alexametrics
24 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Kemah Sastra: Kreatif dan Positif

KEMAH SASTRA: Tidak berlebihan jika gagasan ini dilambungkan ke angkasa, sehingga menjadi bagian pelangi yang menggelantung di langit Banyuwangi.  Gagasan ini viral melalui media sosial beberapa bulan yang lalu, dan sinyalnya telah ditangkap oleh mereka yang melek Facebook seantero Nusantara, bahkan sampai di Negeri Jiran.

Terbukti dengan jumlah yang luar biasa, mereka  mengirimkan karya  puisi lebih dari 600 judul. Satu judul satu penulis. Baik dari penulis lokal Banyuwangi, daerah Jawa Timur, maupun nasional, yang di luar prediksi penyelenggara. Bagi mereka yang lolos kurasi, karyanya menjadi syarat untuk mengikuti kemah sastra tersebut.

Penamaan Kemah Sastra, sebenarnya tidak terlalu asing di telinga kita. Kata perkemahan ini, sering dipakai dalam kegiatan pendidikan kepramukaan di tanah air. Perkemahan bisa kita asumsikan sebagai suatu kegiatan yang melibatkan peserta yang bertempat di arena sunyi dan terpencil jauh dari keramaian, dengan menggunakan fasilitas sederhana.

Perkemahan berkembang sesuai kebutuhan, selaras dengan kepentingan dan tujuan. Misalnya perkemahan kader kesehatan, kader kepemimpinan, dan atau yang lain.

Perkemahan sastra, sesuai dengan namanya, perkemahan yang pesertanya para penggiat sastra, pemerhati sastra, dan mereka yang selalu mengikuti perkembangan sastra sebagai bagian dari upaya pembangunan kepribadian bangsa.

Kegiatan kemah sastra, tampaknya baru kali ini dilaksanakan di Bumi Blambangan. Ide kreatif ini muncul dari Dewan Kesenian Blambangan(DKB)sebagai wadah seni, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, serta Jawa Pos Radar Banyuwangi sebagai penggelar informasi.

Dipilihnya Desa Kemiren sebagai tempat Kemah Sastra merupakan bagian kekhasan sentra budaya Banyuwangi. Siapa pun pencetus gagasan kemah sastra kali ini, yang jelas ide kreatif ini, mempunyai imbas banyak dimensi.

Dewan Kesenian Blambangan (=Banyuwangi), merasa sebuah kehormatan dapat menyelenggarakan event budaya berskala nasional. Setidaknya, Banyuwangi menorehkan sejarah, untuk tidak tertinggal dengan daerah lain dalam hal pengembangan dan pelestarian kebudayaan, khususnya sastra di negeri kita.

Para sastrawan bisa bersilaturahmi dan temu kangen sambil membahas perkembangan sastra di tanah air. Baik untuk kepentingan pengajaran, maupun kepentingan lain sesuai dengan kecenderungan perhatian masing-masing. Bisa juga untuk memublikasikan karya-karya mereka sebagai bentuk eksistensi kesastrawanan mereka.

Baca Juga :  Berpuasa di Negeri Pecahan Es

Sementara itu, Pemkab Banyuwangi mempunyai misi untuk lebih meng-Indonesiakan atau mengeluar-negerikan Banyuwangi, melalui karya puisi yang ditulis oleh sastrawan Nusantara dengan bentuk antologi yang bertema ”Senyuman Lembah Ijen” sebagai destinasi wisata.

Mau tidak mau, para sastrawan Nusantara, untuk bisa menulis tentang Kawah Ijen dan lembah sekitarnya, mereka harus membaca dan mempelajari tentang Banyuwangi. Ada yang membaca lewat Mbah Google, dengan jarak jauh, mencipta puisi tanpa mengenal dengan jarak dekat perikehidupan masyarakatnya.

Ada pula yang sengaja datang ke daerah yang menjadi subjek karya puisinya. Justru yang kedua itulah yang kita harapkan. Tidak hanya mengenal blue fire Kawah Ijen dan pesona alam lainnya, tetapi dapat berlama-lama tinggal di Banyuwangi untuk menikmati berbagai kearifan lokal seperti kuliner, kesenian etnik, rempah Nusantara, dan 77 festival yang digelar sepanjang tahun di Bumi Blambangan.

