Menyulap Genjer Menjadi Sabun yang Kaya Antioksidan

Oleh: Viera Salsabiela Rachman*

INDONESIA yang dikenal sebagai negara kepulauan dan perairan ternyata juga memiliki hamparan sawah yang luas. Kondisi ini tentunya memiliki peran penting dalam menopang perekonomian rakyat Indonesia, tidak hanya bagi petani namun juga masyarakat umum lainnya.

Di sawah itu sendiri, terdapat banyak sekali tumbuhan dan hewan yang menjadi penghuni. Tidak hanya padi, belut, atau keong sawah. Salah satu tumbuhan yang sering menjadi gulma sawah, merugikan namun dapat diambil manfaatnya yaitu genjer (Limnocharis flava).

Genjer adalah tumbuhan rawa yang banyak dijumpai di sawah atau perairan dangkal. Di Banyuwangi, genjer sangat mudah ditemui. Sebab, Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah di Indonesia dengan hamparan sawah luas. Karena sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Oleh karena itu, tanaman genjer sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Banyuwangi, khususnya Suku Oseng.

Sejauh ini, pengetahuan masyarakat terhadap manfaat dari genjer sebatas konsumsi harian rumah tangga serta digunakan untuk bahan membuat kerajinan. Rupanya, sifat antioksidan yang dimiliki genjer ternyata dapat dimanfaatkan untuk kesehatan, khususnya untuk kebersihan tangan.

Hal ini dibuktikan dari penelitian Nur Jannah tahun 2009. Jannah menjelaskan bahwa dalam ekstrak segar tanaman genjer terdapat komponen fenol hidrokuinon yang dapat bertindak sebagai terminator oksidasi, dengan cara menangkap radikal untuk membentuk radikal stabil. Antioksidan itu sendiri merupakan senyawa yang memiliki fungsi untuk memerangi efek negatif yang berasal dari radikal bebas.

Melalui pengolahan tertentu, ekstrak genjer dapat dijadikan sebagai bahan sabun cuci tangan yang tidak hanya sebagai antibakteri, namun juga kaya akan antioksidan. Kandungan antioksidan yang terdapat pada sabun, bermanfaat untuk melindungi kulit dari penuaan maupun sengatan matahari. Selain itu, sifat antioksidan pada sabun cocok digunakan pada kulit sensitif.

Baca Juga :  Harjakasi: Perumda “Pertambakan” Sebuah Gagasan

Di sekitar kita, mayoritas sabun, khususnya sabun cuci tangan hanya memiliki manfaat sebagai antibakteri. Antibakteri merupakan senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan.

Di kondisi saat ini, yang masih beriringan dengan pandemi Covid-19, pemerintah telah bertindak dengan beragam upaya agar penyebaran virus Covid-19 dapat dicegah. Salah satu contohnya penerapan protokol kesehatan (prokes). Yang mana, indikator di dalamnya yakni rutin melakukan cuci tangan menggunakan sabun. Dengan kondisi pandemi yang terus ada, mau tidak mau memaksa kita untuk hidup beriringan dengan virus korona. Termasuk menuntut untuk kita hidup dengan penerapan prokes.

Kesadaran masyarakat terhadap prokes saat ini bisa dibilang kembali menurun. Hal ini ditunjukkan dengan semakin banyak dijumpai masyarakat yang tidak lagi menggunakan masker di tempat ramai dan kerumunan sering terjadi. Sedangkan hal kebiasaan rutin cuci tangan yang sulit untuk dilakukan, bukan hanya menjadi permasalahan saat pandemi terjadi, sebelum adanya wabah ini pun masyarakat masih ada yang abai dengan anjuran melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas.

Banyak hal mendasar yang menjadi alasan, mengapa minat masyarakat sangat minim terhadap kebiasaan mencuci tangan. Selain faktor kurang pengetahuan, juga tentang nilai jual sabun cuci tangan yang bisa dibilang masih relatif tinggi bagi sebagian orang. Apalagi, jika dikaitkan dengan kondisi saat ini. Pandemi memberikan dampak besar terhadap kondisi ekonomi seseorang akibat keterbatasan aktivitas atau pun pemberhentian pekerjaan. Sedangkan, kebutuhan protokol kesehatan seperti masker, hand sanitizer, dan sabun cuci tangan, menjadi bahan daftar tambahan yang perlu ada.

Terlebih saat awal pandemi, semua harga barang tersebut bisa melonjak dua hingga empat kali lipat. Alhasil, hal ini juga memicu penurunan masyarakat terhadap penerapan prokes. Dengan permasalahan tersebut, masyarakat diajak untuk berinovasi tentang kebutuhan-kebutuhan hidup agar terus terhindar dari virus Covid-19.

Baca Juga :  Meramu Jeruk Masam dalam Kurikulum Merdeka

Seperti yang telah dilakukan tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banyuwangi yang berbasis kewirausahaan. Mahasiswa Program Studi D-4 Teknologi Laboratorium Medik tengah memproduksi FSO (Flava Soap Osing). Mereka mengolah ekstrak genjer yang ditambahkan dengan bahan dasar alami lainnya, lalu menyulapnya menjadi sebuah sabun cuci tangan cair yang kaya antioksidan.

Produk olahan itu telah lolos seleksi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia (RI). Produk ini pun dikemas dalam botol beragam ukuran. Ada dua varian aroma, yaitu lemon dan lavender. Bahan dasar alami dan mudah didapatkan, membuat produk ini memiliki harga relatif murah. Serta keunggulannya sangat aman bagi masyarakat yang memiliki kulit sensitif. Prosesnya pun halal dan tentunya higienis.

Tidak hanya itu, pengemasan yang minimalis juga membuat FSO ini efisien untuk dibawa ke mana-mana. Terlebih dengan pandemi ini, selain masker kita juga selalu siap sedia sabun cuci tangan di dalam tas.

Selain memiliki nilai jual, adanya inovasi ini tidak hanya memberikan informasi kepada masyarakat tentang manfaat lain dari tanaman genjer dan tentang pentingnya cuci tangan. Melainkan melalui keunggulan yang dimilikinya dapat membantu mengatasi permasalahan kulit tangan yang sensitif.

Harapan pentingnya yakni memberikan motivasi kepada masyarakat untuk lebih rutin dalam melakukan cuci tangan. Sehingga turut membantu program pemerintah dalam mengajak masyarakat untuk menerapkan prokes demi mencegah penyebaran korona, khususnya di Banyuwangi. (*)

*) Ketua Tim PKM-K Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Stikes Banyuwangi.