29.1 C
Banyuwangi
Thursday, March 23, 2023

(MAN Nahnu-264) Oleh : Samsudin Adlawi

Mutiara Terpendam di Kalilo

TERUS bergerak. Hingga catatan ini ditulis. Tim Susur Sungai Kalilo (Susuka) masih melakukan ekspedisinya. Mereka terus melaporkan temuannya. Tentang apa (pun) yang dilihat dan dirasakan. Langsung. Dari sepanjang Sungai Kalilo yang disusurinya.

Banyak sekali temuannya. Sebagian sudah terekspos di koran ini. Secara bersambung. Seperti pembaca baca selama ini. Dan, entah sampai kapan. Menarik untuk terus diikuti!

Saya mulai dari yang tak menyenangkan dulu. Temuan tim, antara lain, di beberapa titik, masih ditemukan warga membuang sampah rumah tangga secara sembarangan. Ada beberapa bangunan menjorok ke sungai. Sebagian plengsengan retak-retak. Akibat banjir, beberapa waktu lalu. Bahkan, ada juga yang ambrol.

Temuan lainnya, banyak lahan pengairan di bibir sungai mengalami sedimentasi. Parahnya, area sedimentasi itu ditanami pohon pisang oleh warga. Kondisi itu sangat memprihatinkan. Sebab, menghambat aliran sungai. Karenanya tanaman pisang tersebut harus segera dibersihkan. Area yang tersedimentasi harus segera dinormalisasi. Di beberapa titik, selain mengeruk endapan berat lumpur, tangkis sungai juga perlu ditinggikan.

Sedimentasi sangat tebal ditemukan kawasan antara Lebak (Kelurahan Tukangkayu) sampai Kempon (Kelurahan Kepatihan). Kondisi sungai sepanjang satu kilometer—dari jembatan Lebak sampai jembatan Toko Bagus— itu mengalami kerusakan cukup parah. Akibat banjir, tangkisnya mengalami erosi.

Di kawasan itu, tim menemukan lahan yang benar-benar mepet sungai. Yakni, bangunan bertingkat di belakang bekas kantor BPN (Badan Pertahanan Nasional). Sampai-sampai tidak ada jalan inspeksi. Padahal, jalan itu dibutuhkan bagi petugas untuk memeriksa kondisi sungai. Secara berkala. Terutama ketika permukaan air sungai mulai meninggi. Juga mengecek kondisi tangkis/plengsengan.

Yang perlu mendapat perhatian serius adalah budaya sebagian masyarakat pinggir sungai. Masih ada sebagian warga yang melakukan aktivitas mandi, mencuci, dan buang hajat di sungai. Seperti yang ditemukan tim Susuka di sekitar kawasan Banyu Caruk. Warga masih menggunakan air di sumber yang dikeramatkan itu untuk aktivitas MCK (mandi, cuci, kakus).

Banyu Caruk merupakan pertemuan dua anak sungai. Yang terjadi di persimpangan Sungai Kalilo. Dari arah barat mengalir sungai yang berhulu di Banjarsari. Sedangkan dari arah utara sungainya berasal dari Grogol. Ada dua mata air di sebelah barat Banyu Caruk. Keberadaannya masih dijaga oleh warga setempat. Letaknya dekat makam Habib Hasan bin Abdul Qadir Assegaf.

Baca Juga :  Mengukur Kepantasan

Kondisi air di Banyu Caruk paling bersih—dibanding tempat yang lain. Tidak begitu keruh. Pada momen tertentu, sebagian warga datang ke Banyu Caruk. Mereka mengambil air. Diyakini air itu memiliki khasiat tertentu. ”Ada yang mengambil untuk obat, mengambil sebagai bagian dari ritual selamatan. Yang diambil adalah yang di bagian tengah,” ujar Husnul, warga Lingkungan Kalilo, Kelurahan Singonegaran kepada tim Susuka.

Selain di Banyu Caruk, mata air juga banyak ditemukan di aliran Sungai Kalilo. Di sepanjang Lebak sampai Kempon saja terdapat 11 mata air. Bila dikelola dengan baik, lokasi ini bisa dijadikan destinasi wisata air di tengah kota Banyuwangi. Dengan catatan bangunan rumah warga yang menjorok ke sungai dimundurkan beberapa meter. Seperti rumah warga yang lain. Kepada tim Susuka, warga setempat sepakat rumahnya dirombak menghadap ke sungai. Kesediaan warga itu harus segera dikelola. Mumpung mereka masih semangat. Untuk ikut menjaga kebersihan Sungai Kalilo. Juga merawatnya. Menjaga kebersihannya dari sampah.

