Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Man Nahnu
icon featured
Man Nahnu

Lihai Mencari Kursi

Oleh: Samsudin Adlawi*

24 November 2021, 11: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Lihai Mencari Kursi

Share this      

SEMUA memburu kursi. Kalau tidak percaya, silakan tanya sendiri ke pengurus partai politik (parpol).

Doktrin itu menancap kuat di otak pengurus parpol. Terutama para ketuanya. Mereka mendapat target dari pengurus pusat: harus berjuang sekuat daya mencapai target jumlah kursi. Bisa melebihi target akan mendapat apresiasi. Bila kurang dari target, siap-siap menerima punishment. Bagi ketua parpol, capaian kursi legislatif kurang dari target bisa menjadi lampu merah.

Makanya, para ketua parpol ketika ditanya soal target kursi legislatif di pemilu mendatang, mereka akan memberi jawaban sangat optimistis—meski kadang terdengar kurang realistis. Atau, sebaliknya, mereka memberi target minimal. Yakni, sama dengan capaian pemilu sebelumnya.

Baca juga: Santri Sepanjang Hayat

Kalau semua berjuang mendapat kursi sebanyak-banyaknya, konsekuensinya ada parpol yang bakal kehilangan jatah kursinya. Risiko itu harus diterima. Terutama parpol yang malas. Mereka harus rela kursinya ”dicuri” oleh parpol yang lain.

Memang seperti itulah gambaran peta kontestasi politik. Dari satu pemilu ke pemilu berikutnya. Maka, sangat masuk akal, jika banyak parpol menyiapkan strategi sedini mungkin. Ibarat perang, sebelum bertempur seorang jenderal harus menguasai medan pertempurannya. Musuh yang akan dihadapi siapa. Kelemahannya apa. Termasuk apa yang akan dilakukan oleh musuhnya. Menggunakan senjata apa. Peran strategi menjadi sebuah keniscayaan dalam peperangan.

Ketika tahu pemilu serentak (pemilu presiden-wapres), pemilu legilastif (pusat, provinsi, dan kabupaten/kota) akan dilaksanakan pada 2024, parpol di daerah mulai ancang-ancang. Memanasi ”mesin politiknya”. Termasuk parpol di Banyuwangi. Juga Situbondo.

Dalam lapsus ”Songsong Pemilu 2024”, Jawa Pos Radar Banyuwangi menampilkan hasil wawancara dengan pimpinan parpol PDIP, Demokrat, Golkar, dan PKB (18/11). Tampaknya mereka sudah siap. Dan, bahkan, segera menyiapkan strategi pencalegan di partainya. Diawali dengan rekrutmen para caleg.

Ketua Partai Demokrat (PD) Banyuwangi Michael Edy Hariyanto menyampaikan provokasi jitu. Bukan calon dengan kekuatan finansial yang kuat. Atau caleg dengan ketokohan yang kuat. PD, kata Michael, ingin mencari caleg yang justru tak memiliki tujuan untuk menjadi anggota dewan. ”Yang jelas, karena partai ingin memikirkan rakyat, yang kita cari nanti adalah calon yang punya hati dan mau mengerti keadaan rakyat. Tidak hanya asal punya uang dan pintar. Itu nomor ke sekian,” tuturnya.

Entah berdasar pengalaman parpolnya atau bukan, yang pasti dari sudut pandang marketing, pernyataan Michael itu sangat cerdas. Sangat ”menjual”. Dengan bahasa sederhana: ayo siapa saja yang ingin mengabdi, melayani rakyat sebagai legislator, silakan gabung PD. Jangan memikir biayanya berapa dulu!

Lain lagi dengan PKB. Menyimak pernyataan Ketua DPC PKB Banyuwangi KH Abdul Malik Syafa’at, PKB punya target begitu tinggi: 25 kursi. Padahal, pada Pemilu 2019, PKB Bumi Blambangan hanya meraih 9 kursi. Mungkin target 25 kursi itu ingin menyamai perolehan Pemilu 2014? Ups, ternyata pada Pemilu 2014 PKB Kota Gandrung mendapat 10 kursi.

Jadinya, target PKB itu terlihat ambisius. Tapi, parpol memang harus punya DNA ambisi besar. Itu lumrah. Tidak masalah. Asalkan didukung dengan persiapan dan strategi mumpuni. Gus Malik dkk ternyata sudah memulainya. Antara lain dengan melakukan coaching clinic serta pemetaan dapil. Dan, awal 2022, PKB akan meresmikan program Pencalegan Dini. Disambung fit and proper test dan talent scouting caleg.

