alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Catatan: Samsudin Adlawi

Setelah Pomo Martadi, Kini Armaya

SUNGGUH beruntung, saya. Ketika pulang kampung ke tanah kelahiran: Banyuwangi. Pada 1990-an.

Ketika itu, saya bertemu tiga orang hebat. Tokoh sastra Bumi Blambangan. Mereka sangat mengagumkan—bagi saya, setidaknya. Keistikamahan dan karya-karyanya sangat menginspirasi.

Tiga tokoh itu: Pomo Martadi, AK Armaya, dan Hasnan Singodimayan.

Pomo wafat puluhan tahun silam. Meninggalkan semangat berkarya yang sulit dipadamkan. Sedangkan Armaya menyusulnya Ahad kemarin (26/6). Dalam usia 88 tahun.

Mangkatnya Pomo, ketika itu, menjadi kehilangan besar. Kehilangan itu makin lengkap sepeninggal Armaya. Kedukaan dunia sastra Kota Gandrung kian sempuna. Kondisi kesehatan Pak Hasnan sendiri belakangan ini juga tidak begitu baik. Membuat waswas aktivis sastra kota The Sunrise of Java.

Harus diakui, belum ada pengganti sosok Pomo dan Armaya. Hingga kini. Baik terkait karyanya. Maupun, apalagi, karyanya.

Baik Pomo maupun Armaya punya kesamaan gaya ungkap dalam karya. Sama-sama menggunakan bahasa sederhana. Tapi, syarat makna di balik kesedeharnaan itu.

Pomo pernah menulis Puisi Tersisihkan di Lontar (Kertas Sastra dan Budaya, edisi 01, November 1971). Petikannya seperti ini:

 

djangan tjoba engkau tak mengerti, sajang

baris puisi, tersisihkan ini

jang tertinggal sepi

dipanggang teriknja sedjuta mentari duka

djangan tjoba engkau tak mengerti, sajang

angin malam menderai menerpa djantung yang letih

teriringkan pula njanjian hati

tapi masih kau lagukan djuga

lagu kemenangan dan kebebasan….

 

Pemuisi Banyuwangi Fatah Yasin Noor yang mengikuti perkembangan puisi Pomo, menyebut, puisi Pomo memiliki bentuk dan pengucapan yang sederhana dan dinamis. Namun, kadang juga rumit dalam pemaknaannya. Itu sangat menarik. Sehingga sering menjadi bahasan penting dalam forum-forum sastra di Banyuwangi. Yang juga beberapa kali saya ikuti, ketika itu.

Saya sepakat dengan Kang Fatah. Gaya bersajak Pomo memang mendapat perhatian serius dari generasi setelah tahun 90-an. ”Malah, tidak jarang penyair-penyair Banyuwangi sesudah Pomo mengalami keterpengaruhan dengan sublimasi sajak-sajak Pomo,” tulis Fatah di laman Indonesia Literary Community (11/12/2020).

Baca Juga :  Gotong Royong Tumbuhkan Generasi Unggul

Ketika Pomo masih hidup, komunitas sastra begitu hidup. Komunitas itu aktif menggelar diskusi. Membahas karya terbaru masing-masing. Saling mengkritik. Kadang menggunakan bahasa yang pedas. Nyengit. Ngeloro ati. Tapi tidak ada yang merasa terluka. Sebab, kritik dari para senior itu menjadi vitamin dan sangat manjur untuk meningkatkan kualitas karya.

Salah satu komunitas paling populer, saat itu, adalah Komunitas Selasa (Senantiasa Lestarikan Sastra). Yang melakukan pertemuan berkala setiap hari Selasa. Komunitas Selasa didirikan oleh sejumlah penyair tua di Banyuwangi. Lalu, dikelola oleh penyair-penyair mudanya. Salah satu pendirinya tak lain ialah Pomo Martadi. Sebagai penyair muda, ketika itu, saya sangat beruntung diberi kepercayaan untuk mengelolanya. Bersama Rosdi Bahtiar Martadi (putra Pomo Martadi), Fatah Yasin Noor, A. Ardiyan, dan Iwan Azies Syswanto.

