Sekolah (Tempat) Menyenangkan

Oleh: Samsudin Adlawi*

BAWAANNYA senang terus. Itu pengalaman pribadi saya. Ketika berada di sekolah: SD sampai perguruan tinggi. Bagaimana dengan pengalaman Anda?

Memang, terkadang sekolah berubah menjadi rumah hantu. Menakutkan. Tapi itu hanya kolo-kolo. Yakni, ketika lupa mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Atau, tidak bisa menyelesaikan PR. Atawa, akan ketemu guru/dosen ”killer”.

Tapi, selain dua momen itu, secara umum sekolah meninggalkan pengalaman sangat menyenangkan. Yang tidak bisa dilupakan. Sampai kapan pun. Meski banyak tugas sulit, meski diajar guru/dosen ”menakutkan”, sekolah telah memberi pengalaman: bagaimana membentuk dan menemukan jati diri. Yang tentu saja, pengalaman antar-orang berbeda.

Pengalaman berharga itu baru saya ketahui justru setelah ”terbebas” dari sekolah/kampus. Dibarengi penyesalan abadi: kenapa kok tidak mengoptimalkan waktu belajar selama menjadi siswa/mahasiswa dulu. Padahal, andai saja tidak banyak mengeluh dan malas-malasan, insya Allah, yang saya peroleh akan lebih dari sekarang. Tapi, sudahlah. Waktu sudah terlipat dalam lembar sejarah. Tak mungkin kembali ke lorong waktu.

Yang bisa dilakukan adalah menceritakan ulang pengalaman minimalis itu. Kepada anak. Agar ia tidak mengulanginya. Agar ia tidak seperti bapaknya. Yang kurang konsisten menjadi murid/mahasiswa baik. Lalu, meminta dia berjanji, menjadi lebih baik dari bapaknya.

Kembali ke sekolah menyenangkan. Beruntung saat ini sudah ada Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Didirikan oleh pasangan suami-istri: Muhammad Nur Rizal-Novi Poespita Candra. Pada 2016.

GSM lahir dari pengalaman pribadi yang dialami Rizal-Novi. Yakni, ketika mereka tinggal di Melbourne, Australia. Menempuh studi doktoral di Monash University. Inspirasi muncul dari sikap tiga buah hatinya. Mereka sangat mencintai sekolahnya. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan hal itu terjadi.

Baca Juga :  Menakar Cadangan Beras di Tengah Meningkatnya Kemiskinan dan Bencana

Rasa penasaran Rizal-Novi terjawab. Mereka melihat pendidikan di Australia berbeda jauh dengan pendidikan di Indonesia. Bahkan, bisa dibilang pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun dari Australia!

Kurikulum pendidikan Australia sangat bagus. Lebih menyenangkan (dan, tidak menyeramkan). Kurikulumnya disesuaikan dengan kelebihan setiap anak—mirip-mirip Merdeka Belajar-nya Mas Menteri Nadiem Makarim, begitu kira-kira. Walhasil, anak-anak justru rindu pergi ke sekolah saat liburan. Tidak rindu nge-mal dan asyik belanja.

Setelah meraih PhD dari Monash University, Rizal bersama keluarga pulang kampung. Kembali ngajar di UGM (Universitas Gadjah Mada). Dia dan istrinya merasa prihatin melihat pendidikan Indonesia. Yang masih mematok kemampuan siswa dari nilai dan ujian. Metode pendidikannya belum membuat anak-anak bisa belajar dengan suasana menyenangkan.

Lalu, pada 2016, Rizal-Novi membangun GSM. Merangkul sekolah-sekolah pinggiran. Yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Selain itu, mereka punya misi mengangkat kualitas sekolah pinggiran melalui GSM.

Semangat GSM sekarang menemukan sinyalnya. Mulai sefrekuensi dengan blue print pendidikan pemerintah. Yang terus melakukan perbaikan sistem pendidikan. Seperti gendang kecaruk penarine. Langsung nyambung.

Lewat GSM, perubahan kualitas pendidikan tak butuh waktu lama. Sebab, menitikberatkan pada hakikat pendidikan itu sendiri. Yakni, ”Membuat manusia selalu ingin belajar dari mana saja, tanpa henti, untuk menjadi manusia yang utuh atau versi terbaik dirinya,” kata Rizal dalam lokakarya ”Penciptaan Ekosistem Sekolah Menyenangkan bagi SD dan SMP di Kabupaten Supiori” di Biak, Papua, Senin (12/9/2022) yang saya nukil dari sebuah media.

Baca Juga :  Indikator Keberhasilan Pembangunan Masyarakat Banyuwangi

Pendidikan, lanjut Rizal, mesti menyadarkan setiap individu yang belajar untuk sadar tentang dirinya. Tentang posisi diri dan lingkungannya. Maka, kemudian, akan terbangun kesadaran kritis. Agar setiap individu bisa keluar dari masalah hidupnya. Sekaligus memiliki harapan untuk masa depan lebih baik.

Lebih penting lagi, pendidikan harus kembali mendidik manusia agar tidak dikendalikan lingkungan. Termasuk dunia teknologi. Meski agak sulit, tetap harus dilakukan. Faktanya, selama ini, anak-anak kita sudah telanjur dikendalikan oleh teknologi. Mereka sudah masuk perangkap teknologi informasi yang salah. Dininabobokan gadget. Bahkan, sebagian malah mengalami ketagihan akut.

Kapan pendidikan yang memanusiakan terwujud. Ada setidaknya tiga ciri-ciri yang harus dikenali: dialogis, reflektif, dan investigatif. ”Pendidikan dialogis menjadi modal utama bangsa ini merdeka di tengah keterbatasannya,” papar Rizal.

Waba’du. Sudahkah sekolah anak-anak di Banyuwangi merasakan pendidikan di sekolah menyenangkan? Tidak perlu dijawab. Bagi yang sudah patut bersyukur, Alhamdulillah. Bagi yang belum, sebaiknya bersabar. Bisa jadi, memang semua sekolah bisa melaksanakan GSM. Atau, baru setengah-setengah. Atawa, bahkan, belum sama sekali.

Bagi yang benar-benar belum merasakan sekolah menyenangkan, bisa dimulai dimulai dari rumah. Buat rumah senyaman mungkin untuk belajar anak-anak. Orang tua jangan terlalu membebani anak dengan beban target ambisius. Memaksa anaknya belajar sepanjang hari. Tanpa memberi kesempatan untuk menikmati masa kecilnya.

Harus diingat, usia anak kita tidak sama dengan usia orang tuanya. Memaksa anak sepikiran dengan orang tua adalah bentuk penindasan semu. Dan, itu sama sekali tidak menyenangkan bagi anak-anak.

*) Pekolom Banyuwangi