Serial anime Naruto Shippuden, sebuah kisah fiksi asal Jepang memang banyak digandrungi anak-anak Indonesia.
Naruto sebagai tokoh utama yang digambarkan sebagai seorang ninja yang awalnya payah, lalu karena kerja keras pantang menyerah. Kemudian dia menjadi hebat dan dianggap bukan sekadar hiburan semata.
Kisah anime Naruto yang heroik banyak mempengaruhi tingkah, hingga karakter anak-anak.
Kita tentu bisa dengan mudah menemui gerombolan anak kecil yang akan meluruskan tangannya ke belakang ketika berlari.
Sekadar diketahui, itu ciri khas para ninja di serial tersebut ketika tengah lari.
Lalu apa saja pelajaran yang bisa diambil dari serial ini?
Pertama, semangat hidup.
Semangat hidup merupakan alasan mendasar bagi seseorang untuk tetap bertahan hidup dan memperjuangkan cita-citanya di dunia ini.
Dalam serial Naruto, pelajaran tentang pelajaran hidup ditampilkan oleh tokoh-tokoh protagonis berkarakter baik, dalam porsi yang relatif besar.
Misalnya sang tokoh utama Naruto Uzumaki, termasuk sosok yang mempunyai semangat hidup yang membara.
Dikisahkan, sejak kecil Naruto telah menjadi anak yatim piatu. Mayoritas penduduk Konoha membenci, karena di tubuhnya bersemayam monster Kyubi (monster berekor sembilan).
Dia pun sering membuat keributan di desanya, karena ingin mendapatkan perhatian dari penduduk yang membenci dan menjauhinya.
Naruto tidak mengeluh dengan semua keadaan itu. Justru dengan segala kelemahan, dia tetap semangat hidup yang mampu memperteguh tekadnya untuk terus memperjuangkan cita-citanya, yaitu menjadi Hokage di masa depan.
Kedua tentang keberaniannya. Nilai keberanian ditunjukkan dengan melakukan suatu tindakan berisiko tinggi dengan penuh rasa tanggung jawab. Tentu itu dalam rangka menegakkan kebenaran.
Nilai keberanian misalnya ditunjukkan oleh Shikamaru Nara, teman dekat Naruto ketika menghadapi anggota Organisasi Ninja Akatsuki yang tidak bisa mati.
Dalam kisah tersebut, Shikamaru akhirnya bisa memenangkan pertarungan dengan strategi yang matang. Ia akhirnya bisa mengubur Hidan, musuhnya di scene tersebut.
Pelajaran berikutnya adalah kesetiakawanan. Kesetiakawanan yang dimaksud di sini adalah mendahulukan kepentingan tim atau kelompok di atas kepentingan pribadi.
Nilai kesetiakawanan pernah ditunjukkan ketika Kakashi telah menjadi seorang Jounin pada usia 12 tahun. Ketika terlibat pertarungan dalam misi menghancurkan jembatan, Rin tertangkap musuh.
Semula Kakashi bermaksud mengabaikan keselamatan Rin, dan hendak meneruskan misi. Namun atas imbauan Obito, maka Kakashi dan Obito memutuskan untuk menyelamatkan Rin.
Karena kesetiakawanan yang tinggi itulah, akhirnya mereka berhasil menyelamatkan Rin.
Meski tidak ada penelitian secara pasti membahas tentang ini, sikap-sikap tersebut akan berpengaruh terhadap karakter penonton. Apalagi serial Naruto sudah tayang di TV Indonesia sejak tahun 2003. (sas/bay)
Editor : Niklaas Andries