Eksistensi komunitas sastra itu kian terasa. Karena terus melahirkan penyair generasi terbaru. Secara berkala, mereka juga menerbitkan buletin Imbas dan menerbitkan kembali jurnal Lontar—yang pernah terbit pada 1971. Komunitas Selasa juga menerbitkan antologi bersama. Diantaranya Cadik, Menara Tujuh Belas (Pusat Studu Budaya Banyuwangi, 2002), Dzikir Muharam (Yayasan Masjid Agung Baiturahman Banyuwangi, 2004), dan Tilawah (Yayasan Masjid Agung Baiturahman Banyuwangi, 2005). Bahkan, Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi kemudian punya agenda rutin. Yakni, menerbitkan kumpulan puisi karya tunggal para penyair Banyuwangi setiap tahun. Seperti Suluk Rindu (Taufiq WR Hidayat, 2004), Dzikir Debu ( Nuchbah Baroroh, 2005), Tasbih (Abdullah Fauzi, 2006).

”Hidupnya” literasi sastra di Yayasan Masjid Agung Baiturahman itu tak lepas dari keberadaan sosok Armaya. Tepatnya, ketika dia menjabat sekum. Mulai 1990-an sampai 2006. Selama itu pula, seluruh penerbitan di Masjid Baiturahman Banyuwangi lahir dari tangan kreatif Armaya. Sudah tak terhitung, buku, jurnal kebudayaan, buletin, dan antologi yang terbit dengan didanai secara pribadi oleh Armaya.

Baca Juga :  Darah Mak Enah Mengalir ke Susi Susanti

Sastrawan Taufiq WR yang menjadi murid sekaligus partner Armaya memberi kesaksian menarik. Penerbitan yang sepenuhnya dibiayai oleh Armaya ada dua jenis. Pertama, majalah budaya Jejak. Terbit selama enam tahun tanpa putus: 2002–2008. Lalu, kedua, Jurnal Sastra dan Budaya Lembaran Kebudayaan. Yang terbit secara rutin selama delapan tahun: 2009–2017.

Kalau dihitung edisinya, majalah Jejak terbit sampai edisi 8. Sedangkan Jurnal Sastra dan Budaya Lembaran Kebudayaan terbit sampai edisi 45. Silakan hitung sendiri. Berapa dana yang keluar dari kocek pribadi seorang Armaya. Tapi, beliau tak pernah merasa menyesal mengeluarkan banyak uang untuk kerja budaya. Yang sangat dihayatinya sejak muda. Tepatnya, sejak bergaul karib dengan penyair WS Rendra dan Taufiq Ismail di Jakarta.

Sebagai teman Rendra dan Taufiq Ismail, pria bernama lengkap Abdul Kadir Jaelani itu sudah pasti bukan penyair ecek-ecek. Karya-karya puisinya sangat matang. Coba baca pelan-pelan nukilan puisi Armaya berikut:

 

Bila Aku Pulang

(buat ibu & yunda)

Bila aku pulang ke kampung untuk kesekian kalinya

selalu kutemui si Luri dan Hasnan

cerita dan ketawa

meminum musim-musim yang terus berjalan.

 

Puisi itu termuat di Manifestasi; Antologi 30 Sadjak. Diterbitkan oleh Tintamas-Djakarta, pada 1962. Armaya sendiri menulisnya pada 1960. Isinya tentang kerinduannya pada Banyuwangi.

Cerita tentang Armaya tidak akan pernah ada habisnya. Kebaikannya begitu banyak. Tidak akan pernah habis untuk dikenang.

Saya membayangkan, Armaya bakal menerima gelar Bapak Literasi Banyuwangi, kelak.

Entah kapan.

