Diversifikasi Ubi Jalar Ungu untuk Banyuwangi

Oleh: Hifdzil Adila*

INDONESIA memiliki lahan pertanian yang luas dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pertanian tahun 2020-2024. Total luas lahan sawah Indonesia yaitu 7,46 juta hektare, dan hasil pertanian yang diekspor sebesar US$ 320 juta. Sangat layak jika mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani.

Banyuwangi juga memberikan kontribusi di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, terbesar ketiga setelah pengolahan dan perdagangan, yaitu sebesar 12,13% pada tahun 2021. Sektor pertanian memiliki potensi besar untuk memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional. Salah satunya adalah produksi beras, yang mana Indonesia termasuk produsen sekaligus konsumen beras terbesar dunia.

Kebutuhan beras semakin tahun akan semakin meningkat karena populasi masyarakat yang semakin bertambah setiap tahunnya, hal ini menjadi permasalahan besar yang perlu ditangani oleh pemerintah untuk sesegera mungkin mencarikan solusi dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terutama dalam menghadapi lumbung pangan dunia 2045. Kebutuhan pangan yang tercukupi menjadi salah satu persyaratan utama dalam keberhasilan lumbung pangan dunia 2045.

Produksi beras semakin hari akan semakin besar dalam memenuhi kebutuhan pangan. Konsumsi beras per hari, bisa mencapai 139 Kilogram per kapita per tahun. Dengan produksi beras 2021 sebesar 31,36 juta Ton. Musim panas yang dimiliki oleh Indonesia, berdampak pada kekeringan lahan. Sehingga lahan yang digunakan untuk penanaman padi menjadi tidak sesuai. Semakin lama kebutuhan masyarakat terhadap beras akan semakin tinggi sehingga diperlukan bahan pangan lain yang dapat menunjang bahkan mungkin menggantikan bahan pangan beras.

Baca Juga :  Masa Keemasan Hilang

Ubi jalar ungu bisa menjadi lirikan untuk menunjang dan bahkan mengganti beras. Superioritas kandungan karbohidrat ubi jalar ungu berpeluang menggantikan serealia seperti beras dan juga dapat mengurangi ketergantungan masyarakat Banyuwangi terhadap beras.

Bahkan, ubi jalar ungu mengandung Beta-Karoten dan Antosianin sebagai antioksidan alami. Senyawa tersebut berperan positif terhadap pemeliharaan kesehatan tubuh yang tidak dimiliki beras. Selain itu, penanaman ubi jalar ungu tidak memerlukan lahan yang luas. Lahan sempit sudah bisa membuat ubi jalar ungu tumbuh dan dapat dikonsumsi hasilnya.

Diversifikasi pangan adalah suatu usaha untuk mengajak masyarakat memberikan variasi terhadap makanan pokok yang dikonsumsi, agar tidak terfokus hanya pada satu jenis saja. Adanya ubi jalar ungu yang dapat menyediakan kebutuhan sumber energi yang sama dengan beras dapat menjadi pilihan dan berhenti untuk ketergantungan terhadap beras.

Pesatnya hasil panen ubi jalar ungu di banyuwangi menjadi peluang agar dapat menggantikan keberadaan beras. Produksi ubi jalar ungu Banyuwangi mencapai 1,110 Ton. Namun konsumsinya cenderung sedikit, yaitu baru mencapai 40 gram per kapita per hari. Pemanfaatan ubi jalar ungu masih terbatas pada bahan baku saus dan makanan tradisional seperti ubi rebus/goreng, kolak, dan keripik.

Padahal ubi ungu dapat dimanfaatkan sebagai pasta, tepung, dan pati, yang dapat diolah menjadi produk makanan seperti keripik, cake, rerotian, dan mi, yang memiliki peluang yang lebih tinggi sehingga dapat mensubstitusi penggunaan tepung terigu, beras, dan ketan.

Baca Juga :  The Power of Teacher

Keunggulan lain dari ubi jalar ungu adalah serat pangan yang larut air (pektin) yakni 2,3-3,9 gram per 100 gram bb yang dapat meningkatkan keasaman. Sehingga ibu ungu dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan, seperti bakteri E. coli dan S. faecalis. Sekaligus mencegah terjadinya kanker kolon.

Pektin juga dapat menghambat penyerapan gula dan asam lemak di dalam usus halus. Sehingga dapat menurunkan kadar gula dan lemak di dalam darah. Ubi jalar ungu juga memiliki risiko diabetes rendah. Karena memiliki indeks glikemik (IG) 54–68. Ini lebih rendah bila dibandingkan dengan beras amilosa rendah (91-105), roti tawar putih (75), dan kentang panggang (73-97).

Kaya akan nilai gizi, senyawa bioaktif yang berkhasiat bagi kesehatan, dapat diolah menjadi beragam produk pangan mulai dari ubi segar, pasta atau tepung, dan patinya, akan membuat ubi ungu berkontribusi besar dalam mendukung program diversifikasi pangan. Karena dapat mengurangi impor terigu, meningkatkan citra dan nilai tambah produk pangan lokal serta meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan produksi ubi jalar ungu.

Ayo kita sukseskan Banyuwangi mendukung lumbung pangan dunia 2045, melalui diversifikasi ubi jalar ungu. Sehingga ubi jalar ungu dapat menjadi bahan pangan utama, dan masyarakat berhenti untuk ketergantungan terhadap beras. (*)

*) Mahasiswi Teknologi Industri Pertanian Universitas Jember, Alumnus MAN 1 Banyuwangi.