alexametrics
23.1 C
Banyuwangi
Tuesday, June 28, 2022

Cari Variasi, Pengusaha Lirik Teh

GLAGAH – Nyaris seluruh pengusaha kuliner yang membuka usahanya di sekitar wilayah Keca­matan Licin dan Glagah selalu menyertakan kopi sebagai salah satu menu utama. Tak tanggung-tanggung, kopi-kopi yang disajikan sebelumnya diolah dulu melalui proses yang bermacam-macam hingga menghasilkan minuman kopi yang berkualitas layaknya kafe di kota besar.

Akan tetapi, maraknya pengu­saha kuliner yang menyediakan kopi membuat beberapa pengu­saha mulai mengalihkan produk sajiannya ke minuman teh. Salah satunya H Dauwis, pengusaha kuliner yang membuka bisnisnya di kawasan Desa Banjarsari, Ke­camatan Glagah. Dia mengaku ingin mencoba menyajikan teh untuk memberi warna kuliner baru di Banyuwangi.

Sama seperti kopi yang memiliki variasi jenis mulai yang biasa hingga premium, Dauwis juga membidik pasar minuman teh di kelas tersebut. Dia mengatakan, teh yang disajikannya bukan teh kemasan yang dijual bebas di toko-toko. Namun, teh yang diolah khusus dengan jenis yang beragam.

”Beberapa minggu ini saya sudah mencoba belajar teknik penyajian teh. Tidak di Banyuwangi memang, lebih tepatnya di Bandung dan Malang. Karena memang di sana adanya produksi teh, kalau di sini memang belum ada,” ujar Dauwis. Dari metode penyajian teh yang dipelajarinya, ada berbagai macam variasi menu.

Nyaris sama dengan kopi, teh juga bisa disajikan dengan cara tu­­bruk, espresso, mixing dengan susu, Vietnam drip, bahkan dicam­pur dengan soda. ”Untuk harga mentahnya memang masih mahal kopi, tapi teh juga punya variasi jenis. Yang mahal juga ada. Se­mentara, ada lebih dari delapan menu yang saya buat mulai dari premium tubruk, milk tea premium, chocolate tea, soda fren dews tea, teh latte, art tea, dan ada beberapa lagi,” terang Dauwis. (fre/als/c1)

GLAGAH – Nyaris seluruh pengusaha kuliner yang membuka usahanya di sekitar wilayah Keca­matan Licin dan Glagah selalu menyertakan kopi sebagai salah satu menu utama. Tak tanggung-tanggung, kopi-kopi yang disajikan sebelumnya diolah dulu melalui proses yang bermacam-macam hingga menghasilkan minuman kopi yang berkualitas layaknya kafe di kota besar.

Akan tetapi, maraknya pengu­saha kuliner yang menyediakan kopi membuat beberapa pengu­saha mulai mengalihkan produk sajiannya ke minuman teh. Salah satunya H Dauwis, pengusaha kuliner yang membuka bisnisnya di kawasan Desa Banjarsari, Ke­camatan Glagah. Dia mengaku ingin mencoba menyajikan teh untuk memberi warna kuliner baru di Banyuwangi.

Sama seperti kopi yang memiliki variasi jenis mulai yang biasa hingga premium, Dauwis juga membidik pasar minuman teh di kelas tersebut. Dia mengatakan, teh yang disajikannya bukan teh kemasan yang dijual bebas di toko-toko. Namun, teh yang diolah khusus dengan jenis yang beragam.

”Beberapa minggu ini saya sudah mencoba belajar teknik penyajian teh. Tidak di Banyuwangi memang, lebih tepatnya di Bandung dan Malang. Karena memang di sana adanya produksi teh, kalau di sini memang belum ada,” ujar Dauwis. Dari metode penyajian teh yang dipelajarinya, ada berbagai macam variasi menu.

Nyaris sama dengan kopi, teh juga bisa disajikan dengan cara tu­­bruk, espresso, mixing dengan susu, Vietnam drip, bahkan dicam­pur dengan soda. ”Untuk harga mentahnya memang masih mahal kopi, tapi teh juga punya variasi jenis. Yang mahal juga ada. Se­mentara, ada lebih dari delapan menu yang saya buat mulai dari premium tubruk, milk tea premium, chocolate tea, soda fren dews tea, teh latte, art tea, dan ada beberapa lagi,” terang Dauwis. (fre/als/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/