SUNGGUH beruntung, saya. Ketika pulang kampung ke tanah kelahiran: Banyuwangi. Pada 1990-an.

Ketika itu, saya bertemu tiga orang hebat. Tokoh sastra Bumi Blambangan. Mereka sangat mengagumkan—bagi saya, setidaknya. Keistikamahan dan karya-karyanya sangat menginspirasi.

Tiga tokoh itu: Pomo Martadi, AK Armaya, dan Hasnan Singodimayan.

Pomo wafat puluhan tahun silam. Meninggalkan semangat berkarya yang sulit dipadamkan. Sedangkan Armaya menyusulnya Ahad kemarin (26/6). Dalam usia 88 tahun.

Mangkatnya Pomo, ketika itu, menjadi kehilangan besar. Kehilangan itu makin lengkap sepeninggal Armaya. Kedukaan dunia sastra Kota Gandrung kian sempuna. Kondisi kesehatan Pak Hasnan sendiri belakangan ini juga tidak begitu baik. Membuat waswas aktivis sastra kota The Sunrise of Java.

Harus diakui, belum ada pengganti sosok Pomo dan Armaya. Hingga kini. Baik terkait karyanya. Maupun, apalagi, karyanya.

Baik Pomo maupun Armaya punya kesamaan gaya ungkap dalam karya. Sama-sama menggunakan bahasa sederhana. Tapi, syarat makna di balik kesedeharnaan itu.

Pomo pernah menulis Puisi Tersisihkan di Lontar (Kertas Sastra dan Budaya, edisi 01, November 1971). Petikannya seperti ini:

 

djangan tjoba engkau tak mengerti, sajang

baris puisi, tersisihkan ini

jang tertinggal sepi

dipanggang teriknja sedjuta mentari duka

djangan tjoba engkau tak mengerti, sajang

angin malam menderai menerpa djantung yang letih

teriringkan pula njanjian hati

tapi masih kau lagukan djuga

lagu kemenangan dan kebebasan….

 

Pemuisi Banyuwangi Fatah Yasin Noor yang mengikuti perkembangan puisi Pomo, menyebut, puisi Pomo memiliki bentuk dan pengucapan yang sederhana dan dinamis. Namun, kadang juga rumit dalam pemaknaannya. Itu sangat menarik. Sehingga sering menjadi bahasan penting dalam forum-forum sastra di Banyuwangi. Yang juga beberapa kali saya ikuti, ketika itu.

Saya sepakat dengan Kang Fatah. Gaya bersajak Pomo memang mendapat perhatian serius dari generasi setelah tahun 90-an. ”Malah, tidak jarang penyair-penyair Banyuwangi sesudah Pomo mengalami keterpengaruhan dengan sublimasi sajak-sajak Pomo,” tulis Fatah di laman Indonesia Literary Community (11/12/2020).

Baca Juga :  Dinding Masjid Dilapisi 20 Ribu Keping Keramik Biru

Ketika Pomo masih hidup, komunitas sastra begitu hidup. Komunitas itu aktif menggelar diskusi. Membahas karya terbaru masing-masing. Saling mengkritik. Kadang menggunakan bahasa yang pedas. Nyengit. Ngeloro ati. Tapi tidak ada yang merasa terluka. Sebab, kritik dari para senior itu menjadi vitamin dan sangat manjur untuk meningkatkan kualitas karya.

Salah satu komunitas paling populer, saat itu, adalah Komunitas Selasa (Senantiasa Lestarikan Sastra). Yang melakukan pertemuan berkala setiap hari Selasa. Komunitas Selasa didirikan oleh sejumlah penyair tua di Banyuwangi. Lalu, dikelola oleh penyair-penyair mudanya. Salah satu pendirinya tak lain ialah Pomo Martadi. Sebagai penyair muda, ketika itu, saya sangat beruntung diberi kepercayaan untuk mengelolanya. Bersama Rosdi Bahtiar Martadi (putra Pomo Martadi), Fatah Yasin Noor, A. Ardiyan, dan Iwan Azies Syswanto.

