alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Baju Adat Harus Bersifat Dinamis dan Sesuai Perkembangan Zaman

JawaPos.com –  Ketentuan baju adat Osing yang selama ini diterapkan kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) ternyata memiliki berbagai keragaman. Mulai dari bentuk detail hingga motif.

Hal ini ternyata memancing kerisauan di kalangan budayawan. Siang kemarin (26/9), sejumlah budayawan dan pelaku adat berkumpul di ruang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi. Dalam pembahasan yang dipimpin Sekretaris Dinas Choliqul Ridha.

Sejumlah usulan terkait komponen baju adat dibahas. Dalam pembahasan pertama kemarin, sejumlah gagasan keluar dari para peserta musyawarah. Pada kesempatan pertama, Hasan Basri menegaskan prinsip kebudayaan termasuk produk baju adat bersifat dinamis sesuai perkembangan zaman.

Khusus untuk Banyuwangi, kebudayaan yang dianut mengusung semangat kesetaraan. Sehingga dalam berbusana antara rakyat dan pejabat memiliki kesamaan. ”Kebudayaan Banyuwangi itu egaliter, jangan mencari pembeda orang penting dan orang biasa,” tegasnya.

Pembahasan itu berkembang pada detail baju adat Osing. Termasuk pengembangan jenis tutup kepala yang selama ini dikenal dengan tongkosan. Jika selama ini udeng khas Banyuwangi itu lazim dengan bentuk umum sehelai kain yang diikatkan dengan dua tanduk, ternyata dalam pemakaiannya ada pengelompokan tiga macam berdasarkan usia pemakainya. ”Udeng ini tetenger yang anak-anak,” jelas Juwono, salah seniman yang hadir.

Pria yang juga menjadi seorang pendidik ini mengungkapkan, udeng juga memiliki fungsi pengenal kelompok usia. Untuk kalangan anak-anak biasanya menggunakan udeng dengan nama sampadan jejeg. Jenis ini dipergunakan untuk kalangan anak atau sampai masa sebelum berkeluarga usia 23 tahun.

Kemudian untuk kalangan dewasa dinamai sampadan maling atau sampadan seleh. Perbedaan dari kedua jenis ini ada pada ujung lancip di bagian belakang kepala. Untuk sampadan jejeg, ujung tegak ke atas yang  mengartikan gelora dan kegagahan. Sedangkan sampadan maling posisi lancip berada di bawah.

Hal ini karena laki-laki yang sudah menikah diidentikkan gelora dalam dirinya sudah mulai reda.

Sementara tongkosan seperti yang saat ini sering dijumpai, merupakan udeng untuk kelompok usia tua. Yakni laki-laki setengah umur dalam adat Osing atau berusia sekitar 50 tahun. ”Orang Osing itu acuan umur 100 tahun,” jelasnya.

Detail aturan yang juga dibahas yakni model baju Osing. Selama ini, meski dinamai baju adat, namun dalam praktiknya bentuk dan model baju masih cukup beragam. Mulai dari kerah hingga warna. Kerah baju Osing jika mengacu tradisi tidak memiliki kerah berdiri, namun kerah tanpa lipatan atau dikenal dengan istilah gulon cacing. Kemudian lengan panjang tanpa kancing dengan tiga saku dua di bawah dan satu di kiri atas.

Sementara itu, Samsudin Adlawi mengusulkan, setelah draf ini disusun, sebelum disahkan hendaknya draf disosialisasikan terlebih dahulu dengan melibatkan semua stakeholder mulai dari ASN, kalangan pendidikan, dan kalangan terkait. Sehingga nantinya bisa dipahami secara menyeluruh.

Usulan ini merupakan penguatan dari gagasan yang disampaikan budayawan Safin terkait mekanisme penerbitan perundangan. ”Saya sepakat semua stakeholder diundang sebelum ditandatangani,” tegas Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi itu.

Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata seperti disampaikan Choliqul Ridha menyebutkan, terkait ketentuan baju adat untuk pemakaian resmi di Banyuwangi sebenarnya sudah ada Perbub-nya. Namun dalam pelaksanaan saat ini masih berbeda-beda. Termasuk yang paling mencolok soal bawahan busana yang saat ini cukup dengan celana.

Padahal semestinya ada paduan kain tapeh menyerupai sarung. Pembahasan melibatkan pihak-pihak terkait ini salah satunya menyusun aturan baju adat untuk acara resmi pemerintahan dan untuk kepentingan di luar itu. ”Sekarang ini kan pakai celana, aslinya tidak seperti itu,” jelasnya.

Hasil dari usulan ini, nantinya akan diajukan ke bagian hukum pemkab. Sebelum diundangkan, nantinya para pemangku kepentingan adat akan diundang kembali untuk final pembahasan. ”Sebelum disahkan, kita sosialisasikan dulu,” pungkasnya.

