28.8 C
Banyuwangi
Saturday, February 4, 2023

Oleh: Salman Akif Faylasuf *)

Menghijaunya Tanah Arab Benarkah Petanda Hari Kiamat?

Jika dua tahun sebelumnya (2019-2020) dunia khususnya umat Islam digemparkan dengan di tutupnya Arab Saudi, Makkah tak menerima Haji akibat Virus Corona, maka akhir memasuki awal Tahun 2023 publik di gegerkan dengan beredarnya video di Arab Saudi pegunungan yang berumput hijau. Pegunungan di wilayah Makkah yang biasanya kering dan gersang berubah warna menjadi hijau subur setelah hujan deras turun di wilayah itu dalam beberapa pekan terakhir.

Curah hujan tinggi di Arab Saudi tercatat sejak Desember 2022. Curah hujan dengan kecepatan yang sama dan hampir terus menerus terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Curah hujan yang melimpah ini membuat sejumlah wilayah, terutama di wilayah barat Arab Saudi, tertutup dengan tanaman (rumput) hijau.

Akibat dengan peristiwa kejadian alam ini, tak sedikit manusia utamanya umat Islam yang bertanya-mempertayakan “apakah ini sebuah peringatan dan petanda hari kiamat?” Penulis teringat dengan hadits yang di riwayat oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda:

لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا

Artinya: Kiamat tidak akan datang sampai uang berlimpah dan melimpah, sampai seorang pria keluar dengan zakat uangnya (mau mengeluarkan zakat), dan dia tidak menemukan siapa pun untuk menerimanya, dan sampai tanah Arab kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai yang mengalir.

Hemat penulis, Nabi menyebutkan tanda-tanda kiamat (hadits diatas itu) secara demikian berurutan. Kemudian, bumi Arab yang kembali menghijau tidak demikian merujuk kepada jazirah Arab khususnya, melainkan secara keseluruhan akan kembali menjadi subur. Dalam hal ini, meski secara umum kita ketahui iklim tanah Arab gersang tandus.

Syahdan, kalau kita telisik, dalam al-Qur’an juz Amma ditemukan 27 ayat dalam 9 surah yang membahas tanda-tanda kiamat. Tanda itu adalah bumi diguncang dan memuntahkan isinya, gunung-gunung hancur, laut mendidih dan meluap, matahari padam, bintang-bintang jatuh berserakan dan langit dilenyapkan. Peristiwa ini sudah banyak ditemukan penjelasannya secara ilmiah (bisa terjadi kapan saja).

Alih-alih al-Qur’an sudah banyak menjelaskannya (sebagian ulama mengatakan kiamat terjadi pada hari Jumat setelah subuh), namun soal tahun tetap saja tidak dapat diprediksi oleh ilmu pengetahuan sekalipun.

Tak ada yang satu pun makhluk yang tahu persis kapan waktu datangnya kiamat, melainkan hanya Allah swt. yang Maha Mengetahui. Berkali-kali Allah swt. menjelaskan bahwa pengetahuan tentang hari kiamat hanya ada disisi-Nya. Berkali juga manusia saling mempertanyakan waktu kedatangnnya. Terutama orang yang tidak mengakui Islam sebagai agama mereka (bahkan mereka yang tidak menganut agama). Mereka hanya menerima dan membenarkan apa yang bisa diterima oleh akal mereka, serta dibuktikan secara empiris.

Allah swt. berfirman dalam surah Muhammad:

فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاالسَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً فَقَدْجَآءَ اَشْرَاطُهَا فَاَنّٰى لَهُمْ اِذَاجَآءَتْهُمْ ذِكْرٰٮهُمْ

Baca Juga :  Karya Sastra dan Celah Pengembangan Moderasi Beragama

Artinya: “Maka apa lagi yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat, yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka apa gunanya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila (hari Kiamat) itu sudah datang?” (QS. Muhammad [47]: 18).

Masih tentang menghijaunya tanah Arab. Pertanyaannya adalah apakah benar baru pertama kali Arab Saudi mengalami padang rumput hijau dalam sejarah? Kita ketahui bersama, runtuhnya Romawi dan Negara Barat, kemajuan teknologi beralih ke Timur Tengah. Setelah tahun 700 M, kebudayaan Islam yang menyumbang hasil-hasil kebudayaannya kepada dunia. Teknologi untuk mengolah lahan pertanian daerah jajahan pun tidak mengindahkan aspek-aspek konservasi tanah.