Selaras dengan pembangunan ekonomi demi kesejahteraan masyarakatnya, seperti yang diprogramkan oleh Pemkab Banyuwangi. Pemberdayaan menyangkut semua sektor kehidupan. Keberhasilan menarik wisata domestik maupun mancanegara, sehingga Banyuwangi ditetapkan sebagai ujung tombak pariwisata di Indonesia. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini, merupakan salah satu ’Taman Sari Nusantara’ yang dengan bangga menyuarakan ’Umbul-Umbul Blambangan.’

Sisi lain adalah Jawa Pos Radar Banyuwangi yang menjadi mitra pemerintah daerah. Peran Jawa Pos Radar Banyuwangi sangat penting sebagai perantara komunikasi timbal balik arus informasi.

Kemah Sastra ini bisa diikuti peserta yang datang dari berbagai daerah, tidak lepas dari gencarnya penyebarluasan informasi. Bagaimanapun, informasi sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Tugas penting media masa sudah dilakukan oleh koran lokal ini yang mempunyai jaringan (grup) di provinsi-provinsi lain di negara kita.

Jawa Pos Radar Banyuwangi-lah yang mengondisikan para pelajar SMP, SMA, dan sekolah sederajat untuk berpartisipasi mencipta dan membaca puisi. Hal ini diupayakan dalam rangka menanamkan sejak awal kepada putra daerah untuk menggandrungi Banyuwangi sebagai tanah kelahirannya, yang kaya akan pesona alam dan kearifan lokal. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk ’Liga Cipta Puisi’ guru dan siswa serta ’Liga Baca Puisi’ untuk guru dan siswa.

Baca Juga :  Ramadan sebagai Bulan Membaca dan Menulis

Hasil cipta puisi peserta setelah dikurasi oleh tim kurator, yang terpilih dijadikan buku antologi puisi ”Menggandrungi Banyuwangi”. Karya puisi inilah yang dijadikan teks puisi wajib baca dalam ’Lomba Baca Puisi’. Sekali lagi, ini merupakan gagasan yang sangat positif yang perlu didukung bersama.

Kemah Sastra Nasional di Desa Kemiren tentu akan menyuguhkan berbagai unjuk tampil seni tradisi Banyuwangi dengan pola yang telah disesuaikan jadwal tersusun. Tetapi acara yang pokok yaitu pelatihan menulis puisi dan pelatihan menulis cerpen, serta diskusi sastra.

Workshop Menulis Puisi dialokasikan pesertanya bagi mereka yang telah terdaftar sebagai peserta baca puisi. Mungkin bisa juga mereka yang lolos kurasi cipta puisi. Sedangkan peserta diskusi sastra pada sesi malam diperuntukkan bagi penulis yang lolos kurasi buku ’Senyuman Lembah Ijen’.

Mengikutsertakan para guru Bahasa Indonesia dalam kegiatan sastra yang langka ini, terutama mereka yang tinggal di Banyuwangi sungguh punya nilai. Apalagi yang akan hadir  Garin Nugroho, Ahmadun Yosi Herfanda, Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron, Hasan Aspahani,dan Wayan Jengki Sunarta. Beliau-beliau itu pendekar sastra yang sudah terkenal nama, kiprah, dan karyanya. 

Kemah Sastra yang dihelat wong Banyuwangi di Desa Kemiren Sabtu siang besok (28/4) sangat kreatif dan positif. Pembukaan kemah sastra ini akan berlangsung di Java Banana pada Sabtu pagi besok (28/4). Ayo kita datang dan saksikan ramai-ramai di pembukaan Kemah Sastra di Jiwa Jawa Kecamatan Licin Sabtu pagi mendatang. 

Ini sangat menarik bagi semua kalangan.  Lebih-lebih jika Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP dan SMA mempunyai agenda tahunan Kemah Sastra Pelajar. Di dalamnya dapat di isi berbagai hal tentang sastra. Mahasiswa pun perlu punya agenda Kemah Sastra, sebagai ajang kreativitas sastra yang pesertanya lintas perguruan tinggi dan lintas fakultas, di Banyuwangi ini, seperti  ’Ngaji Sastra’ yang pernah diangkat oleh Radar Banyuwangi dua tahun lalu, agar tidak ’mandeg’. (*)

*) Guru Bahasa Indonesia SMP-SMA PGRI Cluring

KEMAH SASTRA: Tidak berlebihan jika gagasan ini dilambungkan ke angkasa, sehingga menjadi bagian pelangi yang menggelantung di langit Banyuwangi.  Gagasan ini viral melalui media sosial beberapa bulan yang lalu, dan sinyalnya telah ditangkap oleh mereka yang melek Facebook seantero Nusantara, bahkan sampai di Negeri Jiran.

