Buang Ego demi Masa Depan Generasi Muda

Oleh: Samsudin Adlawi*

HARI ini, 26 Juli 2022, Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) genap berusia 23 tahun. Umur yang matang. Bagi sebuah perusahaan. Selama perjalanan, sesekali harus melewati halangan dan rintangan. Tapi, kami tidak mengeluh. Sebaliknya, kami mengambil hikmah yang ada di baliknya. Dengan begitu, kami tidak hanya selamat. Melainkan tumbuh menjadi lebih dewasa.

HUT ke-23 ini terasa spesial. Karena terjadi saat JP-RaBa lebih matang. Baik cara berpikirnya, maupun tindak-tanduknya. Bukti kematangan itu, antara lain, keberanian mengesampingkan ego. Tidak lagi egois. Tidak memikirkan diri sendiri—dan, melupakan pihak lain.

Maka, setelah ”membunuh” ego, teman-teman JP-RaBa sepakat untuk tidak menggelar peringatan HUT-nya dengan ”foya-foya”. Setidaknya untuk saat ini. Ketika, semua pikiran dan tenaga awak JP-RaBa tercurah kepada dua kegiatan besar. Yakni, Sedekah Buku dan Pameran Kartun-Karikatur-Lukisan-Ilustrasi-Foto Juara Dunia.

Dua event besar itu menuntut konsentrasi penuh. Selama sebulan terakhir. Rapat evaluasi hampir tiap hari digelar. Dipimpin langsung oleh ketuanya, Syaifuddin Mahmud. Pemimpin Redaksi (Pemred) JP-RaBa itu menjadi dirigen bagi anggota panitia yang lain. Setiap hari mengecek progres panitia, di masing-masing bagian, sesuai beban tanggung jawab yang diberikan.

Berhasil! Plong!

Lega rasanya.

Sedekah Buku, sebagai program pertama berhasil diresmikan kemarin (25/7). Oleh Bupati Banyuwangi Hj Ipuk Fiestiandani Azwar Anas.

Respons mayarakat luar biasa. Di luar ekspektasi. Awalnya, teman-teman di JP-RaBa pesimistis. Rasanya berat mengumpulkan 3.050 judul buku. Dalam waktu kurang dari sebulan!

Saya yakinkan panitia. Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Yang ada hanya kemalasan. Melempar handuk putih sebelum perang sebenarnya dimulai. Kata Kang Slamet Sugiono. Salah satu wakil ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB).

Dunia bukan milik orang malas. Dunia milik mereka yang selalu optimistis. Orang yang optimistis selalu menemukan jalan keluar. Bahkan, tak jarang yang ditemukannya sangat brilian. Tantangan pun, di tangan orang seperti itu, disulap menjadi keberhasilan. Sebab, dia mengimani: kegagalan merupakan sukses yang tertunda. Atau, dengan semangat ’45-nya, orang seperti itu berhasil mengambil kesuksesan yang tertukar dengan pihak lain.

Dengan evaluasi yang konsisten (dan kontinu), tim panitia Sedekah Buku tidak hanya berhasil mengumpulkan 3.050 judul. Tapi, tembus 3.318 judul buku! Secara eksemplar malah lebih banyak lagi: 4.536 buku. Itu artinya, ada sejumlah judul buku yang terdiri lebih dari satu buku.

Penyumbang buku bukan hanya ASN dan pejabat di lingkungan Pemkab Banyuwangi. Masyarakat juga datang berbondong-bondong membawa koleksi buku kesayangannya. Bahkan, sejumlah pihak dari luar Bumi Blambangan juga tak ketinggalan. Seperti Balai Bahasa Jatim yang menyedekahkan 120 judul buku. Dikirim langsung dari kantornya di Surabaya. Rektor IAINU Tuban juga tak mau ketinggalan. Dia kirim setumpuk buku lewat jasa paket. Dua contoh itu sekadar untuk menyebut contoh.

Baca Juga :  Ditinggal Tiga Maestro

Yang lebih heboh, menjelang penutupan gelombang pertama berakhir, Dinas Pendidikan Banyuwangi mengirim satu pikap buku. Sedekah dari keluarga besar Dinas Pendidikan di seluruh Kota Gandrung. ”Ini program bagus. Maka, kami tidak ragu untuk bergabung dan memberi support penuh,” ujar Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno.

”Program ini tepat sekali waktunya. Di saat anak-anak kita butuh banyak buku untuk mendukung porogram Kementerian Pendidikan, yakni membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Tentu saja, anak-anak kita butuh buku,” ucap Ketua Dewan Pendidikan Banyuwangi Sulihtiyono menimpali.

Kenapa hanya 3.050 yang dibagikan pada acara peresmian kemarin? Jujur, kami ingin membagikan semua buku yang masuk. Tapi, ada daya. Waktu tidak mengizinkannya. Tim JP-RaBa sudah ngelembur berhari-hari. Tetap saja hasilnya. Kehabisan waktu.

