya sirkuit BMX kelas dunia. Dan, mendapat pengakuan dari para atlet dan pelatih dari luar negeri. Tapi larut dalam kebanggaan tak ada gunanya. Bila tak dibarengi program yang jelas. Program untuk memanfaatkan sirkuit yang ada.
Idealnya, kejuaan BMX Supercross didominasi para pebalap dari Banyuwangi. Alasannya sederhana. Mereka yang punya sirkuit. Sehari-hari berlatih di sana. Sehingga tahu spot-spot untuk melakukan akselerasi. Sebagaimana pebalap MotoGP dan atau F1. Pebalap tuan rumah biasanya merajai balapan.
Tidak ada yang tidak bisa. Seperti halnya tidak ada yang tidak mungkin. Asal digembleng dengan program yang bagus, sangat mungkin sirkuit BMX Muncar akan melahirkan para pebalap muda andalan Indonesia. Lewat latihan keras dan ketat bisa mencetak para calon juara.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





