alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

37 Petani NTT Berguru Kopi ke Banyuwangi

RadarBanyuwangi.id – Sebanyak 37 orang petani kopi dan jahe dari NusaTenggara Timur (NTT) berguru ke Bumi Blambangan.  Mereka berasal dari Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Manggarai Timur.

Kegiatan studi tiru ini dipelopori Badan Otoritas Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF). Mereka membawa Asosiasi Petani Kopi Jahe Manggarai (APEKAM), Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Flores Manggarai; serta perwakilan dari Dinas Pariwisata setempat.

Puluhan petani kopi itu datang ke Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.  Mereka berdiskusi dengan pemilik sanggar kopi Genjah Arum, Setiawan Subekti alias Pak Iwan Kopai Osing.  

Iwan mengatakan, pengenalan kopi bagi wisatawan yang datang ke Labuan Bajo sangat penting. Selain sebagai oleh-oleh, kopi dari Manggarai NTT sudah dikenal baik oleh dunia.  Karena itu, petani kopi tak harus hanya menjual biji kopi mentah. Mereka sudah seharusnya mampu mengolah kopi agar nilai jual semakin meningkat. 

Baca Juga :  Wajan Tanah Liat Lebih Nikmat

Dia menambahkan, perbaikan kemasan kopi yang dijual merupakan harga mati.  Hal itu sangat penting karena orang akan tertarik dengan kemasan yang bagus. Bahkan di Negeri Paman Sam, kopi Flores dikenal dengan logo komodo. Karena itu, kata Iwan, petani harus didorong menghasilkan kopi yang baik dan dijual dengan keaslian kopi Manggarai yang sudah dikenal lama dikenal sebagai salah satu kopi terbaik nasional. 

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Badan Otoritas Pariwisata Labuan Bajo Flores, Shana Fatina menjelaskan, benchmarking ini diharapkan menjadi awal mula pengembangan desa wisata khususnya agro wisata kopi, sehingga nanti mereka dapat mengembangkan produk olahan kopi dan dapat membuat atraksi dari agro wisatanya.  

Baca Juga :  Dibuka Wabup Sugirah, Culinary Festival Angkat Pamor Kuliner Lokal

Menurut Shana, kopi Banyuwangi terdongkrak seiring dengan kunjungan wisata yang terus meningkat. Apalagi, kolaborasi antara Pemkab Banyuwangi bersama dengan masyarakat dan pelaku usaha sangat kompak. ‘’Ini yang perlu kami kembangkan di sana,’’ ujarnya.

RadarBanyuwangi.id – Sebanyak 37 orang petani kopi dan jahe dari NusaTenggara Timur (NTT) berguru ke Bumi Blambangan.  Mereka berasal dari Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Manggarai Timur.

Kegiatan studi tiru ini dipelopori Badan Otoritas Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF). Mereka membawa Asosiasi Petani Kopi Jahe Manggarai (APEKAM), Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Flores Manggarai; serta perwakilan dari Dinas Pariwisata setempat.

Puluhan petani kopi itu datang ke Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.  Mereka berdiskusi dengan pemilik sanggar kopi Genjah Arum, Setiawan Subekti alias Pak Iwan Kopai Osing.  

Iwan mengatakan, pengenalan kopi bagi wisatawan yang datang ke Labuan Bajo sangat penting. Selain sebagai oleh-oleh, kopi dari Manggarai NTT sudah dikenal baik oleh dunia.  Karena itu, petani kopi tak harus hanya menjual biji kopi mentah. Mereka sudah seharusnya mampu mengolah kopi agar nilai jual semakin meningkat. 

Baca Juga :  Curah Hujan Tinggi, Panen Kopi Menurun

Dia menambahkan, perbaikan kemasan kopi yang dijual merupakan harga mati.  Hal itu sangat penting karena orang akan tertarik dengan kemasan yang bagus. Bahkan di Negeri Paman Sam, kopi Flores dikenal dengan logo komodo. Karena itu, kata Iwan, petani harus didorong menghasilkan kopi yang baik dan dijual dengan keaslian kopi Manggarai yang sudah dikenal lama dikenal sebagai salah satu kopi terbaik nasional. 

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Badan Otoritas Pariwisata Labuan Bajo Flores, Shana Fatina menjelaskan, benchmarking ini diharapkan menjadi awal mula pengembangan desa wisata khususnya agro wisata kopi, sehingga nanti mereka dapat mengembangkan produk olahan kopi dan dapat membuat atraksi dari agro wisatanya.  

Baca Juga :  Prawoto Indarto: Biang Kopi Arabika Ternyata Ada di Lereng Ijen

Menurut Shana, kopi Banyuwangi terdongkrak seiring dengan kunjungan wisata yang terus meningkat. Apalagi, kolaborasi antara Pemkab Banyuwangi bersama dengan masyarakat dan pelaku usaha sangat kompak. ‘’Ini yang perlu kami kembangkan di sana,’’ ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/