alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Menelusuri Lokasi KKN Desa Penari

Kental Suasana Banyuwangi, Terkesima Akting Sarah Aulia

RADAR GENTENG – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, KH. Moh. Ali Makki Zaini mengapresiasi film KKN di Desa Penari yang sedang ramai dibicarakan oleh netizen Indonesia dan menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak di tahun 2022.

Lelaki yang akrab disapa Gus Makki ini mengaku jika dia telah menonton film yang kini sedang digandrungi tersebut. “Saya bangga karena ada daerah di Banyuwangi yang diangkat dalam dunia perfilman nasional. Bahkan yang menonton sudah tembus 7 juta, mengalahkan film nasional di Indonesia yang pernah ada,” ungkapnya.

Dalam film ini, kata Gus Makki karakter Banyuwangi sangat terasa kental sekali di film KKN Desa Penari ini. Sepaham dia, jika yang menyaksikan film tersebut bukan orang Banyuwangi maka cara menikmatinya ada kesan paling menakutkan dan menyeramkan.

Namun jika yang menonton film tersebut warga Banyuwangi, maka bisa menikmati setiap alur dalam kisah cerita film tersebut dan dapat merasakan aura Banyuwangi. Misalnya sosok Mbah Buyut yang mengenakan udengn hitam mirip udeng khas Banyuwangi.

Selain itu juga iringan musik tradisional yang dimainkan juga sangat mirip dan kental sekali dengan musik tradisional gandrung. Tidak itu saja, gerakan penari juga tidak jauh beda dengan tari gandrung yang merupakan tari khas Banyuwangi. “Pakaian yang dikenakan juga nyaris mirip, hanya tidak mengenakan omprok gandrung. Kalau orang Banyuwangi pasti bisa memahami itu,” katanya.

Yang paling membuatnya terkesima adalah pemeran Badarawuhi sebagai sosok mahluk halus yang sangat cantik sehingga dapat menarik banyak orang. Badarawuhi dalam film KKN di Desa Penari ini diperankan oleh Aulia Sarah. Selain menjadi aktor film, Aulia Sarah merupakan seorang model yang sukses.

“Saya sering mengikuti acting dari Aulia Sarah ini, dan dalam film ini Aulia benar-benar bisa keluar dari dirinya sendiri dan mampu menampilkan sosok yang misteri, penuh mistik tetapi nikmat untuk diikuti alur ceritanya,” katanya.

Secara umum, usia menonton film tersebut, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Hidayah, Dusun Rayud Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono ini mengaku sangat terhibur dan bangga dengan pengambilan unsur Banyuwangi dalam film tersebut.

Dia juga berharap, semoga film ini mampu menjadi pelecut semangat bagi anak-anak muda Indonesia khususnya di Banyuwangi agar lebih tertarik ke dunia perfilman. Baik yang berada dibagian depan layar ataupun di belakang layar.

“Saya kira masih banyak dari sisi penyutradaraan dan juga kisah yang perlu di explore yang berkaitan dengan Banyuwangi. Semoga tidak hanya sekedar menampilkan drama tapi juga menyangkut industri perfilman, karena banyak hal yang berkaitan dengan industry film,” tandasnya. (ddy)

RADAR GENTENG – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, KH. Moh. Ali Makki Zaini mengapresiasi film KKN di Desa Penari yang sedang ramai dibicarakan oleh netizen Indonesia dan menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak di tahun 2022.

Lelaki yang akrab disapa Gus Makki ini mengaku jika dia telah menonton film yang kini sedang digandrungi tersebut. “Saya bangga karena ada daerah di Banyuwangi yang diangkat dalam dunia perfilman nasional. Bahkan yang menonton sudah tembus 7 juta, mengalahkan film nasional di Indonesia yang pernah ada,” ungkapnya.

Dalam film ini, kata Gus Makki karakter Banyuwangi sangat terasa kental sekali di film KKN Desa Penari ini. Sepaham dia, jika yang menyaksikan film tersebut bukan orang Banyuwangi maka cara menikmatinya ada kesan paling menakutkan dan menyeramkan.

Namun jika yang menonton film tersebut warga Banyuwangi, maka bisa menikmati setiap alur dalam kisah cerita film tersebut dan dapat merasakan aura Banyuwangi. Misalnya sosok Mbah Buyut yang mengenakan udengn hitam mirip udeng khas Banyuwangi.

Selain itu juga iringan musik tradisional yang dimainkan juga sangat mirip dan kental sekali dengan musik tradisional gandrung. Tidak itu saja, gerakan penari juga tidak jauh beda dengan tari gandrung yang merupakan tari khas Banyuwangi. “Pakaian yang dikenakan juga nyaris mirip, hanya tidak mengenakan omprok gandrung. Kalau orang Banyuwangi pasti bisa memahami itu,” katanya.

Yang paling membuatnya terkesima adalah pemeran Badarawuhi sebagai sosok mahluk halus yang sangat cantik sehingga dapat menarik banyak orang. Badarawuhi dalam film KKN di Desa Penari ini diperankan oleh Aulia Sarah. Selain menjadi aktor film, Aulia Sarah merupakan seorang model yang sukses.

“Saya sering mengikuti acting dari Aulia Sarah ini, dan dalam film ini Aulia benar-benar bisa keluar dari dirinya sendiri dan mampu menampilkan sosok yang misteri, penuh mistik tetapi nikmat untuk diikuti alur ceritanya,” katanya.

Secara umum, usia menonton film tersebut, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Hidayah, Dusun Rayud Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono ini mengaku sangat terhibur dan bangga dengan pengambilan unsur Banyuwangi dalam film tersebut.

Dia juga berharap, semoga film ini mampu menjadi pelecut semangat bagi anak-anak muda Indonesia khususnya di Banyuwangi agar lebih tertarik ke dunia perfilman. Baik yang berada dibagian depan layar ataupun di belakang layar.

“Saya kira masih banyak dari sisi penyutradaraan dan juga kisah yang perlu di explore yang berkaitan dengan Banyuwangi. Semoga tidak hanya sekedar menampilkan drama tapi juga menyangkut industri perfilman, karena banyak hal yang berkaitan dengan industry film,” tandasnya. (ddy)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/