Wawarah

Oleh: Samsudin Adlawi*

KITA bersyukur. Punya kota seperti Banyuwangi. Kota bertabur prestasi. Prestasi yang tidak ecek-ecek. Melainkan berkelas. Mulai prestasi kelas regional sampai internasional.

Gemilang prestasi tidak lantas membuat kota the Sunrise of Java kalap. Seperti yang dialami banyak kota lain. Merasa besar dan berprestasi, kota-kota di luar sana itu bergegas mengubah wajah kotanya. Mereka menganggap kotanya sudah kuno. Ketinggalan zaman. Tidak sepadan dengan prestasi yang dicapainya.

Kota-kota itu menganggap prestasi identik dengan modernisasi. Maka, pembangunan membabi buta dilakukan. Wajah kotanya disulap. Gedung-gedung pencakar langit didirikan. Dilengkapi fasilitas modern dan paling canggih. Syahwat membangun itu tak terbendung. Tak ada yang bisa menghalanginya. Sekalipun jelas-jelas mengancam dan merusak lingkungan.

Bila penguasa punya mau, tak ada yang bisa mencegahnya. Termasuk kenekatannya mengobrak-abrik tata ruang kota. Yang tersegel dalam peraturan daerah. Hasilnya, kota yang dulunya asri, nyaman, dan menyenangkan. Kini berubah jadi kota bising. Dipayungi polutan. Kentut knalpot kendaraan setiap hari bebas mengasapi wajah seluruh kota. Tak ada lagi dedauan pepohonan yang menjaringnya.

Fenomena itu terjadi di kota lain. Bukan di Bumi Blambangan. Prestasi Banyuwangi memang menyilaukan. Dalam satu dekade terakhir. Tapi, pimpinannya tidak silau terhadap gemerlap kota modern. Kita tahu, melihat dengan mata sendiri, Banyuwangi terus membangun kotanya.

Hotel-hotel berbintang bermunculan. Tinggi-tinggi pula. Tapi, berdirinya bangunan-bangunan baru itu tidak sampai merusak keasrian Kota the Sunrise of Java. Kehadiran bangunan lambang kemajuan kota itu tidak sampai menabrak tata ruang kota (TRK). Karena TRK-nya dijaga ketat. Dan, harus berpikir seribu kali untuk mengubahnya.

Pembangunan Bandara Internasional Banyuwangi contoh nyatanya. Kehadiran bandara yang baru saja membanggakan Indonesia itu malah dibarengi dengan penataan ketat lingkungan di sekitarnya. Pemkab Banyuwangi langsung memblok hitam kawasan di sekitar bandara. Sawah dan tanah kosong yang mengelilingi Bandara Internasional Banyuwangi akan tetap hijau. Tidak akan ada bangunan tinggi yang bisa mengganggu aktivitas penerbangan.

Baca Juga :  Mohamad Arifin, dari Tukang Sampah Terpilih Menjadi Kades Kemiren

Lingkungan yang hijau itu bagian dari lanskap Bandara Banyuwangi. Yang tidak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya. Jadilah Bandara Banyuwangi sebagai bandara internasional rasa desa. Dan, itulah pertimbangan juri Aga Khan Award of Architecture 2022 menetapkan Bandara Internasional Banyuwangi sebagai pemenang penghargaan arsitektur paling bergengsi di dunia tersebut.

Banyak cara dilakukan untuk menjaga tata ruang kota Banyuwangi. Pemkab Banyuwangi terus melakukan sosialisasi soal tata ruang kotanya. Kepada masyarakat. Agar mereka ikut memiliki kotanya. Dan, kemudian, ikut menjaganya. Bersama-sama pemerintah. Dari berbagai upaya yang bisa mengancam kerusakan wajah kota.

Guna menggelorakan rasa ikut memiliki masyarakat terhadap kotanya—wa bilkhusus soal tata ruang kota, Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (DPU-CKPP) Kabupaten Banyuwangi punya ide menarik. Yakni, mengadakan lomba Wawarah in Osing (WaOs). Sebuah lomba yang tidak biasa. Setidaknya masih asing di telinga masyarakat.

WaOs mirip dengan TED—event public speaking yang mulai sering digelar di kota besar. Tapi, saya kira, WaOs lebih keren dari TED. Saya yakin, orang Banyuwangi juga akan mengatakannya begitu. Sebab, WaOs akan menjadi event kebanggaan Banyuwangi di masa mendatang. Di mana kebanggaannya? Di namanya. Ya. Namanya sangat Banyuwangi. Ngosing pol. Fokuskan mata pada kata wawarah. Itu kata asli Osing. Dari kata warah-warah. Artinya presentasi atau paparan. Semakna dengan jelentreh. Juga dodoh-dodoh.

Tapi, warah-warah lebih keren. Enak didengar. Memanjakan telinga dan ingatan (baca: mudah diingat). Kok bisa jadi wawarah? Warah-warah terlalu panjang. Butuh tarikan napas lebih untuk melafalkannya. Teori bahasa memungkinkan untuk menyingkatnya. ”Menggunakan cara asimilasi,” kata ahli bahasa Oseng Minhajul Qowim.

Baca Juga :  Santri Sepanjang Hayat

Setelah diasimilasi dengan penghilangan (sebagian) bunyinya, warah-warah pun menjadi wawarah. Hal yang sama terjadi pada lare-lare yang menjadi lalare. Saat awal dikenalkan, kata lalare terasa asing di telinga orang Banyuwangi. Kata itu saya kenalkan pertama kali untuk menamai konser grup musik etnik anak-anak Banyuwangi. Namanya: Lalare Orkestra. Sudah sangat terkenal kini. Bahkan, sudah menjelma menjadi Akademi Lalare Orkestra.

Begitu ceritanya. Masyarakat Banyuwangi punya istilah baru. Mulai sekarang, orang Kota Gandrung harus membiasakan lidahnya mengujarkan ”wawarah”. Sebagai pengganti presentasi, paparan, dan bahkan TED. Maka jangan heran, bila telinga Anda hadir di sebuah seminar, mendengar kalimat dari mulut moderator: ”Silakan narasumber menyampaikan wawarahnya.”

”Menata Banyuwangi Menuju Tata Ruang Kota Berkualitas” menjadi tema WaOs perdana. Yang sedang berjalan prosesnya. Para peserta diberi kesempatan melakukan wawarah maksimal delapan menit. Puncaknya, juaranya akan diberi kesempatan unjuk kebolehan di depan Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Pada malam awarding pada 27 November mendatang. Di amfiteater Gedung Juang 45.

Temanya kelihatan sepele. Tapi tetap saja, untuk mengeksplorasinya dalam wawarah butuh persiapan matang. Setidaknya, para peserta harus melakukan riset tentang tata ruang Banyuwangi. Agar bisa menampilkan sekaligus menawarkan detail-detail tata ruang berkualitas. Sebagai bahan untuk menata (kota) Banyuwangi di masa mendatang.

Wa ba’du. Banyak materi yang bisa diangkat peserta. Tapi, apa pun materi yang akan disampaikan, jangan sampai lepas dari ruh pembangunan Banyuwangi. Apa itu? Pariwisata. Banyuwangi bukan kota industri!

Maka, jika ada peserta yang mengangkat tema kota industri ke dalam materi wawarahnya, itu sama dengan makan bakso serasa besi. Bukan pentolnya yang disantap. Melainkan sendok atau garpunya yang dikunyah. Aneh kan….

*) Pekolom Banyuwangi