alexametrics
23.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Santap Bebek Peking Dihibur Barongsai

BANYUWANGI Setelah sempat absen gara-gara pandemi Covid-19, Festival Imlek kembali digelar di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kelenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi. Festival yang menyajikan makanan khas Tionghoa tersebut digelar selama dua hari, mulai Sabtu (5/2) dan berakhir Minggu malam (6/2). 

Beberapa stand kuliner dengan makanan khas Tionghoa berdiri di halaman kelenteng yang terletak di Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi tersebut. Festival tersebut juga dimeriahkan  atraksi kesenian yang merefleksikan akulturasi budaya Tionghoa dan budaya lokal Banyuwangi.

Meski tak seramai sebelumnya, gelaran Festival Imlek mengundang animo masyarakat.

Masyarakat banyak yang memborong jajanan khas Tionghoa. Sabtu sore (5/2), digelar sentra kuliner Pecinan Street Food, sebuah kawasan kuliner yang menjajakan beragam masakan khas Tionghoa. Mulai dari dimsum, lontong cap go meh, bebek/ayam peking, dan sate tai chan.

Aneka jajanan khas Tionghoa juga ada seperti kue keranjang, manisan Tiongkok, bakpao ayam, dan bakcang. Juga aneka jenis minuman, seperti teh bunga krisan, kopi, dan masih banyak lainnya. ”Meski sentra kuliner Tionghoa, kami pastikan bahwa semua menu yang dijajakan halal,” tegas  Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Banyuwangi (Bakesbangpol) Muhamad Lutfi.

Tak ketinggalan pedagang pakaian dengan nuansa Imlek juga ikut membuka stand. Festival Imlek menjadi rangkaian dari perayaan tahun baru Imlek. Tadi malam (6/2) Festival Imlek ditutup dengan beragam pertunjukan seni kolaborasi. Di antaranya atraksi liang liong dan kolaborasi barongsai, barong Using, dan beragam atraksi kesenian kolaborasi etnis Tionghoa dengan Banyuwangi.

Atraksi ini menjadi penegas bagaimana kuatnya ikatan emosional masyarakat Tionghoa dengan warga yang tinggal di sekitar kelenteng. ”Festival ini untuk mengakomodasi semua tradisi yang ada di masyarakat, termasuk budaya Tionghoa yang merupakan bagian dari Banyuwangi yang dihuni beberapa etnis, suku, agama, dan budaya, namun bisa saling hidup rukun dan damai,” ungkap Lutfi.

Sekretaris TITD Hoo Tong Bio Alexander Martin mengatakan, Festival Imlek sempat tak digelar tahun lalu karena tingginya kasus Covid-19 di Bumi Blambangan. Tingginya animo masyarakat dengan event ini, pihak kelenteng memutuskan menggelar lagi tahun ini.  ”Seiring dengan semakin terkendalinya kasus Covid dan mendukung program Banyuwangi Rebound, festival kembali digelar,’’ kata Alex.

Dia berharap Festival Imlek bisa menjadi  pemersatu semua masayarakat di Banyuwangi agar  bersama-sama bangkit dari pandemi Covid-19.

Sementara itu, penutupan Festival Imlek Minggu malam (6/2) dihadiri oleh Bupati Ipuk Fiestiandani. Orang nomor satu di Permkab Banyuwangi itu menyempatkan keliling stand yang menyajikan makanan khas Tionghoa. Istri Abdullah Azwar Anas itu juga masuk ke kelenteng. Dia mendapat penjelasan dari pengurus kelenteng terkait nama dewa-dewa di Kelenteng Hoo Tong Bio.

Begitu keluar dari kelenteng, Bupati Ipuk bersama rombongan menyaksikan atraksi barongsai dan liang liong. Ipuk didampingi Ketua TITD Kelenteng Hoo Tong Bio Sylvia Ekawati  sempat memasukkan angpau ke dalam mulut barongsai.

Di hadapan para tokoh Tionghoa, Ipuk sempat memaparkan program Banyuwangi Rebound. Program ini, kata dia, untuk mengajak masyarakat bergerak bersama-sama dalam menangani pandemi Covid-19, memulihkan ekenomi, dan merajut kebersamaan.

Banyuwangi Rebound berangkat dari tantangan dan optimisme yang ada. Imbas pandemi Covid-19 angka kemiskinan di Banyuwangi mengalami kenaikan sebesar 0,1 persen. Peningkatan angka kemiskinan di kabupaten ujung timur Pulau Jawa merupakan yang terendah di wilayah Jatim.

Di sisi lain, pada saat bersamaan ada tantangan dunia yang semakin terdigitalisasi. Namun, di tengah berbagai tantangan, kita masih punya optimisme. Pertumbuhan ekonomi mulai kembali positif. Roda ekonomi mulai bergerak, salah satu indikatornya adalah pembiayaan dari perbankan ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang melonjak. ”Pertumbuhan kredit perbankan Banyuwangi jauh di atas rata-rata nasional. Selain itu, budaya inovasi yang dikembangkan pemerintah terus berkembang,” terang Ipuk.

