alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Catatan: Samsudin Adlawi*

Makin Dahsyat Ditambah Kontrak Eksklusif

MASIH muda-muda. Tapi, mereka percaya diri. Maju ke panggung tanpa malu-malu. Saat MC menyebut namanya. Sebagai pemenang Jagoan Tani 2022. Di aula Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Kamis (16/6) pekan kemarin.

Tentu, itu pemandangan menyenangkan. Membahagiakan hati kita semua. Bahwa, telah lahir ratusan agripreneur di Bumi Blambangan. Lewat kawah candradimuka bernama Festival Jagoan Tani 2022 (JT-2022).

Plt Dinas Pertanian Banyuwangi M. Khoiri menjelaskan, JT-2022 diikuti 1.015 anak muda. Mereka tergabung dalam 203 tim. ”Komposisinya hampir berimbang: 52 persen peserta laki-laki, 48 persen sisanya perempuan,” kata Khoiri dalam diskusi santai di kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi, beberapa waktu lalu.

JT-2022 punya misi bagus: menumbuhkan kewirausahaan di bidang agribisnis. Dan, misi itu cukup berhasil. Itu tecermin dari proposal yang diusulkan peserta. Proposal usaha rintisan yang diterima panitia sangat variatif. Mulai bidang pertanian pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga kehutanan.

Jurinya pasti puyeng. Apalagi, penilaiannya dilakukan secara berjenjang. Mulai presentasi dilanjutkan monitoring ke lapangan. Lalu mengerucutkan menjadi tinggal 10 nomine. Untuk ditetapkan sebagai juara 1 sampai 5 dan harapan 1 sampai 5 juga.

Akhirnya, tim Durian Garden Songgon (DGS) ditetapkan sebagai yang terbaik dari yang baik-baik. Setelah penyerahan piala dan hadiah, saya sempatkan melihat lapak tim DGS. Yang berada di timur pendapa. Diapit lapak tim yang lain. Di meja tampak ter-display beberapa varian durian. Plus kemasan jajanan olahan berbahan baku dari durian.

Tim DGS dikelola oleh 12 anak muda asal Desa Bayu dan sekitarnya, Kecamatan Songgon. Ketuanya cewek. Masih sangat muda: Syva Dita Kharisma. Melihat sosoknya, saya langsung teringat pengalaman empat tahun lalu.

Ketika itu, saya diajak Bupati Abdullah Azwar Anas dan rombongan ke sebuah kebun durian di Songgon. Bertemu dengan pemilik kebunnya. Yang sangat antusias menjelaskan beberapa pohon durian yang menjulang tinggi. Masing-masing pohon punya nama sendiri. Saya lupa namanya. Yang pasti, setiap nama berasal dari varietas yang berbeda.

Lelaki itu bukan hanya memberi penjelasan. Tapi juga mengajak nyicipi deretan buah durian. Cita rasanya berbeda-beda. Di sela-sela tamunya menikmati kelegitan buah durian, tuan rumah membeberkan cita-citanya. Yakni, mengenalkan durian Songgon lebih masif lagi. Caranya? Dia bertekad membuat agrowisata durian. Berwisata sambil menikmati memetik durian di tempat. Dia juga akan mengajak pekebun durian yang lain. Untuk mewujudkan impiannya.

Lelaki itu tidak lain adalah ayahnya Syva Dita Kharisma. Saat itu, Syva kecil sepertinya ikut mendampingi ayahnya. Dan, pastinya, ikut mendengarkan tekad orang tuanya.

Peristiwa itu terjadi sekitar 2018. Empat tahun berlalu. Ternyata Syva berhasil mewujudkan impian ayahnya. Dia dan timnya membuat DGS. Demi fokus membesarkan DGS, dia rela menunda masuk perguruan tinggi. Selama setahun, dia ngebleng di kebun. Menghayati DGS. Menyusun strategi untuk membesarkan DGS.

Hasilnya, dia dan timnya bukan hanya berhasil mengoptimalkan sumber daya alam (kebun durian). Tapi juga sukses memberdayakan masyarakat pemilik pohon durian yang ada di sekitar kebunnya. Sekarang, dari mitranya sudah ada 1.000 pohon durian.

Lebih hebat lagi—yang satu ini pasti karena idealisme anak muda, tim DGS berhasil membebaskan pekebun durian dari jeratan tengkulak. Dulu, durian siap panen diborong tengkulak Rp 1 juta per pohon. Itu sangat menyayat perasaan Syva dkk. Maka, mereka berani diri mengangkat kesejahteraan pekebun durian. Caranya, tim DGS menghargai durian siap panen per biji. Hasilnya, tinggal mengalikan harga satuan dengan berapa banyak biji durian per pohonnya. Pekebun bisa tertawa. Kini, penghasilan mereka bisa tembus Rp 3 juta—tidak lagi Rp 1 juta, seperti saat diborong tengkulak dulu.

