alexametrics
26.7 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Bintang-4 Serasa Bintang-5

Maaf, saya termasuk tipe orang yang tidak gampang percaya. Alias gampang penasaran. Terutama terhadap informasi. Saya pun selektif. Tidak langsung percaya ketika mendengar salah satu kabar dari Singapura. Tepatnya dari ajang Singapore Airshow 2018. Beberapa waktu lalu. Dikabarkan, dalam ajang itu maskapai Citilink Indonesia menerima sertifikat bintang-4 dari Skytrax.

Skytrax bukanlah lembaga sembarangan. Atau ecek-ecek. Melainkan sebuah lembaga pemeringkat dan sertifikasi industri penerbangan independen. Jadi cukup prestisius penghargaannya. Maskapai yang menerima sertifikat dari Skytrax dipastikan gengsinya langsung melanting tinggi. Makin dipercaya tidak hanya oleh penumpang. Tapi juga para stakeholder yang terkait dengan dunia penerbangan.

Sertifikat bintang-4 yang diterima Citilink sangat membanggakan. Sebab, Skytrax menetapkannya sebagai maskapai berbiaya hemat atau low cost carrier (LCC) pertama di Asia yang menerima predikat tersebut. Bukan hanya di tingkat Asia. Di dunia, Citilink menjadi yang ketiga. Citilink pun kini sejajar dengan maspakai asal Eropa: Norwegian Air dari Norwegia dan EasyJet dari Inggris. Kedua maskapai itu dikenal dengan tingkat keamanannya yang tinggi.

Sungguh beruntung saya. Bisa mengobati rasa penasaran dengan cepat. Yakni, bisa menikmati penerbangan maskapai bintang-4. Di hari bersejarah pula bagi Citilink. Juga bagi Banyuwangi. Ya, Kamis pekan lalu Citilink melakukan penerbangan perdana: Jakarta-Banyuwangi, Banyuwangi-Jakarta. Kebetulan sehari sebelumnya saya mengikuti rapat perusahaan di Jogjakarta. Ada dua alternatif untuk perjalanan pulang kembali ke Bumi Blambangan. Dua-duanya via udara. Yakni, Jogja-Banyuwangi transit Bandara Juanda. Satunya Jogja-Banyuwangi transit Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Saya mantap pilih alternatif yang kedua. Sekalian mencari jawab dari rasa penasaran terhadap penghargaan bintang-4 Skytrax untuk Citilink.

Baca Juga :  Prajurit Blambangan

Ternyata benar. Saya pun bisa membedakan naik Citilink sebelum dan sesudah menerima bintang-4. Pesawatnya cukup nyaman. Kebetulan sejak take off dari bandara Soekarno-Hatta cuaca sedang tidak bersahabat. Lebih banyak cuaca buruknya. Berkali-kali pilot dan pramugari mengingatkan para penumpang untuk tidak melepas sabuk pengaman. Dan tidak memakai kamar kecil. Persis seperti yang saya alami ketika pulang umrah Desember lalu.

Terbang dalam cuaca buruk selalu menghadirkan perasaan was-was. Tapi pesawat Citilink jenis Boeing 737-500 membuat saya dan penumpang lainnya tenang. Beberapa kali terasa ada guncangan. Terutama saat pesawat melewati awan tebal dan pekat. Tapi guncangannya tak sampai membuat deg-degan. Hanya seperti naik dongkar melintas di jalan yang nggeronjal. Setelah terbang di atas wilayah Jawa Timur suasana hati mulai terang. Seterangan cuaca di luar pesawat. Saya tiba-tiba teringat kata-kata sambutan Dirut PT Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo. ”Kita akan menikmati penerbangan bintang-4 serasa bintang-5 (Garuda),”ucapnya saat peresmian penerbangan perdana Citilink Jakarta-Banyuwangi di bandara Soekarno-Hatta. Selain dapat makan sekali, saya bisa tidur berkali-kali dalam penerbangan yang tidak sampai 1,5 jam itu. Terbangun karena kaget: terasa pesawatnya melesat begitu cepat. Anda yang sering naik pesawat pasti juga pernah mengalaminya.

Apa pun, sebagai wong mBlambangan saya bangga. Pesawat itu prestise. Apalagi pesawat milik maskapai ternama. Terbangnya  maskapai bintang-4 dan bintang-5 (Citilink dan Garuda) di langit kota The Sunrise of Java merupakan lompatan sejarah. Dan tidak semua daerah bisa mengalaminya. Bisa jadi daerah lain segera menyusul Bumi Blambangan. Misalnya, Jember. Yang juga lagi mengembangkan bandaranya: Notohadinegoro. Tapi hampir pasti ia tidak bisa melakukannya dalam waktu singkat. Rasanya tak mungkin mereka bisa melakukan akselerasi. Kalau pun bisa pasti ia sampai berdarah-darah.

