alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Bersatu Wujudkan Pilgub Jatim Damai sebagai Wujud Nasionalisme

TIDAK lama lagi kita dan seluruh masyarakat Jawa Timur akan melaksanakan pesta demokrasi dalam ajang Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) pada 27 Juni 2018 besok. Hal yang paling penting dan semestinya menjadi tujuan bersama yang harus dicapai adalah, bagaimana mengajak segenap elemen masyarakat menyambut pilgub ini dengan hati yang jernih dan terbuka serta penuh damai.

Apalagi ini juga momentum Lebaran, mari kita semua untuk menghindari prasangka-prasangka buruk terhadap satu dengan lainnya. Akan semakin baik untuk di perhatikan bersama, kampanye damai menjadi layak di gulirkan, bahwa kesuksesan penyelenggaraan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018 ini merupakan tanggung jawab kita bersama seluruh masyarakat Jawa Timur.

Pilkada langsung merupakan sebuah proses pembelajaran bersama untuk mau bersabar, memahami akan keberagaman, saling menghargai, saling percaya, dan saling mengingatkan antara satu dengan lainnya, dan selanjutnya menuntut sebuah komitmen bersama yakni bersikap jiwa besar untuk mau saling menerima sebagai hasil akhir dari sebuah ”pertandingan”.

Jika pilkada dimaknai sebagai suatu pertandingan, maka sangat jelas memiliki aturan main yang harus dipatuhi bersama. Dan di dalam suatu pertandingan, pastilah ada yang menang atau kalah. Ini adalah konsekuensi logis yang mutlak yakni hanya ada satu pemenang. Konsekuensi pasti (menang-kalah) atas hasil pesta demokrasi seperti ini tentunya telah dipahami bersama oleh setiap kandidat. Maka harus benar-benar dihayati pula oleh setiap kandidat untuk bertanding dengan jujur dan damai.

Dengan demikian, konsekuensi berupa kekalahan maupun kemenangan dalam sebuah pertandingan tersebut harus juga digaungkan oleh pasangan calon dan tim suksesnya kepada para simpatisan atau pendukungnya agar pilkada yang akan diselenggarakan besok selesai secara ”happy ending dan damai”.

Bila pilkada nanti telah usai, diharapkan tidak ada lagi pertarungan dan pertentangan, bahkan yang menjurus ke permusuhan terutama di basis akar rumput. Hendaklah kemenangan ini dimaknai sebagai alat dan bukan tujuan, rasanya perlu dipahami bahwa tujuan sebenarnya adalah menuju kemajuan bersama yakni membangun Provinsi Jawa Timur tercinta demi kemakmuran atau kesejahteraan rakyat.

Siapa pun pemenang dalam pilkada yang akan menjadi gubernur/wakil gubernur Jawa Timur selama lima tahun ke depan adalah pemimpin bersama. Yang terpilih nanti bukan pemimpin dari parpol atau golongan tertentu, tetapi pemimpin Provinsi Jawa Timur pilihan rakyat. Itu adalah pilihan kita semua, yang patut didukung bersama, dan inilah makna demokrasi sesungguhnya.

Walaupun terdapat kekhawatiran masyarakat Jawa Timur terhadap para kandidat atau pasangan calon yang mungkin tidak dapat berjiwa besar dan tidak sportif dalam menerima hasil pilkada, maka yang mesti dilakukan kita semua adalah bagaimana mengawal proses tersebut. Meski begitu, semua tetap mengawal dengan tetap menghormati hak setiap pasangan calon dan berupaya membentuk opini atau pemikiran positif. Agar apa yang diharapkan bisa berjalan sesuai koridor atau ketentuan yang ditetapkan penyelenggara dalam hal ini KPUD Provinsi Jawa Timur.

Mengingat pilkada adalah pertaruhan menang dan kalah, maka jiwa besar menjadi impian kita yang harus dijawab bersama warga, terutama para pasangan calon gubernur/wakil gubernur yang akan dipilih. Kesediaan menerima hasil pilkada dengan lapang dada (sikap legowo) adalah salah satu bagian dari jalan menuju kemenangan. Kita pun tentu mendambakan sebuah prestasi yang akan terukir dalam sejarah bangsa bahwa masyarakat Jawa Timur pun telah mampu ”membangun demokrasi dengan tali silaturahmi”.Jika semua pasangan calon sudah sepakat akan hal tersebut, maka tujuan keikutsertaan sang calon dalam pilkada dimaknai tidak hanya sekadar untuk mendapatkan kursi empuk gubernur/wakil gubernur Jawa Timur. Tetapi yang lebih penting bagaimana sebagai pemimpin lebih bersikap negarawan yakni menjadi pemimpin yang amanah yang bertujuan untuk membuat kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.Tentunya, kita semua mengimbau kepada semua bakal pasangan calon gubernur/wakil gubernur, pendukung/simpatisan, tim sukses, pihak penyelenggara (KPUD), panitia pengawas (Panwas Pilgub), dan pemerintah daerah untuk bersosialisasi mengajak semua lapisan masyarakat datang ke TPS menyuarakan hak pilihnya di Pilgub Jatim besok. Dengan mewujudkan pilkada damai, sekaligus itu merupakan wujud dari nasionalisme.(*)

*) Warga Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Banyuwangi.

