Cegahlah Hal Itu dengan Hal Ini

Oleh: Mohammad Gus Vikri*

ALKISAH saat Rasulullah SAW berkumpul dengan para sahabat, seorang pemuda buru-buru menghampiri. Pemuda tersebut langsung mengutarakan keinginannya. ”Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk melakukan perbuatan zina.”

Mendengar perkataan pemuda tersebut, para sahabat merasa geram. Lantaran pemuda tersebut mengutarakan keinginan yang tentu tidak akan bisa diizinkan Rasulullah SAW. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW pun menjawab. ”Wahai pemuda, apakah kamu rela jika perbuatan zina itu terjadi pada ibumu?”

Pemuda itu pun menjawab, ”Demi Allah, tentu saja aku tidak rela wahai Rasulullah”.

Kemudian Rasulullah kembali bertanya kepada pemuda tersebut. ”Apakah kamu rela jika perbuatan zina itu terjadi pada anak perempuanmu?”. Pemuda itu pun menjawab, ”Demi Allah, tentu saja aku tidak rela”.

Kemudian Rasulullah bertanya lagi. ”Apakah kamu rela jika perbuatan zina itu terjadi pada bibimu dan saudara perempuanmu?” Pemuda itu kembali menjawab. ”Demi Allah, tentu saja aku tidak rela”.

Saat itu juga, Rasulullah SAW menanggapi semua jawaban pemuda tersebut. ”Wahai pemuda, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang rela terhadap perbuatan zina yang bisa menodai kehormatan keluarganya”. Rasulullah SAW pun bersabda: Sesungguhnya orang yang mulia di antara kalian adalah orang yang memuliakan perempuan.

Agama Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Memuliakan perempuan merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam. Sebab, ketika Islam belum datang, perempuan begitu sangat direndahkan, dilecehkan, dan tidak dianggap. Bahkan, kelahiran bayi perempuan sangat tidak diharapkan karena dianggap membawa sial dan menambah tanggungan beban.

Empat belas abad silam, agama Islam datang dengan membawa kesetaraan sosial. Bahwa perempuan juga bisa memiliki hak yang sama sebagaimana laki-laki. Perempuan juga bisa memiliki kedudukan yang sama sebagaimana laki-laki. Dan, perempuan bisa mendapat pendidikan yang sama sebagaimana laki-laki. Lantas bagaimana dengan hari ini?

Beberapa hari lalu, banyak berita di media massa dan media sosial. Dari sekian banyak berita, hampir setiap minggu selalu ada berita tentang kasus pelecehan seksual dan pencabulan. Mengutip data dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, pada tahun 2020 ada 66 kasus kekerasan seksual. Pada tahun 2021 terjadi 363 kasus kekerasan, 112 di antaranya adalah kasus kekerasan seksual. Tahun 2022 sampai bulan Juli saja, ada 112 kasus kekerasan dan 38 kasus di antaranya kasus kekerasan seksual.

Baca Juga :  Remaja dan Generalized Anxiety Disorder

Kasus seperti ini juga dilakukan oknum tokoh sosial masyarakat, tokoh agama, guru, dan tak jarang dilakukan keluarga terdekat. Menanggapi persoalan tersebut, terdorong hati kami untuk berpartisipasi menyuarakan solusi agar kasus seperti itu tidak terjadi lagi. Solusinya bagi laki-laki antara lain:

Pertama, melaksanakan salat. Seorang muslim memiliki lima kali kewajiban dalam sehari untuk melakukan penyucian hati, jiwa, dan raga, melalui salat. Ada dua kebaikan yang bisa didapat dalam salat. Yakni hubungan langsung dengan Allah (habluminallah) dan hubungan dengan manusia (habluminannas). Berkenaan dengan sikap baik yang berakibat seorang muslim tidak akan melakukan perbuatan yang keji. Dalam surat Al-Ankabut ayat 45, artinya; ”Dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”.

Kedua, senantiasa bertakwa dan berzikir mengingat Allah SWT. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Takwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah. Sedangkan zikir adalah tindakan menghadirkan Allah dalam jiwa manusia. Dengan senantiasa zikir, seorang muslim akan merasa dirinya sedang dilihat Allah, disaksikan Allah, bersama Allah, dan dekat Allah.