Eksistensi komunitas sastra itu kian terasa. Karena terus melahirkan penyair generasi terbaru. Secara berkala, mereka juga menerbitkan buletin Imbas dan menerbitkan kembali jurnal Lontar—yang pernah terbit pada 1971. Komunitas Selasa juga menerbitkan antologi bersama. Diantaranya Cadik, Menara Tujuh Belas (Pusat Studu Budaya Banyuwangi, 2002), Dzikir Muharam (Yayasan Masjid Agung Baiturahman Banyuwangi, 2004), dan Tilawah (Yayasan Masjid Agung Baiturahman Banyuwangi, 2005). Bahkan, Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi kemudian punya agenda rutin. Yakni, menerbitkan kumpulan puisi karya tunggal para penyair Banyuwangi setiap tahun. Seperti Suluk Rindu (Taufiq WR Hidayat, 2004), Dzikir Debu ( Nuchbah Baroroh, 2005), Tasbih (Abdullah Fauzi, 2006).

”Hidupnya” literasi sastra di Yayasan Masjid Agung Baiturahman itu tak lepas dari keberadaan sosok Armaya. Tepatnya, ketika dia menjabat sekum. Mulai 1990-an sampai 2006. Selama itu pula, seluruh penerbitan di Masjid Baiturahman Banyuwangi lahir dari tangan kreatif Armaya. Sudah tak terhitung, buku, jurnal kebudayaan, buletin, dan antologi yang terbit dengan didanai secara pribadi oleh Armaya.

Baca Juga :  Nyleneh, Pameran Lukisan Digelar di Kandang Kambing

Sastrawan Taufiq WR yang menjadi murid sekaligus partner Armaya memberi kesaksian menarik. Penerbitan yang sepenuhnya dibiayai oleh Armaya ada dua jenis. Pertama, majalah budaya Jejak. Terbit selama enam tahun tanpa putus: 2002–2008. Lalu, kedua, Jurnal Sastra dan Budaya Lembaran Kebudayaan. Yang terbit secara rutin selama delapan tahun: 2009–2017.

Kalau dihitung edisinya, majalah Jejak terbit sampai edisi 8. Sedangkan Jurnal Sastra dan Budaya Lembaran Kebudayaan terbit sampai edisi 45. Silakan hitung sendiri. Berapa dana yang keluar dari kocek pribadi seorang Armaya. Tapi, beliau tak pernah merasa menyesal mengeluarkan banyak uang untuk kerja budaya. Yang sangat dihayatinya sejak muda. Tepatnya, sejak bergaul karib dengan penyair WS Rendra dan Taufiq Ismail di Jakarta.

Sebagai teman Rendra dan Taufiq Ismail, pria bernama lengkap Abdul Kadir Jaelani itu sudah pasti bukan penyair ecek-ecek. Karya-karya puisinya sangat matang. Coba baca pelan-pelan nukilan puisi Armaya berikut:

 

Bila Aku Pulang

(buat ibu & yunda)

Bila aku pulang ke kampung untuk kesekian kalinya

selalu kutemui si Luri dan Hasnan

cerita dan ketawa

meminum musim-musim yang terus berjalan.

 

Puisi itu termuat di Manifestasi; Antologi 30 Sadjak. Diterbitkan oleh Tintamas-Djakarta, pada 1962. Armaya sendiri menulisnya pada 1960. Isinya tentang kerinduannya pada Banyuwangi.

Cerita tentang Armaya tidak akan pernah ada habisnya. Kebaikannya begitu banyak. Tidak akan pernah habis untuk dikenang.

Saya membayangkan, Armaya bakal menerima gelar Bapak Literasi Banyuwangi, kelak.

Entah kapan.

Artikel Terkait

Méméngane Kurang Adoh

Seperti Apa Dua Tahun Lagi

Most Read

Artikel Terbaru

/