Setelah rumahnya benar-benar menghadap ke sungai, warga bukan hanya ikut menjaga mengawasi kebersihan Kalilo. Melainkan juga membuka peluang usaha. Baik warung, rumah makan, atau toko penjualan suvenir. Karena kawasan rumah mereka akan menjadi destinasi baru. Tempat orang/wisatawan lalu-lalang. Menikmati Kalilo.

Potensi yang sama (dan relatif sudah baik) tampak di kawasan sebelah beratnya. Yakni, di Sungai Kali Lele (Kelurahan Pengantigan) sampai jembatan Toko Bagus (Kelurahan Kepatihan). Tim Susuka sudah langsung mencobanya dengan tiga perahu karet dan satu perahu lipat berbahan fiber. Empat perahu itu milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi. Yang ikut ekspedisi Susuka.

Dengan empat perahu itu, tim melintasi jembatan Lohkanti (Kelurahan Singonegaran). Area yang selama ini ramai dikunjungi wisatawan. Dengan spot foto tulisan ”Kalilo Banyuwangi”, di sisi selatan jembatan. Di sepanjang kanan-kiri sungai, tembok rumah warga dicat warna-warni. Menambah keindahan kawasan tersebut. Warga, kepada tim Susuka, sangat berharap, sungainya selalu bersih dari sampah. Agar bisa dijadikan destinasi wisata air yang menyenangkan.

Baca Juga :  Ditinggal Tiga Maestro

Potensi wisata air terbesar justru ada di muara Kalilo. Muara itu seperti ratna mutu manikam. Yang terpendam lumpur. Sedimentasinya luar biasa tebal. Terutama dekat muara Boom sisi utara. Saking tebalnya, semua tanaman tumbuh di sana. Terutama ilalang liar. Sedimentasi yang parah, selain membuat kerusakan juga berdampak terjadinya overtopping air sungai.

Luas muara itu sekitar 4 hektare (ha). Di beberapa bagian tampak tumbuh tanaman mangrove cukup lebat. Terutama di bagian barat daya dan utara. Di sekitar jembatan (utara-barat Taman Makam Pahlawan/TMP) Wisma Raga Satria Laut. TMP itu dilengkapi monumen. Sebagai penanda kuburan pasukan ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) 0032. Para pahlawan bangsa itu gugur melawan Belanda di Selat Bali.

Secara topografi, bila muara Kalilo yang berbatasan langsung dengan Pantai Boom dinormalisasi, akan menjadi waduk yang lumayan besar: 4 ha. Mangrove-mangrove yang ada dibiarkan. Dikurangi saja beberapa, untuk memperlancar jalannya air menuju ke utara (Plengsengan Mandar). Sedangkan ”hutan” mangrove di sisi selatan sampai ke barat bagus dijadikan lokasi jogging track. Wisata susur mangrove di sekitar waduk.

Fungsi utama waduk muara Kalilo adalah untuk menampung luberan air Sungai Kalilo. Baik saat normal, apalagi saat banjir. Dengan begitu, meski curah hujan ekstrem di wilayah atas, Sungai Kalilo tidak akan banjir bandang lagi. Sebab, semua airnya tertampung di waduk. Ketika waduk sudah penuh, tinggal membuka pintu airnya yang menuju ke utara (Plengsengan Kampung Mandar).

Fungsi tambahan waduk adalah jadi alternatif wisata air. Pengelola bisa menyediakan penyewaan perahu atau kano. Keliling waduk. Sambil menikmati jogging track menyusuri lebatnya pohon-pohon mangrove. Waduk muara Kalilo bisa jadi destinasi tambahan bagi pengunjung Pantai Boom. Yang kebetulan lokasinya bersisian. Dan, yang terpenting, keberadaan destinasi waduk muara Kalilo bisa menghidupkan kawasan Kampung Ujung. Terutama bagi warga yang tinggal di sekitar muara Kalilo. Mereka tidak perlu iri lagi dengan tetangganya di Kampung Mandar. Yang kini sangat bergeliat. Merasakan dampak destinasi wisata ikan bakar Plengsengan. Pertanyaannya: Kapan waduk muara Kalilo menjadi kenyataan? (Pekolom Banyuwangi)

 

TERUS bergerak. Hingga catatan ini ditulis. Tim Susur Sungai Kalilo (Susuka) masih melakukan ekspedisinya. Mereka terus melaporkan temuannya. Tentang apa (pun) yang dilihat dan dirasakan. Langsung. Dari sepanjang Sungai Kalilo yang disusurinya.