Ketiga, berpuasa. Dalam sebuah riwayat hadis dikisahkan bahwa ada seorang pemuda yang memiliki nafsu besar dan takut akan melakukan perbuatan zina. Rasulullah SAW menyarankan pemuda tersebut untuk menikah, akan tetapi pemuda tersebut tidak memiliki harta sebagai mahar dan juga kebutuhan berumah tangga. Lantas Rasulullah SAW menyarankan kembali kepada pemuda tersebut untuk berpuasa. ”Sesungguhnya puasa dapat menundukkan hawa nafsu”.

Keempat, menjaga pandangan. Sering kita mendengar bagaimana terjadinya cinta, dari mata turun ke hati. Begitupun nafsu berahi. Dari pandangan mata yang melihat indahnya ciptaan Tuhan tentang perempuan yang berpenampilan berlebihan. Akan membuat nafsu berahi laki-laki hadir, sehingga mungkin hal yang tidak diinginkan seperti pelecehan seksual bisa terjadi. Karena itu, kami sarankan laki-laki pintar dalam menjaga pandangan. Agar orang yang Anda cintai juga pintar menjaga hati.

Bagi kalangan perempuan, kasus pelecehan seksual bisa dilakukan para pelaku dengan tidak mengenal ruang dan waktu. Kapan saja dan di mana saja. Karena itu, solusi yang bisa kami sarankan adalah:

Pertama, menghindari tempat sepi. Umumnya para pelaku pelecehan seksual mencari tempat yang sepi agar dapat melancarkan aksinya. Walaupun terkadang pelaku juga nekat beraksi di tempat umum. Karena itu, perempuan sebisa mungkin menghindari tempat sepi. Andai harus melewati tempat tersebut, sebaiknya minta ditemani sahabat atau orang tepercaya.

Baca Juga :  Napak Tilas Regulasi Pendanaan Pendidikan

Kedua, tidak pergi sendirian ke tempat yang jauh. Perempuan yang hendak bepergian jauh hendaknya minta ditemani orang terdekat, keluarga, teman atau sahabat yang kita percaya. Karena para pelaku pelecehan seksual biasanya mengincar korban yang bepergian sendirian.

Ketiga, tidak bepergian dengan orang yang baru dikenal. Seyogianya perempuan tidaklah mudah terbujuk rayuan orang yang baru dikenal. Terlebih kenal lewat media sosial. Buktinya, banyaknya kasus pelecehan seksual yang berawal dari ajakan jalan-jalan orang yang baru kenal di media sosial. Karena itu, perempuan disarankan untuk tidak bepergian dengan orang yang baru dikenal.

Keempat, berpenampilan sopan dan tidak berlebihan. Hendaknya sebelum bepergian, seorang perempuan bisa menyesuaikan penampilan dan pakaian yang digunakan. Kenakan pakaian yang tidak terlalu terbuka, tidak terlalu ketat, dan riasan tidak berlebihan. Apabila hal ini dilakukan oleh perempuan yang bepergian, tindakan kasus pelecehan seksual tidak akan terjadi di sekitarnya. Lantaran perempuan tersebut sudah tidak mengundang nafsu berahi laki-laki.

Kelima, belajar bela diri. Ilmu bela diri sudah jadi bagian lomba olahraga nasional dan internasional. Pesertanya bukan hanya laki-laki, banyak juga perempuan ikut lomba bela diri. Banyak manfaat belajar bela diri. Salah satunya untuk melindungi diri. Bagi perempuan, belajar bela diri merupakan solusi efektif. Terutama untuk mencegah kasus pelecehan.

Selanjutnya, bagi kalangan orang tua yang memiliki anak remaja dan belum menikah, solusi yang kami tawarkan agar pelecehan seksual tidak terjadi pada anak, yaitu orang tua bisa memosisikan diri sebagai teman. Langkah sebagai teman dari anak, yaitu selalu memberikan perhatian di tengah kesibukan pekerjaan. Menjadikan diri sebagai tempat sandaran curhat anak. Memberikan solusi serta motivasi perubahan demi masa depan anak.

Itulah mungkin beberapa solusi yang bisa kami tawarkan dalam maraknya kasus pelecehan. Tidak seorang pun sanak keluarga yang menginginkan bagian keluarganya ternodai kasus pelecehan seksual. Karena itu, budaya mencegah lebih baik daripada mengobati juga bisa diterapkan dalam persoalan ini. (*)

*) Santri Asrama Nurul Qoni’ Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.