Produktivitas lahan yang awalnya tinggi, secara perlahan menurun karena proses erosi ribuan tahun. Masalahanya adalah pertanian intensif dan penggembalaan didaerah berbukit, juga dilakukan didaerah kolonisasinya. Saat itu, Romawi sangat bertentangan dengan Yaman sampai bendungan Ma’rib tidak lagi keurus dan akhirnya hancur ditimpa banjir.

Arab Saudi atau Jazirah Arab adalah tempat lahirnya agama Islam dan kemudian menjadi pusat Islam, merupakan pusat dari peradaban dan perkembangan Islam. Kebudayaan Islam muncul dengan menyumbangkan hasil-hasil teknologi dan ilmu pengetahuannya yang jauh lebih rasional dan ilmiah dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan sebelumnya.

Tanah jazirah Arab, yaitu Arabia Felix, yaitu negri Yaman, Tanahnya subur menghijau atau negeri bahagia dan sentosa serta dijadikan tanah produktif sejak beribu tahun yang silam dan memiliki kota-kota maupun perkampungan yang ramai dihuni. Mereka menggunakan patokan bulan dalam bercocok tanam.

Keterpencilan tanah Arab karena faktor alam telah memberi petunjuk kepada kita. Mengapa kemurniaan turunan Smith (Arab) terpelihara dan karakteristik mereka terhindar dari pengaruh unsur-unsur asing. Tanah Arab di diami oleh dua kelompok bangsa Arab, yaitu bangsa Arab badawi (kampung) dan bangsa Arab kota.

Bangsa Arab badawi adalah mereka yang tinggal di padang pasir. Mereka hidup sebagai pengembala yang gemar berperang satu sama lain suka saling menyerbu. Pola hidup mereka dari generasi kegenerasi sampai abad ke XIX M masih saja tetap seperti abad ke VI, yakni belum muncul adanya perubahan pola kehidupan yang berarti.

Sedangkan, bangsa Arab penduduk kota, meraka adalah orang-orang yang tinggal dikota-kota yang aktif dengan pertanian dan perdangangan, sehingga mereka berhasil meraih kekayaan dan keuntungan besar. Salah satu oang Eropa pertama yang mengenal keadaan negri Arab seperti ini dan menggambarkannya secara mendetail adalah seorang pengembara Inggris yang bernama Palgrave telah berkelana di Wilayah Jazirah pada tahun 1826 M. Ia menggambarkan bahwa negri Nejed merupakan wilayah dataran rendah tandus yang luas dengan Riyadh sebagai ibu kotanya.

Namun terlepas dari itu semua, sebenarnya, satu aspek penting perekonomian Arab pra-Islam adalah pertanian. Sejarah mengatakan, 200 tahun sebelum kenabian Muhammad, masyarakat Arab sudah mengenal peralatan pertanian semi-modern seperti, alat bajak, cangkul, dan tongkat kayu untuk menanam.

Baca Juga :  Penduduk Lansia, Cermin Beban dan Capaian Prestasi

Penggunaan hewan ternak seperti unta, keledai, dan sapi jantan sebagai penarik bajak dan garu serta pembawa tempat air juga sudah dikenal. Mereka juga telah mampu membuat bendungan raksasa yang dinamakan al-Ma’arib. Namun setelah bendungan tersebut rusak dan tidak berfungsi era kesejahteraan mereka juga perlahan-lahan hancur.

Demikian halnya dengan sistem irigasi. Mereka mempraktikannya pada saat itu. Untuk menyuburkan tanah,masyarakat Arab pra-Islam telah menggunakan apa yang sekarang disebut pupuk alami, seperti pupuk kandang, kotoran manusia, dan binatang tanah tertentu.

Tiga sistem yang saat itu dipakai oleh pemilik ladang atau sawah dalam mengelola pertanian pada saat itu. Pertama, mereka menggunakan sistem sewa menyewa dengan emas, logam, gandum, atau produk pertanian sebagai alat pembayarannya. Kedua, sistem bagi hasil produk, misalnya separuh untuk pemilik dan separuh untuk penggarap, dengan bibit dan ongkos penggarapan dari pemilik. Ketiga, sistem pendigo, yaitu seluruh modal datang dari pemilik, sementara pengairan, pemupukan, dan perawatannya dikerjakan oleh penggarap.