Banyak sekali temuannya. Sebagian sudah terekspos di koran ini. Secara bersambung. Seperti pembaca baca selama ini. Dan, entah sampai kapan. Menarik untuk terus diikuti!

Saya mulai dari yang tak menyenangkan dulu. Temuan tim, antara lain, di beberapa titik, masih ditemukan warga membuang sampah rumah tangga secara sembarangan. Ada beberapa bangunan menjorok ke sungai. Sebagian plengsengan retak-retak. Akibat banjir, beberapa waktu lalu. Bahkan, ada juga yang ambrol.

Temuan lainnya, banyak lahan pengairan di bibir sungai mengalami sedimentasi. Parahnya, area sedimentasi itu ditanami pohon pisang oleh warga. Kondisi itu sangat memprihatinkan. Sebab, menghambat aliran sungai. Karenanya tanaman pisang tersebut harus segera dibersihkan. Area yang tersedimentasi harus segera dinormalisasi. Di beberapa titik, selain mengeruk endapan berat lumpur, tangkis sungai juga perlu ditinggikan.

Sedimentasi sangat tebal ditemukan kawasan antara Lebak (Kelurahan Tukangkayu) sampai Kempon (Kelurahan Kepatihan). Kondisi sungai sepanjang satu kilometer—dari jembatan Lebak sampai jembatan Toko Bagus— itu mengalami kerusakan cukup parah. Akibat banjir, tangkisnya mengalami erosi.

Di kawasan itu, tim menemukan lahan yang benar-benar mepet sungai. Yakni, bangunan bertingkat di belakang bekas kantor BPN (Badan Pertahanan Nasional). Sampai-sampai tidak ada jalan inspeksi. Padahal, jalan itu dibutuhkan bagi petugas untuk memeriksa kondisi sungai. Secara berkala. Terutama ketika permukaan air sungai mulai meninggi. Juga mengecek kondisi tangkis/plengsengan.

Yang perlu mendapat perhatian serius adalah budaya sebagian masyarakat pinggir sungai. Masih ada sebagian warga yang melakukan aktivitas mandi, mencuci, dan buang hajat di sungai. Seperti yang ditemukan tim Susuka di sekitar kawasan Banyu Caruk. Warga masih menggunakan air di sumber yang dikeramatkan itu untuk aktivitas MCK (mandi, cuci, kakus).

Banyu Caruk merupakan pertemuan dua anak sungai. Yang terjadi di persimpangan Sungai Kalilo. Dari arah barat mengalir sungai yang berhulu di Banjarsari. Sedangkan dari arah utara sungainya berasal dari Grogol. Ada dua mata air di sebelah barat Banyu Caruk. Keberadaannya masih dijaga oleh warga setempat. Letaknya dekat makam Habib Hasan bin Abdul Qadir Assegaf.

Baca Juga :  Riuh B-Fest 2023

Kondisi air di Banyu Caruk paling bersih—dibanding tempat yang lain. Tidak begitu keruh. Pada momen tertentu, sebagian warga datang ke Banyu Caruk. Mereka mengambil air. Diyakini air itu memiliki khasiat tertentu. ”Ada yang mengambil untuk obat, mengambil sebagai bagian dari ritual selamatan. Yang diambil adalah yang di bagian tengah,” ujar Husnul, warga Lingkungan Kalilo, Kelurahan Singonegaran kepada tim Susuka.

Selain di Banyu Caruk, mata air juga banyak ditemukan di aliran Sungai Kalilo. Di sepanjang Lebak sampai Kempon saja terdapat 11 mata air. Bila dikelola dengan baik, lokasi ini bisa dijadikan destinasi wisata air di tengah kota Banyuwangi. Dengan catatan bangunan rumah warga yang menjorok ke sungai dimundurkan beberapa meter. Seperti rumah warga yang lain. Kepada tim Susuka, warga setempat sepakat rumahnya dirombak menghadap ke sungai. Kesediaan warga itu harus segera dikelola. Mumpung mereka masih semangat. Untuk ikut menjaga kebersihan Sungai Kalilo. Juga merawatnya. Menjaga kebersihannya dari sampah.

Setelah rumahnya benar-benar menghadap ke sungai, warga bukan hanya ikut menjaga mengawasi kebersihan Kalilo. Melainkan juga membuka peluang usaha. Baik warung, rumah makan, atau toko penjualan suvenir. Karena kawasan rumah mereka akan menjadi destinasi baru. Tempat orang/wisatawan lalu-lalang. Menikmati Kalilo.

Potensi yang sama (dan relatif sudah baik) tampak di kawasan sebelah beratnya. Yakni, di Sungai Kali Lele (Kelurahan Pengantigan) sampai jembatan Toko Bagus (Kelurahan Kepatihan). Tim Susuka sudah langsung mencobanya dengan tiga perahu karet dan satu perahu lipat berbahan fiber. Empat perahu itu milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi. Yang ikut ekspedisi Susuka.

Dengan empat perahu itu, tim melintasi jembatan Lohkanti (Kelurahan Singonegaran). Area yang selama ini ramai dikunjungi wisatawan. Dengan spot foto tulisan ”Kalilo Banyuwangi”, di sisi selatan jembatan. Di sepanjang kanan-kiri sungai, tembok rumah warga dicat warna-warni. Menambah keindahan kawasan tersebut. Warga, kepada tim Susuka, sangat berharap, sungainya selalu bersih dari sampah. Agar bisa dijadikan destinasi wisata air yang menyenangkan.

Baca Juga :  Makin Dahsyat Ditambah Kontrak Eksklusif

Potensi wisata air terbesar justru ada di muara Kalilo. Muara itu seperti ratna mutu manikam. Yang terpendam lumpur. Sedimentasinya luar biasa tebal. Terutama dekat muara Boom sisi utara. Saking tebalnya, semua tanaman tumbuh di sana. Terutama ilalang liar. Sedimentasi yang parah, selain membuat kerusakan juga berdampak terjadinya overtopping air sungai.

Luas muara itu sekitar 4 hektare (ha). Di beberapa bagian tampak tumbuh tanaman mangrove cukup lebat. Terutama di bagian barat daya dan utara. Di sekitar jembatan (utara-barat Taman Makam Pahlawan/TMP) Wisma Raga Satria Laut. TMP itu dilengkapi monumen. Sebagai penanda kuburan pasukan ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) 0032. Para pahlawan bangsa itu gugur melawan Belanda di Selat Bali.

Secara topografi, bila muara Kalilo yang berbatasan langsung dengan Pantai Boom dinormalisasi, akan menjadi waduk yang lumayan besar: 4 ha. Mangrove-mangrove yang ada dibiarkan. Dikurangi saja beberapa, untuk memperlancar jalannya air menuju ke utara (Plengsengan Mandar). Sedangkan ”hutan” mangrove di sisi selatan sampai ke barat bagus dijadikan lokasi jogging track. Wisata susur mangrove di sekitar waduk.

Fungsi utama waduk muara Kalilo adalah untuk menampung luberan air Sungai Kalilo. Baik saat normal, apalagi saat banjir. Dengan begitu, meski curah hujan ekstrem di wilayah atas, Sungai Kalilo tidak akan banjir bandang lagi. Sebab, semua airnya tertampung di waduk. Ketika waduk sudah penuh, tinggal membuka pintu airnya yang menuju ke utara (Plengsengan Kampung Mandar).

Fungsi tambahan waduk adalah jadi alternatif wisata air. Pengelola bisa menyediakan penyewaan perahu atau kano. Keliling waduk. Sambil menikmati jogging track menyusuri lebatnya pohon-pohon mangrove. Waduk muara Kalilo bisa jadi destinasi tambahan bagi pengunjung Pantai Boom. Yang kebetulan lokasinya bersisian. Dan, yang terpenting, keberadaan destinasi waduk muara Kalilo bisa menghidupkan kawasan Kampung Ujung. Terutama bagi warga yang tinggal di sekitar muara Kalilo. Mereka tidak perlu iri lagi dengan tetangganya di Kampung Mandar. Yang kini sangat bergeliat. Merasakan dampak destinasi wisata ikan bakar Plengsengan. Pertanyaannya: Kapan waduk muara Kalilo menjadi kenyataan? (Pekolom Banyuwangi)

 

Artikel Terkait

Jagal Adimarga

City Dressing

Bukan Sembarang Olok-Olok

Sami Mawon atau….

Riuh B-Fest 2023

Most Read

Artikel Terbaru

/