alexametrics
24.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Dampak Cuaca, Produksi Rambutan Menurun

SRONO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Memasuki waktu panen buah musiman di Banyuwangi, terjadi penurunan jumlah hasil panen buah rambutan. Hal itu diduga karena kurangnya perawatan tanaman dan cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Salah satu pemilik pohon rambutan di Desa Sukomaju, Kecamatan Srono, Sunariyah mengatakan, pada tahun ini terjadi penurunan jumlah hasil panen. Dia mempunyai empat pohon rambutan yang terletak di sekitar pekarangan rumahnya. Tiga pohon merupakan jenis rambutan lebak bulus dan satu pohon jenis rapiah. ”Dari empat pohon rambutan hanya satu pohon saja yang berbuah. Biasanya satu pohon bisa mencapai dua kuintal. Namun, saat ini hanya mencapai 50–100 kilogram saja,” ujarnya.

Sunariyah mengungkapkan, turunnya jumlah hasil panen karena proses pemanenan yang salah. Pemilik pohon rambutan biasa menjual buah rambutan kepada penebas. Saat memanen penebas memotong batang pohon rambutan, sehingga pada musim berikutnya pohon rambutan tidak bisa berbuah karena batang pohon masih muda dan tidak dapat berbunga. Membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun agar pohon rambutan dapat berbuah kembali. Ketika musim hujan hasil panen juga berkurang, karena banyak bunga yang rontok diterpa air hujan.

Sunariyah memilih menjual buah rambutan kepada penebas lantaran saat memasuki panen raya harganya hanya mencapai Rp 500 per kilogram (kg). Harga jual buah rambutan saat ini berada di kisaran Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kg untuk jenis bulus. Sedangkan jenis rapiah dipatok dengan harga Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kg.

Menurutnya, rambutan hanya berbuah satu kali dalam setahun. Biasanya mulai berbunga pada bulan Juni dan Juli, kemudian mulai berbuah hingga bisa dikonsumsi pada bulan September hingga Desember. ”Kalau sudah diborong oleh penebas pasti harganya sangat murah. Karena transaksi dilakukan saat buah masih belum matang dan tidak sesuai dengan harga pasar,” jelasnya.

Sejak proses penanaman hingga berbuah, buah rambutan memerlukan waktu yang cukup lama, yakni tiga sampai empat tahun. Pohon rambutan yang ada di Desa Sukomaju sudah ada sejak dahulu. Tidak ada warga yang sengaja menanam pohon rambutan. ”Dari saya kecil ini sudah ada pohonnya. Bukan ditanam secara khusus. Tidak ada perawatan khusus juga, itu mungkin salah satu faktor menurunnya jumlah hasil panen,” pungkas wanita berusia 58 tahun itu. 

SRONO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Memasuki waktu panen buah musiman di Banyuwangi, terjadi penurunan jumlah hasil panen buah rambutan. Hal itu diduga karena kurangnya perawatan tanaman dan cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Salah satu pemilik pohon rambutan di Desa Sukomaju, Kecamatan Srono, Sunariyah mengatakan, pada tahun ini terjadi penurunan jumlah hasil panen. Dia mempunyai empat pohon rambutan yang terletak di sekitar pekarangan rumahnya. Tiga pohon merupakan jenis rambutan lebak bulus dan satu pohon jenis rapiah. ”Dari empat pohon rambutan hanya satu pohon saja yang berbuah. Biasanya satu pohon bisa mencapai dua kuintal. Namun, saat ini hanya mencapai 50–100 kilogram saja,” ujarnya.

Sunariyah mengungkapkan, turunnya jumlah hasil panen karena proses pemanenan yang salah. Pemilik pohon rambutan biasa menjual buah rambutan kepada penebas. Saat memanen penebas memotong batang pohon rambutan, sehingga pada musim berikutnya pohon rambutan tidak bisa berbuah karena batang pohon masih muda dan tidak dapat berbunga. Membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun agar pohon rambutan dapat berbuah kembali. Ketika musim hujan hasil panen juga berkurang, karena banyak bunga yang rontok diterpa air hujan.

Sunariyah memilih menjual buah rambutan kepada penebas lantaran saat memasuki panen raya harganya hanya mencapai Rp 500 per kilogram (kg). Harga jual buah rambutan saat ini berada di kisaran Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kg untuk jenis bulus. Sedangkan jenis rapiah dipatok dengan harga Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kg.

Menurutnya, rambutan hanya berbuah satu kali dalam setahun. Biasanya mulai berbunga pada bulan Juni dan Juli, kemudian mulai berbuah hingga bisa dikonsumsi pada bulan September hingga Desember. ”Kalau sudah diborong oleh penebas pasti harganya sangat murah. Karena transaksi dilakukan saat buah masih belum matang dan tidak sesuai dengan harga pasar,” jelasnya.

Sejak proses penanaman hingga berbuah, buah rambutan memerlukan waktu yang cukup lama, yakni tiga sampai empat tahun. Pohon rambutan yang ada di Desa Sukomaju sudah ada sejak dahulu. Tidak ada warga yang sengaja menanam pohon rambutan. ”Dari saya kecil ini sudah ada pohonnya. Bukan ditanam secara khusus. Tidak ada perawatan khusus juga, itu mungkin salah satu faktor menurunnya jumlah hasil panen,” pungkas wanita berusia 58 tahun itu. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/