Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rajin Puasa Senin - Kamis, Tiap Malam Salat Tahajud

Agus Baihaqi • Rabu, 6 Juli 2022 | 19:06 WIB
BERKAH: Istri Ahmad Kholil, Marini Fatmasari bersama kedua anaknya dan Mahfudz Syamsul Hadi, kakak ipar di rumahnya, Dusun Sukomukti, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, Senin (4/7). (Irham Muzaki/Radar Genteng)
BERKAH: Istri Ahmad Kholil, Marini Fatmasari bersama kedua anaknya dan Mahfudz Syamsul Hadi, kakak ipar di rumahnya, Dusun Sukomukti, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, Senin (4/7). (Irham Muzaki/Radar Genteng)
BANGOREJO, Jawa Pos Radar Genteng – Sosok Ahmad Kholil, 51, asal Dusun Sukomukti, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, yang mendapat kesempatan haji melalui jalur Furoda atau undangan khusus dari Kerajaan Arab Saudi tahun ini, terlahir dari keluarga biasa. Dengan bekerja sebagai pencari barang rongsokan, tidak pernah mengeluh.

Keluarganya dikenal berada di lingkungan yang religious. Meski belum mendaftar haji, tapi sejak tahun 2010 menabung dari hasil pekerjaannya mengumpulkan barang bekas untuk naik haji. Kholil, hanya lulusan SD, pernah sekolah di MTs, tapi tidak sampai lulus dan memilih belajar di salah satu pondok pesantren yang ada di Kecamatan Singojuruh. “Saya lupa nama pondoknya,” terang Marini Fatmasari, 46, istri Ahmad Kholil.

Menurut Marini, suaminya sejak 2010 menabung untuk naik haji. Sampai 2022 ini, tabungannya itu baru terkumpul Rp 8 juta, tentu masih sangat jauh untuk bisa mendaftar haji. “Menabung 12 tahun dan Alhamdulillah sudah dapat Rp 8 juta,” terangnya.

Dalam keseharian, Kholil dikenal pekerja keras, ulet, dan tekun mencari barang bekas seperti kardus dan sepeda onthel bekas. “Sebelum menikah dengan saya, sudah bekerja mengumpulkan barang bekas,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (4/7).

Sebelum bekerja mencari barang bekas, Kholil bekerja ikut kakaknya dengan bertani, hingga akhirnya memutuskan membeli sepeda onthel bekas yang sudah rusak dan diperbaiki untuk dijual kembali. Selain itu, pernah nyambi jualan kerupuk keliling selama lima tahun lebih. “Jualan kerupuk sambil mengumpulkan barang bekas,” jelasnya.

Saat menikah Kholil tinggal bersama orang tuanya. Selanjutnya, oleh saudara-saudaranya dibuatkan rumah sendiri. Di rumah itulah, suaminya bekerja hingga batas waktu. “Kalau siang mencari barang rongsokan, malam memperbaiki sepeda onthel di rumah,” ungkapnya.

Sepeda bekas yang diperbaiki itu, dijualnya dengan harga Rp 25 ribu sampai Rp 100 ribu untuk sepeda anak-anak. Sedang sepeda untuk orang dewasa paling mahal Rp 250 ribu. Untuk sepeda yang tidak bisa diperbaiki, dianggap barang rongsokan dan dijual ke pengepul. “Alhamdulilah, dari penghasilan yang tidak pasti itu bisa menghidupi keluarga,” jelasnya.

Kholil terkenal sikap religiusnya. Sejak sebelum menikah, rajin puasa sunah Senin dan Kamis. Selain itu, salat tahajud di mushola dekat rumahnya tidak pernah ditinggalkan. Dan satu lagi, sangat berbakti kepada orang tuanya. Saat ayahnya  M Solehan sakit jantung dan akhirnya meninggal setahun lalu, Kholil yang paling sering merawatnya. “Saudara yang lain termasuk saya ikut merawat, tapi yang lebih sering Kholil,” jelas Mahfudz Syamsul Hadi, kakak kandung Ahmad Kholil. (mg5/abi) Editor : Agus Baihaqi
#Kerajaan Arab Saudi #Haji Undangan #Haji Furoda #haji khusus