Paus Menepi di Bumi Pusat Studi Ikan dan Kelautan Nasional

Oleh: Sunari*

IKAN raksasa paus seolah merasa puas dan dapat memberikan sesuatu bernilai di akhir hayatnya di Bumi Blambangan. Setelah mengarungi samudra dalam dan luas yang bisa jadi sudah selama 100 tahun, kenapa harus Bumi Blambangan sebagai pilihan paus?

Ya, karena mungkin Bumi Blambangan di samping sudah beratus tahun ikan-ikan raksasa kawan-kawan paus sudah menyejahterakan tidak hanya penduduk Blambangan. Juga realitanya, Bumi Blambangan memiliki garis pantai terpanjang, pusat penghasil ikan laut Muncar yang berskala nasional, hingga memiliki ratusan pabrik pengolahan ikan. Selain itu, didukung menyebarnya budi daya ikan air tawar yang bernilai potensial.

Bumi Blambangan juga memiliki dua tempat utama pendaratan penyu yang langka dan dilindungi. Bumi Blambangan juga memiliki pelabuhan lengkap. Tidak hanya pelabuhan penyeberangan oleh kapal-kapal feri di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Bahkan, ada juga pelabuhan rintisan lalu lintas antarpulau. Ada juga pelabuhan tempat sandarnya kapal pengangkut komoditas strategis BBM dan gas alam cair (elpiji). Ada pelabuhan yang disandari kapal komoditas penting seperti pupuk, semen, dan lainnya.

Tidak ketinggalan, di Bumi Blambangan ada titik-titik beragam objek wisata pantai. Mulai dari ujung Rumah Apung (Bangsring Underwater) di Wongsorejo, hingga Sukamade di Pesanggaran. Bumi Blambangan bahkan memiliki Pantai Plengkung dengan ketinggian ombak yang ekstrem untuk surfing berkelas dunia. Ada pula, Pantai Boom yang bersejarah dan potensial.

Ribuan nelayan lokal dan pendatang pun memiliki ketergantungan pada laut di Bumi Blambangan. TNI Angkatan Laut yang sigap tersebar di titik-titik strategis sepanjang garis pantai Bumi Blambangan. Demikian juga para aparat Pemkab Banyuwangi dan UPT Pusat yang senantiasa menggali dan mengembangkan potensi perikanan dan kelautan. Demi meningkatkan nilai kesejahteraan masyarakat, hingga Bumi Blambangan memiliki SMK Kelautan yang berada di bibir pantai yang baru merintis menuju pengembangan. Bumi Blambangan juga memiliki kaitan erat dengan laut. Misalnya bandara yang landas pacu dan mendaratnya penerbangan yang menghadap ke area laut. Tentu saja laut Bumi Blambangan menjadi area bebas penting.

Baca Juga :  Tradisi Kebut Semalam

Untuk gayung bersambut atas seolah dan realita tersebut, sebagai bentuk bersyukur dan bentuk tholabul ilmi jauh ke depan, untuk kejayaan Bumi Blambangan tercinta, akan elok apabila dengan hadirnya paus mati di Bumi Blambangan yang Insya Allah berkat ridho dan dikirim oleh Yang Maha Memiliki,  Yang Mahakuasa, Yang Maha Memberi, dan yang Maha Memuliakan, Bumi Blambangan disempurnakan dengan didirikannya Pusat Studi Ikan dan Kelautan berproyeksi tingkat nasional. Bahkan, pusat studi ini bertaraf internasional.

Dengan bermodal dokumen foto dan video fisik dan kerangka asli paus raksasa tersebut, serta modal visioner dan semangat segenap elemen potensial Bumi Blambangan, video dan kerangka asli ikan raksasa yang tentu bernilai tinggi. Sebab, nyaris yang tidak dimiliki oleh kebanyakan kalangan.

Mamalia laut sebesar itu menjadi renungan bernilai tinggi bagi kita bersama, minimal menjadi bukti bahwa ternyata makhluk itu benar-benar ada. Yang selama ini di seluruh jenjang pendidikan lebih tahu sebatas cerita, foto, dan kajian ilmu saja. Untuk yang asli benar-benar ikan segede begitu, wah begitu bernilai mahalnya.

Baca Juga :  Mandalika, Pawang Hujan, dan Gimmick Marketing

Ada memang ikan jenis-jenis itu di area semacam sirkus dan yang kita tahu di TV atau internet. Namun, masih tidak sebesar itu. Lebih dari itu, menjadikan Banyuwangi sebagai pusat studi tersebut tidak hanya akan menjadikan Banyuwangi lebih bertambah bernilai jualnya. Akan tetapi, menjadi sebagai bentuk sumbangsih bernilai tinggi bagi pembangunan peradaban dan ilmu di peradaban kekinian. Ciptaan Allah SWT Yang Mahakuasa berupa paus dapat kita jadikan sebagai cikal bakal karya besar Banyuwangi. Apalagi, wisata, budaya, dan prestasi saat ini lagi memperoleh aplaus nasional, bahkan internasional.

Sepanjang masih bisa diuri-uri walau hanya video, foto, dan kerangka asli paus yang menghebohkan dan menjadi pengeram-eram masyarakat (istilah Jawa: suatu objek kekaguman masyarakat). Perlu kita himpun nilai potensi serta sumber daya untuk modal tersebut, menambah ribet? Ya, agak-agak begitu. Kejayaan Blambangan perlu sedikit lulus tantangan. Tentu harapannya bila dijagal dengan tetap mempertahankan kerangka asli, yang tidak dimuseumkan. Tetapi menjadi peraga asli pemicu dan pemacu studi ikan (bukan perikanan) dan kelautan, bermakna strategis, dan berkelanjutan.

Di sisi yang lain, soal mungkin sempat sedikit menjadikan kewalahan perjuangan para petugas melaksanakan tugas eksekusi-evakuasi ikan raksasa itu untuk mengatasinya. Mereka patut kita apresiasi. (*)

*) Direktur Bumi Hijau Center.