alexametrics
22.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

David Wijaya Borong Tiga Lukisan, Raja Sengon Tak Mau Kalah

BANYUWANGI – Pameran seni lukis ArtOs Kembang Langit yang berlangsung di Gedung Juang 45 Banyuwangi terus dijubeli pengunjung. Siang hari dikunjungi anak-anak  sekolah, malam hari para kolektor gantian berburu lukisan. Hingga Rabu malam (15/12), tercatat 13 lukisan sold out alias laku dibeli kolektor.

Ruang pamer Gedung Juang di lantai 1, 2, dan 3 dipadati anak-anak siang itu. Didampingi gurunya, anak-anak dari kalangan SD dan SMP mencatat judul lukisan, nama pelukis, hingga ukuran lukisan. Kedatangan anak-anak tersebut dikerahkan oleh pihak sekolah untuk mengenal dari dekat tentang seni lukis. ”Setelah melihat lukisan di ajang pameran, kami disuruh memotret, lalu diunggah di  media sosial,” ujar Holip, siswi salah satu SMPN di Banyuwangi.

Untuk mengisi rangkaian kegiatan pameran, guru-guru kesenian dari SD hingga SMP mengikuti sarasehan di mini teater lantai 3. Di sana, panitia pameran dipandu Bambang Lukito dari DKB memaparkan tentang seni lukis Banyuwangi beserta karya-karyanya. ”Kita jelaskan pada bapak dan ibu guru mengapa pameran ArtOs Kembang langit kita gelar. Selain membangkitkan seni lukis di tengah pandemi, pameran ini untuk mengangkat karya-karya perupa Banyuwangi ke kancah nasional. Di saat daerah lain sepi pameran lukisan, Banyuwangi malah bangkit,” ujar Husin Albana, Humas ArtOs Kembang Langit.

Untuk memberikan hiburan kepada pengunjung, sejumlah perupa Banyuwangi melakukan atraksi melukis on the spot. Windu Pamor dengan gesitnya melukis tiga ayam jago bertarung. Nuansa merah mendominasi kanvas berukuran medium tersebut. Windu memberi judul lukisan tersebut ”Tiga Pejuang”. ”Kalau diminati kolektor, lukisan ini kita jual,” kata pelukis asal Genteng itu.

Perupa lainnya, Sugilaros, ikut adu cepat melukis Barong. Tak sampai satu jam, gambar barong dengan goresan cat warna hitam, kuning, dan merah sudah tuntas. ”Ini untuk solidaritas teman-teman perupa. Kita melukis on the spot  bersama perupa lainnya,” kata perupa berambut gondrong itu.

Perupa asal Jakarta, Amor, juga tak mau ketinggalan. Berbekal lima macam cat, Amor mengawali lukisan tanpa kuas. Tangannya menari-nari di atas kanvas sembari menggoreskan ujung cat.  Dia melukis abstrak dengan objek kuda. Pria tersebut memang terkenal dengan sebutan spesialis melukis kuda. ”Lukisan kuda Bang Amor ikut dipamerkan.  Harganya lumayan, bisa tembus Rp 200 juta,” kata Sugilaros.

Ada 116 karya lukis yang dipamerkan di Gedung Juang. Lantai 1 berisi lukisan ”kelas kakap”. Karya maestro (alm) Moses Misdi berjudul ”Perahu Nelayan”  terpampang di sisi timur lantai 1. Ada pula lukisan tiga penari gandrung karya putra Blambangan, S Yadi K, ikut  meramaikan ruang pamer.  

Di dekat pintu masuk lantai 1 ada lukisan berjudul ”Pasar Bunga”. Lukisan oil on canvas karya Awiki berukuran  300 x 140 cm tersebut banyak dilihat pengunjung. Ingin tahu harga lukisan tersebut? Awiki yang kelahiran Genteng membanderol lukisan tersebut seharga Rp 2,5 miliar. Dua pengusaha asal Kanada dan Singapura berminat dengan lukisan tersebut. 

