alexametrics
25.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Diancam Dikeluarkan dari Sekolah, Oknum Pengasuh Pesantren Diduga Cabuli Santri

RADAR BANYUWANGI – Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi tengah menangani kasus pencabulan dan perkosaan yang diduga dilakukan oleh FZ, salah seorang pengasuh pondok pesantren ternama di Banyuwangi. Setidaknya, ada empat orang korban berusia sekitar 16 hingga 17 tahun yang sudah dimintai keterangan penyidik.

Dalam waktu dekat, penyidik Unit Renakta (Remaja, Anak, dan Wanita) Polresta Banyuwangi akan memanggil FZ untuk dimintai keterangan. Selain pengasuh pesantren, FZ pernah menjabat sebagai anggota DPRD Banyuwangi dan Jatim serta pernah menjabat ketua salah satu partai politik. Paling lambat minggu depan, FZ akan dikorek keterangannya.

Kapolresta Banyuwangi AKBP Deddy Foury Millewa melalui Kasatreskrim Kompol Agus Sobarnapraja membenarkan adanya laporan dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum pengasuh pondok pesantren tersebut. Laporan tersebut sudah masuk ke Polresta pekan lalu. ”Memang benar, ada satu orang yang melaporkan adanya aksi pencabulan tersebut. Korbannya ada empat orang. Kasus tersebut masih dalam proses penyidikan,” jelasnya.

Agus mengatakan, para korban masih berstatus pelajar aktif di salah satu lembaga pendidikan. Mereka mengaku perbuatan asusila terlapor dilakukan di luar jam sekolah. ”Korban dipanggil dan di situlah terjadi peristiwa dugaan asusila,” imbuhnya.

Selain telah menerima laporan, penyidik juga sudah mengantongi identitas oknum terlapor. Namun, hingga kini penyidik masih sebatas memeriksa korban serta pengumpulan alat bukti. ”Kasusnya sudah naik ke penyidikan. Kami terus melengkapi alat bukti untuk sesegera mungkin melakukan proses hukum selanjutnya,” terangnya.

Dalam kasus ini, kata Agus, penyidik telah memanggil dan memeriksa delapan orang sebagai saksi yang seluruhnya merupakan santriwati. Bukan hanya itu, penyidik juga sudah mengantongi bukti visum et repertum dari pihak rumah sakit. ”Kasus ini masih terus kita dalami. Siapa pun pelakunya, sepanjang alat buktinya cukup akan kita proses sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

Wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi mencoba mengonfirmasi FZ. Sayang, ketika dihubungi melalui telepon selulernya, tidak ada jawaban dari yang bersangkutan. Beberapa kali dihubungi lewat pesan WhastApp juga tidak ada balasan.

Sementara itu, dalam menjalankan aksi tak senonoh, FZ menempuh cara yang cukup rapi. Korban yang tinggal di kawasan pesantren dipanggil ke kediamannya dengan dalih berbagi berkah. FZ juga memberikan makanan dan minuman yang diduga mengandung obat penenang agar korban tak berkutik ketika dicabuli dan disetubuhi.

Hal ini diungkapkan oleh Priyo Utomo, 38, salah satu keluarga korban. ”Korbannya ada enam orang. Yang hanya diraba-raba empat orang. Dua orang disetubuhi dengan disertai ancaman. Satu korbannya ada yang laki-laki,” uncap Priyo.

Diungkapkan Priyo, para korban dipanggil usai melaksanakan Praktik Kerja Industri (Prakerin). Selama ini para korban tinggal di asrama pondok pesantren tak jauh dari lokasi sekolah. ”Korban dipanggil satu per satu ke kediaman kiai FZ. Kemudian ditanya masih perawan atau tidak,” ujar Priyo menirukan pengakuan korban.

Setelah menanyakan perihal keperawanan kepada pelajar SMK tersebut, selanjutnya FZ mencoba mengecek dengan cara menyentuh bagian sensitif tubuh korban. ”Saat ditanya itu, FZ langsung memegang payudara, pantat, dan kemaluan korban,” katanya.