Dari sini jelas, hemat penulis, jika mengacu kepada pendapat sejarah bahwa aspek terpenting dari Arab pra-Islam adalah pertanian (otomatis dulu mengalami hijau rumput bukan hanya sekarang). Dengan argumen, jauh sebelum kenabian Nabi Muhammad masyarakat Arab sudah mengenal dan mengerti peralatan-peralatan pertanian seperti, alat bajak, cangkul, dan tongkat kayu untuk menanam.

Melansir dari Kompas.com, dikutip dari Ancient Origins, (2/9/2021), penggalian arkeologi pada 2021 telah mengungkapkan setidaknya 5 ekspansi hominini ke semenanjung mulai sekitar 400.000 tahun hingga 55.000 tahun yang lalu. Masing-masing bertepatan dengan munculnya curah hujan yang menyebabkan tumbuhan bermekaran atau disebut “jendela hijau”. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya jazirah Arab dulu tidak gersang.

Bahkan, curah hujan yang intens yang menyebabkan pembentukan ribuan danau, kolam, oasis, lahan basah, dan sungai. Sumber air itu terletak berselang-seling melintasi semenanjung Arab yang sebagian besar berpasir. Di atasnya terbentuk jalur migrasi bagi manusia dan hewan, seperti kuda nil. Wilayah Nefud, misalnya, adalah padang rumput yang subur untuk jangka waktu sementara. Sedangkan saat ini menjadi salah satu tempat yang paling tidak layak huni di bumi.

Kondisi ini yang kemudian membuat ilmuwan lain takjub dan tidak menyangka bahwa dulunya jazirah Arab merupakan wilayah yang hijau yang berkebalikan dengan kondisi sekarang. “Luar biasa, setiap kali basah (hujan), orang-orang ada di sana. pekerjaan ini menempatkan Arab di peta global untuk prasejarah manusia,” ujar pemimpin proyek Prof. Michael Petraglia, dari Max Planck Institute for the Science of Human History, Jerman. Wallahu a’lam bisshawaab.

 

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

 

Jika dua tahun sebelumnya (2019-2020) dunia khususnya umat Islam digemparkan dengan di tutupnya Arab Saudi, Makkah tak menerima Haji akibat Virus Corona, maka akhir memasuki awal Tahun 2023 publik di gegerkan dengan beredarnya video di Arab Saudi pegunungan yang berumput hijau. Pegunungan di wilayah Makkah yang biasanya kering dan gersang berubah warna menjadi hijau subur setelah hujan deras turun di wilayah itu dalam beberapa pekan terakhir.

Curah hujan tinggi di Arab Saudi tercatat sejak Desember 2022. Curah hujan dengan kecepatan yang sama dan hampir terus menerus terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Curah hujan yang melimpah ini membuat sejumlah wilayah, terutama di wilayah barat Arab Saudi, tertutup dengan tanaman (rumput) hijau.

Akibat dengan peristiwa kejadian alam ini, tak sedikit manusia utamanya umat Islam yang bertanya-mempertayakan “apakah ini sebuah peringatan dan petanda hari kiamat?” Penulis teringat dengan hadits yang di riwayat oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda:

لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا

Artinya: Kiamat tidak akan datang sampai uang berlimpah dan melimpah, sampai seorang pria keluar dengan zakat uangnya (mau mengeluarkan zakat), dan dia tidak menemukan siapa pun untuk menerimanya, dan sampai tanah Arab kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai yang mengalir.

Hemat penulis, Nabi menyebutkan tanda-tanda kiamat (hadits diatas itu) secara demikian berurutan. Kemudian, bumi Arab yang kembali menghijau tidak demikian merujuk kepada jazirah Arab khususnya, melainkan secara keseluruhan akan kembali menjadi subur. Dalam hal ini, meski secara umum kita ketahui iklim tanah Arab gersang tandus.

