alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Catatan: Lili Suryani*

Akulturasi Budaya

INDONESIA dengan penduduk 270 juta jiwa, menjadikan ia menduduki peringkat ke-4 sebagai negara terpadat di dunia. Sejenak pernahkah kita berpikir bagaimana mengatur hukum sosial kehidupan mereka?

Dengan suku yang berbeda- beda, kepercayaan yang tak sama, dan masih banyak lagi. Melihat cara hidup mereka yang tak sama, yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh sekelompok dari masyarakat mereka sendiri, membuat kita bisa menilai bagaimana keadaaan pola pikir mereka dilihat dari kesehariannya.

Dalam penulisan kali ini, pembahasan kita akan meranah pada akulturasi budaya di Indonesia saat ini. Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang, dan diwariskan turun temurun untuk generasi ke generasi.

Pada arus globalisasi yang semakin maju, budaya asing pun mulai bertamu, kita mengenal konsep bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang abadi. Hal itu membuktikan bahwa sesuatu yang berhubungan dengan manusia dan budaya tidak akan pernah berhenti. Perubahan akan selalu terjadi, masyarakat menjadi terbuka dengan perubahan yang ada. Perihal perubahan tersebut, berdampak pada perubahan sosial dan budaya, apalagi jika bukan akulturasi sebutannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akulturasi adalah proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat. Sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu.

Kesimpulannya, akulturasi lahir dari hasil interaksi manusia berupa pertemuan antar kebudayaan yang bersinggungan secara perlahan menjadi bentuk budaya baru.

Perbedaan budaya menjadikan suatu ketertarikan agar dapat terjadi proses adaptasi menjadi berbagai bentuk kebudayaan. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kemajuan zaman dan juga kebutuhan dari masing-masing kelompok untuk bisa bertahan dan juga dapat terus berkembang.

Akulturasi merupakan salah satu bentuk perubahan sosial yang mudah ditemukan di sekitar kita. Perubahan teknologi dan informasi yang sangat cepat menjadi pengaruh besar pada perubahan yang terjadi di masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa informasi yang tersaji di media massa membawa unsur kebudayaan tertentu. Ketika informasi itu diterima dan dipahami oleh seseorang, secara tidak langsung unsur kebudayaan dapat mempengaruhi individu atau kelompok, hingga terjadi budaya baru. Akulturasi terjadi karena pencampuran budaya asing dengan budaya sendiri. Beberapa bidang yang paling sering terjadi akulturasi yakni kuliner, gaya berpakaian, seni musik, arsitektur bangunan, dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana sebuah akulturasi budaya bisa terjadi di tengah kehidupan kita? Hal ini bisa terjadi karena pendidikan yang semakin maju. Pendidikan yang maju dapat membuka wawasan masyarakat tentang budaya-budaya di luar tanah air mereka saat ini. Pengetahuan kepada budaya-budaya asing tersebut akan merujuk pada inisiatif memajukan peradaban untuk menjadi lebih kuat dalam menghadapi perkembangan zaman.

Selain itu, pendidikan juga dapat menjadikan masyarakat lebih memahami dampak sosial dari budaya yang datang dari luar maupun budaya yang sudah ada di masyarakat.

Selanjutnya, setelah terjadi hubungan atau pencampuran dengan budaya lain, upaya kita berikutnya yaitu menciptakan hubungan baik dengan budaya lain, masyarakat perlu memiliki sikap dan perilaku saling menghargai terhadap budaya lain. Sikap dan perilaku menghargai budaya menjadi tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya akulturasi budaya.

Perubahan budaya pada suatu masyarakat dapat menjadi hal positif dan juga bisa menjadi hal yang negatif. Hal tersebut yang perlu diperhatikan oleh setiap anggota masyarakat untuk bijak dalam menghadapi budaya yang datang.

Untuk hal positifnya bisa kita rasakan saat ini seperti kemajuan teknologi dan pola pikir. Hal ini terjadi karena pencampuran budaya negara lain dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat, misalnya menjadi lebih modern.

Selain mempunyai dampak positif ada pengaruh negative, yakni sikap individualisme. Ini tidak cocok untuk masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan dan gotong royong, ramah, dan saling membantu. Oleh karena itu, budaya individualis adalah dampak negatif.

