alexametrics
23.1 C
Banyuwangi
Tuesday, June 28, 2022

Silaturahmi (Merapuh) di Era Digital

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilahaillallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil-hamd.

SEBENTAR lagi, takbir dan tahmid akan terdengar berkumandang dan sahut menyahut di seantero negeri. Untaian kalimat-kalimat suci dan puji-pujian kepada sang pencipta mengalun syahdu. Merdu. Sejuk. Menenteramkan dan menelusuri ruang-ruang hati.

Telah menjadi tradisi di bangsa ini, Lebaran dirayakan dengan saling bermaafan, dan bersilaturahmi ke rumah keluarga atau pun teman dan handai tolan. Semua bergembira dan bersuka cita. Dan untaian doa sambung menyambung terdengar dan terbaca: semoga lara tak lagi ada; gegap gempita yang sederhana terasa membuncah di dada. 

Hari kemenangan itu akan segera tiba. Momen ini sering dimaknai sebagai momen mempererat silaturahmi antara sesama umat manusia. Momen yang menyatukan lagi kepingan-kepingan hati yang terserpih dan terluka akibat khilaf. Momentum berkumpulnya insan-insan yang saling bermaafan.

Bersilaturahmi tatap muka yang penuh dengan makna itu, pada era hari ini dibuat berbeda oleh kecanggihan teknologi digital. Ekspresi jiwa saling bersentuhan bisa hanya diwakili dengan sebuah emoji. Kadang tak perlu menunggu takbir tiba, banyak orang larut dalam rangkaian doa serta permintaan membersihkan hati lewat teknologi hari ini.

Dunia teknologi digital dan perkembangan teknologi informasi telah membawa kita kepada dunia tanpa batas. Semua dapat dijangkau dengan satu atau dua sentuhan jari. Kalau dahulu sepuluh jari sebagai bentuk permintaan maaf, kini cukup emoji mewakilinya, semua memenuhi ruang-ruang aplikasi.

Kiranya, era digital saat ini sudah menjadi keniscayaan. Semua berubah. Bentuk silaturahmi berubah. Dunia maya selama ini perlahan namun pasti menggantikan dunia nyata. Kerap kita temui silaturahmi terucap tanpa wujud nyata. Teknologi telah memudahkan kita bertemu muka dalam platform digital. Semua tersampaikan dengan cepat tak menunggu lama. Untaian kata-kata mutiara meluncur langsung ke tangan-tangan yang dituju. Kita pun akan mendapatkan pesan seperti ini dalam jumlah besar, sehingga kewalahan untuk membalasnya satu per satu dan ini akan memakan waktu. Beragam jenis status bermunculan mulai dari yang biasa saja sampai yang puitis, bahkan kocak. Detik dan saat itu juga. Baik itu dari teman atau handai tolan.

Kini kebudayaan digital seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap lorong kehidupan manusia ter-digitalisasi hingga menciptakan ruang penuh keterasingan diri dari realitas sosial. Kehadiran gadget super cerdas seperti menciptakan kebudayaan berkomunikasi baru pada sebagian masyarakat melek informasi. Tak hanya itu, merebaknya jejaring sosial juga menginisiasi gaya manusia sekarang ketika mencari informasi untuk menambah wawasan. Sebuah revolusi peradaban manusia gelombang ketiga dengan kecepatan sangat tinggi.

Kehadiran gadget menimbulkan istilah ”Generasi Menunduk”. Di tempat umum banyak orang lebih mementingkan gadget daripada bersosialisasi dengan lingkungannya. Berkomunikasi dan bertukar konten pesan via jejaring media sosial, telah begitu sangat merasuk di kehidupan keseharian. Lupa membawa gadget sehingga menyulitkan berkomunikasi kini lebih mengganggu, dibanding ketinggalan dompet atau perlengkapan surat berkendara. Definisi dan makna teman, kenalan, bahkan komplotan, kini tak sama lagi. Sehingga, memiliki jumlah fans, friends, followers yang berlimpah secara statistik online, atau menjadi bagian/anggota suatu flock, menjadikan lebih bergengsi.

Inilah sebuah dunia baru karya manusia. Dunia cyber. Sebuah kebudayaan cyber. Kebudayaan digital. Sebuah kebudayaan yang menciptakan suatu wadah baru masyarakat untuk mencari atau memberi informasi dan saling berkomunikasi antarkota, pulau, negara, hingga seluruh dunia. Eksistensi manusia cyber bukan lagi diwakili oleh tubuh secara nyata. Di dalamnya manusia adalah teks, manusia adalah gambar, ia adalah suara, video. Kelompok sosial adalah grup WA. Perasaan suka bisa diwakili dengan like, bila benci tinggal blokir. Semakin banyak ia diwakili oleh organ-organ tersebut, semakin eksislah ia dalam dunia  cyber.

Manusia sekarang menemukan dirinya melalui hal itu yang entah disadari atau pun tidak hal tersebut merepresentasikan identitas manusia cyber. Ketika di dalam dunia nyata manusia tidak bisa memperoleh eksistensi seperti yang dikehendaki, eksistensi masih bisa didapat di dunia cyber. Di dalamnya, manusia bisa hidup gagah dengan idenya, dengan alter-ego, dengan hasratnya, dan dengan imajinasinya.

