alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Menelusuri Lokasi KKN Desa Penari

Dinas Pariwisata Optimistis Pariwisata Melejit Imbas Film KKN Desa Penari

RADAR BANYUWANGI – Suka atau tidak suka. Diakui atau pun tidak. Namun, tak sedikit warga yang mengaitkan Banyuwangi dengan film layar lebar yang kini tengah booming, yakni “KKN di Desa Penari”.

Bahkan, jauh sebelum film tersebut dirilis, tepatnya sejak thread alias utas tentang KKN di Desa Penari tersebut diunggah sang penulis, Simpleman via Twitter pada 2019 silam, sejumlah orang mulai mengaitkan Banyuwangi dengan cerita tersebut. Mereka menduga, desa yang dimaksud dalam cerita itu adalah salah satu desa di kabupaten berjuluk the Sunrise of Java ini.

Lantas, seperti apa imbas melejitnya film KKN di Desa Penari terhadap Pariwisata Banyuwangi? Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda mengaku optimistis film tersebut akan memberikan imbas positif dunia pariwisata di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Bramuda mengatakan, sebenarnya syuting film KKN di Desa Penari tidak dilakukan di Banyuwangi. Hanya saja, jika melihat adegan-adegan dan clue (petunjuk) dalam film serta peliputan yang dilakukan awak media, kata dia, lokasi desa yang dimaksud dalam film KKN di Desa Penari itu berada di wilayah Kecamatan Songgon. “Terlebih ada keterangan dari beberapa pihak dan teman-teman yang bisa bercerita di tahun 1990-an ada cerita yang mengisahkan sebagaimana dalam film yang sekarang sedang viral tersebut,” ujarnya, Minggu (22/5).

Meski syuting film KKN di Desa Penari tidak dilakukan di Banyuwangi, kata Bramuda, melejitnya jumlah penonton film tersebut akan memikat banyak orang untuk datang ke Banyuwangi. “Apalagi, kita tahu bahwa wisata religi naik cukup drastis. Wisata bernuansa horor pun punya peminat tersendiri. Selain itu, Banyuwangi memiliki beberapa destinasi yang punya atmosfer yang senada dengan atmosfer desa dalam Film KKN di Desa Penari. Yakni Taman Nasional (TN) Alas Purwo, D’Djawatan, dan Rowo Bayu. Kami optimistis kunjungan di tiga lokasi tersebut akan meningkat,” kata dia.

Sementara itu, keterkaitan Banyuwangi dengan Film KKN di Desa Penari juga disuarakan sang produser, yakni Manoj Punjabi melalui akun media sosial Facebook-nya. Termasuk saat me-repost unggahan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang mewawancarai pengelola dan penjaga Rowo Bayu, yakni Sudirman. “Terima kasih Pak Erick Thohir sudah menggali cerita di balik @kknmovie! Apakah berarti tempat asli kejadian KKN di Desa Penari di Rowo Bayu, Banyuwangi? hmmm,” ujarnya.

Belum berhenti sampai di situ, Manoj kembali mengaitkan Banyuwangi dengan film KKN di Desa Penari. “Dari kemarin heboh soal investigasi ke Banyuwangi, tapi benar nggak sih ini lokasi desanya? Mungkin kalian harus kunjungi langsung Banyuwangi untuk cari tahu sendiri,” kata dia melalui unggahan di FB.

Sementara itu, terlepas dari heboh soal “Desa Penari”, Kepala Disbudpar Banyuwangi Bramuda menyatakan bahwa kabupaten ujung terluas di Jatim ini sudah beberapa kali dipilih sebagai lokasi syuting film. Termasuk syuting film layar lebar hingga film televisi (FTV).

Beberapa film yang mengambil latar di Banyuwangi antara lain “Yo Wis Ben-3” yang disutradarai Fajar Nugros dengan pemeran utama Bayu Eko Moektito alias Bayu Skak. Banyuwangi juga menjadi lokasi syuting film layar lebar “Kulari ke Pantai” yang digarap Produser Mira Lesmana dan Sutradara Riri Riza. Selain itu, Banyuwangi juga dijadikan lokasi syuting film “Lari dari Kawin Lari” yang dibintangi Agus Ringgo dan Sabai Sabai Morscheck.

Bramuda mengatakan, Banyuwangi menjadi trendsetter lokasi syuting. Bahkan, pada November mendatang Festival Film Indonesia digelar di Banyuwangi. “Bahkan, baru-baru ini adalah tim dari salah satu stasiun televisi swasta nasional yang terinspirasi larisnya Film KKN akan membuat film serupa dan syuting di Banyuwangi,” kata dia.

