28.8 C
Banyuwangi
Saturday, February 4, 2023

OLEH : SAMSUDIN ADLAWI (529)

Dalam Makan Ada Pelajaran Kepemimpinan

MELIHAT strata sosialnya. Ditambah posisinya. Sangat memungkinkan beliau berada di urutan nomor satu. Saat makan. Tapi privilege itu dicampakkannya. Dalam tong sampah. Tak jauh dari tempat prasmanan.

Itulah yang dilakukan KH Hasyim Syafa’at. Salah satu pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Blokagung, Dusun Kaligesing, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi. Kiai Hasyim memilih mengambil makanan paling akhir. Alias nomor buncit.

Setelah sekian menit, ada beberapa jemaah yang selesai makan. Mereka meletakkan piring di sekitar meja prasmanan. Kiai Hasyim langsung menghampiri dua piring. ”Beliau mengumpulkan sisa nasi di dua piring itu. Dijadikan satu dalam satu piring. Sisa makan jemaah itu yang beliau makan,” kenang KH Abdul Ghofar.

Ustad kondang asal Rogojampi itu kaget. Terheran-heran. Meihat kiainya—Ustad Ghofar pernah nyantri di Ponpes Darussalam, Blokagung— makan dari sisa-sisa jemaah. Dalam hati, dia tidak tega melihat pemandangan yang baru disaksikannya. Di depan mata dan hidungnya!

Kisah itu terjadi beberapa tahun silam. Saat Ustad Ghofar bersama Kiai Hasyim mendampingi jemaah umrah. Ustad kocak itu menceritakannya kembali kepada saya. Sebelum mengisi pengajian di lingkungan Perumahan Graha Blambangan, sekitar sebulan lalu.

”Saya kaget,” lanjut Ustad Ghofar, ”kenapa Kiai Hasyim makan dari makanan sisa. Tapi, sebagai santri saya yakin, ada pelajaran yang bisa dipetik dari tindakan Kiai Hasyim.”

Benar prediksi Ustad Ghofar. Ketika mengisi ”pengajian” di sela-sela jadwal ritual umrah, Kiai Hasyim menjelaskan: kenapa dirinya lebih memilih memunguti sisa makanan jemaah. Bukan mengambil nasi baru yang lebih fresh. Tapi beliau tidak sampai mengungkap, siapa gerangan pemilik dua piring yang masih menyisakan banyak nasi. ”Kalau memimpin nasi saat makan saja tidak bisa, bagaimana bisa memimpin dengan baik,” ujar Kiai Hasyim seperti dikisahkan kembali oleh Ustad Ghofar.

Baca Juga :  Saksi Satu Abad NU

Nasi itu seperti rakyat. Semuanya harus mendapat perlakuan yang adil. Semua ingin merasakan kebanggaan. Dikunyah lalu dimasukkan ke perut orang yang mengambilnya. Bisa dibayangkan, seperti apa kesedihan nasi yang tertinggal di piring.

Pemimpin harus bisa membaca dan mengerti perasaan masyarakat yang dipimpinnya. Ia tidak boleh membeda-bedakan rakyatnya. Semua harus mendapat perhatian yang sama. Sesuai kadar dan status sosialnya—tentu saja. Seperti nasi, rakyat harus diangkat semua dari piring kemiskinan. Jangan sampai, ada rakyat yang hidup di piring emas, bergelimang kemewahan. Sementara yang lain tercampak di tumpukan piring bekas pesta makan orang-orang kaya.

Dari nasi pula, kita bisa memetik pelajaran tentang sebuah perjalanan hidup. Caranya, sebelum makan coba tatap baik-baik onggokan nasi di atas piring. Fokuskan pikiran pada nasi di depan Anda. Lalu mulai bayangkan sebuah perjalanan panjang yang dilalui nasi, hingga akhirnya tergeletak di piring di atas meja makan Anda.

Bila benar cara membayangkannya, Anda akan merasa iba. Tanpa diminta. Tanpa dikomando. Betapa panjang dan melelahkannya perjalanan nasi itu. Kita tahu, perjalanan nasi itu diawali dari sawah. Yakni, ketika para petani membajak sawah. Melunakkan tanah. Agar benar-benar menjadi media terbaik. Untuk menanam. Lalu di bawah sengatan terik matahari, para petani menancapkan bibit-bibit padi. Dengan berjalan mundur. Dalam posisi badan membungkuk. Selama berjam-jam. Tergantung luasan sawah yang ditanaminya. Keringat sejagung-jagung bercucuran dari wajah dan tubuhnya.