Baca Juga :  Beda Nasib Wanita

Yang tidak tahu prosesnya merasakan ramainya penerbangan di Bandara Banyuwangi seperti simsalabim. Sulapan. Semua berjalan serba cepat. Padahal tidak demikian. Butuh perjuangan ekstra. Utamanya meyakinkan kepada sejumlah maskapai. Harus menunjukkan kemajuan daerahnya. Juga prospektusnya. Seperti diketahui, Kota Gandrung kini sudah begitu maju. Pertumbuhan ekonominya luar biasa. Seperti bunga yang baru mekar, ribuan lebah berbondong-bondong mendatanginya. Ekonomi yang dinamis menarik banyak pihak untuk masuk. Dalam waktu yang secepat mungkin. Pergerakan yang cepat hanya bisa ditempuh dengan pesawat. Bayangkan Jakarta-Banyuwangi hanya butuh 1,5 jam. Kalau mau meeting di Banyuwangi berangkat pagi, sorenya sudah terbang lagi ke Jakarta. Pun sebaliknya. Berangkat dari Banyuwangi pagi, siang rapat, sore sudah bisa terbang lagi ke Banyuwangi. Wisatawan juga senang. Ingat prinsip wisatawan adalah bisa mengunjungi banyak destinasi dalam waktu yang sedikit. Itu hanya bisa dilakukan dengan pesawat. Maka kini, bertambah banyak pilihan menuju Banyuwangi dalam waktu yang cepat. Dari Jakarta ada empat penerbangan setiap harinya. Sedangkan dari Surabaya ada tiga jam penerbangan. Plus Bwi-Jkt dan Bwi-Sby tercatat 14 maskapai lending-take off di Bandara Banyuwangi. Sepertinya kita baru terbangun dari mimpi saja. Melihat pesawat mondar-mandir di atas rumah kita. Untungnya saya sudah besar. Kalau masih kecil seperti dulu saya dan teman-teman (dan pembaca, hehe…) pasti akan berteriak: ”Kapaaalll, aku njaluk duite. Ceblokno…” (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

Maaf, saya termasuk tipe orang yang tidak gampang percaya. Alias gampang penasaran. Terutama terhadap informasi. Saya pun selektif. Tidak langsung percaya ketika mendengar salah satu kabar dari Singapura. Tepatnya dari ajang Singapore Airshow 2018. Beberapa waktu lalu. Dikabarkan, dalam ajang itu maskapai Citilink Indonesia menerima sertifikat bintang-4 dari Skytrax.

Skytrax bukanlah lembaga sembarangan. Atau ecek-ecek. Melainkan sebuah lembaga pemeringkat dan sertifikasi industri penerbangan independen. Jadi cukup prestisius penghargaannya. Maskapai yang menerima sertifikat dari Skytrax dipastikan gengsinya langsung melanting tinggi. Makin dipercaya tidak hanya oleh penumpang. Tapi juga para stakeholder yang terkait dengan dunia penerbangan.

Sertifikat bintang-4 yang diterima Citilink sangat membanggakan. Sebab, Skytrax menetapkannya sebagai maskapai berbiaya hemat atau low cost carrier (LCC) pertama di Asia yang menerima predikat tersebut. Bukan hanya di tingkat Asia. Di dunia, Citilink menjadi yang ketiga. Citilink pun kini sejajar dengan maspakai asal Eropa: Norwegian Air dari Norwegia dan EasyJet dari Inggris. Kedua maskapai itu dikenal dengan tingkat keamanannya yang tinggi.

Sungguh beruntung saya. Bisa mengobati rasa penasaran dengan cepat. Yakni, bisa menikmati penerbangan maskapai bintang-4. Di hari bersejarah pula bagi Citilink. Juga bagi Banyuwangi. Ya, Kamis pekan lalu Citilink melakukan penerbangan perdana: Jakarta-Banyuwangi, Banyuwangi-Jakarta. Kebetulan sehari sebelumnya saya mengikuti rapat perusahaan di Jogjakarta. Ada dua alternatif untuk perjalanan pulang kembali ke Bumi Blambangan. Dua-duanya via udara. Yakni, Jogja-Banyuwangi transit Bandara Juanda. Satunya Jogja-Banyuwangi transit Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Saya mantap pilih alternatif yang kedua. Sekalian mencari jawab dari rasa penasaran terhadap penghargaan bintang-4 Skytrax untuk Citilink.

Baca Juga :  Mahasiswa Bau Udang

Ternyata benar. Saya pun bisa membedakan naik Citilink sebelum dan sesudah menerima bintang-4. Pesawatnya cukup nyaman. Kebetulan sejak take off dari bandara Soekarno-Hatta cuaca sedang tidak bersahabat. Lebih banyak cuaca buruknya. Berkali-kali pilot dan pramugari mengingatkan para penumpang untuk tidak melepas sabuk pengaman. Dan tidak memakai kamar kecil. Persis seperti yang saya alami ketika pulang umrah Desember lalu.

Terbang dalam cuaca buruk selalu menghadirkan perasaan was-was. Tapi pesawat Citilink jenis Boeing 737-500 membuat saya dan penumpang lainnya tenang. Beberapa kali terasa ada guncangan. Terutama saat pesawat melewati awan tebal dan pekat. Tapi guncangannya tak sampai membuat deg-degan. Hanya seperti naik dongkar melintas di jalan yang nggeronjal. Setelah terbang di atas wilayah Jawa Timur suasana hati mulai terang. Seterangan cuaca di luar pesawat. Saya tiba-tiba teringat kata-kata sambutan Dirut PT Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo. ”Kita akan menikmati penerbangan bintang-4 serasa bintang-5 (Garuda),”ucapnya saat peresmian penerbangan perdana Citilink Jakarta-Banyuwangi di bandara Soekarno-Hatta. Selain dapat makan sekali, saya bisa tidur berkali-kali dalam penerbangan yang tidak sampai 1,5 jam itu. Terbangun karena kaget: terasa pesawatnya melesat begitu cepat. Anda yang sering naik pesawat pasti juga pernah mengalaminya.

Apa pun, sebagai wong mBlambangan saya bangga. Pesawat itu prestise. Apalagi pesawat milik maskapai ternama. Terbangnya  maskapai bintang-4 dan bintang-5 (Citilink dan Garuda) di langit kota The Sunrise of Java merupakan lompatan sejarah. Dan tidak semua daerah bisa mengalaminya. Bisa jadi daerah lain segera menyusul Bumi Blambangan. Misalnya, Jember. Yang juga lagi mengembangkan bandaranya: Notohadinegoro. Tapi hampir pasti ia tidak bisa melakukannya dalam waktu singkat. Rasanya tak mungkin mereka bisa melakukan akselerasi. Kalau pun bisa pasti ia sampai berdarah-darah.

Baca Juga :  Santri Sepanjang Hayat

Yang tidak tahu prosesnya merasakan ramainya penerbangan di Bandara Banyuwangi seperti simsalabim. Sulapan. Semua berjalan serba cepat. Padahal tidak demikian. Butuh perjuangan ekstra. Utamanya meyakinkan kepada sejumlah maskapai. Harus menunjukkan kemajuan daerahnya. Juga prospektusnya. Seperti diketahui, Kota Gandrung kini sudah begitu maju. Pertumbuhan ekonominya luar biasa. Seperti bunga yang baru mekar, ribuan lebah berbondong-bondong mendatanginya. Ekonomi yang dinamis menarik banyak pihak untuk masuk. Dalam waktu yang secepat mungkin. Pergerakan yang cepat hanya bisa ditempuh dengan pesawat. Bayangkan Jakarta-Banyuwangi hanya butuh 1,5 jam. Kalau mau meeting di Banyuwangi berangkat pagi, sorenya sudah terbang lagi ke Jakarta. Pun sebaliknya. Berangkat dari Banyuwangi pagi, siang rapat, sore sudah bisa terbang lagi ke Banyuwangi. Wisatawan juga senang. Ingat prinsip wisatawan adalah bisa mengunjungi banyak destinasi dalam waktu yang sedikit. Itu hanya bisa dilakukan dengan pesawat. Maka kini, bertambah banyak pilihan menuju Banyuwangi dalam waktu yang cepat. Dari Jakarta ada empat penerbangan setiap harinya. Sedangkan dari Surabaya ada tiga jam penerbangan. Plus Bwi-Jkt dan Bwi-Sby tercatat 14 maskapai lending-take off di Bandara Banyuwangi. Sepertinya kita baru terbangun dari mimpi saja. Melihat pesawat mondar-mandir di atas rumah kita. Untungnya saya sudah besar. Kalau masih kecil seperti dulu saya dan teman-teman (dan pembaca, hehe…) pasti akan berteriak: ”Kapaaalll, aku njaluk duite. Ceblokno…” (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

Artikel Terkait

Méméngane Kurang Adoh

Seperti Apa Dua Tahun Lagi

Most Read

Artikel Terbaru

/