Fenomena digital sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Digitalisasi bukan lagi sebagai pilihan dan bukan pula keharusan, melainkan kenyataan yang mau tidak mau harus diterima. Mungkin dunia baru ini efektif dari segi jarak dan waktu, tetapi ada yang mekanis dan instan sehingga tidak menimbulkan sentuhan pribadi.

Dunia memang terus bergerak dalam perubahan, namun ada juga yang tetap. Tidak berubah. Yakni silaturahmi tatap muka. Tidak bisa dipungkiri, hingga saat ini, silaturahmi tatap muka adalah komunikasi yang sempurna karena tanpa media perantara dan seluruh panca indera para pihak berfungsi dan ini belum bisa digantikan dengan media digital yang paling canggih sekalipun.

Di dalam silaturahmi tatap muka ada sentuhan pribadi yang berperan. Ada kehadiran rasa seutuhnya. Ada tatap mata yang sempurna. Ada aroma nan nir-maya. Hingga  Nabiyullah SAW pernah berpesan akan pentingnya silaturahmi tatap muka ini. ”Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin lain kemudian mengucapkan salam kepadanya dan mengambil tangannya lalu menjabatnya, maka bergugurlah dosanya seperti dedaunan berguguran,” HR Hudzaifah Ibnu Yaman RA.

Hanya syukur yang ada, bahwa di bumi pertiwi ini masih dihuni banyak masyarakat dengan narasi kultural yang menyisakan kerinduan terhadap identitas kultural aslinya, yang tidak begitu ngeh dengan kebudayaan baru ini. Bersyukur, bahwa kecanggihan teknologi tak seharusnya mengubah dirinya menjadi seseorang yang sedang berpura-pura. Tetap menjadi pribadi seutuhnya, apa adanya, dan senantiasa bersedia memaafkan kesalahan orang lain kepada dirinya. Bersyukur, bahwa masyarakat kita masih menyisakan warisan falsafah hidup lokal, yang mengimplementasikan etika dan tata krama bermasyarakat secara baik, dan menyambung silaturahmi dengan teman, kerabat, sanak-saudara adalah jauh lebih penting.

Barangkali tidak seorang pun yang luput dari salah, karena manusia tempatnya khilaf dan lupa. Pada akhirnya, hanya kepada Allah yang Maha Pemurah lagi Penyayang kita berserah diri dari kekhilafan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilahaillallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil-hamd.

Selamat berlebaran.(*)

 *) Ketua DPD Partai NasDem Banyuwangi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilahaillallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil-hamd.

SEBENTAR lagi, takbir dan tahmid akan terdengar berkumandang dan sahut menyahut di seantero negeri. Untaian kalimat-kalimat suci dan puji-pujian kepada sang pencipta mengalun syahdu. Merdu. Sejuk. Menenteramkan dan menelusuri ruang-ruang hati.

Telah menjadi tradisi di bangsa ini, Lebaran dirayakan dengan saling bermaafan, dan bersilaturahmi ke rumah keluarga atau pun teman dan handai tolan. Semua bergembira dan bersuka cita. Dan untaian doa sambung menyambung terdengar dan terbaca: semoga lara tak lagi ada; gegap gempita yang sederhana terasa membuncah di dada. 

Hari kemenangan itu akan segera tiba. Momen ini sering dimaknai sebagai momen mempererat silaturahmi antara sesama umat manusia. Momen yang menyatukan lagi kepingan-kepingan hati yang terserpih dan terluka akibat khilaf. Momentum berkumpulnya insan-insan yang saling bermaafan.

Bersilaturahmi tatap muka yang penuh dengan makna itu, pada era hari ini dibuat berbeda oleh kecanggihan teknologi digital. Ekspresi jiwa saling bersentuhan bisa hanya diwakili dengan sebuah emoji. Kadang tak perlu menunggu takbir tiba, banyak orang larut dalam rangkaian doa serta permintaan membersihkan hati lewat teknologi hari ini.

Dunia teknologi digital dan perkembangan teknologi informasi telah membawa kita kepada dunia tanpa batas. Semua dapat dijangkau dengan satu atau dua sentuhan jari. Kalau dahulu sepuluh jari sebagai bentuk permintaan maaf, kini cukup emoji mewakilinya, semua memenuhi ruang-ruang aplikasi.

Kiranya, era digital saat ini sudah menjadi keniscayaan. Semua berubah. Bentuk silaturahmi berubah. Dunia maya selama ini perlahan namun pasti menggantikan dunia nyata. Kerap kita temui silaturahmi terucap tanpa wujud nyata. Teknologi telah memudahkan kita bertemu muka dalam platform digital. Semua tersampaikan dengan cepat tak menunggu lama. Untaian kata-kata mutiara meluncur langsung ke tangan-tangan yang dituju. Kita pun akan mendapatkan pesan seperti ini dalam jumlah besar, sehingga kewalahan untuk membalasnya satu per satu dan ini akan memakan waktu. Beragam jenis status bermunculan mulai dari yang biasa saja sampai yang puitis, bahkan kocak. Detik dan saat itu juga. Baik itu dari teman atau handai tolan.

