Kenapa Aku Harus Malu Ngaku Orang Pulau?

Oleh: Imam Wahyudi*

SUATU saat, ada seseorang dengan tiba-tiba datang menghampiri. Seraya bertanya, “Kamu berasal dari mana?”

Aku dengan sejuta keheranan tak menjawab, bergeming dengan sesuatu yang penuh sesak dalam pikiranku. Aku yang pada saat ini sedang berproses menuju kesuksesanku di tempat orang lain, tidak di tempat kelahiranku.

Kadang aku merasa bangga dengan apa yang aku capai saat ini. Aku punya banyak harta, aku dihormati, aku punya banyak pengaruh di tempat yang aku tempati saat ini. Aku sudah melupakan tempat kelahiranku, dan aku tak bisa berkembang maju di sana. Tempat yang dulu pernah aku rindu sejenak.

Tapi itu dulu. Sekarang aku lebih cocok menjalani kehidupanku di tempat yang aku jajaki saat ini, tidak di tempat kelahiranku.

Baca Juga :  Dunia Sedang Sakit

Aku benci tempat kelahiranku. Tempat yang hanya membuatku jenuh. Aku lebih senang hidup di tempat lain yang lebih nyaman bagiku. Ketika ada orang yang bertanya padaku, “Aku berasal dari mana, aku akan menjawab dengan tegas, aku bukan dari kepulauan”.

Aku hidup di sana hanyalah kodrat Tuhan yang digariskan padaku. Seandainya aku bisa memilih akan dilahirkan di mana, aku lebih baik memilih tempat yang aku senangi. Yakni tempat perantauan. Sekali lagi, ini adalah kodrat Tuhan yang diberikan padaku. Aku benci tempat kelahiranku, aku benci pulauku.

Kalau aku ditanya kedua kali, aku berasal dari mana? Aku tidak akan ngaku aku dari kepulauan. Aku benci tempat kelahiranku!

Begitulah gambaran sebagian orang kepulauan. Hal yang sering tertanam dalam dirinya rasa malu dengan tempat kelahirannya. Fenomena ini sering terjadi kepada orang yang memilih hidupnya merantau. Baik yang merantau untuk bekerja, maupun merantau untuk sekadar mengejar cita-cita. Jika di antara mereka ditanya, di mana mereka dilahirkan, sebagian dari mereka menjawab “Saya dari Bali, Jakarta, Kalimantan, dan lain sebagainya.” Padahal mereka mengawali kehidupan dunianya dari kepulauan.

Baca Juga :  Korona dan Psikologi Belajar Siswa

Sungguh fenomena yang miris. Kurangnya kecintaan dan kepedulian terhadap tempat kelahiran, menjadi salah satu alasan mengapa mereka tidak mau mengaku bahwa dirinya berasal dari kepulauan. Maka seseorang yang mempunyai kecintaan dan kepedulian yang tinggi terhadap tempat kelahiran, tidak menjadikan alasan apa pun untuk tidak menyatakan bahwa dirinya berasal dari sana. (*)

 *) Mahasiswa Universitas Ibrahimy, Sukorejo, Situbondo.