Anak-anak muda di DGS terus berkreasi. Mereka sehari-hari sibuk mengembangkan pembibitan durian lokal unggul. Bibitnya mereka bagikan kepada pekebun mitranya. Kini mereka juga sudah merambah ke hilir. Mengembangkan buah durian menjadi kue beraneka macam. Mulai bagiak, dodol, dll. Hebatnya, pembuatan kue berbahan dasar durian itu melibatkan masyarakat sekitar.

Pemenang kedua juga tak kalah hebat. Yakni, Andini Pure Milk. Tim ini bergerak di pengolahan susu pasteurisasi. Yakni, proses pemanasan yang dilakukan untuk membunuh sebagian mikroba, dengan meminimalkan kerusakan protein akibat suhu yang terlalu tinggi. Biasanya menggunakan suhu di bawah 100 derajat dalam jangka waktu tertentu.

Wa ba’du. Seyogianya, sebuah event tidak berhenti sampai di awarding/graduation. Membawa pulang bantuan modal Rp 50 juta itu menyenangkan bagi tim DGS. Pun dengan tim Andini Pure Milk yang membawa pulang Rp 25 juta. Uang itu bisa dijadikan modal tambahan dalam mengembangkan kreativitasnya. Piala dan piagam penghargaan sebagai juara juga bisa dipamerkan di ruang display produk mereka.

Tapi, kemenangan mereka akan lebih sempurna manakala pemkab memberi ”kontrak eksklusif” untuk produk yang dihasilkannya. Kontrak itu untuk masa selama setahun. Tepatnya, berakhir saat terpilihnya pemenang Jagoan Tani 2023 (JG-2023) tahun depan.

Setelah dikontrak, lalu diapakan produk kue olahan tim DGS dan susu tim Andini Pure Milk (APM)?

Saya membayangkan, kue made in DGS dan susu buatan APM mejeng di meja para tamu di setiap acara pemkab. Baik acara lokal maupun nasional dan global. Kue dan susu itu menjadi suguhan utama di meja para undangan. Lalu, Bupati Ipuk Fiestiandani dengan bangga mengatakan, ”kue-kue dan susu ini karya anak muda Banyuwangi. Para pemenang Jagoan Tani 2022. Silakan dicicipi dan dinikmati.”

Saya kira, apresiasi semacam itu nilainya melebihi bantuan modal, piala, dan sertifikat yang diterima pemenang. Dan, itulah makna pendampingan yang sesungguhnya. Seperti yang disampaikan Bupati Ipuk saat menyampaikan arahan di puncak acara JG-2022, pekan lalu. (*)

MASIH muda-muda. Tapi, mereka percaya diri. Maju ke panggung tanpa malu-malu. Saat MC menyebut namanya. Sebagai pemenang Jagoan Tani 2022. Di aula Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Kamis (16/6) pekan kemarin.

Tentu, itu pemandangan menyenangkan. Membahagiakan hati kita semua. Bahwa, telah lahir ratusan agripreneur di Bumi Blambangan. Lewat kawah candradimuka bernama Festival Jagoan Tani 2022 (JT-2022).

Plt Dinas Pertanian Banyuwangi M. Khoiri menjelaskan, JT-2022 diikuti 1.015 anak muda. Mereka tergabung dalam 203 tim. ”Komposisinya hampir berimbang: 52 persen peserta laki-laki, 48 persen sisanya perempuan,” kata Khoiri dalam diskusi santai di kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi, beberapa waktu lalu.

JT-2022 punya misi bagus: menumbuhkan kewirausahaan di bidang agribisnis. Dan, misi itu cukup berhasil. Itu tecermin dari proposal yang diusulkan peserta. Proposal usaha rintisan yang diterima panitia sangat variatif. Mulai bidang pertanian pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga kehutanan.

Jurinya pasti puyeng. Apalagi, penilaiannya dilakukan secara berjenjang. Mulai presentasi dilanjutkan monitoring ke lapangan. Lalu mengerucutkan menjadi tinggal 10 nomine. Untuk ditetapkan sebagai juara 1 sampai 5 dan harapan 1 sampai 5 juga.

Akhirnya, tim Durian Garden Songgon (DGS) ditetapkan sebagai yang terbaik dari yang baik-baik. Setelah penyerahan piala dan hadiah, saya sempatkan melihat lapak tim DGS. Yang berada di timur pendapa. Diapit lapak tim yang lain. Di meja tampak ter-display beberapa varian durian. Plus kemasan jajanan olahan berbahan baku dari durian.

Tim DGS dikelola oleh 12 anak muda asal Desa Bayu dan sekitarnya, Kecamatan Songgon. Ketuanya cewek. Masih sangat muda: Syva Dita Kharisma. Melihat sosoknya, saya langsung teringat pengalaman empat tahun lalu.

Ketika itu, saya diajak Bupati Abdullah Azwar Anas dan rombongan ke sebuah kebun durian di Songgon. Bertemu dengan pemilik kebunnya. Yang sangat antusias menjelaskan beberapa pohon durian yang menjulang tinggi. Masing-masing pohon punya nama sendiri. Saya lupa namanya. Yang pasti, setiap nama berasal dari varietas yang berbeda.

