
BANYUWANGI bakal punya ikon baru. Letaknya sangat strategis. Sangat eye catching. Menggoda perhatian. Karena membentang di atas jalan. Antara Stasiun Kereta Api (KA) Banyuwangi Baru dan Pelabuhan Penyeberangan ASDP Ketapang.
Bangunan ikonik itu berupa jembatan layang. Skybridge. Melayang dari pintu keluar Stasiun KA Banyuwangi Baru sampai pintu masuk Pelabuhan ASDP. Panjangnya 193 meter! Kelak, setelah jadi, ia akan tampak seperti naga raksasa tidur. Dengan posisi badan meliuk-liuk. Melintang di atas Jalan Raya Banyuwangi–Situbondo. Yang tak pernah tidur. Selama 24 jam!
Rapat-rapat digelar. Membahas persiapan pembangunannya. Paling mutakhir, rapat digelar di kantor Pelabuhan ASDP. Kamis, 17 Oktober 2024. Dipimpin langsung Direktur Prasarana Transportasi Darat dan Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Toni Tauladan. Dihadiri para pihak terkait. Ada GM Pelabuhan ASDP Ketapang Yani Andrianto. Vice President KAI Daop 9 Hengky Prasetyo. Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Jawa Timur Muiz Thohir. Perwakilan Balai Teknik Perkeretaapian Surabaya. Serta Pj Sekkab Banyuwangi Guntur Priambodo.
Proyek ikonik tersebut ditarget tuntas tahun depan. Kata Guntur Priambodo. Kini sedang dikebut pengerjaan DED (Detail Engineering Design). Selesai Desember nanti. Sekadar informasi, desain skybridge Ketapang dikerjakan oleh Andra Matin. Arsitek kelas dunia. Yang mendesain Bandara Banyuwangi.
”Kemarin (dalam rapat bersama Kemenbub), kita sampaikan kalau bisa kontraknya dimulai tanggal 18 Desember, sekaligus kado untuk Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba). Insya Allah tahun depan akan segera dibangun,” kata Guntur.
Seperti bangunan monumental lainnya—Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Patung Gandrung Watudodol, Bandara Banyuwangi, dan lain-lain— skybridge Ketapang tidak akan menjadi benda mati doang. Bangunan yang hanya punya fungsi tunggal. Supaya penumpang tidak lagi menyeberangi kepadatan jalan raya Ketapang–Situbondo. Ketika berpindah dari moda kereta api di Stasiun Banyuwangi Baru pindah ke kapal penyeberangan di Pelabuhan ASDP.
Kalau sekadar itu fungsinya, Pemkab Banyuwangi tak perlu repot cawe-cawe. Biarkan itu menjadi urusan Kemenhub-ASDP-PT KAI. Pemkab Banyuwangi harus mendapat lebih dari itu. Ikon baru itu harus ada rasa Banyuwangi-nya. Seperti patung gandrung di area Watudodol, misalnya. Begitu menatap patung gandrung di tepi pantai, pengguna lalu lintas dari arah Surabaya langsung tersadar: ”Wah, sudah masuk Banyuwangi, nih”.
Begitu pula seharusnya. Ketika hendak melintas di bawah skybridge Ketapang, dari kejauhan kudunya mata pengendara kendaraan terpapar identitas Bumi Blambangan di skybridge Ketapang. Tidak harus gambar gandrung. Boleh yang lain. Bahkan, tulisan Banyuwangi saja juga gak masalah. Atau, BWI the Sunrise of Java. Yang penting, Banyuwangi bisa nebeng di skybridge.
Sebab, rasa-rasanya kok jelek ya. Bila yang melintang di atas jalan depan Pelabuhan Ketapang hanya jembatan layang. Tanpa pernak-pernik. Bahkan, kalau mau menjual untuk space iklan, bakal banyak yang berminat. Pasti antre yang akan memasang branding produknya. Di dinding skybride Ketapang. Khususnya di badannya yang berada persis di atas jalan. Tapi, semoga pengelola skybridge Ketapang tidak kemaruk omzet. Bukan pemburu keuntungan bisnis. Yang paling tepat, ya diisi identitas Banyuwangi. Dengan begitu, lengkaplah klaim bahwa skybridge Ketapang adalah ikon baru Banyuwangi.
Itu angan-angan saya. Keinginan orang Banyuwangi. Tapi, kami sadar sesadar-sadarnya. Proyek jembatan layang itu bukan milik Kota Gandrung. Tapi milik orang lain. Kepunyaan Kemenhub. Kebetulan saja lokasinya di Banyuwangi. Senyampang masih bisa bermimpi, sekalian saya mimpi yang indah. Banyuwangi bisa nebeng identitas di skybridge Ketapang. Siapa tahu pemiliknya baik hati. Mewujudkan mimpi saya dan rakyat Banyuwangi menjadi kenyataan.
Bila mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan, bisa melengkapi keinginan yang lain. Yakni, skybridge menjadi destinasi unik. Seperti destinasi lainnya, skybridge bisa menggerakkan UMKM (usaha mikro kecil menengah). Pemkab Banyuwangi berharap di dalam perut skybridge yang mengular sepanjang 193 meter, ada space khusus untuk UMKM membuka lapak suvenir. Soal lokasinya, serahkan sepenuhnya kepada pemiliknya.
Wa ba’du. Pastinya, sinergi para pihak terkait, terutama Kemenhub -PT ASDP-PT KAI-Pemkab Banyuwangi sangat dibutuhkan. Kebersamaan adalah rumah keindahan. Jangan seperti yang terjadi di Pantai Boom. Antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim dan Pemkab Banyuwangi saling klaim sebagai pemilik pantai. Bahkan, konon sebagian area yang sudah dikembangkan PPI (Pelindo Properti Indonesia)—anak usaha PT Pelindo— juga kecaplok peta baru milik Pemprov Jatim.
Ketika sinergisitas mati, yang tersisa hanya egosentris. Yang besar dan kuat merasa lebih berhak memiliki. (Pekolom Banyuwangi)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