Kini kebudayaan digital seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap lorong kehidupan manusia ter-digitalisasi hingga menciptakan ruang penuh keterasingan diri dari realitas sosial. Kehadiran gadget super cerdas seperti menciptakan kebudayaan berkomunikasi baru pada sebagian masyarakat melek informasi. Tak hanya itu, merebaknya jejaring sosial juga menginisiasi gaya manusia sekarang ketika mencari informasi untuk menambah wawasan. Sebuah revolusi peradaban manusia gelombang ketiga dengan kecepatan sangat tinggi.

Kehadiran gadget menimbulkan istilah ”Generasi Menunduk”. Di tempat umum banyak orang lebih mementingkan gadget daripada bersosialisasi dengan lingkungannya. Berkomunikasi dan bertukar konten pesan via jejaring media sosial, telah begitu sangat merasuk di kehidupan keseharian. Lupa membawa gadget sehingga menyulitkan berkomunikasi kini lebih mengganggu, dibanding ketinggalan dompet atau perlengkapan surat berkendara. Definisi dan makna teman, kenalan, bahkan komplotan, kini tak sama lagi. Sehingga, memiliki jumlah fans, friends, followers yang berlimpah secara statistik online, atau menjadi bagian/anggota suatu flock, menjadikan lebih bergengsi.

Inilah sebuah dunia baru karya manusia. Dunia cyber. Sebuah kebudayaan cyber. Kebudayaan digital. Sebuah kebudayaan yang menciptakan suatu wadah baru masyarakat untuk mencari atau memberi informasi dan saling berkomunikasi antarkota, pulau, negara, hingga seluruh dunia. Eksistensi manusia cyber bukan lagi diwakili oleh tubuh secara nyata. Di dalamnya manusia adalah teks, manusia adalah gambar, ia adalah suara, video. Kelompok sosial adalah grup WA. Perasaan suka bisa diwakili dengan like, bila benci tinggal blokir. Semakin banyak ia diwakili oleh organ-organ tersebut, semakin eksislah ia dalam dunia  cyber.

Manusia sekarang menemukan dirinya melalui hal itu yang entah disadari atau pun tidak hal tersebut merepresentasikan identitas manusia cyber. Ketika di dalam dunia nyata manusia tidak bisa memperoleh eksistensi seperti yang dikehendaki, eksistensi masih bisa didapat di dunia cyber. Di dalamnya, manusia bisa hidup gagah dengan idenya, dengan alter-ego, dengan hasratnya, dan dengan imajinasinya.

Fenomena digital sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Digitalisasi bukan lagi sebagai pilihan dan bukan pula keharusan, melainkan kenyataan yang mau tidak mau harus diterima. Mungkin dunia baru ini efektif dari segi jarak dan waktu, tetapi ada yang mekanis dan instan sehingga tidak menimbulkan sentuhan pribadi.

Dunia memang terus bergerak dalam perubahan, namun ada juga yang tetap. Tidak berubah. Yakni silaturahmi tatap muka. Tidak bisa dipungkiri, hingga saat ini, silaturahmi tatap muka adalah komunikasi yang sempurna karena tanpa media perantara dan seluruh panca indera para pihak berfungsi dan ini belum bisa digantikan dengan media digital yang paling canggih sekalipun.

Di dalam silaturahmi tatap muka ada sentuhan pribadi yang berperan. Ada kehadiran rasa seutuhnya. Ada tatap mata yang sempurna. Ada aroma nan nir-maya. Hingga  Nabiyullah SAW pernah berpesan akan pentingnya silaturahmi tatap muka ini. ”Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin lain kemudian mengucapkan salam kepadanya dan mengambil tangannya lalu menjabatnya, maka bergugurlah dosanya seperti dedaunan berguguran,” HR Hudzaifah Ibnu Yaman RA.

Hanya syukur yang ada, bahwa di bumi pertiwi ini masih dihuni banyak masyarakat dengan narasi kultural yang menyisakan kerinduan terhadap identitas kultural aslinya, yang tidak begitu ngeh dengan kebudayaan baru ini. Bersyukur, bahwa kecanggihan teknologi tak seharusnya mengubah dirinya menjadi seseorang yang sedang berpura-pura. Tetap menjadi pribadi seutuhnya, apa adanya, dan senantiasa bersedia memaafkan kesalahan orang lain kepada dirinya. Bersyukur, bahwa masyarakat kita masih menyisakan warisan falsafah hidup lokal, yang mengimplementasikan etika dan tata krama bermasyarakat secara baik, dan menyambung silaturahmi dengan teman, kerabat, sanak-saudara adalah jauh lebih penting.

Barangkali tidak seorang pun yang luput dari salah, karena manusia tempatnya khilaf dan lupa. Pada akhirnya, hanya kepada Allah yang Maha Pemurah lagi Penyayang kita berserah diri dari kekhilafan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilahaillallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil-hamd.

Selamat berlebaran.(*)

 *) Ketua DPD Partai NasDem Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/