Lelaki itu bukan hanya memberi penjelasan. Tapi juga mengajak nyicipi deretan buah durian. Cita rasanya berbeda-beda. Di sela-sela tamunya menikmati kelegitan buah durian, tuan rumah membeberkan cita-citanya. Yakni, mengenalkan durian Songgon lebih masif lagi. Caranya? Dia bertekad membuat agrowisata durian. Berwisata sambil menikmati memetik durian di tempat. Dia juga akan mengajak pekebun durian yang lain. Untuk mewujudkan impiannya.

Lelaki itu tidak lain adalah ayahnya Syva Dita Kharisma. Saat itu, Syva kecil sepertinya ikut mendampingi ayahnya. Dan, pastinya, ikut mendengarkan tekad orang tuanya.

Peristiwa itu terjadi sekitar 2018. Empat tahun berlalu. Ternyata Syva berhasil mewujudkan impian ayahnya. Dia dan timnya membuat DGS. Demi fokus membesarkan DGS, dia rela menunda masuk perguruan tinggi. Selama setahun, dia ngebleng di kebun. Menghayati DGS. Menyusun strategi untuk membesarkan DGS.

Hasilnya, dia dan timnya bukan hanya berhasil mengoptimalkan sumber daya alam (kebun durian). Tapi juga sukses memberdayakan masyarakat pemilik pohon durian yang ada di sekitar kebunnya. Sekarang, dari mitranya sudah ada 1.000 pohon durian.

Lebih hebat lagi—yang satu ini pasti karena idealisme anak muda, tim DGS berhasil membebaskan pekebun durian dari jeratan tengkulak. Dulu, durian siap panen diborong tengkulak Rp 1 juta per pohon. Itu sangat menyayat perasaan Syva dkk. Maka, mereka berani diri mengangkat kesejahteraan pekebun durian. Caranya, tim DGS menghargai durian siap panen per biji. Hasilnya, tinggal mengalikan harga satuan dengan berapa banyak biji durian per pohonnya. Pekebun bisa tertawa. Kini, penghasilan mereka bisa tembus Rp 3 juta—tidak lagi Rp 1 juta, seperti saat diborong tengkulak dulu.

Anak-anak muda di DGS terus berkreasi. Mereka sehari-hari sibuk mengembangkan pembibitan durian lokal unggul. Bibitnya mereka bagikan kepada pekebun mitranya. Kini mereka juga sudah merambah ke hilir. Mengembangkan buah durian menjadi kue beraneka macam. Mulai bagiak, dodol, dll. Hebatnya, pembuatan kue berbahan dasar durian itu melibatkan masyarakat sekitar.

Pemenang kedua juga tak kalah hebat. Yakni, Andini Pure Milk. Tim ini bergerak di pengolahan susu pasteurisasi. Yakni, proses pemanasan yang dilakukan untuk membunuh sebagian mikroba, dengan meminimalkan kerusakan protein akibat suhu yang terlalu tinggi. Biasanya menggunakan suhu di bawah 100 derajat dalam jangka waktu tertentu.

Wa ba’du. Seyogianya, sebuah event tidak berhenti sampai di awarding/graduation. Membawa pulang bantuan modal Rp 50 juta itu menyenangkan bagi tim DGS. Pun dengan tim Andini Pure Milk yang membawa pulang Rp 25 juta. Uang itu bisa dijadikan modal tambahan dalam mengembangkan kreativitasnya. Piala dan piagam penghargaan sebagai juara juga bisa dipamerkan di ruang display produk mereka.

Tapi, kemenangan mereka akan lebih sempurna manakala pemkab memberi ”kontrak eksklusif” untuk produk yang dihasilkannya. Kontrak itu untuk masa selama setahun. Tepatnya, berakhir saat terpilihnya pemenang Jagoan Tani 2023 (JG-2023) tahun depan.

Setelah dikontrak, lalu diapakan produk kue olahan tim DGS dan susu tim Andini Pure Milk (APM)?

Saya membayangkan, kue made in DGS dan susu buatan APM mejeng di meja para tamu di setiap acara pemkab. Baik acara lokal maupun nasional dan global. Kue dan susu itu menjadi suguhan utama di meja para undangan. Lalu, Bupati Ipuk Fiestiandani dengan bangga mengatakan, ”kue-kue dan susu ini karya anak muda Banyuwangi. Para pemenang Jagoan Tani 2022. Silakan dicicipi dan dinikmati.”

Saya kira, apresiasi semacam itu nilainya melebihi bantuan modal, piala, dan sertifikat yang diterima pemenang. Dan, itulah makna pendampingan yang sesungguhnya. Seperti yang disampaikan Bupati Ipuk saat menyampaikan arahan di puncak acara JG-2022, pekan lalu. (*)

Artikel Terkait

Setelah Pomo Martadi, Kini Armaya

Di Balik Muhibah Kata-Kata

Sebelum Perda Janur Makin Layu

Sempurnakan Wisata dari Udara

Most Read

Artikel Terbaru

/