Lalu, dampak lain yang terjadi adalah adanya perubahan budaya. Misalnya, dengan adanya teknologi media sosial dan gawai, beberapa orang jadi tidak lagi melakukan budaya mengunjungi orang untuk menyambung silaturahmi. Hal ini dapat menjadi dampak negatif jika orang yang akan diberi pesan adalah orang yang lebih tua.

Sedangkan di Indonesia, budaya menghormati orang tua, tata krama, dan sopan santun merupakan hal yang harus dilakukan semua orang. Oleh karena itu, akulturasi budaya berdampak negatif jika budaya ini hilang karena adanya kemudahan teknologi.

Dan yang terakhir yakni melupakan budaya asli. Akulturasi budaya akan mempengaruhi negara dan masyarakatnya. Namun, akan menjadi pengaruh negatif jika budaya asli menjadi hilang tanpa bekas. Kita, sebagai bangsa Indonesia, harus dapat melestarikan budaya asli dari daerah masing-masing dengan tidak terlalu bertumpu pada budaya asing. Ini merupakan sikap selektif, yaitu memilih-milih budaya asing yang mana yang harus ditiru, dan harus ditinggal.

Contoh akulturasi budaya yang saat ini sering kita jumpai adalah perihal musik. Dari bidang musik contoh akulturasi ada pada musik etnik, di mana pada musik etnik ini memadukan antara dua jenis musik yaitu musik tradisional dan musik modern. Sehingga menghasilkan musik yang unik dan harmonis tanpa menghilangkan ciri khas masing-masing dari kedua musik tersebut. Dari musik ini juga kita dapat memperkenalkan musik tradisional dengan cara yang menarik dan kekinian.

Ada juga dari bidang berpakaian. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa pakaian kita sudah meniru budaya barat.

Sebuah akulturasi budaya membawa perubahan sosial lebih baik dan maju. Kebudayaan yang terbuka dengan budaya luar terbukti lebih kuat dan siap dalam menghadapi perkembangan zaman yang akan datang. (*)

INDONESIA dengan penduduk 270 juta jiwa, menjadikan ia menduduki peringkat ke-4 sebagai negara terpadat di dunia. Sejenak pernahkah kita berpikir bagaimana mengatur hukum sosial kehidupan mereka?

Dengan suku yang berbeda- beda, kepercayaan yang tak sama, dan masih banyak lagi. Melihat cara hidup mereka yang tak sama, yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh sekelompok dari masyarakat mereka sendiri, membuat kita bisa menilai bagaimana keadaaan pola pikir mereka dilihat dari kesehariannya.

Dalam penulisan kali ini, pembahasan kita akan meranah pada akulturasi budaya di Indonesia saat ini. Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang, dan diwariskan turun temurun untuk generasi ke generasi.

Pada arus globalisasi yang semakin maju, budaya asing pun mulai bertamu, kita mengenal konsep bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang abadi. Hal itu membuktikan bahwa sesuatu yang berhubungan dengan manusia dan budaya tidak akan pernah berhenti. Perubahan akan selalu terjadi, masyarakat menjadi terbuka dengan perubahan yang ada. Perihal perubahan tersebut, berdampak pada perubahan sosial dan budaya, apalagi jika bukan akulturasi sebutannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akulturasi adalah proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat. Sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu.

Kesimpulannya, akulturasi lahir dari hasil interaksi manusia berupa pertemuan antar kebudayaan yang bersinggungan secara perlahan menjadi bentuk budaya baru.

Perbedaan budaya menjadikan suatu ketertarikan agar dapat terjadi proses adaptasi menjadi berbagai bentuk kebudayaan. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kemajuan zaman dan juga kebutuhan dari masing-masing kelompok untuk bisa bertahan dan juga dapat terus berkembang.

Akulturasi merupakan salah satu bentuk perubahan sosial yang mudah ditemukan di sekitar kita. Perubahan teknologi dan informasi yang sangat cepat menjadi pengaruh besar pada perubahan yang terjadi di masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa informasi yang tersaji di media massa membawa unsur kebudayaan tertentu. Ketika informasi itu diterima dan dipahami oleh seseorang, secara tidak langsung unsur kebudayaan dapat mempengaruhi individu atau kelompok, hingga terjadi budaya baru. Akulturasi terjadi karena pencampuran budaya asing dengan budaya sendiri. Beberapa bidang yang paling sering terjadi akulturasi yakni kuliner, gaya berpakaian, seni musik, arsitektur bangunan, dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana sebuah akulturasi budaya bisa terjadi di tengah kehidupan kita? Hal ini bisa terjadi karena pendidikan yang semakin maju. Pendidikan yang maju dapat membuka wawasan masyarakat tentang budaya-budaya di luar tanah air mereka saat ini. Pengetahuan kepada budaya-budaya asing tersebut akan merujuk pada inisiatif memajukan peradaban untuk menjadi lebih kuat dalam menghadapi perkembangan zaman.

Selain itu, pendidikan juga dapat menjadikan masyarakat lebih memahami dampak sosial dari budaya yang datang dari luar maupun budaya yang sudah ada di masyarakat.

Selanjutnya, setelah terjadi hubungan atau pencampuran dengan budaya lain, upaya kita berikutnya yaitu menciptakan hubungan baik dengan budaya lain, masyarakat perlu memiliki sikap dan perilaku saling menghargai terhadap budaya lain. Sikap dan perilaku menghargai budaya menjadi tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya akulturasi budaya.

Perubahan budaya pada suatu masyarakat dapat menjadi hal positif dan juga bisa menjadi hal yang negatif. Hal tersebut yang perlu diperhatikan oleh setiap anggota masyarakat untuk bijak dalam menghadapi budaya yang datang.

Untuk hal positifnya bisa kita rasakan saat ini seperti kemajuan teknologi dan pola pikir. Hal ini terjadi karena pencampuran budaya negara lain dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat, misalnya menjadi lebih modern.

Selain mempunyai dampak positif ada pengaruh negative, yakni sikap individualisme. Ini tidak cocok untuk masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan dan gotong royong, ramah, dan saling membantu. Oleh karena itu, budaya individualis adalah dampak negatif.

Lalu, dampak lain yang terjadi adalah adanya perubahan budaya. Misalnya, dengan adanya teknologi media sosial dan gawai, beberapa orang jadi tidak lagi melakukan budaya mengunjungi orang untuk menyambung silaturahmi. Hal ini dapat menjadi dampak negatif jika orang yang akan diberi pesan adalah orang yang lebih tua.

Sedangkan di Indonesia, budaya menghormati orang tua, tata krama, dan sopan santun merupakan hal yang harus dilakukan semua orang. Oleh karena itu, akulturasi budaya berdampak negatif jika budaya ini hilang karena adanya kemudahan teknologi.

Dan yang terakhir yakni melupakan budaya asli. Akulturasi budaya akan mempengaruhi negara dan masyarakatnya. Namun, akan menjadi pengaruh negatif jika budaya asli menjadi hilang tanpa bekas. Kita, sebagai bangsa Indonesia, harus dapat melestarikan budaya asli dari daerah masing-masing dengan tidak terlalu bertumpu pada budaya asing. Ini merupakan sikap selektif, yaitu memilih-milih budaya asing yang mana yang harus ditiru, dan harus ditinggal.

Contoh akulturasi budaya yang saat ini sering kita jumpai adalah perihal musik. Dari bidang musik contoh akulturasi ada pada musik etnik, di mana pada musik etnik ini memadukan antara dua jenis musik yaitu musik tradisional dan musik modern. Sehingga menghasilkan musik yang unik dan harmonis tanpa menghilangkan ciri khas masing-masing dari kedua musik tersebut. Dari musik ini juga kita dapat memperkenalkan musik tradisional dengan cara yang menarik dan kekinian.

Ada juga dari bidang berpakaian. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa pakaian kita sudah meniru budaya barat.

Sebuah akulturasi budaya membawa perubahan sosial lebih baik dan maju. Kebudayaan yang terbuka dengan budaya luar terbukti lebih kuat dan siap dalam menghadapi perkembangan zaman yang akan datang. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/