TIDAK lama lagi kita dan seluruh masyarakat Jawa Timur akan melaksanakan pesta demokrasi dalam ajang Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) pada 27 Juni 2018 besok. Hal yang paling penting dan semestinya menjadi tujuan bersama yang harus dicapai adalah, bagaimana mengajak segenap elemen masyarakat menyambut pilgub ini dengan hati yang jernih dan terbuka serta penuh damai.

Apalagi ini juga momentum Lebaran, mari kita semua untuk menghindari prasangka-prasangka buruk terhadap satu dengan lainnya. Akan semakin baik untuk di perhatikan bersama, kampanye damai menjadi layak di gulirkan, bahwa kesuksesan penyelenggaraan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018 ini merupakan tanggung jawab kita bersama seluruh masyarakat Jawa Timur.

Pilkada langsung merupakan sebuah proses pembelajaran bersama untuk mau bersabar, memahami akan keberagaman, saling menghargai, saling percaya, dan saling mengingatkan antara satu dengan lainnya, dan selanjutnya menuntut sebuah komitmen bersama yakni bersikap jiwa besar untuk mau saling menerima sebagai hasil akhir dari sebuah ”pertandingan”.

Jika pilkada dimaknai sebagai suatu pertandingan, maka sangat jelas memiliki aturan main yang harus dipatuhi bersama. Dan di dalam suatu pertandingan, pastilah ada yang menang atau kalah. Ini adalah konsekuensi logis yang mutlak yakni hanya ada satu pemenang. Konsekuensi pasti (menang-kalah) atas hasil pesta demokrasi seperti ini tentunya telah dipahami bersama oleh setiap kandidat. Maka harus benar-benar dihayati pula oleh setiap kandidat untuk bertanding dengan jujur dan damai.

Dengan demikian, konsekuensi berupa kekalahan maupun kemenangan dalam sebuah pertandingan tersebut harus juga digaungkan oleh pasangan calon dan tim suksesnya kepada para simpatisan atau pendukungnya agar pilkada yang akan diselenggarakan besok selesai secara ”happy ending dan damai”.

Bila pilkada nanti telah usai, diharapkan tidak ada lagi pertarungan dan pertentangan, bahkan yang menjurus ke permusuhan terutama di basis akar rumput. Hendaklah kemenangan ini dimaknai sebagai alat dan bukan tujuan, rasanya perlu dipahami bahwa tujuan sebenarnya adalah menuju kemajuan bersama yakni membangun Provinsi Jawa Timur tercinta demi kemakmuran atau kesejahteraan rakyat.

Siapa pun pemenang dalam pilkada yang akan menjadi gubernur/wakil gubernur Jawa Timur selama lima tahun ke depan adalah pemimpin bersama. Yang terpilih nanti bukan pemimpin dari parpol atau golongan tertentu, tetapi pemimpin Provinsi Jawa Timur pilihan rakyat. Itu adalah pilihan kita semua, yang patut didukung bersama, dan inilah makna demokrasi sesungguhnya.

Walaupun terdapat kekhawatiran masyarakat Jawa Timur terhadap para kandidat atau pasangan calon yang mungkin tidak dapat berjiwa besar dan tidak sportif dalam menerima hasil pilkada, maka yang mesti dilakukan kita semua adalah bagaimana mengawal proses tersebut. Meski begitu, semua tetap mengawal dengan tetap menghormati hak setiap pasangan calon dan berupaya membentuk opini atau pemikiran positif. Agar apa yang diharapkan bisa berjalan sesuai koridor atau ketentuan yang ditetapkan penyelenggara dalam hal ini KPUD Provinsi Jawa Timur.

Mengingat pilkada adalah pertaruhan menang dan kalah, maka jiwa besar menjadi impian kita yang harus dijawab bersama warga, terutama para pasangan calon gubernur/wakil gubernur yang akan dipilih. Kesediaan menerima hasil pilkada dengan lapang dada (sikap legowo) adalah salah satu bagian dari jalan menuju kemenangan. Kita pun tentu mendambakan sebuah prestasi yang akan terukir dalam sejarah bangsa bahwa masyarakat Jawa Timur pun telah mampu ”membangun demokrasi dengan tali silaturahmi”.Jika semua pasangan calon sudah sepakat akan hal tersebut, maka tujuan keikutsertaan sang calon dalam pilkada dimaknai tidak hanya sekadar untuk mendapatkan kursi empuk gubernur/wakil gubernur Jawa Timur. Tetapi yang lebih penting bagaimana sebagai pemimpin lebih bersikap negarawan yakni menjadi pemimpin yang amanah yang bertujuan untuk membuat kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.Tentunya, kita semua mengimbau kepada semua bakal pasangan calon gubernur/wakil gubernur, pendukung/simpatisan, tim sukses, pihak penyelenggara (KPUD), panitia pengawas (Panwas Pilgub), dan pemerintah daerah untuk bersosialisasi mengajak semua lapisan masyarakat datang ke TPS menyuarakan hak pilihnya di Pilgub Jatim besok. Dengan mewujudkan pilkada damai, sekaligus itu merupakan wujud dari nasionalisme.(*)

*) Warga Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/