Syahdan, kalau kita telisik, dalam al-Qur’an juz Amma ditemukan 27 ayat dalam 9 surah yang membahas tanda-tanda kiamat. Tanda itu adalah bumi diguncang dan memuntahkan isinya, gunung-gunung hancur, laut mendidih dan meluap, matahari padam, bintang-bintang jatuh berserakan dan langit dilenyapkan. Peristiwa ini sudah banyak ditemukan penjelasannya secara ilmiah (bisa terjadi kapan saja).

Alih-alih al-Qur’an sudah banyak menjelaskannya (sebagian ulama mengatakan kiamat terjadi pada hari Jumat setelah subuh), namun soal tahun tetap saja tidak dapat diprediksi oleh ilmu pengetahuan sekalipun.

Tak ada yang satu pun makhluk yang tahu persis kapan waktu datangnya kiamat, melainkan hanya Allah swt. yang Maha Mengetahui. Berkali-kali Allah swt. menjelaskan bahwa pengetahuan tentang hari kiamat hanya ada disisi-Nya. Berkali juga manusia saling mempertanyakan waktu kedatangnnya. Terutama orang yang tidak mengakui Islam sebagai agama mereka (bahkan mereka yang tidak menganut agama). Mereka hanya menerima dan membenarkan apa yang bisa diterima oleh akal mereka, serta dibuktikan secara empiris.

Allah swt. berfirman dalam surah Muhammad:

فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاالسَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً فَقَدْجَآءَ اَشْرَاطُهَا فَاَنّٰى لَهُمْ اِذَاجَآءَتْهُمْ ذِكْرٰٮهُمْ

Baca Juga :  Peran Pesantren sebagai Laboratorium Dakwah

Artinya: “Maka apa lagi yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat, yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka apa gunanya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila (hari Kiamat) itu sudah datang?” (QS. Muhammad [47]: 18).

Masih tentang menghijaunya tanah Arab. Pertanyaannya adalah apakah benar baru pertama kali Arab Saudi mengalami padang rumput hijau dalam sejarah? Kita ketahui bersama, runtuhnya Romawi dan Negara Barat, kemajuan teknologi beralih ke Timur Tengah. Setelah tahun 700 M, kebudayaan Islam yang menyumbang hasil-hasil kebudayaannya kepada dunia. Teknologi untuk mengolah lahan pertanian daerah jajahan pun tidak mengindahkan aspek-aspek konservasi tanah.

Produktivitas lahan yang awalnya tinggi, secara perlahan menurun karena proses erosi ribuan tahun. Masalahanya adalah pertanian intensif dan penggembalaan didaerah berbukit, juga dilakukan didaerah kolonisasinya. Saat itu, Romawi sangat bertentangan dengan Yaman sampai bendungan Ma’rib tidak lagi keurus dan akhirnya hancur ditimpa banjir.

Arab Saudi atau Jazirah Arab adalah tempat lahirnya agama Islam dan kemudian menjadi pusat Islam, merupakan pusat dari peradaban dan perkembangan Islam. Kebudayaan Islam muncul dengan menyumbangkan hasil-hasil teknologi dan ilmu pengetahuannya yang jauh lebih rasional dan ilmiah dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan sebelumnya.

Tanah jazirah Arab, yaitu Arabia Felix, yaitu negri Yaman, Tanahnya subur menghijau atau negeri bahagia dan sentosa serta dijadikan tanah produktif sejak beribu tahun yang silam dan memiliki kota-kota maupun perkampungan yang ramai dihuni. Mereka menggunakan patokan bulan dalam bercocok tanam.

Keterpencilan tanah Arab karena faktor alam telah memberi petunjuk kepada kita. Mengapa kemurniaan turunan Smith (Arab) terpelihara dan karakteristik mereka terhindar dari pengaruh unsur-unsur asing. Tanah Arab di diami oleh dua kelompok bangsa Arab, yaitu bangsa Arab badawi (kampung) dan bangsa Arab kota.

Bangsa Arab badawi adalah mereka yang tinggal di padang pasir. Mereka hidup sebagai pengembala yang gemar berperang satu sama lain suka saling menyerbu. Pola hidup mereka dari generasi kegenerasi sampai abad ke XIX M masih saja tetap seperti abad ke VI, yakni belum muncul adanya perubahan pola kehidupan yang berarti.