Partai Golkar Banyuwangi tidak mau ketinggalan kereta. Partai berlambang pohon beringin itu sudah mulai melakukan konsolidasi internal. Mulai pengurus kabupaten hingga ranting. Lewat pendidikan politik dan implementasi kepemimpinan. ”Kami telah memiliki cara bagaimana dapat mengembalikan jumlah kursi DPRD Banyuwangi. Dan, itu tidak bisa saya kerjakan sendiri. Maka butuh kebersamaan dan soliditas pengurus partai,” kata Ketua DPD Partai Golkar Banyuwangi Ruliyono.

Persiapan tidak kalah serius pasti juga dilakukan dilakukan oleh PDIP. Sebagai juara peraih kursi terbanyak di DPRD Banyuwangi pada Pemilu 2019: 12 kursi! ”Yang pasti PDIP mempersiapkan kader-kader terbaik,” tegas Ketua DPC PDIP Banyuwangi I Made Cahyana Negara.

Sebagai rakyat, calon pemilih pada Pemilu 2024, tentu kita menunggu figur seperti apa yang bakal ditawarkan parpol kepada calon pemilihnya. Masing-masing parpol pasti punya syarat dan ketentuan untuk para calon caleg yang akan diterima.

PKB, misalnya, sudah menerapkan beberapa kriteria. Di antaranya: caleg harus memiliki popularitas, punya jaringan luas, pengalaman, dan logistik untuk proses sosialisasi. Partai lainnya dipastikan juga punya ”selera” sendiri dalam menentukan calegnya.

Wa ba’du. Ada dua hal penting yang harus diperhatikan parpol soal pencalegan. Pertama, era teknologi informasi telah mengubah wajah dunia. Tak terkecuali dunia politik. Memang, pada Pemilu 2019 sudah marak oleh medsos. Namun, perkembangan digital begitu cepatnya. Terutama di dua terahun terakhir ini. Sampai menjelang Pemilu 2014. Perang opini dan hoaks akan semakin dahsyat. Siapa sedang dan telah melakukan apa, dengan mudah diketahui oleh orang lain. Dan diunggahnya di medsos sebagai kampanye hitam.

Perkembangan era digital itu bisa dimanfaatkan oleh parpol. Misalnya, terus memantau dan meneliti siapa pengguna terbanyak medsos di kota the Sunrise of Java. Siapa saja pemainnya. Orang tua, setengah tua, muda, atau bahkan anak-anak. Yang disebut terakhir diabaikan saja. Karena tidak termasuk objek pemilu. Kecuali mereka yang per hari ini sudah berusia 15 tahun.

Kedua, pemetaan dapil belum cukup ampuh. Kecuali dilengkapi dengan pemetaan angka-angka demografi. Dalam peta demografi jelas terbaca, seperti apa profil calon pemilih Pemilu 2024. Tanpa mempelajari dengan saksama, target perolehan kursi hanya akan menjadi angan-angan kosong.

Pastinya, parpol yang masih berpikir bahwa calon pemilih pada Pemilu 2024 sama dengan pemilih pada Pemilu 2019 bakal ngaplo. Logikanya sangat sederhana. Coba pengurus parpol cari data berapa warga yang meninggal akibat virus Covid-19. Usia mereka berapa. Berada di dapil mana saja. Dst. Dengan melakukan riset kecil-kecilan seperti itu, akan diketahui: ”O, yang meninggal akibat Covid-19 ternyata dulu nyoblos caleg partai ini dan itu”.

Dari data demografi, juga akan terlihat jelas berapa jumlah anak-anak muda yang bakal menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2024. Bagaimana kalau jumlah mereka mencapai 25 persen dari total pemilih?

Tentu, harus disiapkan strategi khusus untuk menggaet pemilih pemula itu. cara-cara konvensional tidak akan mempan untuk merayu mereka—anak-anak yang saban hari tak pernah lepas dari gadget. Dibutuhkan strategi yang sesuai dengan dunia mereka.

Akankah pemilih muda memilih caleg muda? Atau, mereka malah memilih caleg tua, karena dianggap berpengalaman dan menawarkan program-program menarik bagi anak muda? Selamat berpikir!

*) Penulis Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia