Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Mindfulness Bertemu Privilege, Mengapa Konten Maudy Ayunda Diperdebatkan?

Lugas Rumpakaadi
Penulis: Lugas Rumpakaadi❯
Maudy Ayunda menjadi perhatian setelah kontennya mengenai mindfulness di tengah derasnya berita buruk memicu perdebatan tentang kesehatan mental dan privilege. (Instagram/maudyayunda)
Maudy Ayunda menjadi perhatian setelah kontennya mengenai mindfulness di tengah derasnya berita buruk memicu perdebatan tentang kesehatan mental dan privilege. (Instagram/maudyayunda)

Advertisement

RADAR BANYUWANGI - Maudy Ayunda kembali menjadi perhatian setelah video lamanya tentang mindfulness di tengah derasnya berita buruk ramai diperbincangkan di media sosial. Konten tersebut memicu kritik dari sebagian pengguna media sosial yang menilai pembahasannya kurang mempertimbangkan pengalaman orang-orang yang tidak memiliki kemewahan untuk mengambil jarak dari persoalan yang sedang terjadi.

Perdebatan itu kemudian berkembang menjadi pembicaraan mengenai privilege. Bukan lagi sekadar soal apakah seseorang perlu menjaga kesehatan mental, tetapi juga tentang siapa yang memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dari berita buruk dan siapa yang harus menghadapinya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Maudy kemudian memberikan klarifikasi dan mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh dari pemberitaan memang dapat menjadi sebuah privilege.

Advertisement

Video Maudy yang Kembali Menjadi Perhatian

Video yang menjadi perbincangan berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Konten tersebut membahas cara menghadapi derasnya informasi negatif tanpa membiarkan seluruh pemberitaan menguasai kondisi emosional seseorang.

Pembahasan itu sebenarnya sejalan dengan sejumlah konten Maudy sebelumnya mengenai kesehatan mental dan self-care. Pada Juli 2026, misalnya, ia juga membicarakan mindfulness melalui rutinitas perawatan diri sebagai cara untuk kembali hadir pada momen yang sedang dijalani ketika pikiran dipenuhi kecemasan tentang masa depan atau penyesalan terhadap masa lalu.

Advertisement

Dalam video tentang bad news, gagasan yang dibawa Maudy adalah bagaimana seseorang dapat tetap mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya tanpa terus-menerus tenggelam dalam informasi negatif.

Persoalannya muncul ketika pesan tersebut dibaca dalam konteks kondisi sosial yang lebih luas.

Bagi sebagian orang, berita mengenai bencana, persoalan ekonomi, kebijakan pemerintah, lingkungan, pekerjaan, atau kondisi sosial bukan sekadar informasi yang muncul di layar ponsel. Berita tersebut dapat berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.

Di titik inilah respons terhadap video Maudy menjadi beragam.

Mengapa Sebagian Publik Menganggapnya Kurang Sensitif?

Sebagian pengguna media sosial mengkritik cara persoalan tersebut dibingkai. Istilah tone deaf kemudian muncul dalam percakapan untuk menggambarkan pesan yang dianggap tidak cukup memperhitungkan pengalaman kelompok lain.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Coolmax Mendadak Viral, Slang TikTok yang Kerap Dikaitkan dengan Konten Dewasa

Coolmax Mendadak Viral, Slang TikTok yang Kerap Dikaitkan dengan Konten Dewasa

Coolmax viral di TikTok dan media sosial. Apa arti istilah ini? Simak makna slang, konteks penggunaannya, serta alasan tak boleh asal menuduh.

Tak Ikut Tren, Ria SW Bangun Ciri Khas Lewat Konten Kuliner yang Santai dan Penuh Riset

Tak Ikut Tren, Ria SW Bangun Ciri Khas Lewat Konten Kuliner yang Santai dan Penuh Riset

Ria SW dikenal sebagai food vlogger dengan gaya santai, ceria, dan berbasis riset. Ia mengutamakan informasi lokal, perjalanan, serta ciri khas pribadi dalam setiap kontennya, sekaligus membagikan pengalaman lewat buku.

Anthropic Siapkan Watermark untuk Teks Buatan AI, Tanda Khusus Claude Bakal Tetap Mengikuti Konten Saat Disalin

Anthropic Siapkan Watermark untuk Teks Buatan AI, Tanda Khusus Claude Bakal Tetap Mengikuti Konten Saat Disalin

Anthropic menyiapkan watermark pada teks dan file buatan AI, termasuk Claude, untuk memenuhi aturan transparansi Uni Eropa. Tanda digital itu akan tetap mengikuti teks saat disalin dan ditempel di berbagai platform lain.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer