alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Membangun Karakter Anak

HIDUP itu dinamis. Di dalam dinamika selalu ada perubahan.

Pun dalam kehidupan. Terjadinya perubahan tidak bisa dielakkan. Atau, tidak ada yang bisa lari dari perubahan. Kemampuan adaptasi menjadi sangat penting. Dan, menjadi penentu ”kemenangan” dalam perubahan.

Perubahan tidak selamanya ditentukan pada perkembangan saat kini dan esok. Banyak juga perubahan yang sukses justru belajar dari masa lalu. Kembali mengulik fenomena masa sebelumnya. Tentang hal-hal yang positif, tentunya. Tergantung bagaimana cara membaca dan menyikapi setiap perubahan yang telah dialaminya.

Kita—para orang tua, adalah saksi. Menyaksikan perubahan yang terjadi di sekitar. Juga mengalami sendiri dampak terjadinya perubahan. Selama bertahun-tahun.

Seperti keping uang logam, perubahan selalu punya dua muka yang saling bertolak punggung. Satu sisi perubahan membawa dampak positif. Di sisi yang lain, perubahan berdampak negatif. Perubahan yang radikal. Mengancam kearifan lokal. Melenyapkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Salah satunya adalah pembentukan karakter orang secara alami.

Yang memprihatikan, dalam pendidikan anak-anak, kita (para orang tua) malah larut dalam arus perubahan. Itu dibuktikan dengan adanya perubahan sikap orang tua terhadap proses belajar mengajar di sekolah.

Saat ini, sebagian orang tua sangat sensitif terhadap segala kebijakan sekolah. Mudah marah. Gampang tersulut sumbu emosinya. Terutama terkait aturan main yang dijalankan pihak sekolah kepada anaknya. Tiba-tiba orang tua menjadi sangat protektif. Ada yang menginginkan anaknya hanya diberi pelajaran. Titik. Tidak usah diajari dan diberi tugas di luar mata ajar di sekolah.

Mereka ngomel-ngomel, ketika anaknya diberi tugas yang dianggap aneh. Misal, membersihkan kelas dan sekolah—yang mereka anggap hal itu tugasnya Pak Kebun. ”Kita kan membayar setiap bulan. Salah satu peruntukan pembayaran itu ya untuk kebersihan sekolah. Masak anak saya masih disuruh-suruh membersihkan sekolah,” gerutunya.

Saya mengajak mereka mengerutkan kening sejenak. Tenangkan diri dalam diam. Putar kembali kenangan masa silam. Yakni, masa-masa ketika masih menjadi siswa SD dan SMP. Saya yakin, siapa pun yang saat ini menjadi orang tua siswa, punya pengalaman yang kurang lebih sama dengan saya. Sebuah pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja. Sebab, membekas dalam ingatan dan hati.

Disadari atau tidak, saat SD dan SMP kita mendapat pendidikan karater yang luar biasa. Maaf, saya baru menyadarinya akhir-akhir ini—bagaimana dengan Anda? Yakni, ketika kampanye pendidikan karakter mulai kencang didengungkan oleh pemerintah, c.q. Kementerian Pendidikan RI.

Banyak sekali ilmu pendidikan karakter yang diberikan guru/sekolah, ketika itu. Tapi, kali ini saya beri tiga contoh saja ya.

Pertama, jadwal piket untuk semua siswa. Tidak pandang bulu. Siswa keluarga kaya dan miskin, mendapat jatah piket yang sama. Saat piket, mereka harus bertanggung jawab terhadap kebersihan kelas. Menyapu kelas pun menjadi kegiatan utama. Sebelum siswa yang lain berdatangan. Lalu memastikan papan tulis sudah bersih—tanpa sisa tulisan pelajaran hari sebelumnya.

Mereka juga harus menyiapkan kapur tulis lengkap penghapusnya. Tak jarang, harus mengambil kapur di ruang guru/administasi. Ketika stok kapur di kelas sudah habis.

Kesimpulan yang bisa dipetik dari peristiwa itu: siswa diajari disiplin. Sebab, pertama, siswa yang piket harus datang di sekolah lebih awal dari teman-temannya yang tidak piket. Kedua, siswa diajari bagaimana bekerja dalam kelompok. Tim kecil. Mereka pun harus menjaga kekompakan tim agar kinerjanya optimal. Karena ketersediaan waktu yang tidak banyak. Tidak sampai satu jam. Pembagian tugas yang adil menjadi kuncinya.

Anehnya, tidak ada siswa yang merasa keberatan atas beban tugas dalam tim piket—kecuali satu-dua siswa yang mbeler. Juga tidak ada siswa yang panjang mulut. Suka melapor kepada orang tua. Meski, saat itu, hukuman yang diberikan guru kepada siswa pelanggar disiplin lumayan ”berat”. Misal, dipukul dengan garisan untuk siswa yang lupa potong kuku. Atau, berdiri satu kaki di depan kelas. Sekali lagi, hukuman-hukuman itu saya dan teman-teman terima dengan ikhlas. Dan, gak perlu diwadulkan ke orang tua. Ternyata, kita dulu tidak cengeng ya. Hahaha…..

Keanehan yang kedua, guru dan pihak sekolah tidak pernah mengatakan kepada siswa, bahwa mereka sedang mengajarkan kedisiplinan. Apalagi mengajarkan pendidikan karakter (saat itu, istilah ini belum lahir). Di kelas maupun di luar kelas. Itu sebabnya, saya baru menyadarinya setelah tumbuh menjadi ”orang”. Paham setelah puluhan tahun lulus SD dan SMP!

Masih ada pendidikan karakter 24 karat yang saya terima saat SD . Yakni, setiap pagi—sebelum masuk kelas untuk mengikuti pelajaran pertama, semua siswa harus berbaris di depan kelas masing-masing. Biasanya, dipimpin ketua atau wakil ketua kelas: ”Lencang depaaan, gerak!” teriaknya merapikan barisan teman-temannya.

Setelah benar-benar rapi, siswa mulai bergerak maju. Satu per satu. Tidak berebut. Tapi tetap menjaga ketertiban. Mereka kemudian menghampiri juluran tangan guru yang berdiri di depan pintu kelas. Salim. Lalu masuk kelas menuju bangkunya.

Itu ilmu pendidikan karakter yang luar biasa. Yang bisa jadi, baru disadari akhir-akhir ini oleh para orang tua seusia saya. Terutama saat leyeh-leyeh di teras rumah. Lalu terkenang kembali masa-masa sekolah di SD dalam kepulan asap kopi.

Bagaimana dengan anak-anak kita saat ini? Apakah mereka juga mengalami pengalaman seperti orang tuanya? Rasa-rasanya karakter mereka kok tidak tidak setangguh orang tuanya, ya. Budaya berbaris di halaman sekolah sebelum masuk kelas sudah tidak tampak lagi. Kini, siswa datang lalu bersalaman dengan guru yang sudah menunggunya di gerbang sekolah. Lalu ngeloyor masuk ruang kelas.

Wa ba’du. Kita harus mengelus dada berkali-kali. Melihat perkembangan kepribadian anak-anak saat ini. Yang lebih dibesarkan oleh teknologi. Dibandingkan suntikan karakter dari pihak sekolah.

Tapi, meratapi keadaan tidak akan ada habisnya. Sebagai orang tua, kita berharap agar sekolah kembali menghidupkan pendidikan karakter lebih total lagi. Pakai cara-cara lama seperti uraian di atas saya kira sangat baik. Disiplinkan anak lewat kelompok piket yang ajek. Biasakan berbaris sebelum masuk kelas. Dlsb.

Tak masalah juga bila usaha kesehatan sekolah (UKS) kembali digalakkan. UKS punya dua target tujuan sekaligus. Edukasi kesehatan pada siswa. Kedua, lebih ke pendidikan karakter. Yakni, tumbuhnya rasa simpati dan empati. Ketika ada teman di kelas atau sekolahnya sakit, tim UKS bisa langsung memberikan pertolongan pertama.

Di musim pandemi Covid-19 saat ini, tim UKS bisa menjadi ”polisi” anti-Covid. Dengan terus menyampanyekan kedisiplinan menggunakan masker, cuci tangan, dan jaga jarak di sekolah. Apalagi, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas juga sangat peduli terhadap UKS. ”UKS harus berperan memberikan edukasi hidup sehat sejak dini pada peserta didik, apalagi di masa pandemi seperti ini,” katanya seperti dikutip Radar Banyuwangi (20/2/22).

Tunggu apa lagi. Mari kita bangun karakter anak-anak kita. Silakan sekolah menggembleng para calon pemegang estafet pembangunan bangsa. Dengan cara-cara yang terukur tentunya. (Pekolom Banyuwangi)

HIDUP itu dinamis. Di dalam dinamika selalu ada perubahan.

Pun dalam kehidupan. Terjadinya perubahan tidak bisa dielakkan. Atau, tidak ada yang bisa lari dari perubahan. Kemampuan adaptasi menjadi sangat penting. Dan, menjadi penentu ”kemenangan” dalam perubahan.

Perubahan tidak selamanya ditentukan pada perkembangan saat kini dan esok. Banyak juga perubahan yang sukses justru belajar dari masa lalu. Kembali mengulik fenomena masa sebelumnya. Tentang hal-hal yang positif, tentunya. Tergantung bagaimana cara membaca dan menyikapi setiap perubahan yang telah dialaminya.

Kita—para orang tua, adalah saksi. Menyaksikan perubahan yang terjadi di sekitar. Juga mengalami sendiri dampak terjadinya perubahan. Selama bertahun-tahun.

Seperti keping uang logam, perubahan selalu punya dua muka yang saling bertolak punggung. Satu sisi perubahan membawa dampak positif. Di sisi yang lain, perubahan berdampak negatif. Perubahan yang radikal. Mengancam kearifan lokal. Melenyapkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Salah satunya adalah pembentukan karakter orang secara alami.

Yang memprihatikan, dalam pendidikan anak-anak, kita (para orang tua) malah larut dalam arus perubahan. Itu dibuktikan dengan adanya perubahan sikap orang tua terhadap proses belajar mengajar di sekolah.

Saat ini, sebagian orang tua sangat sensitif terhadap segala kebijakan sekolah. Mudah marah. Gampang tersulut sumbu emosinya. Terutama terkait aturan main yang dijalankan pihak sekolah kepada anaknya. Tiba-tiba orang tua menjadi sangat protektif. Ada yang menginginkan anaknya hanya diberi pelajaran. Titik. Tidak usah diajari dan diberi tugas di luar mata ajar di sekolah.

Mereka ngomel-ngomel, ketika anaknya diberi tugas yang dianggap aneh. Misal, membersihkan kelas dan sekolah—yang mereka anggap hal itu tugasnya Pak Kebun. ”Kita kan membayar setiap bulan. Salah satu peruntukan pembayaran itu ya untuk kebersihan sekolah. Masak anak saya masih disuruh-suruh membersihkan sekolah,” gerutunya.

Saya mengajak mereka mengerutkan kening sejenak. Tenangkan diri dalam diam. Putar kembali kenangan masa silam. Yakni, masa-masa ketika masih menjadi siswa SD dan SMP. Saya yakin, siapa pun yang saat ini menjadi orang tua siswa, punya pengalaman yang kurang lebih sama dengan saya. Sebuah pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja. Sebab, membekas dalam ingatan dan hati.

Disadari atau tidak, saat SD dan SMP kita mendapat pendidikan karater yang luar biasa. Maaf, saya baru menyadarinya akhir-akhir ini—bagaimana dengan Anda? Yakni, ketika kampanye pendidikan karakter mulai kencang didengungkan oleh pemerintah, c.q. Kementerian Pendidikan RI.

Banyak sekali ilmu pendidikan karakter yang diberikan guru/sekolah, ketika itu. Tapi, kali ini saya beri tiga contoh saja ya.

Pertama, jadwal piket untuk semua siswa. Tidak pandang bulu. Siswa keluarga kaya dan miskin, mendapat jatah piket yang sama. Saat piket, mereka harus bertanggung jawab terhadap kebersihan kelas. Menyapu kelas pun menjadi kegiatan utama. Sebelum siswa yang lain berdatangan. Lalu memastikan papan tulis sudah bersih—tanpa sisa tulisan pelajaran hari sebelumnya.

Mereka juga harus menyiapkan kapur tulis lengkap penghapusnya. Tak jarang, harus mengambil kapur di ruang guru/administasi. Ketika stok kapur di kelas sudah habis.

Kesimpulan yang bisa dipetik dari peristiwa itu: siswa diajari disiplin. Sebab, pertama, siswa yang piket harus datang di sekolah lebih awal dari teman-temannya yang tidak piket. Kedua, siswa diajari bagaimana bekerja dalam kelompok. Tim kecil. Mereka pun harus menjaga kekompakan tim agar kinerjanya optimal. Karena ketersediaan waktu yang tidak banyak. Tidak sampai satu jam. Pembagian tugas yang adil menjadi kuncinya.

Anehnya, tidak ada siswa yang merasa keberatan atas beban tugas dalam tim piket—kecuali satu-dua siswa yang mbeler. Juga tidak ada siswa yang panjang mulut. Suka melapor kepada orang tua. Meski, saat itu, hukuman yang diberikan guru kepada siswa pelanggar disiplin lumayan ”berat”. Misal, dipukul dengan garisan untuk siswa yang lupa potong kuku. Atau, berdiri satu kaki di depan kelas. Sekali lagi, hukuman-hukuman itu saya dan teman-teman terima dengan ikhlas. Dan, gak perlu diwadulkan ke orang tua. Ternyata, kita dulu tidak cengeng ya. Hahaha…..

Keanehan yang kedua, guru dan pihak sekolah tidak pernah mengatakan kepada siswa, bahwa mereka sedang mengajarkan kedisiplinan. Apalagi mengajarkan pendidikan karakter (saat itu, istilah ini belum lahir). Di kelas maupun di luar kelas. Itu sebabnya, saya baru menyadarinya setelah tumbuh menjadi ”orang”. Paham setelah puluhan tahun lulus SD dan SMP!

Masih ada pendidikan karakter 24 karat yang saya terima saat SD . Yakni, setiap pagi—sebelum masuk kelas untuk mengikuti pelajaran pertama, semua siswa harus berbaris di depan kelas masing-masing. Biasanya, dipimpin ketua atau wakil ketua kelas: ”Lencang depaaan, gerak!” teriaknya merapikan barisan teman-temannya.

Setelah benar-benar rapi, siswa mulai bergerak maju. Satu per satu. Tidak berebut. Tapi tetap menjaga ketertiban. Mereka kemudian menghampiri juluran tangan guru yang berdiri di depan pintu kelas. Salim. Lalu masuk kelas menuju bangkunya.

Itu ilmu pendidikan karakter yang luar biasa. Yang bisa jadi, baru disadari akhir-akhir ini oleh para orang tua seusia saya. Terutama saat leyeh-leyeh di teras rumah. Lalu terkenang kembali masa-masa sekolah di SD dalam kepulan asap kopi.

Bagaimana dengan anak-anak kita saat ini? Apakah mereka juga mengalami pengalaman seperti orang tuanya? Rasa-rasanya karakter mereka kok tidak tidak setangguh orang tuanya, ya. Budaya berbaris di halaman sekolah sebelum masuk kelas sudah tidak tampak lagi. Kini, siswa datang lalu bersalaman dengan guru yang sudah menunggunya di gerbang sekolah. Lalu ngeloyor masuk ruang kelas.

Wa ba’du. Kita harus mengelus dada berkali-kali. Melihat perkembangan kepribadian anak-anak saat ini. Yang lebih dibesarkan oleh teknologi. Dibandingkan suntikan karakter dari pihak sekolah.

Tapi, meratapi keadaan tidak akan ada habisnya. Sebagai orang tua, kita berharap agar sekolah kembali menghidupkan pendidikan karakter lebih total lagi. Pakai cara-cara lama seperti uraian di atas saya kira sangat baik. Disiplinkan anak lewat kelompok piket yang ajek. Biasakan berbaris sebelum masuk kelas. Dlsb.

Tak masalah juga bila usaha kesehatan sekolah (UKS) kembali digalakkan. UKS punya dua target tujuan sekaligus. Edukasi kesehatan pada siswa. Kedua, lebih ke pendidikan karakter. Yakni, tumbuhnya rasa simpati dan empati. Ketika ada teman di kelas atau sekolahnya sakit, tim UKS bisa langsung memberikan pertolongan pertama.

Di musim pandemi Covid-19 saat ini, tim UKS bisa menjadi ”polisi” anti-Covid. Dengan terus menyampanyekan kedisiplinan menggunakan masker, cuci tangan, dan jaga jarak di sekolah. Apalagi, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas juga sangat peduli terhadap UKS. ”UKS harus berperan memberikan edukasi hidup sehat sejak dini pada peserta didik, apalagi di masa pandemi seperti ini,” katanya seperti dikutip Radar Banyuwangi (20/2/22).

Tunggu apa lagi. Mari kita bangun karakter anak-anak kita. Silakan sekolah menggembleng para calon pemegang estafet pembangunan bangsa. Dengan cara-cara yang terukur tentunya. (Pekolom Banyuwangi)

Artikel Terkait

Setelah Pomo Martadi, Kini Armaya

Di Balik Muhibah Kata-Kata

Sebelum Perda Janur Makin Layu

Sempurnakan Wisata dari Udara

Most Read

Artikel Terbaru

/