Ngaji Ngabdi Rabi

Oleh: Wardatul Widadt*

NGAJI ngabdi rabi. Apakah Anda mengenal semboyan kebanggaan ini? Ya, rupanya semboyan ini tidak lagi asing bagi Anda yang kalangan santri. Semboyan ini merupakan semboyan dalam bentuk pemberian motivasi dan semangat tanpa keluh kesah.

Lalu, apakah Anda mengenal siapa santri? Santri adalah seseorang yang sedang mengenyam ilmu agama Islam di lingkup pondok pesantren. Kembali lagi pada semboyan ”ngaji ngabdi rabi”. Pada dasarnya, semboyan ini memiliki kandungan pemikiran yang tidak bisa dianggap biasa-biasa saja. Berikut kandungan tiga kata sebagai berikut:

Ngaji

Ngaji disebut dengan proses belajar mengajar ilmu agama khususnya agama Islam. Di mana, proses belajar adalah suatu kewajiban yang diemban oleh seluruh umat manusia baik laki-laki maupun perempuan. Dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang termaktub dalam kitab hadis Arbain Nawawi, ”Tholabul Ilmi faridatuminal muslimin wal muslimat” yang artinya menuntut ilmu hukumnya wajib bagi muslim laki-laki maupun perempuan. Pelajaran ilmu agama yang dipelajari terutama mengaji dan mengkaji Alquran, hadis, dan beberapa ilmu nahwu shorof. Sebab, begitu banyaknya ilmu-ilmu yang Allah hidayahkan kepada umat Rasulullah SAW.

Selain ilmu-ilmu akademis yang dipelajari oleh santri, santri juga diajarkan ilmu bersosial atau ilmu berorganisasi dan beberapa keilmuan yang nantinya diharapkan dapat membawa nama harum pesantrennya di tengah-tengah kegelapan. Setelah masalah keilmuan sudah matang, santri diajarkan untuk mengabdi.

Baca Juga :  Pembiayaan Ultra Mikro, Peran dan Pelaksanaan di KPPN

Ngabdi

Ngabdi adalah bentuk ketakdiman seorang santri kepada kiai atau gurunya. Rasa takdim seorang santri kepada kiai menjadi bentuk tolok ukur tingkat keimanan pada diri seorang santri. Santri yang takdim pada kiai, perasaan hatinya selalu mengutamakan kebutuhan dan keperluan yang dibutuhkan kiai dibandingkan kebutuhan pribadinya.

Santri yang benar-benar takdim pada kiai, dalam keadaan apa pun ia akan siap siaga melayani kiai. Karena pada dasarnya, santri adalah umat manusia yang sami’na wa atho’na. Yang didasarkan pada pengharapan rida kiai. Sebagaimana maqalah ”al-ilmu bita’alum wal barokah bil khidmah”. Ilmu didapatkan dengan belajar dan keberkahan didapatkan melalui khidmah.

Pengabdian yang ditujukan kepada kiai akan berbeda dengan pengabdian pembantu terhadap majikan. Pengabdian pada majikan memiliki tujuan yang mengarah pada dunia atau harta, yang nanti dapat menghasilkan upah atau ujrah. Sedangkan pengabdian yang ditujukan terhadap kiai, yang mengarah pada kehidupan akhirat. Di mana setiap pengabdiannya akan membuahkan hasil ilmu manfaat dan barokah.

Baca Juga :  Beda Pendapat Itu Hal yang Lumrah

Banyak sekali kisah ulama besar yang di masa mondoknya, mengabdikan sepenuh jiwa dan raganya untuk kiai. Setiap santri yang menjadi abdi kiai, akan memiliki kedekatan emosional yang tinggi dan kedekatan fisik yang alami. Di mana secara tidak langsung, santri diajarkan suatu ilmu yang tidak didapatkan pada saat pengajian kitab. Santri dapat meniru langsung kebaikan tingkah laku seorang kiai.

Rabi

Setelah poin pengabdian, dilanjutkan dengan poin ketiga yakni rabi. Rabi adalah bahasa Jawa dari nikah atau kawin. Masa pernikahan ini masa yang ditunggu-tunggu oleh jiwa seorang santri setelah begitu panjangnya masa ber-tolabul ilmi.

Menemukan jodoh yang diidam-idamkan yang tertoreh dalam doa-doa malam panjangnya. Seorang santri yang benar-benar diakui santri senior dan menjadi cikal bakal penerus agama Islam. Di mana masa pernikahan ini santri memang harus dituntut wajib dalam mengaplikasikan apa yang telah didapatkan di pondok pesantren.

Adanya semboyan kebanggaan santri, setidaknya dapat memotivasi generasi santri masa kini untuk mewujudkan generasi santri yang berkualitas. (*)

*) Santriwati dan Mahasiswi Prodi TBIN, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.