alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Mengadu Nyawa di Perairan Selat Bali

TOPI berlogo jangkar terpasang gagah di atas kepala Santi Muriyana, 50. Sembari mengatur kemudi, tatapan mata Mualim II KMP Dharma Rucitra tersebut memandang jauh ke tengah lautan.

Santi adalah salah satu perempuan yang bertugas di kapal feri yang beroperasi di perairan Selat Bali. Perempuan kelahiran Surabaya itu sudah bertugas selama 27 tahun di penyeberangan ASDP Ketapang dan Gilimanuk. Sebagai Mualim II, tugas Santi di atas kapal adalah memastikan pekerjaan nakhoda berjalan lancar hingga kapal tetap stabil sampai ke dermaga tujuan. ”Kadang saya ikut mengatur tatanan kendaraan agar kapalnya bisa berjalan lancar,” kata Santi.

Santi boleh dibilang satu-satunya perempuan di ruang kemudi kapal rute Ketapang–Gilimanuk. Dia mengaku tak pernah merasakan beban berat menekuni pekerjaannya. Lulusan Sekolah Pelayaran Maritim Bhakti Samudra Surabaya itu justru sangat menikmati pekerjaannya. Apalagi sebagai seorang perempuan, dia merasa lebih disayang dan diperhatikan oleh pekerja lain, termasuk nakhoda di ruang kemudi. ”Mereka (para pekerja pria) juga patuh kalau saya memberikan instruksi. Jadi tidak ada masalah, saya cukup nyaman,” kata Santi.

Terkadang dirinya harus mengadu nyawa ketika mendadak cuaca buruk terjadi di Selat Bali. Berbekal kemampuannya, Santi harus bisa mengendalikan semua komponen di dalam kapal agar perjalanan bisa selamat. Beruntung, meski banyak pengalaman yang cukup berbahaya, Santi masih diberi keselamatan hingga sekarang.

Pekerjaanya sebagai seorang mualim tak lepas dari dukungan putrinya yang justru bangga saat melihat ibunya bertugas di atas kapal. Dorongan ini yang menjadi pelecut bagi Santi untuk terus mencintai pekerjaannya. Apalagi, tidak banyak perempuan yang memilih profesi seperti dirinya.

Di usianya yang sudah menginjak kepala lima, Santi ingin melihat ada lagi perempuan-perempuan yang mau menjadi Kartini di tengah lautan seperti dirinya. ”Sejak masih kecil cita-cita saya ingin menjadi pelaut. Senang bisa ke mana-mana. Semoga nanti ada generasi penerusnya,” harapnya.

TOPI berlogo jangkar terpasang gagah di atas kepala Santi Muriyana, 50. Sembari mengatur kemudi, tatapan mata Mualim II KMP Dharma Rucitra tersebut memandang jauh ke tengah lautan.

Santi adalah salah satu perempuan yang bertugas di kapal feri yang beroperasi di perairan Selat Bali. Perempuan kelahiran Surabaya itu sudah bertugas selama 27 tahun di penyeberangan ASDP Ketapang dan Gilimanuk. Sebagai Mualim II, tugas Santi di atas kapal adalah memastikan pekerjaan nakhoda berjalan lancar hingga kapal tetap stabil sampai ke dermaga tujuan. ”Kadang saya ikut mengatur tatanan kendaraan agar kapalnya bisa berjalan lancar,” kata Santi.

Santi boleh dibilang satu-satunya perempuan di ruang kemudi kapal rute Ketapang–Gilimanuk. Dia mengaku tak pernah merasakan beban berat menekuni pekerjaannya. Lulusan Sekolah Pelayaran Maritim Bhakti Samudra Surabaya itu justru sangat menikmati pekerjaannya. Apalagi sebagai seorang perempuan, dia merasa lebih disayang dan diperhatikan oleh pekerja lain, termasuk nakhoda di ruang kemudi. ”Mereka (para pekerja pria) juga patuh kalau saya memberikan instruksi. Jadi tidak ada masalah, saya cukup nyaman,” kata Santi.

Terkadang dirinya harus mengadu nyawa ketika mendadak cuaca buruk terjadi di Selat Bali. Berbekal kemampuannya, Santi harus bisa mengendalikan semua komponen di dalam kapal agar perjalanan bisa selamat. Beruntung, meski banyak pengalaman yang cukup berbahaya, Santi masih diberi keselamatan hingga sekarang.

Pekerjaanya sebagai seorang mualim tak lepas dari dukungan putrinya yang justru bangga saat melihat ibunya bertugas di atas kapal. Dorongan ini yang menjadi pelecut bagi Santi untuk terus mencintai pekerjaannya. Apalagi, tidak banyak perempuan yang memilih profesi seperti dirinya.

Di usianya yang sudah menginjak kepala lima, Santi ingin melihat ada lagi perempuan-perempuan yang mau menjadi Kartini di tengah lautan seperti dirinya. ”Sejak masih kecil cita-cita saya ingin menjadi pelaut. Senang bisa ke mana-mana. Semoga nanti ada generasi penerusnya,” harapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/