RadarBanyuwangi.id – Sejak pandemi Covid-19 melanda, marak berdiri toko kelontong di wilayah Banyuwangi. Orang menyebutnya toko Madura atau toko Maduran.
Saat ini sudah puluhan toko Maduran berdiri. Barang-barang yang dijual terdiri jajanan, air mineral, rokok, dan aneka kebutuhan lainnya. Toko Maduran melayani masyarakat selama 24 jam.
Ada yang khas dari toko Madura. Hampir semuanya menata dagangan dengan cara yang hampir sama. Jualan bensin eceran, lemari es kecil, rokok ditata miring, dan masih banyak kesamaan lain.
Toko ini berjejaring. Ada owner yang memiliki lebih dari satu toko. Mereka rata-rata menyewa tempat untuk beberapa tahun ke depan.
Seperti toko kelontong di simpang tiga Pasar Rogojampi. Meski lokasinya berdekatan dengan pasar, toko kelontong milik Lukman Hakim ini selalu ramai pembeli. Mulai pagi sampai tengah malam.
”Kalau punya saya tempat tidak sewa, tapi milik sendiri dan belanja juga sendiri,” ungkapnya.
Praktis, barang-barang yang diperjualbelikan oleh Lukman bisa lebih murah dibanding toko kelontong Madura lainnya yang harus membayar sewa tempat. Terlebih, toko miliknya juga berdekatan dengan pasar.
”Kalau soal harga tentu hampir sama dengan harga pasar, toh tempat kulakan ambil barangnya juga sama di pusat grosir,” terang bapak dua anak ini.
Sementara toko kelontong Madura lainnya, imbuh Lukman, barang-barang yang diperjualbelikan didrop oleh sales.
”Kalau sistemnya bermacam-macam, ada yang bagi hasil. Ada juga yang hanya sebagai penjaga saja,” ujarnya.
Untuk penjagannya, kata Lukman, rata-rata adalah pasangan suami istri yang merantau dan bekerja menjaga toko kelontong selama 24 jam. Adapun honornya tergantung dari kesepakatan dengan pemilik toko.
Menjamurnya toko-toko kelontong Madura merupakan persaingan yang sehat dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Apalagi, di Banyuwangi saat ini juga mengizinkan pendirian toko modern berjaringan.
”Lebih banyak lebih baik, karena masyarakat akan lebih dekat terlayani terlebih tokonya juga buka 24 jam,” jelasnya.
Selain buka 24 jam, toko Madura masih menyiapkan tas kresek untuk barang belanjaan. Berbeda dengan toko modern yang tidak lagi menyediakan kantong plastik.
”Kalau di toko modern berjejaring hanya menang gengsi, harganya juga relatif mahal,” kata Lukman.
Seorang penjaga toko Madura, Rahmat, sengaja merantau dari Situbondo ke Banyuwangi bersama istrinya untuk menjaga toko kelontong. ”Alhamdulillah, bisa untuk menyambung hidup bersama keluarga,” katanya.
Rahmat bersama sang istri bergantian melayani pembeli yang datang ke tokonya untuk berbelanja.
Bahkan, jika toko sedang ramai pembeli, dia dan istrinya sama-sama turun tangan melayani pelanggan. Sebab, pembeli cenderung ingin dilayani dengan cepat.
”Biasanya kalau pelayanan kurang ramah dan lama tidak segera dilayani, pembeli akan keburu kabur dan cenderung tidak akan kembali lagi untuk berbelanja. Makanya, kami mengutamakan pelayanan cepat,” jelas Rahmat.
Toko Maduran sebagian besar menyediakan kebutuhan sembako mulai dari beras, minyak goreng, rokok, pulsa, token listrik, tabung gas, minuman, dan sebagainya.
Rahmat mengaku omzet yang didapat dari hasil berjualan rata-rata Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per hari.
”Kalau bulan Ramadan biasanya naik karena malam hari banyak yang belanja,” pungkasnya.
Menjaga toko Madura selama 24 jam menjadi pilihan yang tidak bisa ditolak oleh Wahid, 33, saat pandemi Covid-19 melanda. Tawaran menjaga toko dengan bayaran Rp 2,5 juta sebulan langsung diambilnya.
Awalnya, pekerjaan itu benar-benar dinikmati. Dibantu istrinya, Wahid menjaga toko selama 30 hari x 24 jam.
Tugasnya melayani pembeli yang datang ke warung yang dijaganya. Harga-harga barang sudah ditentukan sehingga dia tak perlu repot mengaturnya.
Wahid mengajak istri dan dua anaknya tinggal di warung. Untuk urusan makan, dia juga tidak perlu khawatir.
Ada stok bahan baku seperti mi instan, telur, bahkan beras yang boleh digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Wahid juga boleh mengambil rokok dengan syarat toko tidak boleh tutup sama sekali. Hanya sesekali saja dia keluar ketika harus ada urusan.
Namun, lama-kelamaan pria lulusan SMK itu mengaku mulai jenuh. Apalagi, saat dia dan istrinya memiliki kepentingan keluarga.
”Saya bertahan cuma empat bulan. Sebenarnya enak, tidak perlu ke mana-mana, hanya jaga toko saja, tapi tidak bisa ke mana-mana,” kata pria asal Kelurahan Karangrejo itu.
Pengalaman serupa diceritakan oleh Andi Nova, salah seorang pelaku bisnis toko Maduran di Banyuwangi. Dia menjelaskan, sistem kerja toko Maduran dibagi dua sif. Satu sif 12 jam kerja.
Biasanya, satu toko dijaga dua orang. Satu orang penanggung jawab dan satu orang karyawan. Pemilik toko biasanya memilih pekerja yang sudah bersuami istri.
Suaminya menjadi penanggung jawab dan istrinya menjadi karyawan. Hal itu akan lebih mempermudah pemilik toko untuk mengatur pekerja.
”Ya tidak ada libur, 24 jam selama 30 hari. Kalau mau libur, harus gantian tidak bisa ditinggal atau harus cari penjaga pengganti. Makanya, sampai ada istilah ’kiamat buka setengah hari’,” ucap Andi sembari tertawa.
Selain sistem gaji, ada juga sistem pembayaran bagi hasil. Andi mengatakan, biasanya dari laba harian akan dipotong 20 persen. Kemudian selama satu bulan hasilnya dibagi dua antara pemilik toko dan karyawan.
”Kalau di Banyuwangi gaji rata-rata Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta sebulan. Ada juga yang pakai sistem bagi hasil,” terangnya.
Andi melihat semakin lama prospek bisnis warung 24 jam di Banyuwangi kurang baik. Selain banyaknya kompetitor, kondisi Banyuwangi sebagai kota berkembang membuat pendapatan mereka tidak terlalu besar.
”Kalau mau memang lebih baik di kota besar. Sehari omzetnya bisa Rp 5 juta lebih. Kalau di Banyuwangi sehari dapat Rp 500 ribu sudah bagus,” kata Andi. (ddy/fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin