alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Serai Bisa Diolah Menjadi Sabun dan Sampo

TANAMAN serai asal Banyuwangi ternyata banyak dikirim ke Jakarta sebagai bahan pembuatan sabun dan sampo. Bahkan, pabrik membutuhkan serai dalam jumlah tidak terbatas setiap hari.

Tidak mengherankan, jika tanaman serai menjadi salah satu tanaman yang prospektif dan menjanjikan. ”Sudah empat tahunan ini serai asal Kecamatan Songgon dikirim ke Jakarta untuk bahan sabun dan sampo. Kebutuhannya sebetulnya tidak terbatas, tetapi hasil panen tanaman serai di Banyuwangi masih sangat terbatas,” ujar Ilham, 42, seorang pengepul serai asal Desa/Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Menurut Ilham, serai yang bisa dikirim ke pabrik sabun dan sampo ialah serai berkualitas baik yang telah dibersihkan bagian daunnya dan tinggal menyisakan bagian bonggol saja. Harga serai kualitas pabrik dibeli seharga Rp 18 ribu per kilogram (kg).

Saat musim panen raya, Ilham bisa mengirim sebanyak 3–4 ton serai. Sebetulnya, kebutuhan pabrik tidak terbatas setiap harinya. Hanya, serai asal Songgon dibagi untuk pedagang lokal, serta melayani pasar Bali yang dikirim untuk bumbu dapur.

Serai sebetulnya sangat mudah dibudidayakan. Cukup ditanam satu hingga dua batang, kemudian dibiarkan, dan baru siap dipanen saat tanaman berumur enam bulan. Perawatannya cukup dengan membersihkan rumput liar ketika serai baru ditanam hingga berumur dua bulan.

Dari satu atau dua batang serai yang ditanam bisa berkembang dengan cepat. Jika kondisi normal, sekali panen bisa mencapai 7 kg sampai 10 kg. ”Serai ini tidak ada waktu musim panen. Kapan pun selama usia enam bulan dan rimbun siap dipanen,” terangnya.

Tanaman serai asal Songgon tidak semuanya dipanen untuk dikirim ke Jakarta. Sebagian lainnya dijual langsung ke pasar lokal dan kawasan sekitar termasuk dikirim ke Pulau Bali. Bedanya, serai untuk bumbu dapur masih menyisakan bagian daunnya. Sementara yang dikirim ke Jakarta, hanya bagian bonggol saja.

Seorang petani serai, Haryono mengaku, tanaman serai miliknya kini sudah memasuki masa panen. Dalam satu rumpun, bisa panen hingga 3 kg. ”Menanam sangat mudah, cukup ditanam dan modal perawatannya ringan,” katanya.

Menurut Haryono, harga serai saat ini lumayan bagus yakni Rp 5.000 per kg. Padahal sebelumnya, hanya di kisaran harga Rp 2.000 per kg. Kebutuhan serai setiap hari juga cukup besar. ”Kalau permintaan pasar Bali sehari bisa 5 kuintal,” jelasnya.

Seorang pedagang serai, Budiono mengatakan, serai asal Kecamatan Songgon memenuhi standar untuk dikirim ke Bali. Selain harum, bonggol serai asal Songgon terkenal besar dan lebih tahan lama. Setiap hari, permintaan pasar Bali di kisaran 4 kuintal hingga 5 kuintal. ”Sebagian besar serai di pasar tradisional Banyuwangi dan Bali itu berasal dari wilayah Songgon,” tandasnya. 

TANAMAN serai asal Banyuwangi ternyata banyak dikirim ke Jakarta sebagai bahan pembuatan sabun dan sampo. Bahkan, pabrik membutuhkan serai dalam jumlah tidak terbatas setiap hari.

Tidak mengherankan, jika tanaman serai menjadi salah satu tanaman yang prospektif dan menjanjikan. ”Sudah empat tahunan ini serai asal Kecamatan Songgon dikirim ke Jakarta untuk bahan sabun dan sampo. Kebutuhannya sebetulnya tidak terbatas, tetapi hasil panen tanaman serai di Banyuwangi masih sangat terbatas,” ujar Ilham, 42, seorang pengepul serai asal Desa/Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Menurut Ilham, serai yang bisa dikirim ke pabrik sabun dan sampo ialah serai berkualitas baik yang telah dibersihkan bagian daunnya dan tinggal menyisakan bagian bonggol saja. Harga serai kualitas pabrik dibeli seharga Rp 18 ribu per kilogram (kg).

Saat musim panen raya, Ilham bisa mengirim sebanyak 3–4 ton serai. Sebetulnya, kebutuhan pabrik tidak terbatas setiap harinya. Hanya, serai asal Songgon dibagi untuk pedagang lokal, serta melayani pasar Bali yang dikirim untuk bumbu dapur.

Serai sebetulnya sangat mudah dibudidayakan. Cukup ditanam satu hingga dua batang, kemudian dibiarkan, dan baru siap dipanen saat tanaman berumur enam bulan. Perawatannya cukup dengan membersihkan rumput liar ketika serai baru ditanam hingga berumur dua bulan.

Dari satu atau dua batang serai yang ditanam bisa berkembang dengan cepat. Jika kondisi normal, sekali panen bisa mencapai 7 kg sampai 10 kg. ”Serai ini tidak ada waktu musim panen. Kapan pun selama usia enam bulan dan rimbun siap dipanen,” terangnya.

Tanaman serai asal Songgon tidak semuanya dipanen untuk dikirim ke Jakarta. Sebagian lainnya dijual langsung ke pasar lokal dan kawasan sekitar termasuk dikirim ke Pulau Bali. Bedanya, serai untuk bumbu dapur masih menyisakan bagian daunnya. Sementara yang dikirim ke Jakarta, hanya bagian bonggol saja.

Seorang petani serai, Haryono mengaku, tanaman serai miliknya kini sudah memasuki masa panen. Dalam satu rumpun, bisa panen hingga 3 kg. ”Menanam sangat mudah, cukup ditanam dan modal perawatannya ringan,” katanya.

Menurut Haryono, harga serai saat ini lumayan bagus yakni Rp 5.000 per kg. Padahal sebelumnya, hanya di kisaran harga Rp 2.000 per kg. Kebutuhan serai setiap hari juga cukup besar. ”Kalau permintaan pasar Bali sehari bisa 5 kuintal,” jelasnya.

Seorang pedagang serai, Budiono mengatakan, serai asal Kecamatan Songgon memenuhi standar untuk dikirim ke Bali. Selain harum, bonggol serai asal Songgon terkenal besar dan lebih tahan lama. Setiap hari, permintaan pasar Bali di kisaran 4 kuintal hingga 5 kuintal. ”Sebagian besar serai di pasar tradisional Banyuwangi dan Bali itu berasal dari wilayah Songgon,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/