Baca Juga :  Wariskan Kreativitas di Mana pun Bertugas

Setelah padi tumbuh, mereka datang lagi ke sawah. Berjalan di sela-sela batang padi yang mulai menghijau. Melakukan penyiangan. Matun. Memunguti dan membuang gulma. Tanaman-tanaman liar yang rakus. Bisa merampok ”jatah” asupan makan batang padi.

Tidak berhenti di situ. Para petani masih harus merelakan tubuhnya dibakar matahari lagi. Juga membiarkan tubuhnya dihinggapi bulu-bulu putih padi, yang membuat kulit gatal-gatal ketika dipeluknya. Momen itu terjadi ketika masa panen tiba. Berhenti di situkah? Tidak. Masih ada step lagi.

Setelah menjadi butiran gabah, padi harus masuk ke mesin penggilingan. Memasrahkan tubuhnya ditelanjangi gigi-gigi runcing pisau mesin penggilingan. Sebelum lahir menjadi beras. Dan, beras harus menjalani proses menyakitkan agar lulus menjadi nasi. Yakni, direbus dalam air bersuhu panas maksimal!

Wa ba’du. Setelah melihat perjalanan panjang dan berdarah-darah itu, masihkah kita akan menyia-nyiakan nasi. Menghinakan nasi di atas piring. Masihkah kita akan terus menampilkan kerakusan. Dengan mengambil nasi berlebihan, tapi tidak menghabiskannya ketika makan.

Sebagai seorang (calon) pemimpin, mengambil nasi untuk di atas piring itu butuh perhitungan matang. Butuh ilmu manajemen. Seberapa banyak kapasitas perut kita, sesungguhnya hanya sebanyak itu, nasi yang harus disuapkan ke dalam mulut. Bila terlalu banyak mengambilnya, ada dua risiko yang harus ditanggung: perut kemelekaren atau terpaksa menyisakan nasi di piring. Dua-duanya risiko yang tidak baik. Mencerminkan sebuah kegagalan. (Pekolom Banyuwangi)

 

 

 

MELIHAT strata sosialnya. Ditambah posisinya. Sangat memungkinkan beliau berada di urutan nomor satu. Saat makan. Tapi privilege itu dicampakkannya. Dalam tong sampah. Tak jauh dari tempat prasmanan.

Itulah yang dilakukan KH Hasyim Syafa’at. Salah satu pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Blokagung, Dusun Kaligesing, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi. Kiai Hasyim memilih mengambil makanan paling akhir. Alias nomor buncit.

Setelah sekian menit, ada beberapa jemaah yang selesai makan. Mereka meletakkan piring di sekitar meja prasmanan. Kiai Hasyim langsung menghampiri dua piring. ”Beliau mengumpulkan sisa nasi di dua piring itu. Dijadikan satu dalam satu piring. Sisa makan jemaah itu yang beliau makan,” kenang KH Abdul Ghofar.

Ustad kondang asal Rogojampi itu kaget. Terheran-heran. Meihat kiainya—Ustad Ghofar pernah nyantri di Ponpes Darussalam, Blokagung— makan dari sisa-sisa jemaah. Dalam hati, dia tidak tega melihat pemandangan yang baru disaksikannya. Di depan mata dan hidungnya!

Kisah itu terjadi beberapa tahun silam. Saat Ustad Ghofar bersama Kiai Hasyim mendampingi jemaah umrah. Ustad kocak itu menceritakannya kembali kepada saya. Sebelum mengisi pengajian di lingkungan Perumahan Graha Blambangan, sekitar sebulan lalu.

”Saya kaget,” lanjut Ustad Ghofar, ”kenapa Kiai Hasyim makan dari makanan sisa. Tapi, sebagai santri saya yakin, ada pelajaran yang bisa dipetik dari tindakan Kiai Hasyim.”

Benar prediksi Ustad Ghofar. Ketika mengisi ”pengajian” di sela-sela jadwal ritual umrah, Kiai Hasyim menjelaskan: kenapa dirinya lebih memilih memunguti sisa makanan jemaah. Bukan mengambil nasi baru yang lebih fresh. Tapi beliau tidak sampai mengungkap, siapa gerangan pemilik dua piring yang masih menyisakan banyak nasi. ”Kalau memimpin nasi saat makan saja tidak bisa, bagaimana bisa memimpin dengan baik,” ujar Kiai Hasyim seperti dikisahkan kembali oleh Ustad Ghofar.