Terbukti dengan jumlah yang luar biasa, mereka  mengirimkan karya  puisi lebih dari 600 judul. Satu judul satu penulis. Baik dari penulis lokal Banyuwangi, daerah Jawa Timur, maupun nasional, yang di luar prediksi penyelenggara. Bagi mereka yang lolos kurasi, karyanya menjadi syarat untuk mengikuti kemah sastra tersebut.

Penamaan Kemah Sastra, sebenarnya tidak terlalu asing di telinga kita. Kata perkemahan ini, sering dipakai dalam kegiatan pendidikan kepramukaan di tanah air. Perkemahan bisa kita asumsikan sebagai suatu kegiatan yang melibatkan peserta yang bertempat di arena sunyi dan terpencil jauh dari keramaian, dengan menggunakan fasilitas sederhana.

Perkemahan berkembang sesuai kebutuhan, selaras dengan kepentingan dan tujuan. Misalnya perkemahan kader kesehatan, kader kepemimpinan, dan atau yang lain.

Perkemahan sastra, sesuai dengan namanya, perkemahan yang pesertanya para penggiat sastra, pemerhati sastra, dan mereka yang selalu mengikuti perkembangan sastra sebagai bagian dari upaya pembangunan kepribadian bangsa.

Kegiatan kemah sastra, tampaknya baru kali ini dilaksanakan di Bumi Blambangan. Ide kreatif ini muncul dari Dewan Kesenian Blambangan(DKB)sebagai wadah seni, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, serta Jawa Pos Radar Banyuwangi sebagai penggelar informasi.

Dipilihnya Desa Kemiren sebagai tempat Kemah Sastra merupakan bagian kekhasan sentra budaya Banyuwangi. Siapa pun pencetus gagasan kemah sastra kali ini, yang jelas ide kreatif ini, mempunyai imbas banyak dimensi.

Dewan Kesenian Blambangan (=Banyuwangi), merasa sebuah kehormatan dapat menyelenggarakan event budaya berskala nasional. Setidaknya, Banyuwangi menorehkan sejarah, untuk tidak tertinggal dengan daerah lain dalam hal pengembangan dan pelestarian kebudayaan, khususnya sastra di negeri kita.

Para sastrawan bisa bersilaturahmi dan temu kangen sambil membahas perkembangan sastra di tanah air. Baik untuk kepentingan pengajaran, maupun kepentingan lain sesuai dengan kecenderungan perhatian masing-masing. Bisa juga untuk memublikasikan karya-karya mereka sebagai bentuk eksistensi kesastrawanan mereka.

Baca Juga :  Akulturasi Budaya

Sementara itu, Pemkab Banyuwangi mempunyai misi untuk lebih meng-Indonesiakan atau mengeluar-negerikan Banyuwangi, melalui karya puisi yang ditulis oleh sastrawan Nusantara dengan bentuk antologi yang bertema ”Senyuman Lembah Ijen” sebagai destinasi wisata.

Mau tidak mau, para sastrawan Nusantara, untuk bisa menulis tentang Kawah Ijen dan lembah sekitarnya, mereka harus membaca dan mempelajari tentang Banyuwangi. Ada yang membaca lewat Mbah Google, dengan jarak jauh, mencipta puisi tanpa mengenal dengan jarak dekat perikehidupan masyarakatnya.

Ada pula yang sengaja datang ke daerah yang menjadi subjek karya puisinya. Justru yang kedua itulah yang kita harapkan. Tidak hanya mengenal blue fire Kawah Ijen dan pesona alam lainnya, tetapi dapat berlama-lama tinggal di Banyuwangi untuk menikmati berbagai kearifan lokal seperti kuliner, kesenian etnik, rempah Nusantara, dan 77 festival yang digelar sepanjang tahun di Bumi Blambangan.