Dengan semakin banyaknya film yang syuting di Banyuwangi, kata Bramuda, akan dampak positif bagi pariwisata Banyuwangi semakin besar. “Angkor Wat di Kamboja melejit setelah menjadi lokasi syuting “Tomb Raider”. Ubud pun semakin ngetren karena jadi latar film ‘Eat Pray Love’,” pungkasnya. (sgt/aif)

RADAR BANYUWANGI – Suka atau tidak suka. Diakui atau pun tidak. Namun, tak sedikit warga yang mengaitkan Banyuwangi dengan film layar lebar yang kini tengah booming, yakni “KKN di Desa Penari”.

Bahkan, jauh sebelum film tersebut dirilis, tepatnya sejak thread alias utas tentang KKN di Desa Penari tersebut diunggah sang penulis, Simpleman via Twitter pada 2019 silam, sejumlah orang mulai mengaitkan Banyuwangi dengan cerita tersebut. Mereka menduga, desa yang dimaksud dalam cerita itu adalah salah satu desa di kabupaten berjuluk the Sunrise of Java ini.

Lantas, seperti apa imbas melejitnya film KKN di Desa Penari terhadap Pariwisata Banyuwangi? Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda mengaku optimistis film tersebut akan memberikan imbas positif dunia pariwisata di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Bramuda mengatakan, sebenarnya syuting film KKN di Desa Penari tidak dilakukan di Banyuwangi. Hanya saja, jika melihat adegan-adegan dan clue (petunjuk) dalam film serta peliputan yang dilakukan awak media, kata dia, lokasi desa yang dimaksud dalam film KKN di Desa Penari itu berada di wilayah Kecamatan Songgon. “Terlebih ada keterangan dari beberapa pihak dan teman-teman yang bisa bercerita di tahun 1990-an ada cerita yang mengisahkan sebagaimana dalam film yang sekarang sedang viral tersebut,” ujarnya, Minggu (22/5).

Meski syuting film KKN di Desa Penari tidak dilakukan di Banyuwangi, kata Bramuda, melejitnya jumlah penonton film tersebut akan memikat banyak orang untuk datang ke Banyuwangi. “Apalagi, kita tahu bahwa wisata religi naik cukup drastis. Wisata bernuansa horor pun punya peminat tersendiri. Selain itu, Banyuwangi memiliki beberapa destinasi yang punya atmosfer yang senada dengan atmosfer desa dalam Film KKN di Desa Penari. Yakni Taman Nasional (TN) Alas Purwo, D’Djawatan, dan Rowo Bayu. Kami optimistis kunjungan di tiga lokasi tersebut akan meningkat,” kata dia.

Sementara itu, keterkaitan Banyuwangi dengan Film KKN di Desa Penari juga disuarakan sang produser, yakni Manoj Punjabi melalui akun media sosial Facebook-nya. Termasuk saat me-repost unggahan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang mewawancarai pengelola dan penjaga Rowo Bayu, yakni Sudirman. “Terima kasih Pak Erick Thohir sudah menggali cerita di balik @kknmovie! Apakah berarti tempat asli kejadian KKN di Desa Penari di Rowo Bayu, Banyuwangi? hmmm,” ujarnya.

Belum berhenti sampai di situ, Manoj kembali mengaitkan Banyuwangi dengan film KKN di Desa Penari. “Dari kemarin heboh soal investigasi ke Banyuwangi, tapi benar nggak sih ini lokasi desanya? Mungkin kalian harus kunjungi langsung Banyuwangi untuk cari tahu sendiri,” kata dia melalui unggahan di FB.

Sementara itu, terlepas dari heboh soal “Desa Penari”, Kepala Disbudpar Banyuwangi Bramuda menyatakan bahwa kabupaten ujung terluas di Jatim ini sudah beberapa kali dipilih sebagai lokasi syuting film. Termasuk syuting film layar lebar hingga film televisi (FTV).

Beberapa film yang mengambil latar di Banyuwangi antara lain “Yo Wis Ben-3” yang disutradarai Fajar Nugros dengan pemeran utama Bayu Eko Moektito alias Bayu Skak. Banyuwangi juga menjadi lokasi syuting film layar lebar “Kulari ke Pantai” yang digarap Produser Mira Lesmana dan Sutradara Riri Riza. Selain itu, Banyuwangi juga dijadikan lokasi syuting film “Lari dari Kawin Lari” yang dibintangi Agus Ringgo dan Sabai Sabai Morscheck.

Bramuda mengatakan, Banyuwangi menjadi trendsetter lokasi syuting. Bahkan, pada November mendatang Festival Film Indonesia digelar di Banyuwangi. “Bahkan, baru-baru ini adalah tim dari salah satu stasiun televisi swasta nasional yang terinspirasi larisnya Film KKN akan membuat film serupa dan syuting di Banyuwangi,” kata dia.

Dengan semakin banyaknya film yang syuting di Banyuwangi, kata Bramuda, akan dampak positif bagi pariwisata Banyuwangi semakin besar. “Angkor Wat di Kamboja melejit setelah menjadi lokasi syuting “Tomb Raider”. Ubud pun semakin ngetren karena jadi latar film ‘Eat Pray Love’,” pungkasnya. (sgt/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/