Yang lebih miris, dua pelajar mengalami perlakuan  yang lebih buruk. Tak sekadar dicabuli, dua siswi yang masih berusia belasan tahun juga disetubuhi oleh FZ dengan dalih sudah dinikahi secara agama. ”Kedua korban tersebut sempat diberikan air minum sebagai penenang. Selanjutnya, FZ merapalkan doa dan mengatakan sah untuk disetubuhi, semacam dinikahi tanpa wali. Pengakuan kedua korban sudah tiga kali diperlakukan tidak senonoh,” tegasnya.

Usai melakukan aksi bejatnya, FZ mengancam korban agar tidak membocorkan aksinya. Jika dibocorkan, dia akan marah besar. Tak hanya itu, FZ juga mengancam akan mengeluarkan korban dari sekolah dan pesantren. ”Awalnya memang dirayu, tapi juga disertai ancaman. Ini sudah panggilan, biar kamu dapat berkah. Pokok manut, jangan cerita. Kalau cerita, saya marah,” ujar Priyo menirukan kalimat korban yang merupakan salah satu keluarganya.

Kasus ini terbongkar setelah para korban yang sama-sama tinggal di asrama saling curhat. Dari saling curhat itulah, mereka sama-sama mengaku telah diperlakukan tidak senonoh oleh FZ. ”Awalnya mereka takut mau cerita, kemudian ada yang berani lapor ke orang tuanya. Tahu begini, kami sebagai pihak keluarga tidak terima dan melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian,” kata Priyo.

Priyo tidak menyangka mantan anggota DPRD Banyuwangi itu memiliki perilaku bejat dan mencoreng nama baik pesantren yang terkenal dengan ilmu agama. ”Kami mohon pihak kepolisian bisa membongkar dan mengungkap kasus ini agar jelas semuanya,” tandas pria yang tinggal di Rogojampi itu. (rio/ddy/aif/c1)

RADAR BANYUWANGI – Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi tengah menangani kasus pencabulan dan perkosaan yang diduga dilakukan oleh FZ, salah seorang pengasuh pondok pesantren ternama di Banyuwangi. Setidaknya, ada empat orang korban berusia sekitar 16 hingga 17 tahun yang sudah dimintai keterangan penyidik.

Dalam waktu dekat, penyidik Unit Renakta (Remaja, Anak, dan Wanita) Polresta Banyuwangi akan memanggil FZ untuk dimintai keterangan. Selain pengasuh pesantren, FZ pernah menjabat sebagai anggota DPRD Banyuwangi dan Jatim serta pernah menjabat ketua salah satu partai politik. Paling lambat minggu depan, FZ akan dikorek keterangannya.

Kapolresta Banyuwangi AKBP Deddy Foury Millewa melalui Kasatreskrim Kompol Agus Sobarnapraja membenarkan adanya laporan dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum pengasuh pondok pesantren tersebut. Laporan tersebut sudah masuk ke Polresta pekan lalu. ”Memang benar, ada satu orang yang melaporkan adanya aksi pencabulan tersebut. Korbannya ada empat orang. Kasus tersebut masih dalam proses penyidikan,” jelasnya.

Agus mengatakan, para korban masih berstatus pelajar aktif di salah satu lembaga pendidikan. Mereka mengaku perbuatan asusila terlapor dilakukan di luar jam sekolah. ”Korban dipanggil dan di situlah terjadi peristiwa dugaan asusila,” imbuhnya.

Selain telah menerima laporan, penyidik juga sudah mengantongi identitas oknum terlapor. Namun, hingga kini penyidik masih sebatas memeriksa korban serta pengumpulan alat bukti. ”Kasusnya sudah naik ke penyidikan. Kami terus melengkapi alat bukti untuk sesegera mungkin melakukan proses hukum selanjutnya,” terangnya.