Baca Juga :  Wariskan Kreativitas di Mana pun Bertugas

Nasi itu seperti rakyat. Semuanya harus mendapat perlakuan yang adil. Semua ingin merasakan kebanggaan. Dikunyah lalu dimasukkan ke perut orang yang mengambilnya. Bisa dibayangkan, seperti apa kesedihan nasi yang tertinggal di piring.

Pemimpin harus bisa membaca dan mengerti perasaan masyarakat yang dipimpinnya. Ia tidak boleh membeda-bedakan rakyatnya. Semua harus mendapat perhatian yang sama. Sesuai kadar dan status sosialnya—tentu saja. Seperti nasi, rakyat harus diangkat semua dari piring kemiskinan. Jangan sampai, ada rakyat yang hidup di piring emas, bergelimang kemewahan. Sementara yang lain tercampak di tumpukan piring bekas pesta makan orang-orang kaya.

Dari nasi pula, kita bisa memetik pelajaran tentang sebuah perjalanan hidup. Caranya, sebelum makan coba tatap baik-baik onggokan nasi di atas piring. Fokuskan pikiran pada nasi di depan Anda. Lalu mulai bayangkan sebuah perjalanan panjang yang dilalui nasi, hingga akhirnya tergeletak di piring di atas meja makan Anda.

Bila benar cara membayangkannya, Anda akan merasa iba. Tanpa diminta. Tanpa dikomando. Betapa panjang dan melelahkannya perjalanan nasi itu. Kita tahu, perjalanan nasi itu diawali dari sawah. Yakni, ketika para petani membajak sawah. Melunakkan tanah. Agar benar-benar menjadi media terbaik. Untuk menanam. Lalu di bawah sengatan terik matahari, para petani menancapkan bibit-bibit padi. Dengan berjalan mundur. Dalam posisi badan membungkuk. Selama berjam-jam. Tergantung luasan sawah yang ditanaminya. Keringat sejagung-jagung bercucuran dari wajah dan tubuhnya.

Baca Juga :  Rumus: I + H = B

Setelah padi tumbuh, mereka datang lagi ke sawah. Berjalan di sela-sela batang padi yang mulai menghijau. Melakukan penyiangan. Matun. Memunguti dan membuang gulma. Tanaman-tanaman liar yang rakus. Bisa merampok ”jatah” asupan makan batang padi.

Tidak berhenti di situ. Para petani masih harus merelakan tubuhnya dibakar matahari lagi. Juga membiarkan tubuhnya dihinggapi bulu-bulu putih padi, yang membuat kulit gatal-gatal ketika dipeluknya. Momen itu terjadi ketika masa panen tiba. Berhenti di situkah? Tidak. Masih ada step lagi.

Setelah menjadi butiran gabah, padi harus masuk ke mesin penggilingan. Memasrahkan tubuhnya ditelanjangi gigi-gigi runcing pisau mesin penggilingan. Sebelum lahir menjadi beras. Dan, beras harus menjalani proses menyakitkan agar lulus menjadi nasi. Yakni, direbus dalam air bersuhu panas maksimal!

Wa ba’du. Setelah melihat perjalanan panjang dan berdarah-darah itu, masihkah kita akan menyia-nyiakan nasi. Menghinakan nasi di atas piring. Masihkah kita akan terus menampilkan kerakusan. Dengan mengambil nasi berlebihan, tapi tidak menghabiskannya ketika makan.

Sebagai seorang (calon) pemimpin, mengambil nasi untuk di atas piring itu butuh perhitungan matang. Butuh ilmu manajemen. Seberapa banyak kapasitas perut kita, sesungguhnya hanya sebanyak itu, nasi yang harus disuapkan ke dalam mulut. Bila terlalu banyak mengambilnya, ada dua risiko yang harus ditanggung: perut kemelekaren atau terpaksa menyisakan nasi di piring. Dua-duanya risiko yang tidak baik. Mencerminkan sebuah kegagalan. (Pekolom Banyuwangi)

 

 

 

Artikel Terkait

Dobel-Dobel Syukur

Dalam Makan Ada Pelajaran Kepemimpinan

Super Tegang sampai Akhir

Saksi Satu Abad NU

Merawat Optimisme

Most Read

Artikel Terbaru

/