BANYUWANGI Setelah sempat absen gara-gara pandemi Covid-19, Festival Imlek kembali digelar di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kelenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi. Festival yang menyajikan makanan khas Tionghoa tersebut digelar selama dua hari, mulai Sabtu (5/2) dan berakhir Minggu malam (6/2). 

Beberapa stand kuliner dengan makanan khas Tionghoa berdiri di halaman kelenteng yang terletak di Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi tersebut. Festival tersebut juga dimeriahkan  atraksi kesenian yang merefleksikan akulturasi budaya Tionghoa dan budaya lokal Banyuwangi.

Meski tak seramai sebelumnya, gelaran Festival Imlek mengundang animo masyarakat.

Masyarakat banyak yang memborong jajanan khas Tionghoa. Sabtu sore (5/2), digelar sentra kuliner Pecinan Street Food, sebuah kawasan kuliner yang menjajakan beragam masakan khas Tionghoa. Mulai dari dimsum, lontong cap go meh, bebek/ayam peking, dan sate tai chan.

Aneka jajanan khas Tionghoa juga ada seperti kue keranjang, manisan Tiongkok, bakpao ayam, dan bakcang. Juga aneka jenis minuman, seperti teh bunga krisan, kopi, dan masih banyak lainnya. ”Meski sentra kuliner Tionghoa, kami pastikan bahwa semua menu yang dijajakan halal,” tegas  Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Banyuwangi (Bakesbangpol) Muhamad Lutfi.

Tak ketinggalan pedagang pakaian dengan nuansa Imlek juga ikut membuka stand. Festival Imlek menjadi rangkaian dari perayaan tahun baru Imlek. Tadi malam (6/2) Festival Imlek ditutup dengan beragam pertunjukan seni kolaborasi. Di antaranya atraksi liang liong dan kolaborasi barongsai, barong Using, dan beragam atraksi kesenian kolaborasi etnis Tionghoa dengan Banyuwangi.

Atraksi ini menjadi penegas bagaimana kuatnya ikatan emosional masyarakat Tionghoa dengan warga yang tinggal di sekitar kelenteng. ”Festival ini untuk mengakomodasi semua tradisi yang ada di masyarakat, termasuk budaya Tionghoa yang merupakan bagian dari Banyuwangi yang dihuni beberapa etnis, suku, agama, dan budaya, namun bisa saling hidup rukun dan damai,” ungkap Lutfi.

Sekretaris TITD Hoo Tong Bio Alexander Martin mengatakan, Festival Imlek sempat tak digelar tahun lalu karena tingginya kasus Covid-19 di Bumi Blambangan. Tingginya animo masyarakat dengan event ini, pihak kelenteng memutuskan menggelar lagi tahun ini.  ”Seiring dengan semakin terkendalinya kasus Covid dan mendukung program Banyuwangi Rebound, festival kembali digelar,’’ kata Alex.

Dia berharap Festival Imlek bisa menjadi  pemersatu semua masayarakat di Banyuwangi agar  bersama-sama bangkit dari pandemi Covid-19.

Sementara itu, penutupan Festival Imlek Minggu malam (6/2) dihadiri oleh Bupati Ipuk Fiestiandani. Orang nomor satu di Permkab Banyuwangi itu menyempatkan keliling stand yang menyajikan makanan khas Tionghoa. Istri Abdullah Azwar Anas itu juga masuk ke kelenteng. Dia mendapat penjelasan dari pengurus kelenteng terkait nama dewa-dewa di Kelenteng Hoo Tong Bio.

Begitu keluar dari kelenteng, Bupati Ipuk bersama rombongan menyaksikan atraksi barongsai dan liang liong. Ipuk didampingi Ketua TITD Kelenteng Hoo Tong Bio Sylvia Ekawati  sempat memasukkan angpau ke dalam mulut barongsai.

Di hadapan para tokoh Tionghoa, Ipuk sempat memaparkan program Banyuwangi Rebound. Program ini, kata dia, untuk mengajak masyarakat bergerak bersama-sama dalam menangani pandemi Covid-19, memulihkan ekenomi, dan merajut kebersamaan.

Banyuwangi Rebound berangkat dari tantangan dan optimisme yang ada. Imbas pandemi Covid-19 angka kemiskinan di Banyuwangi mengalami kenaikan sebesar 0,1 persen. Peningkatan angka kemiskinan di kabupaten ujung timur Pulau Jawa merupakan yang terendah di wilayah Jatim.

Di sisi lain, pada saat bersamaan ada tantangan dunia yang semakin terdigitalisasi. Namun, di tengah berbagai tantangan, kita masih punya optimisme. Pertumbuhan ekonomi mulai kembali positif. Roda ekonomi mulai bergerak, salah satu indikatornya adalah pembiayaan dari perbankan ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang melonjak. ”Pertumbuhan kredit perbankan Banyuwangi jauh di atas rata-rata nasional. Selain itu, budaya inovasi yang dikembangkan pemerintah terus berkembang,” terang Ipuk.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/