JawaPos.com –  Ketentuan baju adat Osing yang selama ini diterapkan kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) ternyata memiliki berbagai keragaman. Mulai dari bentuk detail hingga motif.

Hal ini ternyata memancing kerisauan di kalangan budayawan. Siang kemarin (26/9), sejumlah budayawan dan pelaku adat berkumpul di ruang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi. Dalam pembahasan yang dipimpin Sekretaris Dinas Choliqul Ridha.

Sejumlah usulan terkait komponen baju adat dibahas. Dalam pembahasan pertama kemarin, sejumlah gagasan keluar dari para peserta musyawarah. Pada kesempatan pertama, Hasan Basri menegaskan prinsip kebudayaan termasuk produk baju adat bersifat dinamis sesuai perkembangan zaman.

Khusus untuk Banyuwangi, kebudayaan yang dianut mengusung semangat kesetaraan. Sehingga dalam berbusana antara rakyat dan pejabat memiliki kesamaan. ”Kebudayaan Banyuwangi itu egaliter, jangan mencari pembeda orang penting dan orang biasa,” tegasnya.

Pembahasan itu berkembang pada detail baju adat Osing. Termasuk pengembangan jenis tutup kepala yang selama ini dikenal dengan tongkosan. Jika selama ini udeng khas Banyuwangi itu lazim dengan bentuk umum sehelai kain yang diikatkan dengan dua tanduk, ternyata dalam pemakaiannya ada pengelompokan tiga macam berdasarkan usia pemakainya. ”Udeng ini tetenger yang anak-anak,” jelas Juwono, salah seniman yang hadir.

Pria yang juga menjadi seorang pendidik ini mengungkapkan, udeng juga memiliki fungsi pengenal kelompok usia. Untuk kalangan anak-anak biasanya menggunakan udeng dengan nama sampadan jejeg. Jenis ini dipergunakan untuk kalangan anak atau sampai masa sebelum berkeluarga usia 23 tahun.

Kemudian untuk kalangan dewasa dinamai sampadan maling atau sampadan seleh. Perbedaan dari kedua jenis ini ada pada ujung lancip di bagian belakang kepala. Untuk sampadan jejeg, ujung tegak ke atas yang  mengartikan gelora dan kegagahan. Sedangkan sampadan maling posisi lancip berada di bawah.

Hal ini karena laki-laki yang sudah menikah diidentikkan gelora dalam dirinya sudah mulai reda.

Sementara tongkosan seperti yang saat ini sering dijumpai, merupakan udeng untuk kelompok usia tua. Yakni laki-laki setengah umur dalam adat Osing atau berusia sekitar 50 tahun. ”Orang Osing itu acuan umur 100 tahun,” jelasnya.

Detail aturan yang juga dibahas yakni model baju Osing. Selama ini, meski dinamai baju adat, namun dalam praktiknya bentuk dan model baju masih cukup beragam. Mulai dari kerah hingga warna. Kerah baju Osing jika mengacu tradisi tidak memiliki kerah berdiri, namun kerah tanpa lipatan atau dikenal dengan istilah gulon cacing. Kemudian lengan panjang tanpa kancing dengan tiga saku dua di bawah dan satu di kiri atas.

Sementara itu, Samsudin Adlawi mengusulkan, setelah draf ini disusun, sebelum disahkan hendaknya draf disosialisasikan terlebih dahulu dengan melibatkan semua stakeholder mulai dari ASN, kalangan pendidikan, dan kalangan terkait. Sehingga nantinya bisa dipahami secara menyeluruh.

Usulan ini merupakan penguatan dari gagasan yang disampaikan budayawan Safin terkait mekanisme penerbitan perundangan. ”Saya sepakat semua stakeholder diundang sebelum ditandatangani,” tegas Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi itu.

Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata seperti disampaikan Choliqul Ridha menyebutkan, terkait ketentuan baju adat untuk pemakaian resmi di Banyuwangi sebenarnya sudah ada Perbub-nya. Namun dalam pelaksanaan saat ini masih berbeda-beda. Termasuk yang paling mencolok soal bawahan busana yang saat ini cukup dengan celana.

Padahal semestinya ada paduan kain tapeh menyerupai sarung. Pembahasan melibatkan pihak-pihak terkait ini salah satunya menyusun aturan baju adat untuk acara resmi pemerintahan dan untuk kepentingan di luar itu. ”Sekarang ini kan pakai celana, aslinya tidak seperti itu,” jelasnya.

Hasil dari usulan ini, nantinya akan diajukan ke bagian hukum pemkab. Sebelum diundangkan, nantinya para pemangku kepentingan adat akan diundang kembali untuk final pembahasan. ”Sebelum disahkan, kita sosialisasikan dulu,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/