Kami harus realistis. Diputuskanlah untuk membagikan hanya 3.050 judul buku. Kepada 12 sekolah terpilih di seluruh Banyuwangi. Kebetulan koleksi buku mereka belum memenuhi syarat untuk menerima akreditasi C dari Perpustakaan Nasional. Alhamdulillah, setelah menerima bantuan Sedekah Buku dari JP-RaBa, 12 sekolah itu langsung dinyatakan layak mendapatkan akreditasi C. ”Untuk menerima akreditasi C dari Perpustakaan Nasional, perpustakaan sekolah harus punya koleksi buku minimal 1.000 judul. Bukan 1.000 eksemplar,” kata Kepala Dinas Perpustakaan-Kearsipan Banyuwangi Zen Kostolani.

Bagaimana dengan sisa buku yang sudah terkumpul? Jangan khawatir. Buku itu tetap akan kami distribusikan kepada yang berhak. Yakni, perpustakaan sekolah yang koleksi judul bukunya masih kurang. Nantinya, ratusan judul buku itu kami gabung dengan program Sedekah Buku gelombang 2. Yang kami buka sejak kemarin.

Monggo yang belum sempat ikut Sedekah Buku gelombang 1, langsung mendonasikan bukunya ke kantor JP-RaBa. Tim kami siap melayani di jam kerja. Atau, tim kami yang datang ke tempat pembaca, mengambil buku yang disedekahkan.

Belum sempat bernapas panjang, distribusi Sedekah Buku gelombang 2 akan kami lakukan besok pagi. Bersamaan dengan kegiatan Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa). Tempatnya di Desa Bunder, Kecamatan Kabat. Rencananya, buku Sedekah Buku itu diserahkan langsung Bupati Ipuk kepada perpustakaan SD di desa setempat.

Wa ba’du. Perayaan HUT JP-RaBa yang kedua juga sangat menguras tenaga. Karena melibatkan peserta dari luar Banyuwangi. Komunikasi intens harus terus dibangun. Dan, Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Penentuannya nanti malam.

Baca Juga :  Anak Adalah Peniru Terbaik Orang Tuanya

Direncanakan, Bupati Ipuk yang akan membuka langsung acara di Gedung Juang itu: Pameran Kartun-Karikatur-Lukisan-Ilustrasi-Foto Juara Dunia. Sesuai namanya, pameran akan men-display karya-karya hebat. Dari orang-orang hebat. Pelukis top Masdibyo akan men-display 20 karyanya. Yang dikhususkan untuk merayakan HUT ke-23 JP-RaBa. Temanya bunga. Dua puluh lukisan bunga dalam vas. Silakan pemburu lukisan Masdibyo datang langsung ke Gedung Juang. Mulai besok malam sampai 30 Juli.

Selain itu, ada 50 foto terbaik yang dipamerkan. Sesuai namanya: terbaik, puluhan foto itu merupakan foto-foto juara. Ada foto juara dunia karya Sholihuddin, wartawan Jawa Pos. Juga foto-foto juara dari wartawan foto Jawa Pos seperti Beky Subechy—termasuk foto juara karya fotografer JP-RaBa Ramada Kusuma. Selebihnya, merupakan foto-foto yang berhasil muncul di rubrik Lensa Foto Jawa Pos.

Tak kalah menghebohkan, salah satu ilustrator terbaik Indonesia, Budiono dari Jawa Pos, juga akan menyuguhkan karya-karyanya. Dipadu dengan kartun-kartun Wahyu Kokkang yang nyelekit. Semua bisa disaksikan di pameran Gedung Juang.

Bagi yang ingin belajar lebih serius tentang foto, ilustrasi, kartun, dan lukisan bisa mengikuti workshop-nya. Workshop foto bersama Beky Subechy dan Sholihuddin digelar pada 27 Juli 2022. Sedangkan pada 28 Juli 2022, ada workshop kartun-karikatur-ilustrasi-lukisan bersama trio Wahyu Kokkang-Budiono-Masdibyo.

Workshop itu disediakan khusus bagi anak muda Banyuwangi. Yang ingin mengetahui seluk-beluk ilustrasi, kartun, dan lukisan. Bukan hanya itu. Kokkang-Mudiono-Masdibyo siap buka-bukaan seputar ilmu yang mereka kuasai.

Sayang disayangkan bila kesempatan langka yang pertama di Kota the Sunrise of Java itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Kami ingin membuka wawasan anak muda Banyuwangi. Bahwa, seni rupa itu tidak hanya lukisan. Tapi banyak genrenya.

Dan, salah satu anak muda Banyuwangi sudah membuktikannya. Namanya, Ade Mahardika. Dia berhasil menggambar ilustrasi karakter pemain sepak bola. Dia pun dikontrak oleh klub elite Serie A Italia, AS Roma. Konon, satu gambarnya dihargai 100 euro. Ketika kompetisi Serie A dimulai, dalam sepekan dia diminta mengirim 4 meme. Berarti dalam semimggu dia mendapatkan pemasukan 400 euro. Tinggal mengalikan saja dalam rupiah. Per kemarin, nilai kurs euro ke rupiah sebesar Rp 15.290. Berarti dalam seminggu, Ade menerima transferan Rp 6.116.000! Sangat menginspirasi. (*)

*) Pekolom Banyuwangi