alexametrics
22.3 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Pernah Digigit King Cobra, Nyaris Kehilangan Nyawa

RadarBanyuwangi – Suryo Sinyo Negoro Basuki menceritakan, pada 2013 lalu dirinya nyaris kehilangan nyawa lantaran digigit king cobra peliharaannya. Kala itu dia tengah memberi makan ular tersebut, kemudian ada salah satu temannya yang mengajaknya bicara. Tak lama ular itu langsung menggigitnya. Bisa ular langsung bereaksi. Suryo langsung ambruk dan sempat koma selama empat hari di rumah sakit.

”Waktu itu keluarga tidak ada yang tahu. Saya sempat minta tolong teman memegang HP saya. Saya minta mengabari keluarga kalau saya meninggal. Alhamdulillah, setelah habis sembilan ampul serum, saya mulai membaik,” kisahnya.

Pertengahan 2021, pandemi Covid-19 mengakibatkan kebun binatang yang dikelola Suryo di Madiun mulai kelimpungan. Dia pun akhirnya memilih pulang ke Banyuwangi. Kebetulan di Banyuwangi, ada tempat wisata baru yang juga menyediakan satwa sebagai salah satu wahana mereka. Tak butuh waktu lama, Suryo langsung menjadi bagian dari kebun binatang Akbar Zoo.

Selama di Banyuwangi, Suryo mengaku ingin tetap mendedikasikan hidupnya dengan memberikan edukasi kepada masyarakat. Terutama memberi pengetahuan agar tidak semua orang yang bertemu dengan binatang liar atau buas harus memilih jalan membunuhnya. Hewan liar dan binatang buas memiliki posisi penting di rantai makanan. ”Jika populasinya tak dijaga, akan ada kerusakan rantai makanan yang akhirnya mengganggu kehidupan manusia,” jelasnya

Pria yang akrab disapa Sinyo itu mengatakan, jika hewan liar sebenarnya tidak mengerikan seperti yang dipikirkan banyak orang. Setiap memberikan edukasi tentang satwa, Suryo memberikan dua materi pokok. Yaitu pengenalan hewan berbisa dan tidak, kemudian habitat dan makanan mereka. ”Kita ingin masyarakat tahu kalau reptil atau binatang buas berbagi ekosistem dengan kita. Kalau sudah takut kadang orang langsung membunuhnya. Jangan dibunuh,” pintanya.

Beberapa tips yang sering diberikan kepada masyarakat di antaranya adalah cara mengenali ular berbisa dan tidak. Dari bentuk kepala, ular berbisa lebih lancip daripada ular yang tidak berbisa atau nyaris berbentuk segitiga. Sedangkan ular yang tidak berbisa cenderung lebih oval. Ular berbisa biasanya cenderung lebih tenang. Mereka merasa memiliki senjata, yaitu bisa. Ular dengan venom atau racun tampak tidak terlalu agresif.

Dari segi warna, ular berbisa biasanya memiliki corak yang lebih tajam. Secara visual hal ini bisa terlihat dengan jelas dari warnanya. ”Kalau bertemu ular berbisa terutama kobra, usahakan memakai helm atau pelindung wajah. Mereka ini biasanya memuncratkan bisa ke wajah. Untuk mengusirnya cukup sederhana. Semprotkan saja cairan bensin di sekitarnya, nanti dia perlahan-lahan akan pergi,” terang bapak satu anak itu.

Dari pengalamannya berinteraksi dengan binatang, para predator memiliki psikologi yang berbeda-beda. Ada yang cenderung pemarah, ada yang tenang, tapi waspada. Ada pula yang sifatnya seperti anak-anak. Yang paling tepat adalah menyerahkan penanganan hewan buas kepada ahlinya. Suryo ingin membentuk organisasi seperti PSL untuk bisa membantu masyarakat menangani hewan liar atau buas.

”Kalau reptil seperti ular dan buaya sebenarnya defensif. Sifat mereka menjaga teritorial saja. Seperti king cobra, kotorannya saja kalau ditaruh di rumah bisa membuat ular-ular lain ketakutan,” tuturnya.

Dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang reptil dan binatang buas, Suryo berharap ke depan secara perlahan kepedulian masyarakat pada keberlangsungan hidup reptil dan binatang buas semakin tinggi. ”Miris sebenarnya ketika saya melihat biawak, ular menjadi bahan makanan. Ada juga yang mengonsumsi untuk obat, padahal itu bukan makanan kita. Obat juga sudah dikembangkan industri farmasi, lama-lama bisa punah,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

RadarBanyuwangi – Suryo Sinyo Negoro Basuki menceritakan, pada 2013 lalu dirinya nyaris kehilangan nyawa lantaran digigit king cobra peliharaannya. Kala itu dia tengah memberi makan ular tersebut, kemudian ada salah satu temannya yang mengajaknya bicara. Tak lama ular itu langsung menggigitnya. Bisa ular langsung bereaksi. Suryo langsung ambruk dan sempat koma selama empat hari di rumah sakit.

”Waktu itu keluarga tidak ada yang tahu. Saya sempat minta tolong teman memegang HP saya. Saya minta mengabari keluarga kalau saya meninggal. Alhamdulillah, setelah habis sembilan ampul serum, saya mulai membaik,” kisahnya.

Pertengahan 2021, pandemi Covid-19 mengakibatkan kebun binatang yang dikelola Suryo di Madiun mulai kelimpungan. Dia pun akhirnya memilih pulang ke Banyuwangi. Kebetulan di Banyuwangi, ada tempat wisata baru yang juga menyediakan satwa sebagai salah satu wahana mereka. Tak butuh waktu lama, Suryo langsung menjadi bagian dari kebun binatang Akbar Zoo.

Selama di Banyuwangi, Suryo mengaku ingin tetap mendedikasikan hidupnya dengan memberikan edukasi kepada masyarakat. Terutama memberi pengetahuan agar tidak semua orang yang bertemu dengan binatang liar atau buas harus memilih jalan membunuhnya. Hewan liar dan binatang buas memiliki posisi penting di rantai makanan. ”Jika populasinya tak dijaga, akan ada kerusakan rantai makanan yang akhirnya mengganggu kehidupan manusia,” jelasnya

Pria yang akrab disapa Sinyo itu mengatakan, jika hewan liar sebenarnya tidak mengerikan seperti yang dipikirkan banyak orang. Setiap memberikan edukasi tentang satwa, Suryo memberikan dua materi pokok. Yaitu pengenalan hewan berbisa dan tidak, kemudian habitat dan makanan mereka. ”Kita ingin masyarakat tahu kalau reptil atau binatang buas berbagi ekosistem dengan kita. Kalau sudah takut kadang orang langsung membunuhnya. Jangan dibunuh,” pintanya.

Beberapa tips yang sering diberikan kepada masyarakat di antaranya adalah cara mengenali ular berbisa dan tidak. Dari bentuk kepala, ular berbisa lebih lancip daripada ular yang tidak berbisa atau nyaris berbentuk segitiga. Sedangkan ular yang tidak berbisa cenderung lebih oval. Ular berbisa biasanya cenderung lebih tenang. Mereka merasa memiliki senjata, yaitu bisa. Ular dengan venom atau racun tampak tidak terlalu agresif.

Dari segi warna, ular berbisa biasanya memiliki corak yang lebih tajam. Secara visual hal ini bisa terlihat dengan jelas dari warnanya. ”Kalau bertemu ular berbisa terutama kobra, usahakan memakai helm atau pelindung wajah. Mereka ini biasanya memuncratkan bisa ke wajah. Untuk mengusirnya cukup sederhana. Semprotkan saja cairan bensin di sekitarnya, nanti dia perlahan-lahan akan pergi,” terang bapak satu anak itu.

Dari pengalamannya berinteraksi dengan binatang, para predator memiliki psikologi yang berbeda-beda. Ada yang cenderung pemarah, ada yang tenang, tapi waspada. Ada pula yang sifatnya seperti anak-anak. Yang paling tepat adalah menyerahkan penanganan hewan buas kepada ahlinya. Suryo ingin membentuk organisasi seperti PSL untuk bisa membantu masyarakat menangani hewan liar atau buas.

”Kalau reptil seperti ular dan buaya sebenarnya defensif. Sifat mereka menjaga teritorial saja. Seperti king cobra, kotorannya saja kalau ditaruh di rumah bisa membuat ular-ular lain ketakutan,” tuturnya.

Dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang reptil dan binatang buas, Suryo berharap ke depan secara perlahan kepedulian masyarakat pada keberlangsungan hidup reptil dan binatang buas semakin tinggi. ”Miris sebenarnya ketika saya melihat biawak, ular menjadi bahan makanan. Ada juga yang mengonsumsi untuk obat, padahal itu bukan makanan kita. Obat juga sudah dikembangkan industri farmasi, lama-lama bisa punah,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/