Namanya sesuai dengan suara saat dimainkan. Etek-etek atau etek-etekan bukan hal yang asing bagi orang tua. Lato-lato banyak dijajakan di depan sekolah. Bahkan, mulai anak-anak, remaja, hingga orang tua, ikut larut untuk memainkannya.
Permainan tradisional etek-etekan ini mendadak viral ketika banyak anak-anak yang telah mahir bermain dengan berbagai style yang cukup menarik. Dengan demikian, permainan yang telah lama hilang kembali dikenal oleh khalayak ramai.
Lato-lato berasal dari Amerika Serikat yang biasa disebut clackers ball. Terdiri dari dua bola yang terhubung dengan seutas tali. Desain lato-lato sendiri mirip dengan boleadoras yang merupakan senjata yang digunakan oleh Gaucho untuk menangkap guanako (hewan yang terlihat seperti llama).
Lato-lato diketahui sudah ada sejak tahun 1960-an dan populer pada masanya. Mainan ini bermanfaat untuk melatih konsentrasi dan fokus. Sebab, diperlukan konsentrasi dan fokus yang tinggi untuk melihat bola tetap bergerak dalam waktu yang lama.
Selain latihan konsentrasi dan fokus, lato-lato juga bisa meredakan stres. Permainan lato-lato ini juga cocok dimainkan bersama buah hati di rumah. Terutama untuk mengalihkan perhatian anak dari gawai.
Namun demikian, lato-lato juga bisa berbahaya. Terlebih jika anak-anak memainkannya tanpa pengawasan orang tua. Karena terbuat dari dua bola yang keras, sering kali anak-anak mengalami cedera ketika baru belajar memainkan permainan ini.
Oleh karena itu, pemain harus berhati-hati dalam mengayunkan bola lato-lato agar terhindar dari cedera. Bukan hanya itu, cara memegang tali juga penting diperhatikan agar tidak terlepas dan bola lato-lato terlempar dari tangan.
Lato-lato sebelumnya sempat dilarang dimainkan di beberapa negara. Alasan pelarangan tersebut adalah karena lato-lato dinilai tidak bermanfaat, cenderung melukai, dan mengganggu lingkungan dengan suara nyaringnya. Saat bola pendulum yang dimainkan rusak karena saling bertabrakan, pecahannya bisa melukai wajah anak-anak.
”Bagi anak-anak lato-lato ini cukup berbahaya, jika terlalu dekat dengan wajah rawan cedera. Ketika bola itu pecah, pecahan materialnya rawan masuk dan mengenai wajah dan bagian mata,” ujar Yoga Pamungkas, remaja pemain etek-etekan.
Semula lato-lato terbuat dari bahan kaca. Namun, karena kaca mudah pecah dan bahkan sampai melukai sejumlah anak, mainan ini mulai diganti dengan plastik. Meski begitu, lato-lato berbahan plastik pun masih bisa pecah. ”Intinya, fokus dan tetap berhati-hati dengan memeriksa tali dan bolanya,” tandas Yoga. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono