RadarBanyuwangi.id – Burung dari hutan yang kini digemari untuk dirawat dalam sangkar adalah perkutut jawa. Masyarakat juga biasa menyebutnya sebagai perkutut lokal. Bagi sebagian orang, perkutut memiliki keunikan yang disebut dengan katuranggan, yang artinya ciri fisik yang bagus.
Katuranggan hanya ada pada perkutut. Dengan mengetahui katuranggan dari burung tersebut, pemiliknya bisa meramalkan bagaimana kualitas burung. Cukup melihat pada bagian katuranggan, maka sudah bisa dipastikan bagaimana suara yang akan dikeluarkan.
”Mitosnya, bagi yang memelihara burung perkutut lokal katuranggan ini bisa mendatangkan rezeki dan keberuntungan bagi pemiliknya,” ungkap Jantok, penghobi burung perkutut di Banyuwangi.
Burung perkutut lokal, kata Jantok, memiliki keunikan dan kelebihan sendiri dibanding dengan jenis perkutut thailand atau perkutut bangkok. Suara perkutut jawa relatif pelan, kecil, dan tipis. ”Tapi suara kung perkutut lokal ini terdengar lebih cepat dan suara kung patah-patah itulah salah satu daya tariknya,” jelas Jantok.
Umumnya, burung perkutut yang dipelihara sebagai klangenan oleh kebanyakan penghobi, biasanya hanya diberi makan berupa biji-bijian seperti milet putih, jewawut, milet merah, dan gabah berukuran kecil dengan sedikit ketan hitam. Ada juga penghobi yang memberikan pakan tambahan seperti biji sawi, biji godem, dan pakan ekstra untuk kebutuhan mineral berupa tulang sotong. Pemberian pakan untuk menjaga kesehatan dan stamina burung perkutut yang dipelihara di sangkar. ”Kalau pakan terjaga, staminanya juga terjaga,” katanya.
Perkutut peliharaan, lanjut Jantok, juga memerlukan penjemuran di bawah sinar matahari langsung. Untuk penjemuran burung perkutut biasanya di tiang kerekan dengan ketinggian kurang lebih tujuh meter. ”Dalam sehari harus kena terik panas sinar matahari, agar burung bisa lebih fresh,” jelasnya.
Yang menarik, sebagian penghobi juga ada yang memberi perlakuan berbeda terhadap burung perkutut, misalnya memandikannya dengan air leri atau bekas cucian beras dicampur beberapa daun sirih. Tujuannya tak lain agar penampilan bulu burung perkutut lebih bersih, tajam, mengkilat, dan indah.
Setelah dijemur, burung bisa diangin-angin di teras rumah yang tidak terkena sinar matahari langsung. Burung perkutut siap manggung dan dinikmati alunan irama suara kung yang terus-menerus. ”Ada perasaan bahagia yang tak ternilai kala mendengarkan alunan irama kung burung perkutut. Apalagi jika saling bersahut-sahutan, merdu sekali,” tandas Jantok. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin