alexametrics
24.6 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Berpacu dengan Vaksin

BERGERAK cepat. Juga tepat. Waktunya harus tepat. Sasarannya pun demikian. Tidak boleh bleset.

Sebenarnya, agar cepat tuntas ada caranya. Cukup tutup mata. Abaikan ketepatan sasaran. Sasar saja siapa saja. Tidak usah ditentukan: harus ini harus itu.  

Sayang, caranya tidak seperti itu. Pusat sudah menentukan. Kelompok mana yang menjadi sasaran.

Jadi, tidak boleh asal cepat. Tapi, harus presisi. Tepat waktu sekaligus sasaran.

Itulah yang dilakukan Pemkab Banyuwangi. C.q. Satgas Covid-19. Saat ini. Harus kerja keras. Harus menghabiskan jatah vaksin. Yang sudah diterimanya: vaksin AstraZaneca. Maksimal 30 Juni 2021—sesuai tanggal kedaluwarsanya.

Gerak cepat pun dilakukan. Dipantau langsung oleh Bupati Ipuk Festiandani Azwar Anas. Bukan hanya memantau. Bupati Ipuk bahkan ikut menjemput langsung. Bersama tim kesehatan. ”Ayo Mbah, ke mobil semua ya. Kita ke kantor kelurahan untuk vaksinasi,” ajak Ipuk saat menjemput lima lansia di rumahnya, Kampung Pancoran, Kelurahan Banjarsari, pekan kemarin.

Kenapa Ipuk sampai ikut-ikutan melakukan penjemputan. Karena sasaran vaksin Covid-19 saat ini adalah kelompok lansia. Sesuai jadwal. Setelah kelompok rentan tim medis, TNI-Polri, jurnalis, petugas layanan publik, pelaku ekonomi, dan agamawan-tokoh masyarakat, kini giliran kelompok lansia.

Sangat banyak kelompok lansia yang disasar. Sebanyak 150 ribu dosis vaksin disiapkan untuk mereka. Hampir separo dari total vaksin yang diterima Banyuwangi. ”Yakni, 254.180 dosis vaksin AstraZaneca,” kata Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr Widji Lestariono.

Bukan hanya Bupati Ipuk. Wabup Sugirah juga turun gunung. Memantau pelaksanaan vaksinasi lansia. Di beberapa tempat. Seperti Kalibaru Kulon. Beberapa waktu lalu.

Kehadiran bupati dan wabup itu menjadi vitamin bagi tim di lapangan. Yang melakukan jemput bola. Menggelar vaksinasi sedekat mungkin dengan tempat tinggal kelompok sasaran.

Vaksinasi lansia tidak dilakukan terpusat. Di satu tempat. Misal, kantor Dinas Kesehatan. Atau di 45 puskesmas yang di Banyuwangi. Selain rawan menimbulkan kerumunan—dan rawan memunculkan klaster baru, adalah sangat tidak manusiawi mengundang para lansia datang ke puskesmas atau bakhkan ke kantor Dinkes.

Lansia itu pendek langkahnya. Beberapa langkah kaki saja sudah terengah-engah. Napasnya sudah satu dua. Apalagi, yang jalannya sudah seperti balita. Tertatih-tatih. Sambil mencari tempat pegangan.

Baca Juga :  Memperjelas Status

Saya jadi teringat pengalaman di Baznas (Badan Amil Zakat Nasional). Ketika menjabat ketua, saya membuat program antar bantuan secara door to door. Datang langsung ke rumah mustahik. Yang mayoritas dari kelompok lansia.

Keputusan itu terinspirasi dari model distribusi bantuan terpusat. Yang dilakukan oleh pemerintah. Dan, bahkan oleh Baznas sendiri. Di awal-awal saya menjadi ketuanya. Saya terenyuh melihat orang-orang sepuh diturunkan dari pikap terbuka. Lalu dituntun menuju aula kantor kecamatan. Hati nurani saya langsung berontak: ”Ini sangat tidak manusiawi”.

Sejak saat itu, saya mengajak para komisioner Baznas bersama UPZ (Unit Pengumpul Zakat) turun gunung. Sepekan sekali. Bahkan, lebih dari sekali dalam sepekan. Mengantar bantuan sembako dan konco-konco-nya. Ke rumah para lansia. Pak RT, kadus, lurah/kades, camat, bahkan muspika sering mendampingi. Malah ikut menggotong bantuan yang akan dibagikan. Mereka tampak senang sekali. Melihat warganya dibantu Baznas.

Ternyata model kerja keroyokan juga dilakukan tim vaksinasi. Para pimpinan puskesmas berkoordinasi dengan muspika: camat, danramil, dan kapolsek, di wilayahnya masing-masing. Inti koordinasinya: tim tidak bisa bekerja sendiri. Harus melibatkan perangkat organisasi yang ada.

”Saya minta bantuan Pak Lurah. Lalu Pak Lurah memerintah para ketua RT di wilayahnya. Agar mengajak warganya yang lansia ke kantor kelurahan. Untuk divaksin,” kata Kepala Puskesmas Paspan Yunus Setiawan.

Rupanya, para ketua RT tidak hanya mendatangi rumah warga lansianya. Mereka juga memanfaatkan fasilitas woro-woro yang ada di wilayahnya. Yakni, toa masjid. ”Monggo, Bapak dan Ibu lansia yang sudah diberi tahu Pak RT, besok datang ke tempat vaksinasi nggih. Jangan lupa nggih,” bunyi siaran lewat toa masjid Kebalenan, di seberang kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Pekan lalu (Rabu, 19/6), saya menyempatkan waktu. Datang ke kantor Kelurahan Bakungan. Melihat langsung proses vaksinasi model geropyokan itu. Ternyata luar biasa. Yang datang cukup banyak. Sampai antre. Tapi tertib. Tim medis Puskesmas Paspan dan pegawai kelurahan bahu-membahu. Melayani ratusan lansia. Yang datang bergelombang. Didampingi RT-nya. Bahkan, yang tidak sanggup berjalan dijemput di rumahnya. Pakai ambulans. Ada pula yang divaksin di rumahnya.

Baca Juga :  Sumur Marani Timbo

Namun, yang datang langsung ke kelurahan sangat bersemangat. Meski usianya rata-rata sudah senja. Ada yang pakai kruk. Juga tongkat. Mereka berjalan dari rumahnya. ”Rumah saya tidak jauh dari sini. Saya diberi tahu Pak RT, diminta ke kantor kelurahan. Untuk disuntik,” kata Arito penuh semangat. Kakek 70 tahun itu datang dengan tongkat di tangan kanannya.

Dibutuhkan kesabaran ekstra. Melayani para lansia. Petugas harus membimbing. Bahkan, memapah para lansia. Ketika pindah dari satu meja ke meja berikutnya. ”Yang pasti, mereka tidak usah mengisi formulir. Cukup tanda tangan dan menunjukkan KTP. Petugas yang mengisinya,” kata dr Purwanto.

Dokter Puskesmas Paspan itu tampak sibuk. Tapi tetap sabar menuntun para lansia yang akan divaksin. Ia sangat menikmati. Apalagi tingkah dan tutur sebagian lansia cukup menghibur. Misal, di meja pendaftaran petugas bertanya kepada seorang lansia: ”Jenengan punya jantung, Mbah?’’

”Ya, punya to, Mbak. Di dalam sini jantung saya (sambil menunjuk dadanya). Kalau tidak punya jantung saya kan sudah mati.”

Jawaban spontan itu membuat petugas, dr Purwanto, dan saya terpingkal. Padahal, yang dimaksud petugas adalah riwayat sakit jantung. Tapi, dia tetap salah. Pertanyaannya kurang lengkap.

Wa ba’du. Pengalaman memang guru paling top. Vaksinasi model geropyokan dilakukan setelah mengevaluasi vaksinasi lansia Maret lalu. Yang hasilnya kurang bagus. Catatan Dinkes, saat itu hanya sekitar 3.200 lansia yang divaksin. Karena vaksinasinya dilakukan di tempat tertentu. Dan, tidak semasif sekarang.

Semoga vaksinasi 150 ribu dosis AstraZeneca untuk lansia segera tuntas. Dan, akhir Juni nanti, 254.180 dosis vaksin AstraZaneca sudah tersuntikkan semua. Kepada kelompok sasaran baru: guru, kader posyandu, takmir masjid dan musala, perangkat desa hingga RT. Kalau masih ada sisa, cari kelompok sasaran baru lagi. Sampai benar-benar habis. Sebagai jawaban atas kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat. Sekaligus bentuk pertanggungjawaban.

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

BERGERAK cepat. Juga tepat. Waktunya harus tepat. Sasarannya pun demikian. Tidak boleh bleset.

Sebenarnya, agar cepat tuntas ada caranya. Cukup tutup mata. Abaikan ketepatan sasaran. Sasar saja siapa saja. Tidak usah ditentukan: harus ini harus itu.  

Sayang, caranya tidak seperti itu. Pusat sudah menentukan. Kelompok mana yang menjadi sasaran.

Jadi, tidak boleh asal cepat. Tapi, harus presisi. Tepat waktu sekaligus sasaran.

Itulah yang dilakukan Pemkab Banyuwangi. C.q. Satgas Covid-19. Saat ini. Harus kerja keras. Harus menghabiskan jatah vaksin. Yang sudah diterimanya: vaksin AstraZaneca. Maksimal 30 Juni 2021—sesuai tanggal kedaluwarsanya.

Gerak cepat pun dilakukan. Dipantau langsung oleh Bupati Ipuk Festiandani Azwar Anas. Bukan hanya memantau. Bupati Ipuk bahkan ikut menjemput langsung. Bersama tim kesehatan. ”Ayo Mbah, ke mobil semua ya. Kita ke kantor kelurahan untuk vaksinasi,” ajak Ipuk saat menjemput lima lansia di rumahnya, Kampung Pancoran, Kelurahan Banjarsari, pekan kemarin.

Kenapa Ipuk sampai ikut-ikutan melakukan penjemputan. Karena sasaran vaksin Covid-19 saat ini adalah kelompok lansia. Sesuai jadwal. Setelah kelompok rentan tim medis, TNI-Polri, jurnalis, petugas layanan publik, pelaku ekonomi, dan agamawan-tokoh masyarakat, kini giliran kelompok lansia.

Sangat banyak kelompok lansia yang disasar. Sebanyak 150 ribu dosis vaksin disiapkan untuk mereka. Hampir separo dari total vaksin yang diterima Banyuwangi. ”Yakni, 254.180 dosis vaksin AstraZaneca,” kata Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr Widji Lestariono.

Bukan hanya Bupati Ipuk. Wabup Sugirah juga turun gunung. Memantau pelaksanaan vaksinasi lansia. Di beberapa tempat. Seperti Kalibaru Kulon. Beberapa waktu lalu.

Kehadiran bupati dan wabup itu menjadi vitamin bagi tim di lapangan. Yang melakukan jemput bola. Menggelar vaksinasi sedekat mungkin dengan tempat tinggal kelompok sasaran.

Vaksinasi lansia tidak dilakukan terpusat. Di satu tempat. Misal, kantor Dinas Kesehatan. Atau di 45 puskesmas yang di Banyuwangi. Selain rawan menimbulkan kerumunan—dan rawan memunculkan klaster baru, adalah sangat tidak manusiawi mengundang para lansia datang ke puskesmas atau bakhkan ke kantor Dinkes.

Lansia itu pendek langkahnya. Beberapa langkah kaki saja sudah terengah-engah. Napasnya sudah satu dua. Apalagi, yang jalannya sudah seperti balita. Tertatih-tatih. Sambil mencari tempat pegangan.

Baca Juga :  Taktik Jenderal Sudirman

Saya jadi teringat pengalaman di Baznas (Badan Amil Zakat Nasional). Ketika menjabat ketua, saya membuat program antar bantuan secara door to door. Datang langsung ke rumah mustahik. Yang mayoritas dari kelompok lansia.

Keputusan itu terinspirasi dari model distribusi bantuan terpusat. Yang dilakukan oleh pemerintah. Dan, bahkan oleh Baznas sendiri. Di awal-awal saya menjadi ketuanya. Saya terenyuh melihat orang-orang sepuh diturunkan dari pikap terbuka. Lalu dituntun menuju aula kantor kecamatan. Hati nurani saya langsung berontak: ”Ini sangat tidak manusiawi”.

Sejak saat itu, saya mengajak para komisioner Baznas bersama UPZ (Unit Pengumpul Zakat) turun gunung. Sepekan sekali. Bahkan, lebih dari sekali dalam sepekan. Mengantar bantuan sembako dan konco-konco-nya. Ke rumah para lansia. Pak RT, kadus, lurah/kades, camat, bahkan muspika sering mendampingi. Malah ikut menggotong bantuan yang akan dibagikan. Mereka tampak senang sekali. Melihat warganya dibantu Baznas.

Ternyata model kerja keroyokan juga dilakukan tim vaksinasi. Para pimpinan puskesmas berkoordinasi dengan muspika: camat, danramil, dan kapolsek, di wilayahnya masing-masing. Inti koordinasinya: tim tidak bisa bekerja sendiri. Harus melibatkan perangkat organisasi yang ada.

”Saya minta bantuan Pak Lurah. Lalu Pak Lurah memerintah para ketua RT di wilayahnya. Agar mengajak warganya yang lansia ke kantor kelurahan. Untuk divaksin,” kata Kepala Puskesmas Paspan Yunus Setiawan.

Rupanya, para ketua RT tidak hanya mendatangi rumah warga lansianya. Mereka juga memanfaatkan fasilitas woro-woro yang ada di wilayahnya. Yakni, toa masjid. ”Monggo, Bapak dan Ibu lansia yang sudah diberi tahu Pak RT, besok datang ke tempat vaksinasi nggih. Jangan lupa nggih,” bunyi siaran lewat toa masjid Kebalenan, di seberang kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Pekan lalu (Rabu, 19/6), saya menyempatkan waktu. Datang ke kantor Kelurahan Bakungan. Melihat langsung proses vaksinasi model geropyokan itu. Ternyata luar biasa. Yang datang cukup banyak. Sampai antre. Tapi tertib. Tim medis Puskesmas Paspan dan pegawai kelurahan bahu-membahu. Melayani ratusan lansia. Yang datang bergelombang. Didampingi RT-nya. Bahkan, yang tidak sanggup berjalan dijemput di rumahnya. Pakai ambulans. Ada pula yang divaksin di rumahnya.

Baca Juga :  Kebijakan Tidak Populis di Tengah Krisis

Namun, yang datang langsung ke kelurahan sangat bersemangat. Meski usianya rata-rata sudah senja. Ada yang pakai kruk. Juga tongkat. Mereka berjalan dari rumahnya. ”Rumah saya tidak jauh dari sini. Saya diberi tahu Pak RT, diminta ke kantor kelurahan. Untuk disuntik,” kata Arito penuh semangat. Kakek 70 tahun itu datang dengan tongkat di tangan kanannya.

Dibutuhkan kesabaran ekstra. Melayani para lansia. Petugas harus membimbing. Bahkan, memapah para lansia. Ketika pindah dari satu meja ke meja berikutnya. ”Yang pasti, mereka tidak usah mengisi formulir. Cukup tanda tangan dan menunjukkan KTP. Petugas yang mengisinya,” kata dr Purwanto.

Dokter Puskesmas Paspan itu tampak sibuk. Tapi tetap sabar menuntun para lansia yang akan divaksin. Ia sangat menikmati. Apalagi tingkah dan tutur sebagian lansia cukup menghibur. Misal, di meja pendaftaran petugas bertanya kepada seorang lansia: ”Jenengan punya jantung, Mbah?’’

”Ya, punya to, Mbak. Di dalam sini jantung saya (sambil menunjuk dadanya). Kalau tidak punya jantung saya kan sudah mati.”

Jawaban spontan itu membuat petugas, dr Purwanto, dan saya terpingkal. Padahal, yang dimaksud petugas adalah riwayat sakit jantung. Tapi, dia tetap salah. Pertanyaannya kurang lengkap.

Wa ba’du. Pengalaman memang guru paling top. Vaksinasi model geropyokan dilakukan setelah mengevaluasi vaksinasi lansia Maret lalu. Yang hasilnya kurang bagus. Catatan Dinkes, saat itu hanya sekitar 3.200 lansia yang divaksin. Karena vaksinasinya dilakukan di tempat tertentu. Dan, tidak semasif sekarang.

Semoga vaksinasi 150 ribu dosis AstraZeneca untuk lansia segera tuntas. Dan, akhir Juni nanti, 254.180 dosis vaksin AstraZaneca sudah tersuntikkan semua. Kepada kelompok sasaran baru: guru, kader posyandu, takmir masjid dan musala, perangkat desa hingga RT. Kalau masih ada sisa, cari kelompok sasaran baru lagi. Sampai benar-benar habis. Sebagai jawaban atas kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat. Sekaligus bentuk pertanggungjawaban.

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

Artikel Terkait

Méméngane Kurang Adoh

Seperti Apa Dua Tahun Lagi

Most Read

Artikel Terbaru

/