Awiki adalah seorang pelukis dengan keterbatasan indra penglihatan. Kendati begitu, dia tak mau kalah dengan perupa lainnya.  ”Lukisan Pak Awiki ditawar Rp 2 miliar oleh kolektor asal Singapura dan Kanada. Sayang, setelah kita tanyakan kepada yang bersangkutan (Awiki), lukisan tersebut tidak dijual,” ujar Imam Maskun, ketua panitia pameran ArtOs Kembang Langit.

Hingga pukul 20.00, pengunjung masih bertahan di ruang pamer yang dilengkapi dengan lampu-lampu eksotis. Rombongan Ketua Kadin Banyuwangi David Wijaya Tjoek menyempatkan hadir. Setelah menyaksikan semua lukisan, mata David tertuju pada lukisan yang diminati.  Pengusaha sarden itu langsung memborong tiga lukisan.

Lukisan pertama berjudul ”Ijen” karya Abdul Azis.  Lukisan yang menggambarkan penambang belerang Gunung Ijen itu laku Rp 25 juta. Lukisan kedua yang menjadi sasaran perburuan David adalah kaligrafi karya Purnomo. ”Pak David mengaku senang dengan kaligrafi. Lukisan ketiga yang dipilih Pak David berjudul Barong karya Mbah Eko,” kata Imam.  

Bukan hanya David Wijaya yang kepincut dengan mahakarya para perupa putra Blambangan. Wahyu alias Raja Sengon, seorang pengusaha asal Muncar, turut membeli lukisan. Pilihannya jatuh pada lukisan berjudul ”Semangat” karya Anhar. Raja Sengon yang juga suami seorang anggota DPRD II Banyuwangi tak pelit merogoh kocek Rp 25 juta demi menyemangati perupa Banyuwangi. ”Bapak Raja Sengon tergolong pencinta lukisan. Dia tertarik dengan lukisan karya Pak Anhar,” kata Imam Maskun. 

BANYUWANGI – Pameran seni lukis ArtOs Kembang Langit yang berlangsung di Gedung Juang 45 Banyuwangi terus dijubeli pengunjung. Siang hari dikunjungi anak-anak  sekolah, malam hari para kolektor gantian berburu lukisan. Hingga Rabu malam (15/12), tercatat 13 lukisan sold out alias laku dibeli kolektor.

Ruang pamer Gedung Juang di lantai 1, 2, dan 3 dipadati anak-anak siang itu. Didampingi gurunya, anak-anak dari kalangan SD dan SMP mencatat judul lukisan, nama pelukis, hingga ukuran lukisan. Kedatangan anak-anak tersebut dikerahkan oleh pihak sekolah untuk mengenal dari dekat tentang seni lukis. ”Setelah melihat lukisan di ajang pameran, kami disuruh memotret, lalu diunggah di  media sosial,” ujar Holip, siswi salah satu SMPN di Banyuwangi.

Untuk mengisi rangkaian kegiatan pameran, guru-guru kesenian dari SD hingga SMP mengikuti sarasehan di mini teater lantai 3. Di sana, panitia pameran dipandu Bambang Lukito dari DKB memaparkan tentang seni lukis Banyuwangi beserta karya-karyanya. ”Kita jelaskan pada bapak dan ibu guru mengapa pameran ArtOs Kembang langit kita gelar. Selain membangkitkan seni lukis di tengah pandemi, pameran ini untuk mengangkat karya-karya perupa Banyuwangi ke kancah nasional. Di saat daerah lain sepi pameran lukisan, Banyuwangi malah bangkit,” ujar Husin Albana, Humas ArtOs Kembang Langit.