Dalam kasus ini, kata Agus, penyidik telah memanggil dan memeriksa delapan orang sebagai saksi yang seluruhnya merupakan santriwati. Bukan hanya itu, penyidik juga sudah mengantongi bukti visum et repertum dari pihak rumah sakit. ”Kasus ini masih terus kita dalami. Siapa pun pelakunya, sepanjang alat buktinya cukup akan kita proses sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

Wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi mencoba mengonfirmasi FZ. Sayang, ketika dihubungi melalui telepon selulernya, tidak ada jawaban dari yang bersangkutan. Beberapa kali dihubungi lewat pesan WhastApp juga tidak ada balasan.

Sementara itu, dalam menjalankan aksi tak senonoh, FZ menempuh cara yang cukup rapi. Korban yang tinggal di kawasan pesantren dipanggil ke kediamannya dengan dalih berbagi berkah. FZ juga memberikan makanan dan minuman yang diduga mengandung obat penenang agar korban tak berkutik ketika dicabuli dan disetubuhi.

Hal ini diungkapkan oleh Priyo Utomo, 38, salah satu keluarga korban. ”Korbannya ada enam orang. Yang hanya diraba-raba empat orang. Dua orang disetubuhi dengan disertai ancaman. Satu korbannya ada yang laki-laki,” uncap Priyo.

Diungkapkan Priyo, para korban dipanggil usai melaksanakan Praktik Kerja Industri (Prakerin). Selama ini para korban tinggal di asrama pondok pesantren tak jauh dari lokasi sekolah. ”Korban dipanggil satu per satu ke kediaman kiai FZ. Kemudian ditanya masih perawan atau tidak,” ujar Priyo menirukan pengakuan korban.

Setelah menanyakan perihal keperawanan kepada pelajar SMK tersebut, selanjutnya FZ mencoba mengecek dengan cara menyentuh bagian sensitif tubuh korban. ”Saat ditanya itu, FZ langsung memegang payudara, pantat, dan kemaluan korban,” katanya.

Yang lebih miris, dua pelajar mengalami perlakuan  yang lebih buruk. Tak sekadar dicabuli, dua siswi yang masih berusia belasan tahun juga disetubuhi oleh FZ dengan dalih sudah dinikahi secara agama. ”Kedua korban tersebut sempat diberikan air minum sebagai penenang. Selanjutnya, FZ merapalkan doa dan mengatakan sah untuk disetubuhi, semacam dinikahi tanpa wali. Pengakuan kedua korban sudah tiga kali diperlakukan tidak senonoh,” tegasnya.

Usai melakukan aksi bejatnya, FZ mengancam korban agar tidak membocorkan aksinya. Jika dibocorkan, dia akan marah besar. Tak hanya itu, FZ juga mengancam akan mengeluarkan korban dari sekolah dan pesantren. ”Awalnya memang dirayu, tapi juga disertai ancaman. Ini sudah panggilan, biar kamu dapat berkah. Pokok manut, jangan cerita. Kalau cerita, saya marah,” ujar Priyo menirukan kalimat korban yang merupakan salah satu keluarganya.

Kasus ini terbongkar setelah para korban yang sama-sama tinggal di asrama saling curhat. Dari saling curhat itulah, mereka sama-sama mengaku telah diperlakukan tidak senonoh oleh FZ. ”Awalnya mereka takut mau cerita, kemudian ada yang berani lapor ke orang tuanya. Tahu begini, kami sebagai pihak keluarga tidak terima dan melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian,” kata Priyo.

Priyo tidak menyangka mantan anggota DPRD Banyuwangi itu memiliki perilaku bejat dan mencoreng nama baik pesantren yang terkenal dengan ilmu agama. ”Kami mohon pihak kepolisian bisa membongkar dan mengungkap kasus ini agar jelas semuanya,” tandas pria yang tinggal di Rogojampi itu. (rio/ddy/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/