alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Sari Temulawak Bertahan Tiga Generasi, Model Botolnya Abadi

MINUMAN temulawak tak hanya sebagai jamu tradisional dengan rasa dan aroma yang khas. Temulawak berkarbonasi ternyata sudah ada dan sangat populer di Banyuwangi sejak tahun 1980-an.

Minuman Temulawak berkarbonasi, di tahun 1980 hingga awal 1990-an menjadi simbol status sosial seseorang jika dihidangkan di hajatan pernikahan, pesta lain, hingga perayaan hari besar Islam. Di tengah membanjirnya minuman bersoda, temulawak berkarbonasi masih tetap eksis hingga kini.

Pengusaha temulawak berkarbonasi itu adalah Rony Hendra Setiadi, 44. Rony adalah generasi ketiga. Dia mewarisi usahanya dari sang ayah, Boedijanto yang meninggal dunia tahun 2003 lalu. Kakeknya adalah Liem Jun Koen, pendiri pabrik temulawak beruap merek PL Hawai.

Lokasi pabrik tersebut masih bertahan hingga kini di Jalan Dokter Soetomo 67 Banyuwangi. Awal kali pertama berdiri tahun 1960, pabrik itu mungkin menjadi pabrik minuman berkarbonasi paling modern, karena sudah memakai mesin pencampur CO2 (karbondioksida).

Usaha yang dirintis kakeknya itu berkembang pesat saat digantikan sang ayah sekitar tahun 1970-an. Kala itu, perusahaan soda bermerek internasional belum banyak masuk. Tidak hanya temulawak, dulu berbagai minuman lain juga diproduksi di pabrik itu. Di antaranya minuman limun atau orson dan teh melati. Sayangnya, kini teh melati sudah tidak diproduksi lagi.

Pasar temulawak beruap produksi Banyuwangi itu hingga kini tidak hanya merambah pasar lokal. Temulawak beruap juga telah merambah berbagai daerah di Jawa Timur seperti Situbondo, Bondowoso, dan Bali.

Meski sudah generasi ketiga, minuman beruap temulawak warisan kakeknya tersebut masih bertahan hingga kini. Kemasan dan rasa masih tetap sama dan abadi. Bahkan, bentuk kemasan, hingga rasa temulawak masih tetap konsisten. ”Mungkin karena inilah minuman temulawak tetap langgeng dan bertahan sampai saat ini,” ujar Rony.

Pabriknya pun tak berubah. Berupa bangunan tua yang luasnya 200 meter persegi. Lima mesin pengisi gas masih beroperasi manual. Sari temulawak diramu dari campuran esensi temulawak dan gula. Proses pengisian, penutupan, dan pemasangan label dilakukan manual oleh tenaga manusia.

Rony tetap mempertahankan tenaga kerja yang ada. Hal itulah yang menjadi alasan pabrik minuman tersebut tetap dipertahankan hingga saat ini. Ada belasan warga yang bergantung hidupnya pada industri minuman tersebut.

Minuman temulawak ini masih dikemas dalam botol pendek warna hijau isi 320 mililiter. Labelnya dari kertas yang bergambar rumpun temulawak enam jari. Kotak minuman (krat) terbuat dari kayu. Satu krat berisi 24 botol.

Kini produksi minuman temulawak beruap ini sudah jauh menurun dibanding tahun 1990 an. Sebelumnya pabrik PL Hawai memproduksi 1.000–1.500 krat setiap pekan. Kini produksinya hanya sekitar 250 krat atau setara dengan 6.000 botol. Jumlah itu akan meningkat jika menjelang Lebaran dan ada pesanan khusus.

Rony juga berencana menjajal pasar temulawak di kota-kota besar. Dia optimistis karena di Bali minuman itu bisa diterima warga lokal dan wisatawan asing. ”Temulawak beruap ini lebih nikmat dicampur air perasan jeruk nipis, susu, dan madu,” katanya. 

MINUMAN temulawak tak hanya sebagai jamu tradisional dengan rasa dan aroma yang khas. Temulawak berkarbonasi ternyata sudah ada dan sangat populer di Banyuwangi sejak tahun 1980-an.

Minuman Temulawak berkarbonasi, di tahun 1980 hingga awal 1990-an menjadi simbol status sosial seseorang jika dihidangkan di hajatan pernikahan, pesta lain, hingga perayaan hari besar Islam. Di tengah membanjirnya minuman bersoda, temulawak berkarbonasi masih tetap eksis hingga kini.

Pengusaha temulawak berkarbonasi itu adalah Rony Hendra Setiadi, 44. Rony adalah generasi ketiga. Dia mewarisi usahanya dari sang ayah, Boedijanto yang meninggal dunia tahun 2003 lalu. Kakeknya adalah Liem Jun Koen, pendiri pabrik temulawak beruap merek PL Hawai.

Lokasi pabrik tersebut masih bertahan hingga kini di Jalan Dokter Soetomo 67 Banyuwangi. Awal kali pertama berdiri tahun 1960, pabrik itu mungkin menjadi pabrik minuman berkarbonasi paling modern, karena sudah memakai mesin pencampur CO2 (karbondioksida).

Usaha yang dirintis kakeknya itu berkembang pesat saat digantikan sang ayah sekitar tahun 1970-an. Kala itu, perusahaan soda bermerek internasional belum banyak masuk. Tidak hanya temulawak, dulu berbagai minuman lain juga diproduksi di pabrik itu. Di antaranya minuman limun atau orson dan teh melati. Sayangnya, kini teh melati sudah tidak diproduksi lagi.

Pasar temulawak beruap produksi Banyuwangi itu hingga kini tidak hanya merambah pasar lokal. Temulawak beruap juga telah merambah berbagai daerah di Jawa Timur seperti Situbondo, Bondowoso, dan Bali.

Meski sudah generasi ketiga, minuman beruap temulawak warisan kakeknya tersebut masih bertahan hingga kini. Kemasan dan rasa masih tetap sama dan abadi. Bahkan, bentuk kemasan, hingga rasa temulawak masih tetap konsisten. ”Mungkin karena inilah minuman temulawak tetap langgeng dan bertahan sampai saat ini,” ujar Rony.

Pabriknya pun tak berubah. Berupa bangunan tua yang luasnya 200 meter persegi. Lima mesin pengisi gas masih beroperasi manual. Sari temulawak diramu dari campuran esensi temulawak dan gula. Proses pengisian, penutupan, dan pemasangan label dilakukan manual oleh tenaga manusia.

Rony tetap mempertahankan tenaga kerja yang ada. Hal itulah yang menjadi alasan pabrik minuman tersebut tetap dipertahankan hingga saat ini. Ada belasan warga yang bergantung hidupnya pada industri minuman tersebut.

Minuman temulawak ini masih dikemas dalam botol pendek warna hijau isi 320 mililiter. Labelnya dari kertas yang bergambar rumpun temulawak enam jari. Kotak minuman (krat) terbuat dari kayu. Satu krat berisi 24 botol.

Kini produksi minuman temulawak beruap ini sudah jauh menurun dibanding tahun 1990 an. Sebelumnya pabrik PL Hawai memproduksi 1.000–1.500 krat setiap pekan. Kini produksinya hanya sekitar 250 krat atau setara dengan 6.000 botol. Jumlah itu akan meningkat jika menjelang Lebaran dan ada pesanan khusus.

Rony juga berencana menjajal pasar temulawak di kota-kota besar. Dia optimistis karena di Bali minuman itu bisa diterima warga lokal dan wisatawan asing. ”Temulawak beruap ini lebih nikmat dicampur air perasan jeruk nipis, susu, dan madu,” katanya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/