Sedangkan, bangsa Arab penduduk kota, meraka adalah orang-orang yang tinggal dikota-kota yang aktif dengan pertanian dan perdangangan, sehingga mereka berhasil meraih kekayaan dan keuntungan besar. Salah satu oang Eropa pertama yang mengenal keadaan negri Arab seperti ini dan menggambarkannya secara mendetail adalah seorang pengembara Inggris yang bernama Palgrave telah berkelana di Wilayah Jazirah pada tahun 1826 M. Ia menggambarkan bahwa negri Nejed merupakan wilayah dataran rendah tandus yang luas dengan Riyadh sebagai ibu kotanya.

Namun terlepas dari itu semua, sebenarnya, satu aspek penting perekonomian Arab pra-Islam adalah pertanian. Sejarah mengatakan, 200 tahun sebelum kenabian Muhammad, masyarakat Arab sudah mengenal peralatan pertanian semi-modern seperti, alat bajak, cangkul, dan tongkat kayu untuk menanam.

Baca Juga :  Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak-Anak

Penggunaan hewan ternak seperti unta, keledai, dan sapi jantan sebagai penarik bajak dan garu serta pembawa tempat air juga sudah dikenal. Mereka juga telah mampu membuat bendungan raksasa yang dinamakan al-Ma’arib. Namun setelah bendungan tersebut rusak dan tidak berfungsi era kesejahteraan mereka juga perlahan-lahan hancur.

Demikian halnya dengan sistem irigasi. Mereka mempraktikannya pada saat itu. Untuk menyuburkan tanah,masyarakat Arab pra-Islam telah menggunakan apa yang sekarang disebut pupuk alami, seperti pupuk kandang, kotoran manusia, dan binatang tanah tertentu.

Tiga sistem yang saat itu dipakai oleh pemilik ladang atau sawah dalam mengelola pertanian pada saat itu. Pertama, mereka menggunakan sistem sewa menyewa dengan emas, logam, gandum, atau produk pertanian sebagai alat pembayarannya. Kedua, sistem bagi hasil produk, misalnya separuh untuk pemilik dan separuh untuk penggarap, dengan bibit dan ongkos penggarapan dari pemilik. Ketiga, sistem pendigo, yaitu seluruh modal datang dari pemilik, sementara pengairan, pemupukan, dan perawatannya dikerjakan oleh penggarap.

Dari sini jelas, hemat penulis, jika mengacu kepada pendapat sejarah bahwa aspek terpenting dari Arab pra-Islam adalah pertanian (otomatis dulu mengalami hijau rumput bukan hanya sekarang). Dengan argumen, jauh sebelum kenabian Nabi Muhammad masyarakat Arab sudah mengenal dan mengerti peralatan-peralatan pertanian seperti, alat bajak, cangkul, dan tongkat kayu untuk menanam.

Melansir dari Kompas.com, dikutip dari Ancient Origins, (2/9/2021), penggalian arkeologi pada 2021 telah mengungkapkan setidaknya 5 ekspansi hominini ke semenanjung mulai sekitar 400.000 tahun hingga 55.000 tahun yang lalu. Masing-masing bertepatan dengan munculnya curah hujan yang menyebabkan tumbuhan bermekaran atau disebut “jendela hijau”. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya jazirah Arab dulu tidak gersang.

Bahkan, curah hujan yang intens yang menyebabkan pembentukan ribuan danau, kolam, oasis, lahan basah, dan sungai. Sumber air itu terletak berselang-seling melintasi semenanjung Arab yang sebagian besar berpasir. Di atasnya terbentuk jalur migrasi bagi manusia dan hewan, seperti kuda nil. Wilayah Nefud, misalnya, adalah padang rumput yang subur untuk jangka waktu sementara. Sedangkan saat ini menjadi salah satu tempat yang paling tidak layak huni di bumi.

Kondisi ini yang kemudian membuat ilmuwan lain takjub dan tidak menyangka bahwa dulunya jazirah Arab merupakan wilayah yang hijau yang berkebalikan dengan kondisi sekarang. “Luar biasa, setiap kali basah (hujan), orang-orang ada di sana. pekerjaan ini menempatkan Arab di peta global untuk prasejarah manusia,” ujar pemimpin proyek Prof. Michael Petraglia, dari Max Planck Institute for the Science of Human History, Jerman. Wallahu a’lam bisshawaab.

 

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/