Untuk memberikan hiburan kepada pengunjung, sejumlah perupa Banyuwangi melakukan atraksi melukis on the spot. Windu Pamor dengan gesitnya melukis tiga ayam jago bertarung. Nuansa merah mendominasi kanvas berukuran medium tersebut. Windu memberi judul lukisan tersebut ”Tiga Pejuang”. ”Kalau diminati kolektor, lukisan ini kita jual,” kata pelukis asal Genteng itu.

Perupa lainnya, Sugilaros, ikut adu cepat melukis Barong. Tak sampai satu jam, gambar barong dengan goresan cat warna hitam, kuning, dan merah sudah tuntas. ”Ini untuk solidaritas teman-teman perupa. Kita melukis on the spot  bersama perupa lainnya,” kata perupa berambut gondrong itu.

Perupa asal Jakarta, Amor, juga tak mau ketinggalan. Berbekal lima macam cat, Amor mengawali lukisan tanpa kuas. Tangannya menari-nari di atas kanvas sembari menggoreskan ujung cat.  Dia melukis abstrak dengan objek kuda. Pria tersebut memang terkenal dengan sebutan spesialis melukis kuda. ”Lukisan kuda Bang Amor ikut dipamerkan.  Harganya lumayan, bisa tembus Rp 200 juta,” kata Sugilaros.

Ada 116 karya lukis yang dipamerkan di Gedung Juang. Lantai 1 berisi lukisan ”kelas kakap”. Karya maestro (alm) Moses Misdi berjudul ”Perahu Nelayan”  terpampang di sisi timur lantai 1. Ada pula lukisan tiga penari gandrung karya putra Blambangan, S Yadi K, ikut  meramaikan ruang pamer.  

Di dekat pintu masuk lantai 1 ada lukisan berjudul ”Pasar Bunga”. Lukisan oil on canvas karya Awiki berukuran  300 x 140 cm tersebut banyak dilihat pengunjung. Ingin tahu harga lukisan tersebut? Awiki yang kelahiran Genteng membanderol lukisan tersebut seharga Rp 2,5 miliar. Dua pengusaha asal Kanada dan Singapura berminat dengan lukisan tersebut. 

Awiki adalah seorang pelukis dengan keterbatasan indra penglihatan. Kendati begitu, dia tak mau kalah dengan perupa lainnya.  ”Lukisan Pak Awiki ditawar Rp 2 miliar oleh kolektor asal Singapura dan Kanada. Sayang, setelah kita tanyakan kepada yang bersangkutan (Awiki), lukisan tersebut tidak dijual,” ujar Imam Maskun, ketua panitia pameran ArtOs Kembang Langit.

Hingga pukul 20.00, pengunjung masih bertahan di ruang pamer yang dilengkapi dengan lampu-lampu eksotis. Rombongan Ketua Kadin Banyuwangi David Wijaya Tjoek menyempatkan hadir. Setelah menyaksikan semua lukisan, mata David tertuju pada lukisan yang diminati.  Pengusaha sarden itu langsung memborong tiga lukisan.

Lukisan pertama berjudul ”Ijen” karya Abdul Azis.  Lukisan yang menggambarkan penambang belerang Gunung Ijen itu laku Rp 25 juta. Lukisan kedua yang menjadi sasaran perburuan David adalah kaligrafi karya Purnomo. ”Pak David mengaku senang dengan kaligrafi. Lukisan ketiga yang dipilih Pak David berjudul Barong karya Mbah Eko,” kata Imam.  

Bukan hanya David Wijaya yang kepincut dengan mahakarya para perupa putra Blambangan. Wahyu alias Raja Sengon, seorang pengusaha asal Muncar, turut membeli lukisan. Pilihannya jatuh pada lukisan berjudul ”Semangat” karya Anhar. Raja Sengon yang juga suami seorang anggota DPRD II Banyuwangi tak pelit merogoh kocek Rp 25 juta demi menyemangati perupa Banyuwangi. ”Bapak Raja Sengon tergolong pencinta lukisan. Dia tertarik dengan lukisan karya Pak Anhar,” kata Imam Maskun. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/