Selaras dengan pembangunan ekonomi demi kesejahteraan masyarakatnya, seperti yang diprogramkan oleh Pemkab Banyuwangi. Pemberdayaan menyangkut semua sektor kehidupan. Keberhasilan menarik wisata domestik maupun mancanegara, sehingga Banyuwangi ditetapkan sebagai ujung tombak pariwisata di Indonesia. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini, merupakan salah satu ’Taman Sari Nusantara’ yang dengan bangga menyuarakan ’Umbul-Umbul Blambangan.’

Sisi lain adalah Jawa Pos Radar Banyuwangi yang menjadi mitra pemerintah daerah. Peran Jawa Pos Radar Banyuwangi sangat penting sebagai perantara komunikasi timbal balik arus informasi.

Kemah Sastra ini bisa diikuti peserta yang datang dari berbagai daerah, tidak lepas dari gencarnya penyebarluasan informasi. Bagaimanapun, informasi sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Tugas penting media masa sudah dilakukan oleh koran lokal ini yang mempunyai jaringan (grup) di provinsi-provinsi lain di negara kita.

Jawa Pos Radar Banyuwangi-lah yang mengondisikan para pelajar SMP, SMA, dan sekolah sederajat untuk berpartisipasi mencipta dan membaca puisi. Hal ini diupayakan dalam rangka menanamkan sejak awal kepada putra daerah untuk menggandrungi Banyuwangi sebagai tanah kelahirannya, yang kaya akan pesona alam dan kearifan lokal. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk ’Liga Cipta Puisi’ guru dan siswa serta ’Liga Baca Puisi’ untuk guru dan siswa.

Baca Juga :  Dongeng untuk Menanamkan Nilai Pendidikan Moral Anak

Hasil cipta puisi peserta setelah dikurasi oleh tim kurator, yang terpilih dijadikan buku antologi puisi ”Menggandrungi Banyuwangi”. Karya puisi inilah yang dijadikan teks puisi wajib baca dalam ’Lomba Baca Puisi’. Sekali lagi, ini merupakan gagasan yang sangat positif yang perlu didukung bersama.

Kemah Sastra Nasional di Desa Kemiren tentu akan menyuguhkan berbagai unjuk tampil seni tradisi Banyuwangi dengan pola yang telah disesuaikan jadwal tersusun. Tetapi acara yang pokok yaitu pelatihan menulis puisi dan pelatihan menulis cerpen, serta diskusi sastra.

Workshop Menulis Puisi dialokasikan pesertanya bagi mereka yang telah terdaftar sebagai peserta baca puisi. Mungkin bisa juga mereka yang lolos kurasi cipta puisi. Sedangkan peserta diskusi sastra pada sesi malam diperuntukkan bagi penulis yang lolos kurasi buku ’Senyuman Lembah Ijen’.

Mengikutsertakan para guru Bahasa Indonesia dalam kegiatan sastra yang langka ini, terutama mereka yang tinggal di Banyuwangi sungguh punya nilai. Apalagi yang akan hadir  Garin Nugroho, Ahmadun Yosi Herfanda, Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron, Hasan Aspahani,dan Wayan Jengki Sunarta. Beliau-beliau itu pendekar sastra yang sudah terkenal nama, kiprah, dan karyanya. 

Kemah Sastra yang dihelat wong Banyuwangi di Desa Kemiren Sabtu siang besok (28/4) sangat kreatif dan positif. Pembukaan kemah sastra ini akan berlangsung di Java Banana pada Sabtu pagi besok (28/4). Ayo kita datang dan saksikan ramai-ramai di pembukaan Kemah Sastra di Jiwa Jawa Kecamatan Licin Sabtu pagi mendatang. 

Ini sangat menarik bagi semua kalangan.  Lebih-lebih jika Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP dan SMA mempunyai agenda tahunan Kemah Sastra Pelajar. Di dalamnya dapat di isi berbagai hal tentang sastra. Mahasiswa pun perlu punya agenda Kemah Sastra, sebagai ajang kreativitas sastra yang pesertanya lintas perguruan tinggi dan lintas fakultas, di Banyuwangi ini, seperti  ’Ngaji Sastra’ yang pernah diangkat oleh Radar Banyuwangi dua tahun lalu, agar tidak ’mandeg’. (*)

*) Guru Bahasa Indonesia SMP-SMA PGRI Cluring

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/