Marak Kasus Kekerasan Seksual, Ancaman Ruang Aman bagi Anak

Oleh: Agus Dani Triswanto*

KASUS kekerasan seksual yang dialami anak – anak seakan tidak pernah surut. Tahun ini boleh dibilang sebagai masa yang kelam buat anak – anak. Kasus kekerasan seksual terhadap anak begitu marak dengan korban yang menjadi mangsa para predator seks semakin banyak. Kasus kekerasan seksual terhadap anak pun menjadi berita nan memilukan sekaligus membuat kita geram dibuatnya.

Ya, saat ini masalah sosial yang paling krusial adalah mengenai kekerasan seksual yang terjadi terhadap anak. Apalagi korban kekerasan banyak terjadi pada anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak. Anak yang seharusnya menghabiskan waktu untuk belajar, memperoleh ilmu, justru harus menghadapi pengalaman kelam di masa hidupnya, yang paling mengerikan dari kejadian kekerasan seksual selama ini ialah ruang kejadian dan pelakunya, yaitu orang-orang yang seharusnya melindungi justru menjadi pelaku, dan peristiwa itu terjadi di dalam ruang saat mereka menuntut ilmu.

Seperti yang ramai jadi perbincangan saat ini, di lingkungan lembaga Pondok Pesantren seorang oknum pengasuh ponpes diduga tega mencabuli beberapa santrinya sendiri. Selain di lingkungan lembaga nonformal seperti Ponpes, masih di dunia lembaga pendidikan tepatnya seorang guru Sekolah Dasar (SD) juga diduga mencabuli siswanya sendiri. Kedua peristiwa bejat itu dilakukan di lingkungan pondok pesantren juga di lingkungan sekolah.

Baca Juga :  Redefinisi Pahlawan Masa Kini

Bejat, kata yang tepat bagi mereka yang telah tega merusak masa depan anak bangsa. Sebagai tenaga pendidik mereka seharusnya mengajarkan hal – hal yang baik dan menjadi teladan moral, bukan malah menjadikan siswa atau santri sebagai korban perilaku buruknya. Mereka sejatinya penjahat seks berkedok tenaga pendidik, mereka adalah sejahat-jahatnya orang. Melihat fenomena yang terjadi, di mana pelecehan seksual terjadi di lingkup pendidikan. Baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan pesantren. Lantas masih adakah ruang aman bagi anak?

Bila hanya untuk mengenyam pendidikan saja, ruang mereka sudah tidak aman lagi. Tentu hal ini harus menjadi perhatian bersama, mengingat mulai banyak kasus predator seks baru bermunculan. Terlebih, terjadinya di lingkungan sekolah dan pesantren, yang sebelumnya kita anggap sebagai tempat teraman dan ternyaman. Hal ini membuat masyarakat khawatir akan keselamatan anak-anaknya.

Bukankah setiap orang terlebih anak-anak, mempunyai hak untuk merasa aman dan nyaman termasuk dalam menerima pendidikan. Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 28B ayat 2 yang berbunyi: Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Itu artinya anak-anak dilindungi oleh negara.

Muncul sebuah pertanyaan besar, adakah ruang aman bagi anak-anak kita? Di dalam lembaga pendidikan saja masih belum terjamin keamanannya. Bagaimana kita mau melepaskan anak untuk menuntut ilmu? Di saat yang sama, kita mendengar kisah kekerasan seksual dilakukan oleh oknum guru mereka sendiri di sekolah atau pun oleh oknum pengasuh pondok.

Baca Juga :  Jangan Biarkan Masa Remaja Menjadi Masa Kekacauan

Kerapnya kasus pelecehan seksual di lingkungan lembaga pendidikan formal maupun nonformal seperti pondok pesantren, menandakan perlu adanya perhatian khusus. Supaya kejadian serupa tidak terulang kembali. Para predator kekerasan seksual perlu diberikan sanksi tegas untuk memberikan efek jera. Serta menjadi perhatian bagi masyarakat pada umumnya.

Hukuman penjara saja tidak cukup untuk memberi jera. Penjahat seks terlebih terhadap anak, ada kecenderungan mengulangi perbuatannya jika ada kesempatan. Karena itu, untuk menghindari kembali jatuhnya beberapa korban baru, hukuman kebiri harus segera ditimpakan. Melihat hukuman kebiri sudah diatur dalam hukum positif.

Tata cara pelaksanaan hukum kebiri pun juga sudah diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020, yang sudah berlaku mulai Tanggal 7 Desember 2020. Aturan dibuat bukan sekadar Pajangan. Karena itu, hukum kebiri kimia kepada para kejahatan seks terhadap anak harus segera dilaksanakan. (*)

*) Pegiat di Forum Belajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (FBM2B) Banyuwangi.