Jalan Panjang Menuju Optimistis dan Percaya Diri

Oleh: RIYAN ALFINA PUTRI*

TERDENGAR sangat mudah, tetapi belum tentu mudah. Sulit untuk dilakukan jika tidak ada semangat dan tekad yang kuat. Mungkin meraih itu terdengar sangat menantang bagi semua orang, termasuk juga saya. Meraih bukan hanya sekadar meraih hadiah, kemenangan, atau pun kesuksesan. Tetapi bisa juga meraih sesuatu yang sulit orang lain lakukan, yaitu kepercayaan diri atau optimistis pada diri sendiri.

Percaya diri dan optimistis itu mempunyai pengertian yang berbeda. Percaya diri adalah ketika kita yakin kita bisa melakukan sesuatu tanpa harus melihat hasil orang lain. Sedangkan optimistis adalah selalu berpikir positif dan mempunyai keyakinan, bahwa kita bisa meraih sesuatu yang kita inginkan.

Percaya diri dan optimistis tidak mudah dilakukan banyak anak muda zaman sekarang, yang merasa kurang percaya diri atau kita sebut sebagai insecure. Banyak sekali anak muda zaman sekarang yang selalu berpikir negatif atau bahkan overthinking. Contohnya saja, berbicara di depan semua orang, bernyanyi, lomba berpidato, atau pun kegiatan, atau lomba lainnya. Menumbuhkan percaya diri itu sangat butuh proses dan tahap bukan sekaligus atau seperti makan mi instan. Bahkan banyak orang mengungkapkan, bahwa makan mi instan saja membutuhkan proses.

Nyatanya, pertama kali menumbuhkan kepercayaan diri itu tidak mudah bagi saya. Bernyanyi bukan hanya mengeluarkan kata-kata. Saya bukan hanya menyanyi saja. Tetapi terdapat banyak hal dalam menyanyi mulai mengukur tinggi rendahnya, mengukur napas yang dikeluarkan, mimik wajah yang harus selaras dengan lagunya, tidak lupa untuk menguasai panggung dan penonton. Jika itu sudah terjadi, pasti ada rasa yang berbeda sesuatu yang tidak semua orang bisa. Tidak semua orang yakin untuk bisa tampil di depan orang banyak. Itulah rasa yang diraih untuk diri sendiri. Karena adanya rasa percaya diri yang mengubah ketakutan menjadi kenyataan.

Baca Juga :  Memaksimalkan Perkembangan Anak

Banyak anak muda di luar sana yang mempunyai bakat. Ada juga anak muda yang mempunyai bakat, tetapi malu untuk menunjukkan. Ada pun juga anak muda yang mempunyai bakat tetapi tidak dikembangkan. Mengapa seperti itu? Mereka merasa bahwa dirinya belum cukup, atau mereka merasa bahwa dirinya belum bisa. Merasa dirinya tidak ada support, bahkan melihat dirinya tidak mempunyai apa-apa yang harus ditunjukkan pada banyak orang.

Kelihatan ringan saja, juga sepele. Tetapi hal itu pun berpengaruh terhadap kepercayaan dirinya masing-masing. Terkadang meraih tidak bisa dianggap mudah, tetapi juga tidak mudah dalam mempertahankan, mengembangkan, dan memajukan. Karena itu butuh pemikiran yang berkonsekuensi. Hal tersebut sangat penting untuk anak muda sekarang agar mereka juga punya prinsip yang harus mereka jalani.

Setiap langkah yang kita ambil itu mempunyai risikonya sendiri. Ketika kita siap untuk melangkah, kita siap menjalani hidup, dan kita siap menerima takdir apa pun itu yang diberikan oleh Tuhan. Maka dari situlah kita harus siap menerima segala risiko dan konsekuensi yang akan kita alami ke depannya.

Manusia diciptakan mempunyai kekurangan dan kelebihan. tidak ada manusia yang diciptakan selalu dengan kekurangannya atau pun sebaliknya, selalu dengan kelebihannya. Namun terkadang yang memandang buruk terhadap diri kita, ya diri kita sendiri. Kita kurang merasa percaya diri atau kita bahkan merasa kita tidak punya apa-apa yang akan kita tunjukkan pada dunia.

Baca Juga :  FYP Tiktok Pagi Ini

Hal tersebut juga tidak mempengaruhi semangat dan percaya diri yang dilakukan oleh Stephen Hawking, yaitu keterbatasan tidak menghalangi impian. Stephen Hawking ialah seorang fisikawan asal Inggris yang terkenal akan teori akan alam semesta. Ia juga seorang pengidap penyakit ALS yaitu penyakit yang melemahkan otot dan merusak fungsi otak yang akhirnya memaksa dirinya menggunakan kursi roda. Di awal perjalanannya, Stephen bukanlah anak yang rajin. Dia justru cenderung malas. Sampai akhirnya, dia bertemu dengan guru matematika yang dikaguminya yaitu Dikran Tahta. Dengan gaya mengajarnya yang enak, juga menginspirasi Stephen untuk berusaha sampai menjadi guru besar di Universitas Cambridge.

Meskipun adanya keterbatasan yang dialami, Stephen tidak mudah menyerah. Walaupun hidupnya hampir putus asa, tetapi dengan adanya support keluarganya, Stephen tidak putus asa lagi. Dari kisah Stephen itu dapat kita simpulkan bahwa semangat yang paling penting itu berada dalam diri kita sendiri. Lingkungan atau keluarga kita juga mempengaruhi kesuksesan kita ke depannya.

Jadi, apabila kita berada dalam lingkungan toxic atau lingkungan yang tidak sehat bagi kesehatan mental atau pun fisik, kita setidaknya kita bisa memilih. Apakah kita mau melanjutkan lingkungan yang toxic, atau kita mencari circle yang baru yang lebih sehat dan membawa kita pada kehidupan yang sehat pula. (*)

*) Siswi MAN 1 Banyuwangi.