alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Bencana Alam Pasca Lebaran dan Masa Pilkada

PADA saat saya melakukan perjalanan pulang menuju Banyuwangi kota sempat mengalami kemacetan di beberapa ruas jalan. Saya pikir, Lebaran ketujuh biasa ah masyarakat masih berkunjung ke sanak saudara. Karena masyarakat Jawa Timur memiliki tradisi Lebaran kupatan/ketupat di hari ketujuh setelah hari raya Idul Fitri.

Namun ternyata, dugaan saya salah. Kemacetan terjadi bukan karena Lebaran. Namun karena masyarakat berbondong-bondong melihat luapan sungai di jembatan Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi.

Ternyata benar saja, di beberapa wilayah di Banyuwangi mengalami bencana alam banjir bandang dengan luapan sungai yang membawa lumpur. Ini mengingatkan saya pada saat tinggal di Jember tahun 2005 silam. Saat itu terjadi banjir bandang di Kecamatan Panti pada malam tahun baru.

Ini bukan pertama kali Banyuwangi mengalami bencana yang sama di tahun 2018. Mengingat akan hal itu, sepertinya Banyuwangi harus tanggap darurat untuk segera berbenah mencari titik problemnya di hulu. Apakah iya curah hujan tinggi? Padahal di awal musim penghujan minggu ini, curah hujan di Banyuwangi tidak terlalu tinggi.

Apakah dampak alih fungsi di dataran tinggi? Yang saat ini marak terjadi, salah satu contoh jalan menuju Paltuding pendakian Gunung Ijen, jika kita amati pinggir jalan kawasan pohon produksi sudah alih fungsi menjadi tanaman bukan penampung air/berfungsi menahan air. Ada proses pembangunan semipermanen semacam warung untuk rest area wisatawan.

Hal itu yang akan terus terjadi ke depannya, karena arus wisatawan yang besar. Sehingga nanti, alih fungsi lahan di pegunungan akan semakin berkurang. Karena semua orang berusaha ikut andil melakukan aktivitas usaha di bidang pariwisata, baik restoran, kafe, hotel, wahana wisata alam di kawasan wisata seperti Ijen dan dataran tinggi lainnya. Sebagaimana yang sudah terjadi di kawasan puncak Bogor dan Batu.

Jangan lupa juga, bencana ini terjadi tepat pada musim pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Sebenarnya ini saat yang tepat untuk tim pemenangan/partai politik untuk ikut andil membantu masyarakat yang terkena bencana dengan mengalihkan sebagian kampanye melalui kegiatan bantuan untuk korban bencana. Yang saya rasa akan jauh lebih bermanfaat bagi rakyat dan otomatis dapat mengambil hati rakyat karena datang di tengah masyarakat di saat yang tepat yaitu saat masyarakat benar-benar membutuhkan bantuan dalam bentuk apa pun.Selain itu semua, yang pasti Banyuwangi punya pekerjaan rumah besar saat ini untuk menyelesaikan dampak bencana dan yang utama untuk melakukan pencegahan dini dan tidak menganggap remeh kejadian ini. Karena bisa saja, ini awalan dan kemungkinan akan terjadi yang lebih besar jika tidak ada tidak lanjut serius untuk pencegahan bencana dari hulu. Maka dari itu, Pemerintah Daerah harus segera bekerja sama dengan seluruh elemen, baik masyarakat maupun Kementerian Kehutanan. Mengingat kawasan pegunungan dan hutan di Banyuwangi bukan hanya milik pemerintah daerah. Namun, tata kelola lahan itu juga ada yang di bawah kewenangan Perhutani, Balai Konservasi Sumber Daya alam (BKSDA), serta kawasan Taman Nasional.(*)

*)Warga Bumi Blambangan berkarya di Jember.

PADA saat saya melakukan perjalanan pulang menuju Banyuwangi kota sempat mengalami kemacetan di beberapa ruas jalan. Saya pikir, Lebaran ketujuh biasa ah masyarakat masih berkunjung ke sanak saudara. Karena masyarakat Jawa Timur memiliki tradisi Lebaran kupatan/ketupat di hari ketujuh setelah hari raya Idul Fitri.

Namun ternyata, dugaan saya salah. Kemacetan terjadi bukan karena Lebaran. Namun karena masyarakat berbondong-bondong melihat luapan sungai di jembatan Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi.

Ternyata benar saja, di beberapa wilayah di Banyuwangi mengalami bencana alam banjir bandang dengan luapan sungai yang membawa lumpur. Ini mengingatkan saya pada saat tinggal di Jember tahun 2005 silam. Saat itu terjadi banjir bandang di Kecamatan Panti pada malam tahun baru.

Ini bukan pertama kali Banyuwangi mengalami bencana yang sama di tahun 2018. Mengingat akan hal itu, sepertinya Banyuwangi harus tanggap darurat untuk segera berbenah mencari titik problemnya di hulu. Apakah iya curah hujan tinggi? Padahal di awal musim penghujan minggu ini, curah hujan di Banyuwangi tidak terlalu tinggi.

Apakah dampak alih fungsi di dataran tinggi? Yang saat ini marak terjadi, salah satu contoh jalan menuju Paltuding pendakian Gunung Ijen, jika kita amati pinggir jalan kawasan pohon produksi sudah alih fungsi menjadi tanaman bukan penampung air/berfungsi menahan air. Ada proses pembangunan semipermanen semacam warung untuk rest area wisatawan.

Hal itu yang akan terus terjadi ke depannya, karena arus wisatawan yang besar. Sehingga nanti, alih fungsi lahan di pegunungan akan semakin berkurang. Karena semua orang berusaha ikut andil melakukan aktivitas usaha di bidang pariwisata, baik restoran, kafe, hotel, wahana wisata alam di kawasan wisata seperti Ijen dan dataran tinggi lainnya. Sebagaimana yang sudah terjadi di kawasan puncak Bogor dan Batu.

Jangan lupa juga, bencana ini terjadi tepat pada musim pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Sebenarnya ini saat yang tepat untuk tim pemenangan/partai politik untuk ikut andil membantu masyarakat yang terkena bencana dengan mengalihkan sebagian kampanye melalui kegiatan bantuan untuk korban bencana. Yang saya rasa akan jauh lebih bermanfaat bagi rakyat dan otomatis dapat mengambil hati rakyat karena datang di tengah masyarakat di saat yang tepat yaitu saat masyarakat benar-benar membutuhkan bantuan dalam bentuk apa pun.Selain itu semua, yang pasti Banyuwangi punya pekerjaan rumah besar saat ini untuk menyelesaikan dampak bencana dan yang utama untuk melakukan pencegahan dini dan tidak menganggap remeh kejadian ini. Karena bisa saja, ini awalan dan kemungkinan akan terjadi yang lebih besar jika tidak ada tidak lanjut serius untuk pencegahan bencana dari hulu. Maka dari itu, Pemerintah Daerah harus segera bekerja sama dengan seluruh elemen, baik masyarakat maupun Kementerian Kehutanan. Mengingat kawasan pegunungan dan hutan di Banyuwangi bukan hanya milik pemerintah daerah. Namun, tata kelola lahan itu juga ada yang di bawah kewenangan Perhutani, Balai Konservasi Sumber Daya alam (BKSDA), serta kawasan Taman Nasional.(*)

*)Warga Bumi Blambangan berkarya di Jember.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/